Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
24


__ADS_3

Ruby baru saja selesai membantu Fajar membenahi kostum yang dipakai Ghea, Kini ia harus beralih pada Hiko untuk membantunya. Seperti biasanya, ia selalu merasa tidak nyaman atau bahkan tidak suka jika berdekatan dengan Hiko. Ruby memasang Masker untuk menutup hidung dan mulutnya, menghindari aroma parfum Hiko yang sudah pasti akan mengingatkannya pada kenangan buruknya.


"Lo pikir gue bau apa?" Protes Hiko


Ruby mendongakkan kepalanya menatap Hiko, "Saya gak suka dengan aroma parfum kamu, mas."


"Lo kampungan banget sih? Parfum mahal punya brand ternama kek gini gak suka! Banyak cewek yang klepek-klepek kalau udah deker gue!" Hiko menyombongkan diri.


"Semahal apapun, sewangi apapun kalau cuma membuat ingatan buruk kembali juga buat apa."


"Maksud, Lo?"


Ruby tak menjawab. Dibantu Fajar, dia sibuk merapikan kostum yang dipakai Hiko dan membenahi bagian-bagian yang menurutnya kurang pas.


Hiko tak lagi bicara, ia hanya berdiri dan merentangkan tangan membiarkan Ruby dan Fajar.


"Udah!" Ucap Fajar, "Coba mas gerakin badan, udah nyaman apa belum?"


Hiko mencoba merentangkan tangan, mengangkat kaki dan mencoba gerakan silatnya. "Udah, ntar kalau kenapa-kenapa kan bisa kalian bantu lagi." kata Hiko, Ia meninggalkan Fajar dan Ruby keluar ruangan.


Satu per satu orang meninggalkan ruangan karena actor dan actris mereka sudah bersiap untuk mengambil gambar. Tinggal Ruby, Iqbal dan asisten Fajar yang merapikan peralatannya.


"By!" Iqbal menghadang Ruby yang hendak keluar. "Kumohon, kita harus bicara." Ucapnya lirih tak mengijinkan orang lain mendengar permintaannya.


"Kita bicarapun tidak akan mengubah keputusanku, mas." kata Ruby.


"Kita tetap harus bicara." paksa Iqbal.


Ruby menghela nafas panjang, Ia mengajak Iqbal untuk sedikit menjauh dari keramaian. Duduk di sebuah batang pohon yang tumbang. Ruby menjaga jarak sedikit jauh dari Iqbal.


"Pembicaraan ini tidak akan mengubah apapun, mas." Ucap Ruby.


"Bagaimana aku bisa meyakinkanmu bahwa aku benar-benar menerima kamu dengan segala kekuranganmu, By." Iqbal menatao Ruby yang sedikitpun tak meliriknya.


"Bagaimana juga aku bisa meyakinkan kamu, kalau aku benar-benar tidak pantas untukmu mas." Kini Ruby menatap Iqbal,


"Tahukah kamu bagaimana perasaanku saat ini, mas? Aku ingin berlari sejauh mungkin darimu. Karena berada didekatmu, sungguh sangat membuatku merasa kotor, hina dan tak berharga. Aku bukan lagi wanita yang pantas kamu perjuangkan."


"Berhentilah untuk egois, By. Ingatlah satu hal, walau kita tak pernah sekalipun menghabiskan waktu bersama, tapi kita saling tahu bahwa masing masing dari kita sedang menanam cinta dalam diam. Selalu menjaganya walau tak pernah bertegur sapa. Dan setelah sekian lama kita menjaga jarak, sedikit lagi akan tiba saat kita akan selalu menghabiskan waktu bersama. Tapi kenapa kamu harus memangkasnya? Kamu memberikan jarak yang lebih lebar dari sebelumnya.


Sadarlah, By. Kamu sedang menyakiti cinta kita. Setelah semua keputusan yang telah kau buat ini, apa yang sudah kamu siapkan untuk mengobati perasaan kita yang terluka?"


Ruby meneteskan airmatanya. Karena ucapan Iqbal membuatnya mengingat saat-saat dimana ia diam-diam selalu memperhatikan Iqbal, bagaimana senangnya ia ketika mendengar suara Iqbal ketika sedang menemui Abinya, bagaimana ia menyebut nama pria itu dalam setiap doanya.


"Aku tidak rela jika harus menghentikan cinta ini, By. Kedudukannya terlalu besar di hatiku, terlalu lama mendiami hatiku. akan sulit untukku mengikhlaskannya pergi."


Ruby semakin sesenggukan.


"Tolong, bertahanlah bersamaku." pinta Iqbal

__ADS_1


Ruby menggeleng, "Aku mencintaimu mas, tapi aku tidak bisa bersamamu. Kamu akan menyiksaku jika membuatku terus bersamamu. Mungkin Allah menakdirkan kita untuk saling mencintai, tapi tidak untuk saling memiliki."


Ruby berdiri dan hendak pergi.


"Tunggu, By!"


Ruby yang sudah membelakangi Iqbal menghentikan langkahnya.


"Kamu tahu aku tidak bisa menarik tanganmu jika kamu meninggalkanku seperti ini."


Ruby mengangguk tanpa menoleh ke belakang.


"Aku akan benar-benar membiarkanmu pergi sekarang, By."


Air mata Ruby jatuh semakin deras, membuatnya menutup mulut menahan tangisnya. "Aku tetap akan mendoakanmu mendapatkan istri yang terbaik, Mas." Ucap Ruby diantara isak tangisnya.


Iqbal mendekat selangkah dibelakang Ruby, "Terimakasih sudah hadir dan menggetarkan hatiku setiap kali ku sebut namamu. Tabina Ruby Azzahra." Ucap Iqbal lirih ditutup dengan satu tetesan air mata dipipinya.


Iqbal menarik nafas sejenak, "Pergilah... InshaaAllah Aku akan berusaha mengikhlaskan kepergianmu."


Ruby mengangguk, "Assalamu'alaikum, mas." Ucapnya parau.


Berat kakinya melangkah meninggalkan Iqbal, ini adalah keputusannya. Menyakitkan untuk mereka berdua, tapi lebih menyakitkan lagi jika Ruby tetap berada disamping Iqbal.


Ruby menuntaskan tangisnya tak jauh dari ruanh ganti, sebisa mungkin ia menahan agar siapapun tak mendengar suara tangisannya.


"Ada yang tahu Ruby, Gak?"


Setelah merasa tenang, ia menghampiri kru. "Ada apa, Mas?" Tanya Ruby.


"Tolong bantu pasang kostumnya Hiko, ada yang lepas. Fajar masih benerin yang punya Ghea."


Ruby melihat sekeliling mencari Hiko.


"Dia udah ke ruang kostum dari tadi."


"Ah, iya Mas. Aku kesana."


Ruby menuju ke ruang kostum, ia berpapasan dengan Nara yang baru keluar. "Ra, mau kemana?"


Nara menatap mata Ruby yang sembab, "Kamu habis nangis?"


Ruby mencoba tersenyum


"Mas Iqbal minta tolong aku anter dia ke jalan raya, dia mau pulang." Kata Nara


Ruby mengangguk, "Tolong ya, Ra."


Nara menggangguk, ia memeluk Ruby kemudian berlari menghampiri Iqbal. Sedangkan Ruby memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju ruang kostum.

__ADS_1


Hiko sudah duduk disana menunggu Ruby dengan kesal. Ia langsung berdiri bersiap agar Ruby Segera memperbaiki kostumnya.


"Mana yang rusak?" Tanya Ruby.


Hiko menunjuk bagian bahu hingga dadanya.


Ruby mengambil beberapa peralatan jahit milik Fajar dan mulai memperbaiki kostum Hiko.


"Gak pake masker lagi lo?" Tanya Hiko


"Lagi pilek, gak kecium." Jawab Ruby singkat.


Hiko menatap Ruby yang terlihat kesusahan membetulkan kostum di bagian bahunya. Ya, memang Ruby tak terlalu tinggi atau mungkin Hiko yang terlalu tinggi. Hiko sedikit membungkukkan badannya, membuat Ruby terkejut dan reflek mundur selangkah.


Wajah Hiko sedikit lebih sejajar dengan Ruby, ia menatap lekat tepat dimata Ruby.


"Lo habis nangis?" Tanya Hiko.


Ruby terkejut dengan pertanyaan Hiko dan segera memberi jarak agar mereka tidak terlalu dekat.


"Jangan terlalu dekat dengan saya." Pinta Ruby.


Hiko bisa melihat tangan Ruby yang memegang jarum sedang gemetar. "Gue tunggu Fajar aja, biar dia yang benerin."


Ruby menggeleng. "Beri saya sedikit waktu dan tolong jaga jarak mas dengan saya." pinta Ruby lagi.


Hiko kembali menegakkan kembali badannya, membiarkan Ruby beberapa kali menghela nafas.


Setelah merasa tenang, Ruby kembali meraih bahu Hiko dan mulai memperbaikinya. Tak ada yang bersuara diantara mereka, diam dalam pikiran mereka masing-masing.


Hiko kembali mencuri pandang pada wajah Ruby, ia bisa melihat jelas bekas air mata disana.


"Sesakit itu ya patah hati?"


Lagi lagi pertanyaan Hiko membuat Ruby terkejut hingga menghentikan jemarinya yang sedang menjahit. Ruby mendongakkan kepalanya menatap Hiko, Bagaimana dia bisa tahu? Batinnya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


**Please lho ya,

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan vote nya.


Terimakasih dukungan kalian**.


__ADS_2