
Ruby menemani Abriz yang sedang menjalani perawatan di ruang UGD karena pergelangan tangan kirinya yang patah. Ia tak berhenti meneteskan air mata melihat keadaan Abriz, bagian lengan bawah hingga punggung tangan Abriz sudah tertutupi gips, hanya menyisakan jari-jari Abriz saja yang terlihat. Wajah Abriz juga memiliki goresan-goresan luka akibat terkena ranting-ranting buka ditaman tempat ia terjatuh tadi.
"Tunggu beberapa menit lagi ya sampai nanti ada perawat yang mengatakan pasien boleh pulang." Kata dokter sebelum pergi.
"Baik, dokter." Sahut Ruby.
Abriz yang sedari tadi duduk tegap karena dokter merawat tangannya, kini ia menyandarkan punggungnya. Ruby lekas menumpuk dua bantal di belakang punggung Abriz agar lebih nyaman pria itu bersandar.
"Jangan nangis terus, By. Cuma patah doang, ntar juga sembuh." Kata Abriz
"Maafkan saya, Mas Abriz. Ini semua salah saya..."
"Bukan, ini bukan salah siapapun. Memang hari ini aku dan pengendara motor itu sedang tidak beruntung saja. Udah jangan nangis, By."
Ruby mengusap air matanya tapi masih menyisakan sesenggukan.
"Gimana nanti mas bisa kerja? Pasti ini sembuhnya lama." Pertanyaan yang sebenarnya ia tujukan pada diri sendiri karena merasa tak enak.
"Hahahahaha." Abriz malah tertawa, sampai menyita perhatian pasien disekitarnya. "Tangan kananku masih utuh, By. Lihat nih, masih berfungsi dengan baik." Abriz menggerakkan jari-jari dan pergelangan tangan kanannya.
"Bagaimana bisa saya menebus kesalahan saya ini mas?"
"Aduh, By!"
Ruby terkejut mendengar keluhan Abriz, "Kenapa, Mas?"
"Baju yang dikasih mas Heru rusak! Aku gak jadi punya baju baru, By."
Ruby diam seketika, menatap Abriz kesal. "Bisa-bisanya mas mikirin baju disaat seperti ini."
"Aku sedih banget, By. Gak jadi dapat baju baru."
Ruby mengehela nafas panjang, "Nanti ku belikan satu toko kalau mas Abriz sembuh."
"Beneran, nih? Tanya Abriz, "Ah iya, kamu kan kaya ya By. Komik bagus, dikontrak PH, kerjaan bagus, istri artis pula."
Ruby hanya diam saja mendengar Abriz mengabsen sumber kekayaannya.
"Saudara Abriz," Seorang perawat menghampiri brankar Abriz.
"Ya, Mbak?"
"Ini jadwal kontrol anda dan ini obat-obatan yang harus diminum tepat waktu." Perawat memberikan beberapa bungkus obat dan selembar amplop putih berisi surat untuk kontrol.
Abriz menerimanya, "Terimakasih, Mbak. Jadi saya boleh pulang?" Tanya Abriz
"Silahkan menyelesaikan biaya administrasinya terlebih dahulu, ya." Ujar perawat.
"Baik, Mbak." Ruby yang menjawabnya, "Aku pergi ke bagian administrasi dulu ya, Mas." Ruby bergegas meninggalkan Abriz keluar ruang UGD.
Abriz terkekeh kecil melihat tingkah Abriz. Tidak disangka kali ini dia bisa melihat sisi lain dari Tabina Ruby Azzahra. Tak ada wajah sinis diwajah Ruby, hanya raut wajah merasa bersalah dan sangat sedih.
Sesaat kemudian Ruby kembali dengan membawa selembar kertas yang ia lipat-lipat hingga bagian kecil.
"Kita bisa pulang, mas." Kata Ruby.
"Oke." Abriz berusaha berdiri sekuat tenaga.
"Mas butuh kursi roda?" Tanya Ruby.
"Enggak lah, By. Aku bisa jalan biasa. Yang sakit cuma tanganku." Abriz mengambil tas ranselnya.
"Biar saya bawakan saja, Mas." Ruby merebut tas Abriz dan membawanya.
"Wah, enak banget ya dimanjain kamu. Hahahaha." Lagi, tawa Abriz mengundang perhatian orang.
Ruby diam saja, sibuk membawa tas dan paperbag milik Abriz. "Saya sudah memesankan taxi online."
"Emang kamu tahu alamatku?" Tanya Abriz.
Ruby mengangguk, "Dekat kostnya mbak Tasya, kan?"
Abriz mengangguk, "Benar-benar, masih inget ya ternyata kamu."
__ADS_1
Ruby dan Abriz melangkah keluar ruang UGD, sebuah Taxi online sudah menunggu mereka disana. Ruby memutuskan untuk ikut mengantar Abriz sampai di rumahnya.
Jalanan ibukota cukup padat di akhir pekan sehingga Abriz dan Ruby menghambiskan cukup banyak waktu dijalanan.
Hampir pukul sepuluh malam mobil yang ditumpangi Abriz dan Ruby berhenti di sebuah rumah yang tak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar. Berada di sebuah kampung yang mempunyai lebar jalan utama hanya cukup untuk satu mobil.
"Putar balik di dalam sini aja, pak." Kata Abriz, menawarkan sopir Taxi online untuk putar balik di halaman rumahnya.
"Baik, Mas. Terimakasih."
"Sama-sama." Abriz menutup pintu mobil, membiarkan sopir putar balik dan meninggalkan halaman rumah Abriz.
"Kak Abriz, kenapa?"
Seorang gadis manis berlari menghampiri Abriz dan Ruby yang masih di halaman rumah.
"Ketabrak tadi, La." Jawab Abriz.
"Ya Allah, Kak. Kenapa gak hati-hati?"
"Udah, gak apa kok." Abriz mengusap kepala gadis itu, "Oya! Kenalin, ini teman kakak. Mbak Ruby."
Ruby tersenyum, mengulurkan tangan. "Ruby."
"Lyla, Mbak." Ucapnya sambil membalas uluran tangan Ruby. "Jadi ini calon istrinya kak Abriz?" Tanya Lyla pada Abriz.
"Aamiin..." Ucap Abriz kencang.
"Bukan, Lyla. Mbak sudah bersuami. Mbak dan Mas Abriz hanya rekan kerja." Ruby cepat-cepat menyanggah, tak ingin siapapun salah paham.
Lyla terlihat kecewa, "Padahal Mbak Ruby terlihat cocok banget dengan kak Abriz."
"Semoga aja kakak kamu dapat jodoh yang lebih baik dari mbak, La."
"Aamiin." Sahut Lyla, "Mari masuk, mbak."
"Maaf ya, La. Sudah malam, Mbak harus segera pulang." Ruby menolak tawaran Lyla.
Lyla mengangguk mengerti, "Lain kali mbak mampir ya kalau kemari."
"Naik apa, By?" Tanya Abriz.
"Ojek, Mas." Ruby mengeluarkan ponselnya.
Ia terkejut ketika mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari ibu mertuanya. Ruby segera melakukan panggilan ulang ke Maria.
"Assalamu'alaikum, Mama. Maaf hape Ruby tadi Ruby silent, jadi gak tahu ada panggilan masuk dari Mama."
"Wa'alaikumsalam, By. Kamu dimana, Nak? Hiko bilang tadi kamu sudah pulang lebih dulu, tapi kok belum sampai rumah sampai sekarang?" Terdengar suara Maria sangat khawatir.
"Ruby barusan nganter temen Ruby, dia baru tertabrak motor." Jawab Ruby.
"Tapi kamu gak kenapa-kenapa? Biar Hiko jemput kamu."
"Ruby pulang sendiri saja, Ma."
"Enggak, Nak. Ini sudah malam, biar Hiko jemput kamu."
Ruby menyerah, "Minta tolong mama bilangin ke Mas Hiko, saya ada di kostnya mbak Tasya. Mas Hiko pernah kemari."
"Iya, Nak. Kamu jangan kemana-mana. ya?"
"Iya, Ma. Terimakasih, Assalamu'alaikum." Ruby mengakhiri panggilan telponnya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Dijemput suamimu, By?" Tanya Abriz.
"Iya, Mas. Saya nunggu di depan kost mbak Tasya saja." Kata Ruby.
"Aku temenin kamu disana, By."
"Lyla juga ikut, Kak." Lyla masuk ke dalam rumah, meletakkan barang kakaknya dan mengunci pintu lalu menghampiri kakaknya.
"Terimakasih, ya." Ucap Ruby.
__ADS_1
Ruby diantar Abriz dan Lyla menunggu di kedatangan Hiko didepan kost Tasya. Karena memang disana jalannya masih lebar dan mobil bisa berhenti tanpa terburu-buru jika ada motor akan lewat.
Hampir tiga puluh menit mereka menunggu, akhirnya sebuah sedan putih berhenti didepan mereka.
"MasyaAllah!!"
Ucap Lyla setengah berteriak ketika melihat Hiko keluar dari mobilnya.
"Itu Kak Hiko? Pemeran Sadana kan?" gadis yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA itu terlihat kegirangan.
"Hai?" Hiko menyapa ramah Lyla.
"Kak, Boleh minta foto?" Tanya Lyla.
"Boleh dooonk." Jawab Hiko.
"fotoin donk kak." Pinta Lyla pada Abriz.
Dengan malas Abriz mengeluarkan ponselnya dan segera mengambil foto Lyla yang sudah berada di samping Hiko.
"Udah!" Kata Abriz.
Lyla masih nampak kegirangan.
"Yuk, pulang." Ajak Hiko pada Ruby.
"Jadi Mbak Ruby ini istrinya Kak Hiko?" Lyla terngangah.
Hiko mengangguk, "Betul."
"Waaah, keren." Puji Lyla.
Ruby menghampiri Abriz, "Maafkan saya ya, Mas. Saya pamit pulang dulu."
Mendengar ucapan Ruby, membuat Hiko menatap abriz. Baru sadar dia, jika lengan Abriz sedang di gips.
"Gak apa, By. Yang penting kamu gak kenapa-kenapa." Jawab Abriz, ia melirik Hiko. "Lagian aku seneng bisa ngelindungi kamu, kamu juga gak jutek lagi ke aku."
Hiko mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Abriz. "Kalian habis ngapain?" Tanya Hiko.
"Tadi saya hampir ketabrak motor, Mas. Mas Abriz yang nyelamatin saya, tapi malah dia yang ketabrak."
"Lo gak kenapa-kenapa, kan?" Hiko panik.
"Mas Abriz yang tertabrak, Mas." Ruby memperjelas kalimatnya.
Hiko menatap Abriz, sedangkan Abriz tersenyum masam melihat Hiko yang tak mungkin mengucapkan terimakasih padanya.
"Gue lagi usaha." Kata Abriz pada Hiko.
Hiko tahu apa yang dimaksud Abriz, Ia mengacuhkannya dan mengajak Ruby masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Abriz dan Lyla.
"Kak Hiko sepertinya gak suka ke kakak?" Tanya Lyla.
"Kakak juga gak suka sama dia! Doain kakak biar jodoh dengan Ruby, ya?"
"Hah!" Lyla terkejut.
Abriz hanya tersenyum dan mengajak adiknya segera kembali ke rumah mereka.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa likenya, harus 300 keatas yaaa...
__ADS_1
commentnya juga banyakin ya kakak.. dukung aiko terus, semoga karya nya bisa dapat kontrak dari mangatoon. ditambin vote nya juga makin cemangat akunya. hahahahaaha.
Makasih yaaa kakak kakaakk.