Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
57


__ADS_3

Suara gemericik air hujan menemani waktu makan malam Hiko dan Ruby. Sunyi dan dingin masih setia menemani mereka. Keduanya saling mengacuhkan dan saling menunjukkan siapa yang memiliki harga diri paling tinggi.


Hiko segera meninggalkan meja makan setelah nasi dan lauk pauknya sudah habis, sedangkan Ruby lebih dulu membereskan meja makan. Usai mencuci piring, ia pergi ke kamar. Ia melihat Hiko berada di balkon kamarnya, terdengar ia sedang berusaha meyakinkan seseorang dengan sesekali terdengar nada tinggi disana. Ruby bisa menebak jika pria itu sedang bertengkar dengan kekasihnya. Ruby mengacuhkannya, tak berniat sedikitpun untuk mencuri dengar percakapan Hiko.


trrt trrrt trrrt...


Ponsel Ruby yang tergeletak diatas sofa bergetar. Ada panggilan masuk dari Umminya.


"Assalamu'alaikum, Ummi." Sapa Ruby.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Ummi mau kasih kabar, kalau sekarang ummi ada di Jakarta, di rumah paklek kamu."


"Ya Allah, Ummi. Kenapa gak kasih kabar ke Ruby kalau mau datang? Ruby bisa jemput Ummi ke bandara." Ruby terlihat sangat senang.


"Ummi memang mau kasih kamu kejutan. Kamu sedang apa sekarang? Bagaimana kabar suamimu?"


Pertanyaan Nyai Hannah membuat Ruby menatap Hiko, tak disangka Hiko juga sedang menatap padanya. Segera Ruby memalingkan wajahnya.


"Ruby dan mas Hiko baru selesai makan malam, Ummi. Alhamdullillah mas Hiko juga sehat-sehat saja." Jawab Ruby.


"Alhamdullillah jika begitu, Nak. Besok kamu datang kemari ya, Ummi kangen."


"Ruby juga kangen sama Ummi." Ucap Ruby. entah kenapa hatinya sangat tersentuh mendengar kalimat terakhir umminya.


"Kita sambung besok ya, Nak. Jangan tidur malem-malem, ya. Assalamu'alaikum."


"Iya, Ummi. Wa'alaikumsalam." Sambungan telpon sudah terputus.


Ruby tak segera meletakkan ponselnya, ia menatap ponsel yang masih berada didalam genggamannya itu lebih lama.


"Kenapa?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Hiko membuat Ruby menyudahi lamunannya. Ia menatap pria yang sedang menghampirinya itu.


"Aku mas mau memberiku ijin jika aku ingin menginap di rumah paklek-ku?" Tanya Ruby.


"Ngapain lo tiba-tiba mau kesana?" Hiko balik tanya, ia duduk di ujung tempat tidur.


"Aku merindukan ummiku." Jawab Ruby. Itu bukan satu-satunya alasanku, aku juga ingin menjauhkan diri dari pria brengsek sepertimu. Batin Ruby.


"Gue anter lo!" Hiko berdiri dari duduknya.


"Aku akan pergi sendiri, Mas." Tolak Ruby.


"Lo sengaja mau jatuhin nama baik gue didepan keluarga lo?" Tanya Hiko. "Kalo lo mau pergi, gue anter!"


Ruby menghela nafas pasrah, ia menganggukkan kepala menyetujui persyaratan dari Hiko.


Usai ganti baju, Ia menyusul Hiko yang sudah lebih dulu pergi ke mobil.


**********


Hiko menghentikan mobilnya di halaman rumah kyai Nur, ini kali pertama Hiko masuk ke dalam halaman pesantren Darul Hikmah. Ia turun, berlari kecil menghampiri Ruby. Dilepasnya jaket denim dari tubuhnya dan dijadikannya payung untuk menhindarkan tubuh Ruby dari tetesan air hujan.


Bohong jika Ruby tak terkejut melihat bagaimana cara Hiko memperlakukannya. Ah, dia hanya sedang mengharapkan sebuah pujian, Batin Ruby. Ia mendongakkan kepalanya, menatap pria yang sedang tersentuh rintik hujan itu. Tatapan keduanya beradu. Sorot mata itu begitu lembut walau tanpa senyum yang membingkai wajahnya. Ruby kembali menatap kedepan sebelum ia tak bisa mengendalikan degub jantungnya.


Ruby menjauhkan dirinya dari Hiko ketika mereka tiba diteras rumah.


"Assalamu'alaikum..." Ruby mengetuk pintu ruang tamu Kyai Nur.


"Wa'alaikumsalam..."

__ADS_1


Terdengar sahutan dari dalam rumah, tak lama kemudian pintu terbuka dan munculah Kyai Nur disana.


"Ruby? Kok tumben malem-malem kesini?" Kyai Nur terlihat bingung.


Ruby dan Hiko bergantian bersalaman dengan Kyai Nur.


"Ummi tadi telpon, bilang kalo lagi kangen, paklek. Makanya Ruby langsung kemari." Jawab Ruby.


"Ayo masuk-masuk." Kyai Nur meraih punggung Hiko dan mengajak mereka masuk.


"Ummi, Mbak Hannah. Ada Ruby ini." Kyai Nur mencoba memanggil istri dan kakak iparnya.


Ruby memilih masuk ke dalam dan mencari umminya, sedangkan Hiko duduk di ruang tamu setelah pemilik rumah mempersilahkan dia untuk duduk.


Nyai Hannah terkejut melihat kehadiran Ruby, senang sekaligus bingung. Bergantian Ruby mencium tangan umminya dan bulek-nya. Nyai Hannah memeluk putrinya erat-erat. Walau sering berada jauh dengan putrinya, tapi kali ini berbeda karena saat ini putrinya berada di sebuah keluarga barunya.


"Kok malem-malem kesini sayang? Kan bisa besok pagi saja kesini." Nyai Hannah melepaskan pelukannya.


"Ruby mau menginap di sini, Ummi."


Nyai Hannah terkejut, "Dengan suamimu?"


Ruby menggeleng hingga membuat Nyai Hannah penasaran.


"Ayo kita ke depan dulu, temui suamimu." Ajak Nyai Hannah.


Ruby dan Nyai Hannah pergi menghampiri Hiko, sedangkan Nyai Fatimah pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk tamunya.


Hiko segera memberi salam pada ibu mertuanya, "Assalamu'alaikum, Bu Nyai." Hiko melihat ke belakang, "Pak Kyai tidak ikut, Bu Nyai?"


"Wa'alaikumsalam, panggil saja kami seperti Ruby memanggil kami, Nak Hiko. Abi dan Ummi." Tegas Nyai Hannah sambil tersenyum, "Abi masih ada yang harus diselesaikan di Malang. Jadi belum bisa kemari."


Nyai Hannah duduk dibagian kursi yang lain, "Apa kamu mengijinkan istrimu menginap disini?"


Percakapan mereka terpotong dengan kehadiran Azizah yang membawa nampan berisi teh hangat untuk menemani percakapan di malam yang dingin ini. Nyai Fatimah dan Fauzan mengikuti dibelakangnya. Hiko menyapa bulek dan dua keponakan Ruby itu lalu melanjutkan percakapan mereka.


Tak banyak yang keluarga ini perbincangkan, harus terpotong lagi dengan getaran di ponsel Hiko. Hiko menatapnya sekejap lalu memasukkannya kembali ke kantong jaketnya.


"Sudah dicariin, Mas?" Tanya Ruby, bukan peduli tapi lebih tepatnya mengusir.


Hiko mengangguk, "Saya harus pergi sekarang karena sudah ditunggu." Hiko berdiri, berpamitan dengan keluarga Ruby.


"Anter suamimu sampai ke mobil, Nak." Pinta Nyai Hannah.


Malas Ruby mengambil payung yang ada disudut ruangan, Hujan turun lebih deras.


"Assalamu'alaikum," Pamit Hiko sebelum meninggalkan teras rumah kyai Nur


"Wa'alaikumsalam..."


Hiko mengambil alih puyung yang dibawa Ruby dan mereka mulai berjalan dibawah payung yang sama melewati derasnya air hujan.


Hiko memberikan puyungnya kembali pada Ruby tepat didepan pintu mobilnya.


"Gue mau nginap di rumah Nara." Ucap Hiko, membuat Ruby terbelalak. Hiko menahan tangan Ruby, ia tahu wanita didepannya itu sudah akan beranjak meninggalkannya.


"Dia lagi marah karena gue ninggalin dia di lokasi shooting tadi." Hiko memberi alasan.


Ruby menepis tangan Hiko dan meninggalkan Hiko begitu saja. Hiko hanya diam menatapi Ruby, membiarkan dirinya terguyur air hujan. Ia melihat Nyai Hannah masih berada di depan pintu, membuat Hiko memberi senyuman dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Nyai Hannah bisa menduga jika memang sedang terjadi sesuatu diantara Ruby dan Hiko.

__ADS_1


***********


Ruby tidur bersama Umminya, di ruangan yang sempat menjadi kamarnya. Lampu kamar sudah padam, rintik hujan menjadi musik pengantar tidur paling sempurna. Tapi tidak untuk Ruby, ia masih setia menatap jam dinding. Pikirannya sedang disibukkan dengan dugaan-dugaan terhadap Hiko dan Nara. Ia sudah menepis semua itu, tapi otaknya masih terus memaksa memikirkan hal yang sama.


"By..."


Sentuhan tangan Nyai Hannah dilengannya membuat Ruby melepas semua pikirannya. Ia menatap Nyai Hannah, "Ya, Ummi?"


Nyai Hannah bangun dan duduk, menyalakan lampu tidur diatas nakas. "Apa jauh dari suamimu membuatmu tidak bisa tidur?" Tanya Nyai Hannah.


Ruby pun ikut bangun dan duduk, ia menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur. Pandangannya lurus kedepan, ia sendiri bingung harus menjawab apa.


Nyai Hannah membelai lembut rambut putrinya, "Kalian sedang bertengkar?" Tanya Nyai Hannah.


Ruby kembali diam, bukan hal yang aneh untuknya jika tiap hari dia dan suaminya bertengkar. Hanya saja kali ini berbeda, ketika Hiko mengatkan dia akan menginap di rumah Nara.


"Ummi..." Ruby membuka suara.


"Ya, Nak." Nyai Hannah bersiap mendengarkan putrinya.


"Bukankah wanita baik untuk pria yang baik dan pria baik untuk wanita yang baik pula. Begitu pun sebaliknya, Ummi."


Nyai Hannah mengangguk.


"Bagaimana jika wanita baik mendapatkan pria yang buruk?" Ruby menatap Umminya.


Nyai Hannah tersenyum, ia bisa menebak apa maksud dari pertanyaan Ruby. "Jodoh kita adalah cerminan diri kita, tapi jangan lupa juga satu hal, Nak. Jodoh juga pelengkap hidup kita."


Ruby menunggu penjelasan Umminya.


"Apa kamu sedang menganggap jika kamu adalah manusia yang tidak pernah melakukan dosa?"


"Tapi setidaknya Ruby merasa lebih baik darinya."


Nyai Hannah tersenyum dan memegang kedua tangannya, "Kamu tidak bisa mengukur kadar kebaikan dan keburukan manusia, Nak. Allah yang berhak atas itu semua. Belum tentu apa yang buruk menurutmu, buruk juga dimata-Nya. Allah lebih tahu yang terbaik untuk kamu."


Ruby tertunduk, ia sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak mungkin Allah membawa kamu ke titik ini tanpa ada maksud dan tujuannya. Jadikan dia pelengkap atas kekuranganmu, dan jadikan dirimu pelengkap dari kekurangannya. Jika memang kamu menganggap dirimu baik, pastilah dia pria yang baik pula. Jika memang dia pria yang buruk, belajarlah bersamanya untuk menjadi yang lebih baik lagi. Kenali dia, Nak. Allah tidak mungkin mengecawakan hambanya."


Nyai Hannah mengangkat wajah putrinya, "Jangan *t*akabur, Nak. Kita bukanlah manusia sempurna. Di mata Allah, belum tentu kita lebih baik dari orang-orang yang kita anggap buruk."


"Ataqfirullahaladzim..." Ruby menyesali sikapnya, "Ruby sudah terlalu sombong, Ummi."


Nyai Hannah memeluk putrinya, "Ummi tidak bisa ikut campur didalam rumah tangga kamu, Nak. Ummi yakin kalian bisa saling mengisi satu sama lain."


Ruby mengangguk.


Bagaimana bisa ia menjadi sesombong ini hanya merasa dirinya lebih beriman dan lebih dekat dengan Tuhannya. Apa karena dia terlalu membenci suaminya hingga dia tidak bisa mengetahui kebaikan suaminya?


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mau lanjut baca jangan lupa tinggalkan like dan comment-nya ya kakakk..


__ADS_2