Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 4-2


__ADS_3

"Sebaiknya pembicaraan ini kita bahas di tempat lain saja, Bu." Ustadz Arsy menengahi perdebatan di antara wali santrinya. "Banyak anak-anak di sini," imbuhnya.


"Astaghfirullahaladzim ... maafkan saya, Pak Ustadz."


"Saya pulang saja, Pak Ustadz." Mama Sofyan beranjak pergi.


"Bu Icha ... kita bisa bicarakan semua baik-baik di dalam," bujuk Ustadz Arsy.


"Tidak perlu, Pak. Pembicaraan ini tidak akan berujung. Dia akan tetap membela anak itu dan saya akan terus membela anak saya!" jawab wanita itu seraya naik ke atas motor. "Orang baru aja belagu!" sungutnya kemudian menarik gas dan pergi meninggalkan pelataran masjid.


Satu per satu orang-orang yang berada di sana berpamitan pulang. Keadaan pun mereda, menyisakan Ruby, Almeer, Ustadz Arsy dan beberapa anak-anak yang masih bermain.


"Maafkan saya karena sudah membuat kekacauan di sini ya, Pak," sesal Ruby pada Ustadz Arsy.


"Saya paham, Bu. Sebenarnya sudah sering saya menegur beberapa orang memandang Al berbeda dari yang lain, tapi ya masih seperti ini, Bu."


Ruby hanya tersenyum, kemudian ia menatap Al yang terlihat sedih dan ketakutan. "Al, tasnya di mana? Ambil dulu, gih."


"Iya, Ma." Almeer berlari mengambil tasnya.


"Apa dia sering mengalami hal seperti ini Ustadz?" tanya Ruby.


"Saya pernah mendengar beberapa kali ketika ada anak yang iri dengan Al, pasti mereka menyangkut pautkan tentang nasabnya. Dia tidak pernah membalasnya. Baru sekali ini saya melihat Al membalas mereka, yang sekilas tadi dia bilang karena Sofyan mengejek orang tuanya."


"Astaghfirullah, Al ... kenapa harus dipendam sendiri?" gumam Ruby gusar dengan menatap Almeer yang berlari menghampirinya.


"Sudah, Ma!" cetus Almeer.


"Pamit dan minta maaf sama Pak Ustadz dulu, Sayang." perintah Ruby, "Al 'kan sudah bikin Pak Ustadz khawatir tadi."


Almeer mengangguk dan meraih tangan kanan Ustadz Arsy kemudian mencium punggung tangan pria paruh baya itu. "Maafin Al ya, Ustadz."


"Iya, Al. Ustadz juga minta maaf, ya!"


Almeer mengangguk lagi dengan mengulas senyum. "Al pamit pulang, Assalamu'alaikum."


"Kami permisi dulu Ustadz, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabbarakatuh."


Ruby menggandeng Almeer pergi keluar pelataran masjid. Tepat di depan pintu gerbang, Al menghentikan langkahnya. Ia menatap baju kokonya yang kotor, binar wajahnya menunjukkan sebuah keraguan.


"Al, kenapa?" tanya Ruby.


"Papa masih di studio apa sudah di rumah ya, Ma?" tanya Almeer.


Melihat keresahan putranya, Ruby mengajak Almeer untuk pergi ke taman kecil yang ada di depan masjid. Sepi, tidak ada siapapun di sana. Mereka duduk di salah satu bangku besi sambil menikmati tenangnya senja.


"Ada yang mau Al ceritakan ke Mama?"


Almeer mengalihkan pandangan dan menghindari tatapan mamanya.


"Mama nggak akan maksa Al buat cerita, tapi Mama cuma mau bilang saja kalau menyakiti orang lain bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita."


"Tapi Sofyan jelek-jelekin Papa, Ma. Dia bilang Papa itu nimbun banyak dosa dan Al lahir dari dosa. Al nggak mau Papa digituin. Papa Al baik, Papa Al rajin sholat, Papa Al sayang sama Allah." Kalimat anak kecil itu ditutup dengan tangis yang meraung-raung.

__ADS_1


Ruby membawa Almeer ke pangkuannya dan mendekap dengan memberikan tepukan-tepukan kecil di punggung putranya. Ia membiarkan Almeer untuk menangis, melepaskan kesedihan yang disimpannya sendiri selama ini.


"Al rajin sholat, rajin ngaji, rajin sedekah biar di sayang Allah. Al nggak mau jadi anak kotor yang penuh dosa. Al mau jadi anak sholeh biar nggak di ejek temen," tutur Almeer di antara isak tangisnya.


"Iya, Sayang ... iya."


Ruby masih memberi kesempatan untuk Almeer agar menuntaskan tangisnya.


Sepuluh menit isakan tangis Almeer mulai mereda. Meski napasnya masih sesenggukan, tapi bulir bening hangat sudah tak keluar lagi dari mata indah itu.


"Mama mau tanya, Al mau jawab semuanya?" tanya Ruby. Ia mendudukkan putranya kembali ke bangku taman dan memandang lekat putranya.


Almeer mengangguk.


"Tadi di sekolah Almeer main sama siapa aja di sekolah?" tanya Ruby.


"Izan, Memey, Zidan, Ilham, Iyas, Sofia ...." Ia berpikir sejenak mengingat nama teman-teman yang bermain dengannya.


"Banyak?" tanya Ruby lagi.


Almeer mengangguk.


"Terus, tadi di sekolah belajar apa aja? Ada yang dinilai nggak?"


"Hari ini berhitung, mewarnai. Mewarnai aku dapat bintangnya lima, Ma. Temen-temenku cuma empat." Almeer terlihat bangga.


"Wah! Alhamdulillah, bagus dong."


Almeer mengangguk senang. "Kan diajari Mama!"


"Sama Aryo, Kenzi, Danu sama Sofyan," jawab Almeer.


"Kalau ngajinya tadi bagaimana? Hapalan Almeer lancar, nggak?"


"Lancar dong, Ma. Udah nambah lima ayat lagi!"


"Wah, pinter dooong!" sahut Ruby.


"Makasih, Ma."


"Jadi, hari ini yang buat Al kesal Sofyan aja?" tanya Ruby.


Almeer mengangguk, wajahnya kembali kesal.


"Yang main sama Al lebih banyak? Yang muji Al juga lebih banyak. Itu artinya Al anak pintar dan punya banyak teman, dong."


Almeer terdiam.


"Yang suka ngatain Al anak yang lahir dari dosa berapa orang?" tanya Ruby.


"Tiga!" Al menunjukkan tiga jarinya.


"Temen-temen Al semuanya berapa? Kalau jari Al buat berhitung, cukup enggak?"


Almeer mencoba mengingat nama teman-temannya dengan menghitung menggunakan jari-jarinya. "Nggak cukup, Ma."

__ADS_1


"Alhamdulillah ... jadi yang suka Al lebih banyak dari pada yang nggak suka Al."


"Tapi mereka buat Al sedih, Ma. Mereka jahat, mereka beda-bedain Al karena lahir dari dosa."


"Al dengerin Mama baik-baik, Ya." Ruby duduk jongkok di depan Al dan menggenggam tangan kecil itu erat-erat. "Nabi Muhammad, manusia paling mulia di sisi Allah saja banyak yang tidak menyukai. Apalagi kita sebagai manusia biasa, Sayang?"


Almeer terlihat menyesal.


"Al nggak perlu khawatir. Semua bayi terlahir dalam keadaan suci. Termasuk Almeer." Ruby mencoba meyakinkan. "Papa dan Mama Nara memang pernah berbuat kesalahan, bukan berarti Al yang menanggung dosanya. Kalaupun semua orang berkata Al terlahir dari kesalahan, Al terlahir dari dosa. Ingat saja kata-kata Mama ini. Telur ayam keluar dari tempat yang kotor, tapi Al tahu 'kan seberapa lezatnya telur ayam dan berapa banyak kandungan nutrisi yang ada di dalamnya?"


Almeer mengangguk. "Telur enak kalau udah di masak, dikasih bumbu, di kasih kecap juga, Ma."


Ruby tersenyum, mencubit gemas pipi putranya. "Al juga bisa seperti telur. Jadi manusia yang bermanfaat untuk semua orang, ya? Belajar yang rajin, terus berusaha, agar Al tumbuh jadi orang yang hebat, santun, penyayang pada semua orang."


"Aamiin ya Allah ... Aamiin." Anak kecil itu mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. "Tapi, Ma. Mamanya Sofyan sudah jahat sama Papa dan Mama Nara. Nggak apa 'kan kalau Al marahin dia karena sudah jelek-jelekin orang tua, Al?"


"Kalau yang bilang seperti itu teman, Al. Kamu bisa memarahinya. Tapi kalau yang bilang seperti itu orang yang lebih tua dari Al, tegur baik-baik, dengan santun. Jika tidak bisa, kamu bisa bilang ke Papa atau Mama. Kami yang akan berbicara dengannya."


"Tapi dia sudah nggak sopan ke Papa dan Mama Nara. Kenapa harus sopan ke dia!"


"Sesalah apapun orang lain. Apalagi dia jauh lebih dewasa Al harus tetap menghormati. Sebab apa? Dia lebih dulu beriman pada Allah sebelum Al lahir."


"Tapi omongan mereka selalu bikin Al terluka, Ma. Kalau itu sampai di dengar Papa, Papa pasti juga akan sedih."


"Al harus tumbuh jadi laki-laki yang kuat, ya! Semakin umur Al bertambah, akan semakin banyak luka yang diterima. Semarah atau sebenci apapun Al akan hal itu, jangan pernah berhenti untuk berbuat baik dan jangan pernah berhenti bersyukur."


Almeer mengangguk tegas.


"Di dunia ini, bukan hanya kita yang diberi luka. Andai saja Allah membuka telinga kita dan bisa mendengar isi hati setiap orang. Kita pasti akan merasa bersyukur atas masalah yang telah Allah berikan pada kita. Karena di luar sana, banyak yang mendapat cobaan lebih besar dari kita, Sayang."


"Al takut! Nggak mau denger. Al nggak tega. Gimana kalau Al tahu dan Al nggak bisa bantu? Kasian, Ma."


Ruby tersenyum gemas. Anak sekecil ini sudah punya rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya. "Karena itu ... kita harus bersyukur dengan apapun yang kita dapatkan ya, Sayang. Al harus tumbuh menjadi orang yang berguna untuk siapapun. Beri yang terbaik untuk diri Al sendiri. Al hebat dan Al sholeh."


"Makasih, Mama!" Almeer menghambur ke dalam pelukan Ruby. "Al senang punya Mama. Al sayang sama Mama Ruby."


"Jangan pernah merasa sendiri ya, Sayang. Ada Mama di sini."


Almeer melepaskan pelukannya dan mengangguk. Sedih di wajahnya sudah tak terlihat lagi. Melihat hal itu, Ruby segera mengajak putranya untuk pulang.


"Kalau Papa tahu Al berantem gimana, Ma?" tanya Al ketika hampir masuk di pintu gerbang rumahnya."Al takut dimarahin."


"Tenang ... ada Mama."


...🌸Bersambung🌸...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...👍 Tekan LIKE dulu....


...✍️ Tulis KOMENTAR juga....


...🏅 Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....


...Terima kasih 💕...

__ADS_1


__ADS_2