
Hiko berlari kecil menyusuri koridor kantor manajementnya. Ruangan direktur menjadi tujuan Hiko saat ini. Genta tak memberikan penjelasan apapun pada Hiko, dia hanya menyuruh Hiko untuk bertemu di ruangan pak Budi -Direktur yang menaungi management Hiko-.
"Assalamu'alaikum!" Sapa Hiko ketika masuk ke dalam ruangan Budi.
"Wa'alaikumsalam." Hanya Genta yang memberikan jawaban, sedangkan Yang lainnya tercengang.
"Gue berapa lama sih gak ketemu dia? Udah beda aja." Bisik Budi pada Genta.
"Semenjak jadi mantu kyai dia udah beda, Pak." jawab Genta.
Budi menganggung-angguk, tatapannya mengikuti tiap langkah Hiko hingga pria itu duduk di sofa.
"Ngapain ngajak ketemuan disini sih, Ta?" tanya Hiko.
"Bos Yang minta." jawab Genta.
Hiko menatap pria gemuk yang sudah memiliki banyak uban di rambutnya.
"Lo gak suka ketemu gue?" tanya Budi.
"Enggak, males aja! Yang dibicarain cuma itu-itu aja." Jawab Hiko.
"Yaah, kirain udah beda beneran. Taunya sama aja, tetep ngeselin." Budi mencibir.
"Bisa gak sih langsung to the point! Gue ninggalin istri gue nih." Protes Hiko, "Nara kan pelakunya?"
Genta dan Budi menggeleng kompak.
"Siapa?" tanya Hiko tak sabar.
"Salah satu asisten Ghea yang ngelakuin itu." Jawab Genta.
"Ghea? Lawan main gue kemarin di The King? Artis baru itu?" tanya Hiko.
Kedua pria di depannya itu mengangguk.
"Gue udah bawa asistennya ke kantor polisi, biar mereka yang menangani kasus ini." Kata Budi.
"Apa hubungannya Ghea dengan kasus ini? Gak ada hubungannya sama sekali, dia juga gak tau masalah Ruby." Hiko masih tak mengerti.
"Dia punya perasaan ke elo , ****! Napa Lo jadi gak peka gini sih?" tanya Budi.
"Sekarang otak dan hatinya udah dipenuhin cewek Yang namanya Ruby, Pak." sahut Genta.
Wajah Budi berubah tegas, "Gue gak mau Lo bongkar semuanya ke media!"
Hiko terkejut dengan ucapan Budi . Ia menatap Genta, Lo kasih tau dia? begitulah arti tatapannya.
"Bos maksa, Ko!"
Hiko menghela nafas kesal, tapi mau bagaimana lagi.
"Gue gak mau karir Lo hancur gara-gara ini. Lo lagi di puncak karir sekarang!" Ujar Budi.
"Anda gak baca kalau semua fans saya nyerang Ruby!? Dia ga salah! saya yang salah tapi dia yang nanggung semuanya. Gimana sayabisa napas lega kedepannya?" sergah Hiko.
"Pokoknya gue gak setuju! Gue gak bakal bantu Lo kalau sampai Lo lakuin itu!" Ancam Budi.
Hiko terdiam, bukan karena ancaman Budi tapi ia memikirkan peringatan Ruby juga. Ia memikirkan bagaimana kecewanya kedua mertuanya jika tahu dialah yang merusak putri mereka satu-satunya?
"Lo tahu dimana Ghea sekarang? Gue harus bikin perhitungan dengannya sekarang." Tanya Hiko pada Genta.
"Gue gak mau Lo bikin keributan ya, Ko!" Budi memperingatkan.
"Gak ada yang bisa jamin kedepannya gimana? Yang jelas saya harus membela mati-matian kehormatan istri saya!" Ucap Hiko kemudian beranjak pergi.
Budi menatap Genta, ia memperingatkan untuk menjaga semua tindakan Hiko. Budi benar-benar tidak mau dirugikan dengan tindakan Hiko.
Genta Yang sudah mengertipun langsung berpamitan dan menyusul Hiko Yang sudah keluar terlebih dahulu.
**********
Hiko hanya berdiam diri memperhatikan jalanan, membiarkan Genta yang sedari tadi memberinya penjelasan jika Ghea sudah Lama menaruh hati pada Hiko.
"Lo dengerin gue gak sih?" tanya Genta kesal.
"Enggak! Gue lagi mikir gimana caranya balikin nama baik Ruby! Sedangkan dia sendiri ngelarang gue buat ngakuin kesalahan gue!"
Genta terdiam, ia fokus mengendarai mobil Hiko. Suasana mobil kembali senyap, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Sebagai manajer lo, gue gak dukung lo lakuin itu. Tapi sebagai temen lo, gue dukung seratus persen buat ngakuin kesalahan lo! Sekalipun kehilangan Ruby konsekuensi terburuknya."
"Itu yang gue takutin!" Balas Hiko.
__ADS_1
Genta dan Hiko kembali terdiam, fokus menatap jalan menuju ke rumah Ghea.
Tak terlalu lama mobil Hiko menapaki aspal ibu kota kini mulai menyusuri jalanan berpaving disebuah perumahan mewah. Genta menyempatkan untuk berhenti sejenak di pos security untuk menanyakan alamat yang ada di ponselnya. Dengan petunjuk dari security akhirnya mobil Hiko terhenti di sebuah rumah yang tak terlalu besar namun terlihat sangat mewah. Dua mobil sedan dan SUV milik brand ternama terjajar rapi di carport rumah itu.
Hiko dan Genta segera turun dari mobil dan masuk ke dalam halaman rumah yang tidak ada seorang pun yang menjaga. Genta menekan bel yang menempel di bingkai pintu bercat putih itu.
Tiga kali bel ditekan hingga akhirnya seorang wanita muda muncul dari balik pintu.
"Ghea ada, mbak?" tanya Genta.
wanita itu terlihat kaget dan sumringah melihat kehadiran Hiko, "Mas Hiko?" sapanya mengabaikan pertanyaan Genta.
"Ghea ada?" Hiko bertanya dengan wajah Yang tak ramah.
"Ada ada, silahkan masuk." kata wanita itu.
Hiko dan Genta masuk ke dalam ruang tamu. Baru wanita itu masuk ke dalam , sosok wanita cantik bertubuh tinggi dengan pakaian modis dan tas branded di lengannya muncul. Wajahnya sedikit terkejut melihat kehadiran Hiko dan Genta.
"Kak Hiko ada apa kemari?" tanya Ghea.
"Lo udah tahu kan kenapa gue ada disini?" tanya Hiko tanpa basa basi.
"Ada apa ya, Kak?" tanya Ghea, tentu saja ia sangat mahir untuk memasang wajah kebingungan.
"Ck!" Hiko berdecak kesal, "Lo gak sebaik itu dalam acting!" Ejeknya memancing emosi Ghea.
"Duduk dulu deh, Kak."
"Apa yang ngebuat Lo ngusik rumah tangga gue?" Sergah Hiko.
Ghea masih memberikan ekspresi wajah kebingungannya.
"Gue gak tahu kalau Lo cewek gampangan, cuma karena acting doang Lo kebawa perasaan ke gue!"
Genta menyenggol punggung tangan Hiko Yang terus memprofokasi Ghea.
"Aku udah suka ke kakak bahkan sebelum aku masuk ke dunia entertaintment. Aku boleh saja murahan kepadamu, tapi setidaknya aku masih menjadi seorang gadis yang bisa menjaga kesucian diriku sendiri."
Kalimat Ghea cukup membuat Hiko naik darah. Jika saja Ghea seorang laki-laki, Hiko sudah menghabisinya saat itu juga.
"Darimana lo tahu semua tentang dia?" tanya Hiko setelah bisa mengendalikan amarahnya.
"Aku tahu semua tentang kamu dan juga tentang Ruby." jawab Ghea dengan santainya.
Hiko tersenyum masam, "Sebanyak apa yang Lo tahu tentang gue?"
Lagi lagi Hiko berdecak kesal mendengar jawaban Ghea.
"Jadi Lo tahu berapa banyak cewek yang udah pernah tidur dengan gue?" Hiko sedang menerka sesuatu.
Ghea menangguk, "Cewek-cewek di klub malam itu? beberapa artis dan juga asisten dia." Ghe menunjuk Genta dengan dagunya.
Hiko dan Genta saling menatap, dia tak tahu terlalu jauh. Sorot mata Genta berbicara seperti itu.
"Apa keuntungan yang lo dapat dari semua ini? Lo bukan tipe gue, apapun yang lo lakuin gak bakal buat gue ngelirik lo!" kata Hiko.
Ghea menggeleng, "Aku juga sudah tidak menginginkanmu."
Hiko dan Genta mengernyitkan keningnya kebingungan.
"Aku tidak mau menjawabnya, karena aku tahu kalian sedang mereka percakapan kita."
"Hahahaha!" Hiko tertawa keras, "Gue gak tahu kalau Lo sepinter ini?"
"Tentu aja, gue gak mau masuk penjara karena ini."
"Lo tumbalin asisten Lo?" tanya Genta tak menyangka jika wanita berparas cantik itu berhati licik.
"Aku gak tahu apa yang dia lakuin diluar sana." Jawab Ghea dengan nada yang sengaja dibuat-buat seakan sedang ditekan.
"Gue pastiin Lo juga bakal ngerasain gimana rasanya di penjara." Ancam Hiko.
Ghea masih bisa tersenyum semanis mungkin, membuat Hiko geram dan mengajak Genta meninggalkan rumah Ghea.
*********
Hiko sampai di rumah tak terlalu malam, tapi Ruby sudah tidur terlelap di balik selimut. Kedatangan Hiko membuat Kyai Abdullah dan Nyai Hannah lega dan bergegas untuk pulang. Sedikit nasehat diberikan Kyi Abdullah untuk menyemangati Hiko menghadapi cobaan ini.
"Kenapa Abi dan Ummi tidak menginap disini saja? Apa kamarnya kurang nyaman?" tanya Hiko sebelum Kyai Abdullah dan Nyai Hannah masuk ke dalam mobil Ehsan.
"Abi harus menghadiri beberapa acara untuk beberapa hari ke depan.Setelah acara selesai kami pasti akan menginap disini sebelum kembali ke Malang." Jawab Nyai Hannah.
Hiko mengangguk, "Maaf jika Hiko merepotkan Abi dan Ummi."
__ADS_1
"Tidak, Nak. Jangan bicara seperti itu." Kyai Abdullah menepuk bahu Hiko, membuatnya lebih menunduk lagi karena segan.
"Kami pamit pulang dulu ya?"
"Assalamu'alaikum." Pamit Kyai Abdullah dan Nyai Hannah bersamaan.
"Wa'alaikumsalam Abi, Ummi." Jawab Hiko.
"Pamit dulu ya, Mas." Pamit Ehsan dari dalam mobil.
"Iya, San. Hati-hati, Ya."
Ehsan mengacungkan jempolnya kemudian membawa mobilnya meninggalkan halaman rumah Hiko.
Seperginya kedua mertuanya, Hiko pun kembali masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu dan menutup gorden barulah ia pergi ke kamarnya.
Masih berada di ujung anak tangga lantai dua, Hiko mendapati Ruby keluar dari kamarnya.
"Mas, maaf ya. Aku gak tau kamu pulang, aku ketiduran." Ruby menghampiri Hiko menyesal.
Hiko tersenyum, merapikan jilbab Ruby yang sedikit berantakan. "Gak apa, Ruby." Jawab Hiko. "Kamu udah makan malam?"
Ruby menggeleng, Habis sholat isya' dengan Ummi tadi aku langsung tidur, Mas."
"Kita makan dulu, yuk." Ajak Hiko.
Keduanya turun ke dapur. Ruby menghangatkan menu makan malam di microwave sedangkan Hiko menyiapkan perlengkapan makan mereka. Setelah semuanya siap, mereka pun mulai menyantap makan malamnya.
"Kamu sudah bertemu pelakunya, Mas?" tanya Ruby.
Hiko mengangguk, "Kamu benar, By. Bukan Nara yang melakukannya."
"Benar kan, mas? sekesal dan semarah apapun Nara, dia tidak akan berbuat hal seperti ini."
Hiko tak menjawabnya, karena sebenarnya ia tak setuju dengan pendapat Ruby.
"Lalu, siapa mas yang melakukannya?" tanya Ruby.
"Ghea, lawan main ku di The King."
"Ghea!?" Ruby tak menyangka. "Kenapa bisa?"
"Ini salahku, By. Sehingga kamu yang menanggung semua ini."
"Apa kamu pernah menidurinya, Mas? da sekarang dia meminta pertanggungjawabanmu?" Ruby mencoba menebak.
Hiko menggeleng, "Gak, Ruby. Aku tidak pernah menidurinya."
"Lantas, kenapa?"
"Dia belum memberitahu alasannya." Jawab Hiko.
Ruby terdiam menatap Hiko, membuat mereka menatap satu sama lain.
"Kenapa aku tiba-tiba merasa takut jika ada seseorang yang pernah kamu tiduri meminta pertanggungjawabanmu ya, Mas?"
Pertanyaan Yang cukup membuat jantung Hiko ditarik keluar dan dibuang begitu saja.
"Ruby ..."
"Jika hal itu benar terjadi, apa yang harus ku lakukan, Mas?" tanya Ruby.
"Itu tidak akan terjadi, By."
"Jika sampai itu terjadi?"
"Jangan membicarakan hal Yang tidak pasti, By."
"Satu hal yang pasti adalah ketidakpastian, Mas?"
Dan lagi keduanya diam, saling menatap dengan sorot mata yang sama-sama kerasnya, mempertahankan pendapat mereka.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment and vote ya kakak.
Terimakasih.