
Ruby melepas paksa tangan Hiko dari pinggangnya. Bukan hanya merasa tidak nyaman, lebih lagi ia merasa tidak enak ketika wajah Nara yang terlihat sedih. Bersama Abriz dia menuju ke meja bundar berisikan enam kursi yang salah satunya sudah bertuliskan namanya dan nama Abriz. Ia bersyukur tidak duduk satu meja dengan Hiko.
Sejak acara dimulai, Abriz tidak berhenti menatap meja Hiko yang berada diseberangnya, Ia memperhatikan tiap gerak gerik antara Hiko dan Nara. Abriz dibuat kagum dengan tingkah laku Hiko dan Nara, mereka terlihat sangat profesional berbohong. Seakan-akan mereka tidak mempunyai hubungan khusus.
Ruby sedikit mendekatkan bahunya pada Abriz, "Mas gak inget permintaanku tadi pagi?" Bisik Ruby.
Melihat Abriz sudah merespon, membuat Ruby menarik diri. Ia menatap Abriz agar berhenti memperhatikan mereka. Abriz menganggukkan kepalanya dan mengalihkannya pada Rika yang sedang memberikan sambutan.
Setelah Rika memberikan sambutan mengenai serial drama terbaru yang masih tayang beberapa episode sudah meraih rating yang sangat tinggi, acara dilanjutkan dengan makan malam dan ramah tamah.
Alunan live musik mengantar para tamu undangan untuk menikmati makan malam. Ruby dan Abriz sama-sama mengambil makan malam dan lebih memilih makan sambil duduk di meja mereka tadi ketimbang makan sambil berdiri dan berbincang bersama beberapa orang lainnya.
"Kamu gak nemenin suamimu?" Tanya Abriz.
Ruby menggeleng.
Abriz menatap Ruby, "Kamu gak bahagia dengan pernikahanmu?"
"Uhuk uhuk uhuk!"
Pertanyaan Abriz membuat Ruby tersedak, Abriz segera memberikan segelas air minum pada Ruby. Dengan cepat Ruby meneguk air minumnya.
"Saya tidak mau membahas hal ini, mas. Apalagi di tempat seperti ini." Kata Ruby.
"Maaf, By. Tapi kamu inget ucapanku beberapa waktu lalu kan? Menikahlah denganku jika kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu."
Ruby meletakkan sendok dan garpunya, "Mas belum genap seminggu mengenal saya. Mas belum tahu banyak tentang saya tapi mas berani mengajak saya menikah? Apalagi status saya adalah istri orang."
"Jika begitu ijinkan aku mengenalmu lebih jauh."
"Semakin jauh kamu mengenalku hanya berujung kekecewaan, Mas. Cukup sampai disini batas kita."
Abriz tak bisa menjawab, mereka hanya saling berpandangan. Abriz dengan keyakinannya dan Ruby dengan pertahanannya.
"Mau tatap-tatapan sampai kalian saling melubangi mata kalian?"
Kehadiran Hiko membuat Abriz dan Ruby saling berpaling.
"Bisa-bisanya kamu lihat laki-laki lain saat ada suami mu disini." Hiko mengusap kepala Ruby.
"Mas..." Ruby mencoba untuk memprotes tindakan Hiko.
"Aku laper, sayang. Tolong ambilin makan donk."
Ruby terbelalak mendengar ucapan Hiko, tapi mau gak mau membuat Ruby berdiri meninggalkan meja dan mengambilkan Hiko makan malam.
"Lo suka istri gue?" Tanya Hiko pada Abriz sesaat setelah Ruby meninggalkan kursinya.
"Ya! sayangnya gue telat." Jawab Abriz.
"Tapi kayanya, lo masih masuk tipe-tipe cowok idamannya."
Abriz meletakkan sendok garpunya, menyilangkan kedua lengan bawahnya diatas meja. "Lo gak cemburu?"
Hiko menggeleng, "Buat apa? Gue gak kenal kata cemburu."
"Ah, iya! Terlihat jelas kalau lo punya banyak cewek, gak mungkin lo punya rasa takut kehilangan." sahut Abriz.
"That's Right!" Hiko menjentikkan jarinya, "Lo bener banget, Bro!"
Walau terkejut, Abriz berusaha menutupinya. Ingin sekali dia menendang pria didepannya itu.
"Lo orang yang beruntung, bisa menikahi Ruby dengan segala kelebihannya. Tapi sayangnya tidak dengan Ruby, seharusnya dia bisa dapat suami yang lebih dari Lo."
Hiko mengangguk, "Ya. gue sependapat. Tunangannya dulu juga ganteng, pinter, alim, anak kyai juga. Tapi gak tahu kenapa, dia lebih milih nikah sama cowok bejat kaya gue?" Hiko menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di dada dan menunjukkan wajah angkuhnya pada Abriz.
__ADS_1
Abriz hanya tersenyum sinis.
"Lo mau ambil dia? Silahkan. Tapi gue gak yakin dia mau bakal mau sama lo."
"Gimana kalau dia mau sama gue? Lo mau ceraiin dia?" Abriz menjawab tantangan Hiko.
Hiko mengangguk, "Oke!"
Hiko menarik tubuhnya dan menempelkannya pada meja, "Sekalipun dia cerai dari gue, gue gak yakin dia bisa hidup dengan pria lain." Bisik Hiko.
"Kalian ngomongin apa sih? Serius amat." Tiba-tiba Nara duduk disamping Hiko.
Abriz mau menatap Nara, "Mbak mantan istrinya Kak Heru kan?" Tanya Abriz
Nara terkejut, Ia menatap Abriz dan berusaha mengingat wajah pria berlesung pipit itu. "Kok kamu bisa tahu?" Tanya Nara.
Abriz hanya tersenyum masam, ia tak mau banyak bicara dengan Nara apalagi setelah melihat Ruby datang.
"Ini, Mas." Ruby memberikan sepiring nasi dan lauk pauknya pada Hiko, tak lupa dengan sebotol air putih juga.
"Makasih ya, sayang."
Kalimat Hiko membuat Nara hampir tersedak, Ia menatap Hiko tapi Hiko mengacuhkannya.
"Tunggu!" Nara mencegah suapan pertama Hiko.
"Kenapa?" Tanya Hiko.
Nara mengambil sendok dari tangan Hiko dan memilah-milah beberapa makanan Hiko.
"Hiko gak bisa makan udang sama kacang-kacangan, By. Kalo makan salah satu dari ini, dia bisa sesak nafas, bentol-bentol dan demam." Ujar Nara, "Dia sih suka aja makan ginian, gak peduli efeknya ntar."
"Maafkan saya, Mas." Ucap Ruby, Ia mengambil beberapa kacang polong dan udang yang ada di piring Hiko lalu dipindahkannya di piringnya.
"Buat apa?" Tanya Hiko.
"Buang aja!" Kata Hiko.
"Mubadzir!" Ruby mengacuhkan Hiko dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
"Ruby memang seperti itu, Ko. Dia pantang menyia-nyiakan makanan. Aku paling suka kalau makan bareng dia. Apa yang gak ku suka, ku kasih buat dia. Yang dia gak suka, dia kasih buat aku. Jadi piring kita bersih. Ya kan, By?"
"Betul!" Ruby tersenyum membenarkan ucapan Nara.
Abriz benar-benar dibuat bingung dengan hubungan diantara Ruby, Hiko dan Nara. Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka bertiga.
"Kalian udah kenal lama?" Tanya Abriz pada Ruby dan Nara.
"Udah dua puluh tahunan." Jawab Nara, "Kita kepisah empat tahunan ini, Ruby ke Jepang dan aku ke Jakarta."
Kali ini Abriz terkejut. "Kalian bersahabat?" Tanya Abriz lagi.
"Berhenti bertanya, Mas!" Ruby sudah tahu maksud pertanyaan Abriz.
"Dia cuma tanya hubungan persahabatan kalian loh? Gak ada yang salah kan?" Tanya Hiko pada Ruby.
Ruby menatap Hiko marah, ia tahu dengan sengaja ingin membuka semuanya pada Abriz. Ruby memilih berdiri dan meninggalkan makan malamnya, ia menghampiri Rika dan pamit untuk pulang lebih dulu.
"By! Ruby!" Abriz berlarian kecil mengejar Ruby di koridor gedung Star House.
Panggilan Abriz tidak menghentikan langkah Ruby.
"By! Jangan marah gitu donk." Kini langkah Abriz sudah menjajari Ruby.
Ruby masih mengacuhkan Abriz dan terus berjalan keluar dari gedung Star House menuju ke tempat parkir mobil dimana Imel menunggunya.
__ADS_1
"Sudah selesai, Mbak Ruby?" Tanya Imel
"Sudah, Mbak." Jawab Ruby. "Baju saya mana ya? Saya mau ganti dulu." Pintanya.
"Kata pak Heru, bajunya untuk Mbak Ruby dan Mas Abriz saja." Jawab Imel.
"Saya gak enak, Mbak." Kata Ruby.
"Udah, By. Bawa aja. Kak Heru duitnya banyak, kaya' ginian gak ada apa-apanya buat dia." Bujuk Abriz.
"Betul, Mbak. Dibawa saja." Tambah Imel.
Akhirnya Ruby mengangguk juga. "Bisa saya minta tas saya, mbak?" Ruby menukarkan handbag-nya dengan tas ransel miliknya.
Imel meberikan tas Ruby dan sneakernya yang sudah diletakkan di sebuah paperbag. "Semua yang Mbak Ruby pakai malam ini jadi milik, Mbak."
"Punya saya juga, Mbak?" Tanya Abriz.
"Iya, Mas." Jawab Imel.
"Yes, Alhamdullillah... Punya baju baru." Ucap Abriz kegirangan.
"Saya akan berterimakasih pada Pak Heru besok pagi." Kata Ruby.
"Saya juga, Mbak. Malam ini juga saya telpon beliau." Tambah Abriz.
"Kami bisa antar kalian pulang jika mau." Imel menawarkan diri.
Abriz mengangguk cepat sedang Ruby menggeleng.
"Kan lumayan, By. Hemat ongkos." Bujuk Abriz.
"Mas sendiri saja, saya mau naik ojek online aja." Jawab Ruby, "Saya permisi dulu ya, Mbak. Terimakasih bantuannya malam ini." Pamit Ruby kemudian meninggalkan Imel.
"Aku juga ikut kamu aja deh, By." Abriz mengambil tas dan bajunya yang sudah dikemas dalam paperbag kemudian kembali mengekori Ruby.
Ruby berjalan menuju ke jalan raya sambil menatap layar ponselnya untuk memesan ojek online. Sedangkan Abriz terus berjalan dibelakang Ruby.
"Kenapa gak terima tawaran mbak tadi sih, By? Kan enak gak ribet, hemat ongkos pula." Omel Abriz dibelakang Ruby.
Tak ada Jawaban dari Ruby, ia masih fokus dengan ponselnya.
Tiin tiiin!!!!
"Awas By!" Abriz menarik lengan Ruby dan..
BRAK!
Ruby yang terjatuh sangat terkejut melihat tubuh Abriz terpental dan jatuh diantara tanaman karena tabrakan motor yang melaju diatas trotoar.
"Mas Abriz!!!"
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Sebelum lanjut baca harus like dan commentnya ya. Tiap Episode likenya harus 300 keatas. Biar authornya rajin up, readersnya juga harus rajin like dan comment.
__ADS_1
wqwqwq.