
Hari-hari dilewati Nara cukup berat, sangat berat dan bahkan ia ingin menyerah dengan perlakuan Hiko padanya. Ia ingin menyerah, tapi tidak bisa. Satu-satunya teman untuknya bercerita adalah Ruby.
Bukan hanya Ruby, Nyai Hannah pun sering menelponnya dan menanyakan kabar tentangnya. Satu-satunya keberuntungan yang ia miliki adalah Ruby dan orangtua Ruby.
Usia kandungannya sudah memasuki trimester tiga akhir. Hiko selalu antusias jika berhubungan dengan pemeriksaan calon anaknya. Ia selalu mengingat pesan Ruby untuk menyayangi calon anaknya dan ia melakukannya, sebab itulah Ia tak pernah absen untuk mengantar Nara pergi ke dokter dan melihat hasil USG anaknya.
"Bu Nara, tekanan darahnya sangat tinggi. Tolong pola makannya lebih di atur ya? Jangan banyak pikiran. Kasihan babynya. Kalau ibu merasakan tanda-tanda yang sudah saya jelaskan sebelum-sebelumnya, tolong segera ke rumah sakit terdekat ..." Ujar dokter pada Nara.
Hiko menatap Nara, dia sebal dengan perasaan ini, ia mulai merasa bersalah pada wanita disampingnya itu.
"Tolong istrinya dijaga ya, Pak. Karena preklamsia ini sangat berbahaya untuk ibu hamil." Lanjut dokter pada Hiko.
Hiko hanya mengangguk dan mendengarkan penjelasan dokter lebih lanjut. Usai menerima saran dari dokter, Hiko dan Nara keluar ruangan dan pindah membeli obat di apotek yang masih berada di gedung yang sama dengan tempat pemeriksaan.
"Kamu pulang dulu aja, Ko. Nunggu obat pasti lama." kata Nara.
Tanpa banyak kata Hiko beranjak pergi meninggalkan Nara yang baru saja duduk disampingnya. Jika Nara berkata seperti itu untuk basa-basi ataupun membuktikan apakah pria itu peduli atau tidak padanya, jelas salah besar. Ia akan pergi jika ia ingin pergi, ia akan tinggal jika ia ingin tinggal. Nara tidak bisa mengaturnya dan tidak akan pernah bisa.
Ia menatap kepergian Hiko, pria yang dulu sangat peduli padanya, pria yang dulu sangat mencintainya, kini sudah menjadi orang yang berbeda, bahkan untuk menyentuhnya saja tidak bisa ia lakukan.
"Nara!?"
Ia menoleh ke samping ketika seseorang memanggil namanya. Itu Heru, mantan suaminya yang telah ia sia-siakan.
"Mas Heru?"
Nara sangat canggung bertemu dengan Heru setelah sekian lama ia tidak pernah bertemu dengan mantan suaminya itu, ia bahkan lupa kapan terakhir mereka bertegur sapa.
Heru menatap perut Nara yang membuncit, "Kamu sendirian?" tanya Heru.
"Tadi dengan Hiko, tapi dia ada keperluan mendadak jadi buru-buru pergi, Mas." Jawab Nara.
Heru menganguk, "Kamu cantik mengenakan kerudung."
Nara tersenyum, "Terimakasih, Mas."
"Sepertinya kamu bahagia, kamu lebih gemuk sekarang."
Nara kembali tersenyum, Heru tidak tahu jika badan Nara membengkak dikarenakan preklamsia yang hinggao ditubuhnya sekarang.
"Mas sedang apa disini?" tanya Nara.
"Habis jenguk temen, iseng aja keluar lewat sini." Jawab Heru, Ia tersenyum. "Aku balik dulu, ya? kamu gak apa-apa sendirian?"
Nara merasa sangat malu, pria yang sudah disakitinya itu masih bisa peduli padanya.
"Iya, Mas. Terimakasih masih peduli padaku."
Heru mengangguk, "Aku pergi ya, sampai jumpa, Ra."
"Iya, Mas."
Heru beranjak pergi.
"Mas Heru!!" Nara berjalan cepat mengejar Heru.
Heru menghentikan langkahnya dan menatap ke belakang. Ia menunggu seorang wanita sedang menghampirinya.
"Bisa kita Bicara sebentar, Mas?" tanya Nara.
Heru sedikit berfikir, kemudian ia menganggukkan kepala.
Nara dan Heru keluar gedung dan mencari tempat duduk kosong di sekitar sana.
"Ada apa, Ra?" tanya Heru.
Nara menatap Heru, banyak yang ingin ia sampaikan pada Heru. Permintaan maaf karena sudah menyelingkuhi pria sebaik itu juga penyesalan sudah menyia-nyiakan orang yang tulus mencintainya.
Heru mengerti, sorot mata Nara sudah menjawab pertanyaannya. Ia pun tak berharap Nara mengucapkan semuanya.
"Aku sudah mengikhlaskan perasaanku padamu, Ra. Kita bisa bahagia dengan cara kita masing-masing."
Nara menggeleng. Tidak, aku tidak sedang bahagia sekarang, Allah telah memberiku rasa sakit yang pernah kamu rasakan dulu, Batin Nara.
"Kenapa, Ra?"
"Maafkan aku, Mas. Tolong maafkan aku."
Heru tersenyum, "Iya. Aku memaafkanmu, Ra."
Mendengar Heru memaafkannya tidak membuat perasaannya menjadi lebih baik, rasa bersalah yang ada dihatinya lebih besar dari yang ia bayangkan rupanya.
"Hiduplah dengan bahagia, jangan menatap masa lalu."
Bagaimana aku bisa bahagia jika Allah sedang menghukumku atas masa laluku, Batin Nara. Air matanya menetes, ingin melepaskan sesak didadanya.
**********
Dengan mata sembab Nara pulang kerumah, mobil Hiko tak ada di halaman ataupun carport rumah. Sepertinya pria itu langsung kembali ke kantor mamanya. Karena sejak Hiko berhenti di dunia Entertainment, Handoko meminta pria itu mengurus perusahaan Maria. Dan jadilah dia CEO muda yang kemana-mana pergi dengan pakaian formal.
Nara beranjak masuk kamarnya, duduk di kursi samping jendela kamarnya. Ia membuka pesan whatsapp Ruby yang sedari tadi menanyakan hasil USG bayi dalam kandungannya. Berhubung Hiko belum pulang, ia segera menelepon Ruby.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, By."
Nara memulai percakapannya mengenai pertemuannya dengan Heru terlebih dahulu. Isak tangisnya kembali pecah, Ruby hanya bisa menenangkan dengan kata-kata saja dari balik telepon.
"Sudah, Ra. Jangan terlalu bersedih. Ingat bayi dalam kandunganmu. Ceritakan saja tentang dia, bagaimana hasil pemeriksaannya? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Tekanan darahku masih tetap tinggi, Bi. Bahkan lebih tinggi dari aebelumnya. Aku sudah mengikuti semua perintah dokter, tapi tetap saja ..."
"Suamimu masih tidak peduli padamu, Ra? Kehamilanmu sudah sebesar ini dan dia masih memperlakukanmu dengan tidak baik?"
"Aku selalu mencoba bersikap sewajarnya, By. Aku sudah mencoba berbuat sebaik mungkin didepannya tapi dia tetap memperlakukanku seperti sampah. Memandangku saja dia tidak mau, By."
"Lakukan dengan tulus, Ra. Kamu pasti bisa mengetuk pintu hatinya dan mendapatkan hatinya kembali."
"Bagaimana bisa aku melakukannya, By? Aku mencintainya, tapi seluruh cintanya untukmu. Aku harus berusaha seperti apa lagi?"
BRAK!!
"Astaqfirullahaladzim!"
Nara terkejut ketika Hiko membuka pintu kamarnya dengan sangat keras. Hiko terlihat marah dan merebut ponsel di tangan Nara.
"Kamu gila, By!! Bisa-bisanya kamu membantu wanita ini untuk mendapatkan hatiku!!"
"Dia istrimu, Mas."
"Berhenti menghubungi dia!! Berhenti mencari tahu tentangnya!! Berhenti mengurusi pernikahanku!! Aku tidak mau kamu mengusik kehidupanku!!"
PYAR!!
Hiko membanting ponsel Nara ke lantai hingga menjadi beberapa bagian.
"Lo punya otak gak sih?? Bisa-bisanya lo diskusi sama Ruby buat dapetin hati gue!!" Bentak Hiko, Ia merasa sangat marah dan murka mendengar percakapan Nara dan Ruby tadi.
"Aku gak--"
"Gue gak butuh lo!! Kalaupun anak ini lahir, gak akan ngubah perasaan gue ke lo!! NGERTI!!"
Nara tak bisa menjawab, ia hanya menangis. Sekian lama pria ini tidak pernah mengajaknya bicara, tapi sekalinya ia bicara sangat membuat hatinya sangat terluka.
"Argh!!" pekik Nara, ia memegang pangkal pahanya.
Sebuah cairan bening mengalir dari pangkal pahanya dan membasai lantai. Kepalanya pusing dan pandangannya menjadi kabur.
"Ko--"
Nara mencoba maraih Hiko namun ia lebih dulu tak sadarakan diri dan tergeletak di lantai.
"Ra!! Nara!!"
"Bi Inah, Bi!! Tolong hubungin Papa dan Mama ya, Nara mau lahiran!!" Teriak Hiko sambil keluar rumah.
"Iya, Den." Jawab Inah dengan panik.
Hiko segera membawa Nara ke UGD terdekat. Ia memang tak terlalu mengerti tentang kehamilan, tapi di beberapa adegan yang pernah ia mainkan, hal seperti ini dialami oleh wanita yang akan melahirkan.
Sampai di UGD, Perawat membawa Nara ke ruang pemeriksaan dengan brankar dan Hiko sudah tahu ia harus menunggu dimana.
Panik, tentu saja!
Nara belum waktunya melahirkan sekarang, dan sepertinya ia harus melahirkan sekarang karena ulahnya. Iya, memang ini salahnya. Ia tak bisa mengontrol kemarahannya pada Ruby dan Nara. Menurutnya, Ruby benar-benar Gila! Kenapa harus dia berbuat sejauh ini? Apa dia tak punya hati? Apa hatinya sudah kebal menahan sakit? Atau kah, dia sudah membuang perasaannya pada Hiko?
"Arggh!!"
Hiko kesal mengacak-acak rambutnya. Ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan calon anaknya. Nara? Entahlah, yg ada otaknya hanya calon anaknya saja.
"Suami ibu Nara?" Seorang perawat menghampiri Hiko.
"Iya ..."
"Ada yang ingin dokter sampaikan, Pak. Silahkan ikut saya."
Hiko mengikuti pasien dan masuk ke ruangan tindakan dimana Nara masih tak sadarkan diri disana.
"Pak, ada yang perlu saya sampaikan. Tekanan darah istri bapak sangat tinggi dan hal ini tidak baik untuk ibu maupun calon anak bapak. Proses persalinan ini akan sangat beresiko dan kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ibu dan bayi dalam kandungannya."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk mereka, dokter!" Pinta Hiko.
Dokter menganggukkan kepalanya,
"Ini untuk kemungkinan terburuknya, Pak. Jika nanti kami dihadapkan pilihan untuk menyelamatkan satu nyawa saja, bapak ingin kami menyelamatkan siapa?"
Astaqfirullahaladzim, sebesar inikah dosaku di masa lalu hingga Allah menghadapkanku pada pilihan ini? ya Allah ... Siapa yang harus ku pilih? Aku membenci Nara, bukan berarti aku bisa menghilangkan nyawanya. Sedang anakku, aku sangat mengharapkan kehadirannya.
"Bisakah anda tetap menyelamatkan keduanya, dokter?" tanya Hiko.
"Itu prioritas kami, Pak. Tapi bapak tetap harus memberikan jawabannya pada kami."
Hiko memejamkan matanya, hatinya sedang menimbang-nimbang, otakkan berfikir keras mencoba untuk memerankan logikanya.
"Kami tidak punya banyak waktu, Pak." Desak dokter.
__ADS_1
"Nara! Tolong selamatkan dia dokter!"
Akhirnya Hiko membuat pilihan, entahlah apa yang membuatnya menyebut nama Nara sedangkan ia sangat menginginkan anaknya.
"Baik, Pak. Kami akan mulai proses persalinannya."
Hiko mengangguk dan keluar ruangan dokter, ia kembi menunggu ditempat semula. Sudah ada Handoko, Maria dan Genta disana.
"Bagaimana keadaan Nara dan anakmu, Nak?" tanya Maria.
"Mereka akan melakukan tindakan, Ma. Nara sedang dalam resiko tinggi dan dokter khawatir hanya bisa menyelamatkan satu dari mereka.
"Astaqfirullah ..."
Handoko merangkul, menguatkan istrinya.
"Kita berdoa yang terbaik untuk mereka." Kata Handoko.
Hiko mengangguk, Genta memberinya beberapa tepukan di bahu Hiko.
**********
Sudah satu jam lebih Hiko dan keluarganya menunggu, belum ada juga perawat yang memberinya kabar. Separah itukah keadaan didalam sana? Hiko terus tertunduk dalam do'anya.
"Keluarga pasien ibu Nara?"
Semua bersiap menghampiri seorang perawat yang berdiri didepan pintu.
"Suami ibu Nara?"
Hiko mengangguk.
"Ibu Nara sudah melahirkan putra bapak, beratnya tiga koma tujuh kilogram dan panjangnya lima puluh satu centimeter."
Mendengar penjelasan perawat membuat Hiko dan keluarganya lega. Wajah mereka berseri dengan senyum lebar di bibir mereka.
"Nara? Bagaimana dengan, Nara?" tanya Hiko.
"Ibu Nara selamat, Pak. Beliau masih belum sadarkan diri."
"Alhamdullillah ..." Ucap semuanya.
"Bisa ikut saya untuk mengadzani putra bapak."
Hiko mengangguk kemudian mengikuti perawat menuju ke ruang bayi dimana putranya berada.
Hiko sangat senang melihat bayinya, gemuk dengan Kulitny hang merah merona menggemaskan. Air mata haru keluar di sudut pipinya. Ia segera melantunkan adzan dan iqomat di telinga kanan kiri bayinya.
"Saya ambil fotonya dulu boleh?" izin Hiko
"Tanpa blitz ya, Pak." Perawat mengingatkan
Hiko mengangguk dan segera mengambil foto putranya beberapa kali.
"Terimakasih." Ucap Hiko.
Ia kembali ke tempat keluarganya menunggu, memberitahu foto-foto putranya pada Handoko dan Maria. Senang dan bahagia terpancar di wajah mereka berdua.
"Pak, Ibu Nara sudah kami pindahkan ke kamarnya. Mari kami antar kesana."
Hiko dan Keluarganya mengikuti arahan perawat menuju ke ruangan yang ditempati Nara.
"Tolong hanya seroang saja yang ada di dalam, jika ingin melihat pasien bisa bergantian. Dua jam lagi kami akan melihat keadaan pasien. Jika memang sudah membaik, pasien bisa dijenguk maksimal empat orang." Jelas perawat.
"Baik, terimakasih."
"Saya permisi." Perawat meninggalkan Hiko dan keluarganya.
"Kamu masuk dulu aja, Ko." Ujar Handoko
Hiko mengangguk dan masuk ke dalam ruangan. Nara sudah membuka matanya dan sedang menyesuaikan diri didalam ruangan itu. Ia tersenyum ketika melihat Hiko mendekatinya.
Hiko menatap Nara datar, "Terimakasih, sudah melahirkan putraku." Kata Hiko.
"Jadi..., anak kita laki-laki?" tanya Nara lemah.
Hiko mengangguk.
"Kamu sudah pilih nama untuknya?"
Hiko mengangguk kembali. "Almeer, Sagara Almeer."
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, comment and vote ya kakak.