
Dengan hati-hati Hiko mendudukkan Ruby di bangku depan, tak lupa ia memakaikan seatbelt pada Ruby.
Pipi wanita muda berkerudung coklat itu sudah tak basah, hanya tersisa air mata yang basah di sekitar matanya. Tangannya yang masih gemetar saling menggenggam untuk meredakan gerakan tremor-nya.
Hiko menutup pintu mobil, memutari mobil dan duduk dibalik kemudi. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat sepi itu sesegera mungkin. sesekali ia melirik keadaan wanita disampingnya itu. Masih diam dengan mimik wajah ketakutan.
Bersyukur dia tadi menurunkan egonya dan memilih untuk menghampiri Ruby kembali. Ia akan lebih menyesal jika Ruby mendapatkan perlakuan buruk lagi karena dirinya.
Hiko menepikan mobilnya di sebuah halaman minimarket untuk membelikan Ruby sebotol air mineral agar dia bisa lebih tenang.
Langkahnya untuk keluar dari mobil tertahan ketika ia merasakan kaos belakangnya sedang ditarik. Ia kembali duduk, menatap pemilik tangan yang masih memegangi kaosnya itu.
"Tolong jangan tinggalkan saya sendiri." pinta Ruby memelas dengan suara yang sangat pelan, lagi-lagi air matanya menetes.
Hiko masih terus menatap Ruby yang sedang menunjukkan betapa tak berdayanya dia saat ini. Tak ada paras jutek dan sinis yang selalu ditunjukkan Ruby padanya. Ia benar-benar luluh melihat Ruby yang seperti ini, membuat hatinya berdebar dan ingin melindunginya.
"Gue cuma mau beliin lo minum." Ucapnya.
Ruby menggeleng, Hiko bisa merasakan cengkraman tangan Ruby semakin kuat.
"Oke oke, gue gak keluar." Hiko memperbaiki posisi duduknya dan menutup pintu mobil kembali.
Ruby melepaskan jari-jarinya dari kaos Hiko dan kembali duduk menatap kedepan.
Ruby masih membenci Hiko, tapi Ia sendiri tak mengerti kenapa ia tak mau Hiko meninggalkannya. Dia masih ingat jelas apa yang sudah dilakukan Hiko padanya, namun kali ini dia tak bisa memberontak ketika Hiko menyentuhnya. Bahkan kali ini dia lah yang sudah menyentuh Hiko terlebih dahulu.
"Kalo lo pulang dalam keadaan begini akan buat khawatir keluarga, lo." Hiko membuka pembicaraan. "Mending lo hubungi mereka, cari alasan biar mereka gak khawatir."
"Mereka mencuri hape saya." jawab Ruby.
"Hah?"
"Tidak masalah mereka mengambil hape saya, asal mereka tidak menyentuh saya." Ujar Ruby.
Hiko tak bisa menjawab, karena ia juga tak kalah brengsek dengan dua pria tadi.
"Gue harus ngapain buat nenangin lo?" Hiko menatap tangan Ruby yang masih gemetar.
Ruby menggeleng.
"Biasanya perempuan lebih suka dipeluk untuk membuat perasaannya lebih baik. Gue biasa melakukan itu, dada ini cukup nyaman untuk menenangkan hati dan pikiran." Hiko menepuk dadanya beberapa kali.
Ruby melirik sinis pada Hiko, "Coba saja lakukan, saya akan membunuh kamu sekarang juga, mas."
Hiko menyeringai, "Udah keluar sifat asli lo?"
Ruby membuang muka menatap keluar cendela.
"Gue mau beli minum dulu."
Segera Ruby menarik kaos Hiko lagi. "Udah saya bilang jangan tinggalin saya!" ucap Ruby kesal.
Hiko menghela nafas panjang, "Iya iya, Gue disini. Pacar bukan, ditinggalin gak mau."
Ruby melepaskan kaos Hiko dan menatap lurus kedepan. "Tolong antar saya pulang saja." pinta Ruby.
"Oke!"
__ADS_1
Hiko menyalakan mesin mobilnya dan malajukan kembali kendaraannya menuju ke pesantren Darul Hikmah.
Cukup lama waktu yang ditempuh Hiko dan Ruby untuk sampai di pesantren. Hiko sengaja memperlambat laju mobilnya untuk membuat Ruby benar-benar tenang. Ia tak mau membuat keluarga Ruby khawarir melihat putri mereka pulang dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
Hiko dibuat terkejut ketika Ruby keluar dari mobil begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Beberapa saat lalu dia merengek gak mau ditinggalin, udah dianter kerumahnya malah gue di buang gitu aja." Gumam Hiko, matanya tak henti menatap punggung Ruby hingga akhirnya dia menghilang dibalik pintu Gerbang pesantren.
Hiko memejamkan matanya, menyandarkan keningnya diatas kemudi mobilnya. Ingatannya kembali pada wajah tak berdaya Ruby yang sedang memintanya untuk tetap tinggal bersamanya. Entah kenapa itu membuat hatinya begitu bangga seakan dia adalah sosok pahlawan bagi Ruby.
Tuk tuk tuk!
Ketukan dicendela mobil memaksa Hiko menghentikan kenangannya. Ia membuka cendelanya dengan kesal dan nampaklah Ruby sedang berdiri disana.
"Kenapa?" Tanya Hiko kesal.
"Terimakasih sudah tolongin saya." Ucap Ruby singkat kemudian berlari meninggalkan Hiko.
Hiko tersenyum tipis melihat tingkah Ruby barusan. Tak mau berlama-lama disana, ia menyalakan mesin mobil dan meninggalkan pesantren Darul Hikmah.
**********
Ruby baru saja menyelesaikan sholat isya'-nya. Ummi Fatimah dan Azizah langsung menghampiri mereka untuk mencari tahu kenapa dia bisa pulang terlambat, juga perihal berita-berita tentang Ruby dan Hiko.
"Tadi hape Ruby hilang bulek, jadi Ruby harus nyari dulu sebelum pulang, tapi tetap aja gak ketemu."
"Lalu, dengan berita-berita di televisi itu bagaimana, By?" Tanya Nyai Fatimah
"Entahlah. Bulek. Ruby juga sedang bingung harus menjawab apa."
Jawaban Ruby membuat bingung Nyai fatimah dan Azizah. Bukan hanya mereka. Ruby sendiri pun bingung kenapa bisa menjawab seperti itu. Bisa saja ia menjawab 'itu tidak benar'.
"Iya, Nduk." Jawab Nyai Fatimah, walau sebenarnya ia masih ingin bertanya lebih lanjut.
Ruby beranjak ke kamarnya dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Lampu kamarnya masih menyala, tak ada niatan untuk segera terlelap.
Dia sedang memikirkan Hiko. Ya, Ibrahim Akihiko. Pria brengsek yang sudah menodainya.
Ruby hanya merasa aneh, kenapa dia tidak memberontak ketika Hiko menyentuhnya? Apa dia sudah menjadi wanita yang tidak memiliki harga diri didepan Hiko? Juga bagaimana bisa dia menarik kaos yang dikenakan Hiko dan memintanya untuk tetap menemaninya.
"Aaagrh!" Pekik Ruby marah dan malu pada dirinya sendiri.
puk puk puk!
Ia menepuk-nepuk kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya memahami situasi yang sebenarnya.
tok tok tok.
"Mbak, ada telpon dari Budhe." Suara Azizah dari luar kamar.
"Iya, Zizah! Sebentar." Ruby memakai kembali kerudungnya dan keluar kamar. "Makasih ya, Zizah.
"Sama sama, mbak." Ucap Zizah kemudian kembali masuk ke kamarnya.
Ruby menuju ke ruang tengah, dimana telpon rumah berada.
"Assalamu'alaikum, Ummi." Sapa Ruby.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Nak. Barusan Ummi telpon ke hape kamu kok gak bisa?"
"Hape Ruby hilang, Ummi. Maaf, Ruby belum kasih kabar ke Ummi."
"Astagfirullah, hilang dimana Nak?"
"Entah, Ummi. Ruby juga gak tahu." Jawab Ruby bohong.
"Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan, Nak?" Tanya Ummi.
Ruby menghela nafas, ia ingin menceritakan yang ia alami pada umminya, namun ia tak mau membuat umminya khawatir.
"Ruby baik-baik saja, ummi."
"Nak, Ummi tadi gak sengaja lihat berita di televisi tentang kamu dan anaknya pak Handoko. Apa itu benar?"
Ruby diam tak menjawab.
"By?"
Ruby meneteskan air matanya, ia ingin sekali bilang pada umminya bahwa dia adalah laki-laki yang sudah mengambil kehormatannya.
"Nak, apa kamu sedang menangis? Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan nak Hiko?"
Ruby mengusap air matanya dan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
"Apa benar kamu sedang menjalin hubungan dengan dia nak?" Tanya Nyai Hannah lagi.
"Ruby tidak bisa menjawabnya sekarang ummi. Ruby janji jika waktunya tepat akan menceritakannya pada ummi." Jawab Ruby.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan, nak?"
"Tidak, Ummi. Ruby baik-baik saja."
"Baiklah, Nak. Kalau memang begitu, kamu segera istirahat saja. Ummi tutup telponnya. Assalamu'alaikum."
"Iya, Ummi. Wa'alaikumsalam."
Ruby menutup telponnya dan langsung kembali ke kamarnya. Tak mau orang lain melihatnya menangis.
Ruby memang tidak menyukai Hiko, bahkan bisa dibilang ia membencinya setelah mengetahui apa yang sudah dilakukan Hiko padanya.
Tapi entah kenapa ada sedikit perasaan di hati Ruby bahwa Hiko memang harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukannya pada Ruby. Namun, itu semua segera ia tepis ketika mengingat Hiko adalah orang yang dicintai sahabatnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Udah sampai bawah, jangan lupa tekan likenya dulu sebelom lanjut. syukur-syukur kalau kamu mau tulis komentar. hehe. Terimakasih.
__ADS_1
..