
Sudah lewat tengah malam namun Ruby belum bisa terlelap.Matanya memang tertutup, tapi kesadarannya tetap terjaga, ia masih tak bisa memikirkan bahwa Nara yang telah membuka aibnya ke seluruh masyarakat.
Allah sudah memperingatkan manusia untuk mencintai sewajarnya saja, membenci pun sewajarnya saja. Tapi Ruby melupakan itu, beban yang ditanggung Nara sejak kecil membuatnya merasa lebih beruntung dari Nara. Sebab itulah ia selalu memberi perhatian lebih pada Nara, jika ia bahagia Nara pun juga harus bahagia, ia tidak akan memberi kesempatan untuk Nara bersedih.
Mungkin seharusnya dulu ia menolak ikut masuk kedalam rencana Genta dan Nara untuk membohongi kedua orang tua Hiko, ia tidak akan mengalami semua hal mengerikan ini. Tidak akan terlibat dalam kisah percintaan rumit diantara Hiko dan Nara.
Tidak, Ia tak terlalu menyesali keputusannya waktu itu. Dari kesalahan itu ia mendapatkan banyak pelajaran dan bisa memiliki seorang pria yang menurutnya sangat istimewa.
Ruby terus menatap Hiko yang sedang terlelap disampingnya itu, dengan lembut ia mengusap rambut pria itu perlahan, mengingat kalimat yang diucapkan pria itu semalam.
“Maafkan aku karena cintaku belum seluruhnya menjadi milikmu, Mas.” Bisiknya lirih
Ruby menjauhkan tangannya dari kepala Hiko ketika pria itu menggeliat dan membuka matanya, Hiko memicing menyesuaikan cahaya dari luar jendela yang memantul di kornea matanya.
“Kamu terbangun apa tidak tidur, By?” tanya Hiko, ia merapikan anak rambut Ruby yang terjatuh di kening dan pipi Ruby.
Ruby tersenyum, “Aku membangunkanmu ya, Mas?” tanya Ruby.
Hiko menggeleng. “Kamu memikirkan banyak hal, ya?” tebak Hiko.
Ruby mengangguk.
Hiko menarik lembut kepala Ruby dan meletakkannya dilengannya lalu memeluk Ruby mencoba untuk memberikan ketenangan pada istrinya itu. “Aku sangat menyesal karena tak bisa berbuat banyak hal untuk memulihkan nama baikmu, By.”
“Pernyataanmu didepan wartawan tadi cukup membuat banyak perubahan, Mas. Sudah tak terlalu banyak orang yang menghujatku.”
“Seharusnya aku bisa melakukan lebih dari itu, By.”
Ruby menggeleng cepat, “Itu sudah cukup buatku, Mas. Dan yang terpenting, aku memilikimu disampingku.”
Hiko mempererat pelukannya, “Tidurlah, aku akan menjagamu.”
“Mas gak tidur lagi?”
“Aku akan sekalian sholat malam, By.”
Ruby mendongakkan wajahnya menatap Hiko, “Aku temani ya, Mas?”
Hiko menggeleng, “Tidur, Ruby. Aku tidak mau kamu kelelahan, kepikiran dan membuat dirimu sakit.” Ujar Hiko.
Ruby mengangguk, walau pikirannya kacau tapi ia tetap harus mengistirahatkan badannya. Dan Hiko
mengusap lembut punggung Ruby mencoba untuk membuat istrinya tersebut cepat terlelap.
**********
Udara dingin mulai menghilang ketika sinar mentari datang. Langit hitam perlahan berubah membiru cerah. Ruby masih terlelap dalam tidurnya, Hiko sengaja tidak membangunkannya.
Hiko duduk di sofa ruang tamu, terdiam dalam lamunannya, membiarkan kopi yang dibuatnya sejak subuh tadi menjadi dingin dan tak tersentuh. Ia merasa aneh melihat istrinya yang tidak bisa tertidur semalam. Padahal keadaan sedikit membaik dibandingkan hari sebelumnya.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Inah yang baru datang membuyarkan lamunan Hiko.
“Wa’alaikumsalam, Bi.” Jawab Hiko.
Inah melangkah masuk ke dalam.
“Bi Inah!” Panggil Hiko, menghentikan langkah Inah.
“Ya, Den?” jawab Inah.
Hiko berdiri dan mendekati Inah, “Apa kemarin Ruby bilang ke Bi Inah pergi kemana?” tanya Hiko.
Inah menggeleng, “Non Ruby buru-buru pergi setelah temannya pergi, Den.”
“Teman?” Hiko mengernyit, “Nara?” tebaknya.
Inah menggeleng, “Bukan Non Nara, Den. Orangnya tinggi, cantik, pernah main di tivi bareng Den Hiko.”
“Ghea?” Hiko mengucapkan satu-satunya nama yang ada dipikirannya.
“Saya gak tahu namanya, Den. Artis baru saya gak begitu hafal.” Jawab Inah.
Artis baru? Iya, itu Ghea! Batin Hiko. “Apa yang mereka bicarakan, Bi?” tanya Hiko.
“Maaf, Den. Saya dibelakang, saya tidak berani mendengarkan pembicaraan siapapun.” Jawab Inah.
“Gak ngobrolin apa-apa kok, Mas.” Tiba-tiba Ruby muncul dari dalam menghampiri Hiko dan Inah, “Bi Inah bisa masuk aja, Bi.” Ujar Ruby pada Inah.
“Baik, Non.” Inah pergi masuk ke dalam.
“Kenapa kamu gak bilang ke aku kalau Ghea kemari, By? Apa yang dia katakan padamu?” tanya Hiko.
Ruby mengajak Hiko duduk kembali di sofa. “Aku Cuma belum bilang, Mas.” Jawab Ruby.
Hiko menatap Ruby tajam, “Apa dia mengancammu?”
Ruby mengangguk, “Tapi ancamannya tidak berhasil.”
Hiko mengernyit, “Ceritakan detailnya, By. Bagaimana dia mengancammu.”
__ADS_1
Ruby menghela nafas, “Dia menunjukkan sebuah rekaman suaramu saat kamu bilang kamu menikahiku karena kasihan dan rasa bersalahmu.”
“Rekaman suaraku?” Hiko menebak.
Ruby ragu untuk melanjutkan percakapannya dengan Hiko, ia takut jika Hiko akan menyadari sesuatu.
“By…”
“Gak usah dibahas ya, Mas. Aku malas mengingatnya.” Elak Ruby.
Hiko menghela nafas panjang, ia tahu tak akan bisa memaksa Ruby. Ia memberikan anggukan menyetujui permintaan Ruby.
“Mas berangkat jam berapa?” tanya Ruby mengalihkan pembicaraan mereka.
“Nunggu Genta, kemarin dia bilang jemput pagi. Dan sepertinya aku nanti pulang agak malam, By. Aku Shooting dua judul hari ini.” Ujar Hiko.
Ruby mengangguk.
“Kamu gak usah kemana-mana dulu, ya?” Pinta Hiko, “Tapi kalau kamu mau ke Abi sama Ummi gak apa.” Ralatnya.
Ruby menggeleng, “Masih ada mas Iqbal disana, Mas. Jadi aku nunggu Abi dan Ummi yang kesini aja.”
Percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara motor Genta berhenti di carport rumah Hiko.
“Assalamu’alaikum.” Suara salam Genta yang semangat menggema di ruang tamu Hiko.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Hiko dan Ruby bersamaan.
“Ayo, Ko. Berangkat!” Ajak Genta.
“Ta! Lo sadar gak sih ini jam berapa? Jam enam aja belum ada!” Seru Hiko.
“Oooh…” Genta duduk di sofa yang terpisah dari Hiko dan Ruby, “Gue terlalu semangat, nih.”
Hiko menatap sinis Genta.
“Aku buatin kopi mas Genta dulu ya, Mas.” Ruby beranjak pergi.
“Makasih ya, By.” Genta cengengesan.
“Jangan, By! Kasih air putih aja udah kebagusan buat dia!” Sergah Hiko.
“Jahat banget sih, Lo!” Genta menendengang kaki Hiko.
Ruby hanya tersenyum dan masuk ke dalam.
“Tentang apa? Zizah? Lo mau comblangin gue, Ko?” tanya Genta antusias.
Hiko diam sejenak, menatap kesal pria yang sedang mabuk cinta gak jelas itu.
“Iya iya! Apa?” Genta pasrah, menatap Hiko serius.
“Ntar aja di luar, gue mau mandi dulu sekarang.” Hiko beranjak pergi.
Genta menghela nafas, ia tahu jika dia akan berada disebuah persimpangan yang mengharuskannya membuat pilihan.
Tak lama dari kepergian Hiko, Ruby datang dengan membawa secangkir kopi untuk Genta.
“Di minum, Mas.” Kata Ruby.
“Makasih, By.” Ucap Genta.
Ruby masih berdiri didepan Genta, membuat Genta menegakkan duduknya dan menatap Ruby serius.
“Kemarin kamu bertanya keberadaan Nara dan aku bisa menyimpulkan sesuatu karena tindakanmu, By.” Kata Genta.
Ruby mengangguk, “Tolong jangan sampai mas Hiko mengetahui ini, Mas. Aku tidak mau mereka saling menyakiti karenaku.” Pinta Ruby.
Huft, bener aja dugaan gue. Batin Genta.
“Tapi sepertinya dia sudah mempunyai firasat itu, By.” Kata Genta.
Ruby terdiam.
“Kamu tidak bisa menutupi semua ini, By. Aku juga membenci keributan, tapi aku juga tidak suka caranya memperlakukanmu seperti ini.”
“Bisakah kamu membantuku kali ini, Mas?” pinta Ruby.
Genta mengangkat kedua bahunya, “Akan ku pikirkan nanti, aku hanya ingin kalian semua bahagia.”
Ruby menghela nafas pasrah dengan keputusan Hiko.
**********
Pagi ini Genta masih tidak mendapat kabar dari Nara, Ia tak melihat tanda-tanda kehadirannya di lokasi shooting. Hiko dan Genta masih didalam mobil terlibat pembicaraan serius yang belum bisa mereka tinggalkan.
“Gue yakin ngomong itu waktu di ruang ganti. Lo inget kan, Ta? Setelah Nara datang dan sebelum kita bahas masalah Zizah.” Hiko masih memaksa Genta mengingat sesuatu.
Genta ingat betul, sangat ingat. Tapi ia hanya pura-pura tidak mengingatnya.
__ADS_1
“Gue yakin ini ada hubungannya sama Nara, Ta. Ghea Cuma dimanfaatin aja!” Sergah Hiko.
“Kalo emang Nara ada dibalik semua ini, lo mau ngapain?” tanya Genta.
“Gue bakal masukin dia ke penjara! Gue pastiin dia dapat hukuman terberat disana.”
“Lo yakin?”
Hiko mengangguk mantap, “Lo juga mikir gitu, kan?”
“Lo gak punya bukti, kan?”
“Gue akan paksa asisten Ghea ataupun Ghea sendiri untuk bicara kebenarannya.” Tegas Hiko.
Genta hanya terdiam.
“Lo coba cari tahu tentang asisten Ghea di kantor polisi, apa ada yang bisa kita manfaatin mengenai situasi dia sekarang.” Kata Hiko.
Genta mengangguk.
“Lo pergi sekarang aja, Ta. Gue bisa urus semuanya disini sendiri.” Kata Hiko.
“Gue kirim anak-anak buat bantu lo, kalo lo masih butuh apa-apa telepon gue, ya.”
Hiko mengangguk dan segera keluar mobil, membiarkan Genta pergi membawa mobilnya pergi menuju ke kantor polisi tempat asisten Ghea ditahan.
Tak butuh waktu lama untuk Genta sampai di kantor polisi. Ia harus melewati beberapa prosedur dan menunggu cukup lama untuk bertemu dengan asisten Ghea.
“Saudara Genta, mari silahkan ikut saya.”
Seorang polisi menghampiri Genta yang sedari tadi menunggu di ruang tunggu kantor polisi. Genta mengikuti polisi melewati koridor-koridor hingga terhenti di sebuah ruangan yang tak terlalu besar dengan cctv di tiap sudut ruangannya. Seorang gadis yang masih berusia belasan tahunan duduk dengan mata sembab di balik sebuah meja kecil.
“Silahkan, waktu anda hanya lima belas menit.” Kata polisi.
“Baik, Pak. Terimakasih.” Kata Genta.
Polisi meninggalkan ruangan itu dan berjaga diluar ruangan.
“Amel?” Sapa Genta, ia menduduki kursi yang ada didepan Amel. “Ini pertemuan kedua kita, gue berharap bisa menolong lo kali ini.”
Gadis bernama Amel itu hanya terdiam.
Genta mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman percakapannya bersama Ghea beberapa hari lalu. Mendengar rekaman itu membuat Amel menangis terisak hingga membenamkan wajahnya dikedua telapak tangannya.
“Lo tahu sendiri kan, Ghea gak ada niatan buat nolongin lo disini?”
Genta mencoba memprovokasi, membiarkan Amel menyelesaikan tangisannya terlebih dahulu.
“Apa yang bisa ku bantu?” tanya Amel.
“Cukup katakan kebenarannya sekarang. Siapa yang menyuruhmu dan siapa yang memberikan informasi itu.”
“Asisten kakak yang menceritakan semuanya padaku dan Kak Ghea.”
Genta memajamkan matanya mencoba menerima kenyataan yang walaupun sudah ia duga tapi ia masih berharap buka Nara pelakunya.
“Kak Ghea menginginkan Kak Hiko menjadi kekasihnya, karena itulah dia sering bertukar cerita dengan kak Nara mencoba mencari informasi tentang kak Hiko dan kak Nara juga berjanji akan membantu agar Hiko bisa menerima kak Nara.” Jelas Amel.
“Kalian gak sadar kalau Nara sebenarnya juga memanfaatkan kalian, ia yang sebenarnya menginginkan Hiko. Gue gak yakin dia bakal kasih Hiko ke Ghea karena Nara cinta ke Hiko.”
Amel menggeleng, “Aku tak tahu tentang itu, kak Ghea hanya menyuruhku menyebarkan informasi itu ke akun gossip. Dan sekarang dia berniat meninggalkanku, lalu bagaimana nasibku sekarang? Aku tidak ingin orangtuaku tahu keadaanku seperti ini.”
Genta iba melihat Amel, dia hanyalah korban dari Nara dan Ghea. “Gue akan mencabut tuntutannya.”
Binar kegembiraan dan rasa syukur terpancar diwajah Amel, “Terimakasih, kak. Terimakasih.”
“Berhentilah bekerja pada Ghea, Gue akan kasih lo beberapa uang, buat itu untuk membuka usaha atau terserah padamu.” Kata Genta.
“Terimakasih, Kak. Terimakasih.” Ucap Amel.
Genta mengangguk, ia mengambil ponselnya kemudian berdiri. “Pengacara Hiko akan mengurus semuanya. Lo tunggu aja. Pastiin aja lo gak ketemu dengan Ghea ataupun Nara.”
“Iya, Kak.”
Genta pun beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment dan votenya ya kakak. Terimakasih.
__ADS_1