
"Apa katamu, Ra? " Ruby ingin memperjelas ucapan Nara.
“Aku ingin menjadi sepertimu, By. Aku ingin mengubah keyakinanku.” Jawab Nara.
Ruby menatap Nara, ada kemarahan dan keseriusan dalam sorot mata Nara. “Apa yang membuatmu menjadi seperti ini, Ra?”
“Aku ingin Hiko kembali padaku.”
“Apa kamu yakin akan meyakini apa yang ku yakini?” tanya Ruby.
“Ya! Aku serius!”
“Aku akan membantumu, Ra. Tapi satu hal yang harus ku jelaskan di awal. Aku tidak bisa melepaskan mas Hiko pada siapapun, termasuk kamu.”
“By!” Nara terkejut, “Kamu …”
“Maafkan aku, Ra. Tapi aku mencintainya, dan aku ingin mempertahankan rumah tanggaku.” Potong Ruby.
“Kamu jahat, By! Apa kamu benar-benar sahabatku?”
“Maafkan, aku Ra. Maafkan aku.” Ucapnya menyesal.
“Kemarin kamu bilang akan pergi dan membantuku agar bisa diterima dikeluarga Hiko, By. Dan sekarang kamu bilang tidak akan melepaskannya. Kamu jahat, By!”
“Ku pikir aku bisa melepaskannya untukmu, Ra. Tapi ternyata itu sulit. Aku tidak mau membohongi perasaanku sendiri, Ra.”
“Aku tidak menyesal membuatmu membantuku, By! Seharusnya aku tidak pernah melibatkanmu dalam urusanku. Persahabatan kita yang lebih dari dua puluh tahun ini kurasa harus kita akhiri disini, By. Aku tidak mau mengenalmu, lagi.” Nara berdiri, beranjak meninggalkan Ruby.
“Maafkan aku, Ra.” Ucap Ruby, ia mulai terisak.
Permintamaafaan Ruby menghentikan langkah Nara, ia kembali menatap Ruby dengan penuh kemarahan.
“Jika kamu mau meminta maaf padaku, lakukanlah dengan benar.” Bentak Nara. “Jika kamu benar-benar menyesal, lepaskan dia dan kembalikan dia padaku.”
“Aku minta maaf karena tidak bisa mengabulkan keinginanmu, Ra.”
Nara mendegus kesal dan meninggalkan Ruby begitu saja.
Ruby menyesali hancurnya persahabatan mereka karena keegoisan dan kesalahannya. Tapi ia juga tidak bisa melepaskan Hiko dan menyerah dengan pernikahannya. Ia tertunduk, terisak dengan tangisnya hingga seseorang datang dan duduk tak jauh disampingnya membuatnya segera menghapus air matanya.
“Aku benci melihatmu menangis, terlebih lagi karena suamimu.”
Suara Abriz membuat Ruby menatapnya, “Aku hanya sedang mempertahankan pernikahanku.”
“Kamu memilih pernikahanmu daripada persahabatanmu?” tanya Abriz.
“Tentu! Apa yang salah dengan itu?”
Abriz menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak ada yang salah dengan itu.” Ucap Abriz, ia menatap ke tempat shooting dibawah sana. “Apakah aku harus menyerah juga?”
Ruby menatap Abriz, “Bukankah sudah ku katakan sebelumnya, Mas?”
“Aku masih mencari harapan.”
“Aku tidak akan membuka hatiku untuk siapapun, Mas. Bahkan jika aku terpisah dengannya.”
Abriz menatap Ruby, “Secinta itukah kamu padanya?”
“Entahlah, aku tidak tahu bagaimana cara mengukur cintaku ke mas Hiko. Tapi aku tahu satu hal, hanya dia pemilik kehormatanku.”
“Tentu, karena kau istrinya.” Ucap Abriz.
“Berhentilah mencari harapan yang tidak akan pernah kamu dapatkan dariku, Mas. Kamu tidak tahu siapa aku dan masa laluku.”
Abriz terdiam.
“Aku akan membatalkan kontrak kerjaku dengan Sunrise Animation, Mas.”
“Yang benar saja, By!?” Hiko terkejut.
“Mas Hiko tidak mengijinkanku pergi kesana karena …”
“Karena aku juga ikut pergi kesana?” tebak Abriz.
Ruby mengangguk.
“Haruskah aku membatalkan kontrakku agar kamu bisa pergi kesana?” tanya Abriz.
Ruby menggeleng, "Enggak, Mas. Allah pasti punya rencana lain kenapa aku harus tetap tinggal disini."
Abriz terlihat sangat kecewa dengan keputusan Ruby, tapi bagaimanapun juga ia tak punya hak untuk tetap memaksanya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kita?" tanya Abriz.
"Mas Hiko tidak mempermasalahkan untuk pekerjaan kita saat ini, tapi dia mau aku tidak terlalu lama terlibat pekerjaan berdua denganmu, Mas." Jawab Ruby.
Abriz menghela nafas panjang, mencoba mengerti dengan permintaan Hiko.
"Ya, By. Aku mengerti."
"Bisa kita mulai pekerjaan kita, Mas?" tanya Ruby.
"Ya, By. Ayo ikut denganku." Ajak Abriz.
Ruby mengangguk, ia melangkah dibelakang Abriz. Ruby enggan untuk kembali ke tempat Hiko untuk berpamitan karena ia masih tidak mau bertemu dengan Nara. Lewat telepon Ruby berpamitan pada Hiko.
**********
"Iya, Sayang. Kalau udah selesai kamu kesini aja, ya... Wa'alaikumsalam."
Hiko mengakhiri panggilannya di sela-sela Make up artis Yang sibuk merias wajahnya.
"Sepertinya Lo harus punya panggilan baru buat Ruby deh, Ko? Lo gak mau kejadian tadi terulang lagi, kan?" kata Genta.
"Iya! Gue nyesel juga manggil Ruby sama kaya panggilan gue ke Nara."
"Ganti, lah..."
"Ini gue lagi mikir, bacot!"
"Iye! Biasa aja gak usah ngegas!" Sahut Genta.
"Udah selesai nih, Ganteng. Gue tinggal sarapan dulu, ya?"
"Thanks ya, Moy!" Ucap Hiko.
Pria tanpa pori-pori yang memiliki panggilan Emoy itu melengang pergi, tentunya dengan cubitan kecil di dada Genta hingga membuat Genta bergidik.
"B*ngs*t, Lo! Gue kerok lidah Lo sampe alu's baru tahu rasa, Lo!" Umpat Genta, hanya mendapat cibiran dari Emoy.
Hiko menegkkan duduknya, "Pecat Nara, Ta!" Pinta Hiko kemudian.
"Hah! Serius, Lo!?" Genta tekejut dengan permintaan Hiko.
Hiko mengangguk, "Lo kasih dia ke Anwar, aja. Dia butuh asisten juga, kan?" kata Hiko, menyebut nama salah seorang manajer temannya.
"Kalaupun kamu pecat aku, aku akan tetap disini, Ko!"
Tiba-tiba saja Nara masuk dan menanggapi pembicaraan Hiko dan Genta di ruang ganti.
"Aku akan meyakini Tuhanmu, dan akan ku pastikan akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi!"
"Lo gila, Ra! Agama Lo buat main-main!" Sergah Genta.
"Aku gak pernah main-main, Kak. Aku serius dengan apa Yang aku katakan." Ujar Nara, ia menatap Hiko kembali, "Aku yakin, suatu saat kamu akan kembali padaku, Ko! Tuhan tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah semua yang pernah kamu lakukan padaku."
"Jangan terlalu yakin, gue takut Lo gak bisa mengatasi rasa sakit yang Lo buat sendiri." kata Hiko.
Nara menatap Hiko kesal kemudian kembali keluar dari ruang make up.
Hiko dan Genta saling menatap.
"Bisa-bisanya dia punya keyakinan seperti itu?" tanya Hiko.
"Lo sih! Kebangetan mainin cewek. Kalo semua cewek Yang pernah Lo pake minta tanggung jawab buat Lo nikahin gimana? kelar hiduo, Lo!"
"Buktinya cuma satu doank, kan?" Hiko berdiri merapikan bajunya.
"Gue penasaran apa yang Ruby bicarain ke Nara sampai bikin cewek itu segitu marahnya?" tanya Genta.
"Ruby nolak ngelepasin gue." Jawab Hiko.
Genta menyebikkan bibirnya, "Pede banget, Lo!"
"Emang beneran, gue sama Ruby sepakat buat ngelanjutin pernikahan ini, Ta!"
"Wuuuussssh! Kereeeeen!" Puji Genta dengan sebuah tepuk tangan.
"Gak nyangka banget gue nikahin Ruby cuma kasihan dan rasa bersalah gue. Eh... sekarang gue malah jatuh cinta beneran ke dia."
"Berkat gue, kan?" kata Genta.
Hiko melirik sinis, "Siapa juga yang gak bakal jatuh cinta sama dia. Cantik, Soleha, lembut, tapi banyak kasarnya juga sih, keras kepala juga, ngambekan, bawel, penakut ..."
"Lo mau muji dia apa mau ngejelekin dia sih, Ko?" pangkas Genta.
__ADS_1
"Entahlah, yang jelas gue suka semua sifat dan sikapnya." Hiko menatap kosong kedepan, tapi pikirannya sedang menggambar sosok yang sedang ia bicarkan.
Genta hanya melirik sinis, "Geli banget lihat Lo Yang lagi bucin gini!" Genta mendorong Hiko untuk keluar ruangan. "Apalin dialog Lo sana!"
"Sekali baca juga gue hafal. Lo baru kenal gue berapa hari?" tanya Hiko.
"Ya pokoknya sibukin otak Lo, lah. Biar gak mikirin Ruby mulu." Jawab Genta.
"Gini nih kalau ngomong masalah cinta sama pria jomblo seumur hidup." Hiko menyenggol bahu Genta dan hampir membuat pria itu kehilangan keseimbangan.
"Eh, Ta! Mau gue kasih kenalan gak?" Hiko teringat seseorang.
"Kenalan Lo cewek saweran semua, gue ogah!" Tolak Genta.
"Ini beda, Ta. Serumpun ama Ruby!"
"Beneran!?" Genta mendekatkan dirinya pada Hiko.
Hiko mengangguk, "Azizah, putri kyai Nur, Adik dari kyai Abdullah, mertua gue." Jelas Hiko, "Tapi masalahnya lo mampu gak jadi mantu kyai?"
Genta berfikir sejenak, "Dibikin mampu aja deh, Ko. Gue cowok baik-baik masa gak bisa dapet cewek baik-baik, Ko. Lo yang bejat gini dapat istri bagai bidadari."
"Hmmm, gimana ya?" Hiko pura-pura berfikir.
"Brengsek, Lo! Gitu amat ama gue!"
"Tes dulu!" kata Hiko. "Jawab dulu, Rukun Islam ada berapa!?"
"Lima, eh empat!!"
"Oke! Fix, gagal!" Hiko beranjak pergi.
"Ko! Seriusan, Ko! Kenalin ..." Genta merengek mengikuti Hiko.
**********
Usai melaksanakan sholat duhur di masjid, Hiko dan Ruby menyantap makan siang bertiga dengan Genta di halaman luar dome yang sudah disediakan penanggung jawab catering untuk makan siang kru dan para pemain.
Ruby bisa melihat Abriz sedang bergabung di meja yang sama dengan sutradara dan asistennya. Namun ia tak mendapati keberadaan Nara disekitarnya.
"Mas, Nara gak kalian ajak makan siang?" tanya Ruby pada Hiko dan Genta.
"Udah, habis gue suruh beresin bajunya Hiko di mobil tadi belum balik-balik juga." Jawab Genta.
Belum sempat Genta mengatupkan bibirnya, wanita yang sedang mereka bicarakan itu menghampiri meja mereka.
"Makan ini, sayang!" Nara memberikan sebuah kotak berlabel salah satu restoran ayam terkenal. "Menu utamanya kan seafood, kamu gak mungkin makan itu kan?"
Ruby tercenang melihat perlakuan Nara pada Hiko, ia sedang mengutuk dirinya sendiri karena bisa lupa menu makanan yang tidak bisa Hiko makan.
"Thanks, Ra. Tapi gue makan yang ada aja." Tolak Hiko
Ruby berdiri dari duduknya, mengambil kotak berisi ayam yang diberikan Nara pada Hiko dan mengembalikannya ke tangan Nara.
"Dia suamiku, Ra! Berhenti memanggilnya dengan sebutan sayang!" Ujar Ruby, "Terimakasih sudah mengingatkanku tentang makanan yang tidak bisa di makan suamiku. Aku akan mengajaknya makan ditempat lain. Kamu bisa makan ayam itu!"
Ruby menarik tangan Hiko dan mengajak Hiko pergi.
Nara mendengus kesal mendengar sikap Ruby.
"Lo bukan apa-apanya Hiko sekarang, Ra. Ruby yang punya hak atas Hiko." Ujar Genta.
"Diem, Kak!" Sentak Nara
Nara menatap kesal kepergian Ruby dan Hiko.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Maaf ya aku cuma bisa up satu episode aja selama aku masih sibuk. In Shaa Allah bakal kembali normal jika kesibukanku sudah selesai.
Jangan lupa like, comment dan votenya, terimakasih kakak.
Bintang lima-nya juga ya kak.
__ADS_1