
Mata gadis berwajah bulat itu, terbuka. Namun ia tidak mendapatkan siapa pun. Cantik duduk di ranjang, sambil menggaruk rambutnya.
"Dimana akak, sama om Dosen?" Matanya menatap seisi ruangan.
"Aku tadi malam mimpi apa ya?" Gadis itu bertanya kepada dirinya sendiri. Sambil menaruh telunjuknya, di bagian kening seperti berfikir.
Tiga detik, kemudian.
"Teteh, tadi malam aku bertemu teteh! Tapi kenapa saat, aku mau ikut teteh, engga ngizinin. Dan waktu itu, akak sama om Dosen memanggilku. Padahal seharusnya aku bisa memegang tangan teteh. Karena aku melihat kearah akak sama om! Aku jadi tidak bisa melihat teteh!" Cantik mengingat mimpi, saat ia bertemu dengan kakaknya.
"Terima kasih ya Allah, karena mengabulkan permintaan Cantik!" Gadis itu berterima kasih kepada Allah.
"Mami pernah bilang kepada ku, untuk selalu menghargai apa yang Allah kasih, sekecil apapun. Karena Allah juga akan, menghargai pahala kita yang kecil. Jadi Aku berterima kasih padaMu ya Allah!" Gadis berwajah bulat itu, mengingat ucapan ibunya.
Di dapur mereka berempat, sudah hampir selesai memasak. Si kembar yang tak sengaja lewat bagian dapur, dia mendengar suara lelaki.
"Ini kupingku yang salah dengar, atau apa?" Archer bicara pelan.
Sedangkan Arche melirik kearah adiknya, sebelum berbicara. "Apa kau mendengar suara lelaki di dapur Cher?"
"Kakak, kau juga mendengarnya?" tanya Archer.
Arche mengangguk membenarkan.
"Check yuk Cher, pengen tahu." Arche bicara, sambil meninggalkan adiknya.
Si kembar itu sudah ada di depan pintu dapur. Keduanya saling tatap, karena empat orang yang ada di dapur itu.
"Widihhhhh acara masak bareng suami nih ceritanya." Archer berteriak dan berjalan kearah mereka berempat.
Keempat orang itu menatap, kearah suara yang cempreng itu.
"Ayo, Cher kau kubu siapa Mbak Al, Kak Hazel atau Kang Mas sama Teh Cahaya?" Arche tak kalah antusias.
"Aku, pasangan baru saja Kak!" jawab Archer, sambil menarik kursi dan duduk.
"Baiklah, aku pasangan lawas kalau begitu," ujar Arche, yang membuat Hazel melotot. Belum juga tiga tahun, sudah dibilang lawas.
"AYO Ayo!!! Kang Mas, Teh Cahaya, semangatttttt!" Archer berseru, sambil memukul meja.
"Mbak Al. Ayo jangan mau kalah sama pasangan baru. Kak Hazel, ayooo semangat." Archer memberi semangat, sambil memukul gelas dengan sendok.
"DIAMMMNMNMM!" Keempat orang itu berteriak, karena ulah si kembar.
Si kembar menutup telinganya, karena suara keempat orang itu.
"Kalian itu bikin rusuh saja, enggak lihat kita lagi ribet." Alula mencabik.
"Akak, Om!" panggil gadis berwajah bulat, dari depan pintu dapur.
Ke-enam orang itu mengalihkan pandangan ke arah pintu dapur.
"Aduh, mataku ternodai!" Arche menutup kedua matanya.
"Si bulat, kenapa te-lan-jang?" tanya Archer, kepada Cantik.
Tuk ...Hazel memukul kepala Archer dengan spatula.
"Aduh, sakit Kak!" Archer memegangi kepalanya.
Cantik berjalan kearah mereka.
"Kamu ngomong enggak pakai filter," ujar Hazel.
"Kak Archer, rambutnya te-lan-jang." Gadis itu bersuara.
Semua orang mendengar ucapan gadis itu.
"Beda, kenapa panjang jadi te-lan-jang, " ujar Archer, emosi.
__ADS_1
"Kalau te-lan-jang itu apa?" tanya gadis itu.
"Sudah, Can! Jangan tanya yang tidak-tidak. Kamu kenapa, cuma pake celana sama kaus dalam dong. Tapi—" Wanita berambut sebahu itu, menatap wajah gadis itu.
"Kamu sudah mandi, Can?" tanya Cahaya.
"Iya, Akak!" Gadis itu tersenyum, sebelum ke dapur gadis itu mandi sendiri. Karena biasanya gadis itu mandi sendiri, jika ibunya masih ribet masak.
"Ah, baiklah ayo kita ke atas. Aku akan membantumu berganti baju. Sekalian, Akak, akan mandi. Setelah itu kita sarapan dan mengantarmu untuk sekolah." Cahaya menggandeng tangan Cantik, kemudian keluar dari dapur.
"Kalian berdua, tugasnya menaruh semua makanan ini di ruang makan. Aku juga akan mandi takut Balqis bangun," ujar Alula, kepada si kembar. Kemudian meninggalkan dapur.
"Ayo, Lang kita cabut. Kita sudah dapat voucher, kita siap ke kantor." Hazel bicara, sambil mencuci tangan.
Langit segera melepas celemek yang ada di tubuhnya itu.
"Kang Mas sama Kak Hazel, enggak mau bantuin kita?" tanya Archer, sambil membawa piring ditangannya. Tangan kiri tumis kangkung, tangan kanan udang balado.
"Ke sunatan kita sudah kita lakukan. Jadi sekarang kalian harus melakukan semua ini, cabut Lang!" Hazel meninggalkan dapur. Kemudian Langit juga meninggalkan dapur itu.
"Sepertinya kang mas sama kak Hazel, cuma mementingkan istrinya doang. Buktinya mereka meninggalkan kita saat kesusahan." Arche menggerutu, sambil membawa nasi.
Dikamar Cahaya, sedang membantu Cantik memakai baju.
"Cantik, sambil Akak, mengancingkan pakaikan kamu. Akak mau dengar kamu menghafal surah At-takasur!" ujar Cahaya.
Gadis berwajah bulat itu pun, melakukan apa yang akak Bubble-nya suruh.
Pintu kamar tidur terbuka, ternyata Langit yang membuka pintu itu.
"Cantik, kau sudah hafal, kau sangat pintar," puji Cahaya.
"Kau mandilah, aku akan membantu Cantik pakai sepatu, nanti takut telat. Kasian Cantik!" ujar Langit, berjalan kearah mereka.
Cahaya menuruti ucapan suaminya itu. Jam menunjukkan pukul enam, lebih tiga lima. Cahaya sudah selesai mandi, pagi itu dia tidak akan pergi ke kafe. Dia ingin istirahat, saja.
"Ayo kita turun." Langit menarik tangan istrinya itu.
Cahaya pun mengambilkan makanan untuk suaminya dan Cantik.
"Akak? Apa, Akak tidak makan? Kenapa Akak tak mengambil nasi?" tanya gadis itu.
Semua terdiam, karena pertanyaan gadis itu.
Bagaimana aku makan, jika eyang menyuruhku makan. Setelah Mas. Batin Cahaya.
"Can, kau tahu Akak Bubble. Akan makan jika Om Dosen sudah selesai makan," jawab Arche, sambil melirik eyang.
"Kenapa? Mami dan papi tidak pernah begitu. Mami tidak pernah makan di bekas papi. Kadang kita, makan berempat di wadah yang besar. Tapi, tidak seperti Akak yang harus makan sisa Om Dosen." Gadis itu bercerita tentang keluarganya.
Sedangkan eyang menggerutu karena ucapan Cantik.
Langit menatap istrinya yang menunduk. Pemuda itu berdiri dari duduknya, kemudian mengambil piring yang masih bersih. Langit mengambilkan nasi dan lauk pauk. Kemudian menatap istrinya, yang masih menunduk itu.
"Makanlah, tidak ada hak bagi siapapun untuk menyuruhmu, kecuali aku yang berhak atas dirimu." Langit bicara tegas.
Langit berpikir kenapa dia diam saja, saat eyang berlaku tidak adil kepada istrinya itu. Tidak untuk pagi itu. Pemuda itu harus memberi keadilan untuk istrinya.
Semua yang ada di sana diam, karena suara Langit sangat menakutkan. Tak terkecuali eyang, nenek tua itu juga takut. Saat cucunya bicara tegas seperti itu, apalagi seperti menyindir nya.
Cahaya yang semula menunduk, perlahan ia mengangkat kepalanya itu. Matanya menatap mata suaminya. Mata Cahaya berkaca-kaca, karena suaminya pagi itu membebaskan dia dari peraturan yang nenek tua itu buat.
Langit mengelus kepala istrinya dengan tersenyum. Cantik yang melihat hal itu dia tertawa, membuat semua orang menatapnya.
"Hihihihi!" Gadis itu menutup mulutnya.
"Cie-cie Akak, sama Om lucut banget!"
Cahaya memandang Cantik, sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Cie-cie Kakak ipar romantis!" Hazel tidak bisa me-sia-siakan untuk menggoda kakak iparnya itu.
Mumpung Eyang lagi sekak-mat.
"Apanya yang lucu?" Langit bertanya, sambil duduk kembali.
"Akak, mau nangis tapi Om, malah tersenyum. Aneh sekali." Gadis itu berbicara.
Cahaya berpikir, apa Cantik mengira jika Langit mentertawakan nya.
Semua terdiam mereka belum makan.
"Ini kenapa, kangkung nya pajang banget. Enggak putus-putu kayak jalan tol." Pak Khan mengeluh, tidak biasanya lelaki paruh baya itu, mengeluh soal makanan.
Alula, Cahaya dan Langit menatap kearah Hazel.
"Yang, kamu motong kangkung nya, kamu bagi berapa?" tanya Alula, karena Hazel memotong kangkung pakai gunting. Kalau kata Hazel mempercepat waktu.
"Ya kalau pendek, aku potong ujungnya, jika panjang aku potong jadi dua," jawabnya santai.
Cahaya dan Alula menepuk dahi bersamaan karena jawaban Hazel.
"Harusnya kamu itu, motongnya percabang. Biar enggak panjang, nah kalau begini kan. Bisa membahayakan orang lain, bisa-bisa keseret Yang!" Alula berbicara kembali.
"Sudahlah Al, jangan marahin suamimu. Namanya juga lelaki, enggak paham soal dapur. Dia bukan koki. Kamu harus memaklumi hal itu." Pak Khan menengahi.
Ruangan makan itu hening sejenak, sebelum Langit membuka suara.
"Pak, apa aku boleh mengajak istriku ke kantor?"
Cahaya yang mau memasukkan makanan ke mulutnya, terhenti. Matanya melirik kearah suaminya, seakan penuh tanya.
"Tentu saja Nak, yang penting kamu tetap mengerjakan tugas-tugas mu. Bukannya Cantik juga suka main di sana, aku yakin menantuku juga suka dengan itu." Pak Khan tersenyum kearah Cahaya.
"Iya, Akak! Aku sangat betah di ruangan Om Dosen, kita bisa melihat mobil dari atas." Cantik menyahut dengan mulut yang penuh.
"Benarkah?" Cahaya bertanya, seperti anak kecil. Cahaya suka dengan ketinggian. Waktu dia di Sumatera dia selalu mendaki, kalau hari minggu dia selalu ke tempat kerja ayahnya. Hanya untuk menikmati indahnya dunia dari atas gedung lantai dua belas.
"Iya, tanya saja Om Dosen, ya kan Om?" tanya Cantik.
Langit mengangguk membenarkan.
Sepertinya eyang ingin berbicara. Bukan! Tapi ingin menyakiti hati Cahaya lebih tepatnya.
"Apa ruangan Asya, dekat dengan mu?" Eyang bertanya sedikit takut, karena Langit pagi itu bicara seperti menyindir nya.
Cahaya menarik kembali senyuman yang terukir di bibirnya. Wanita itu menundukkan kepalanya. Jika mengingat perkataan eyang pagi itu.
"Lumayan." Langit menjawab singkat, males jika harus membahas perempuan lain di depan istri gingsulnya itu.
"Berarti sering bertemu dong?" tanya Eyang kembali.
Telapak tangan Cahaya menjadi sebuah genggaman, sepertinya wanita itu sedang menahan amarah. Saat eyang bicara seperti itu.
"Namanya juga rekan kerja, satu tim, pasti sering bertemu untuk membahas masalah kantor." Hazel yang menjawab.
Eyang tidak suka karena Hazel yang menjawab.
"Selesaikan makan mu," ujar Langit, yang melihat istrinya hanya diam.
Cahaya menarik napas panjang, kemudian membuangnya pelan.
Sabar Ay, ini ujian. Ingat bagaimanapun eyang, adalah eyang dari suamimu, kau harus menghargainya. Umurnya juga tua, tidak baik marah.
Cantik teringat sesuatu, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Archer.
"Kak Archer, kau belum memberi tahu ku. Apa itu te-lan-jang."
Archer yang mendengar hal itu melotot.
__ADS_1
"Uhuk ...uhuk... " Archer tersedak karena pertanyaannya Cantik.