
Sore jam empat suaminya belum pulang. Cahaya memutuskan untuk ke dapur masak. Leleh jika harus melihat layar laptop seharian. Cahaya sudah mencari supplier yang bagus menurutnya,
"Sore Mbok, kok ibu enggak ada Mbok?" tanya Cahaya, yang baru masuk dapur.
"Oh ...mertua Neng, mah lagi ke rumah tetangga sebelah. Katanya ada yang lahiran." Mbok Ijah memberitahu, sambil mengaduk sayur santan isinya daun kelor. Daun kelor sendiri memiliki manfaat cukup banyak. Salah satunya itu memelihara kesehatan dan fungsi otak.
"Oh ...ya Mbok daun kelor nya masih ada?" tanya Cahaya, di sela-sela memotong tempe.
"Masih Neng, malahan belum Mbok taruh kulkas soalnya baru dikasih sama tetangga." tukasnya
"Emang mau di buat apa Neng?" Si mbok sepertinya ingin tahu.
"Masker wajah Mbok!" Cahaya sering maskeran dengan daun kelor.
"Emang bisa?"
"Tentu saja Mbok, pertama kita jemur dulu daun kelor-nya."
"Kalau sudah kering langsung tumbuk sampai halus. Kasih air mawar terus bisa dibuat masker"
...***...
Jam menunjukkan pukul lima sore Cahaya sudah sholat ashar. Pintu kamar terbuka ternyata suaminya sudah pulang.
"Sudah pulang Mas?" tanya Cahaya, mengambil tas kerja suaminya, kemudian mencium tangan suaminya.
"Hmm.... "
"Gimana kerja pertama menyenangkan?" tanya Cahaya.
Langit hanya diam menaruh jasnya di sofa. Sepatu sudah dilepas dari pintu kamar, jadi kamar bersih tidak boleh kotor. Hal seperti itu Cahaya terapkan kepada suaminya agar kamar tetap bersih dan suci, apalagi mereka juga sholat dikamar itu juga.
"Aku akan mandi."
Pintu kamar mandi tertutup.
"His... " Cahaya mendesis.
"Akh ...lebih baik aku siapin bajunya." Cahaya mengambil kaos pendek dan celana selutut untuk suaminya. Ia taruh ke ranjang. Kemudian berjalan kearah balkon.
"Dulu jarang sekali bisa nikmati seperti ini. Tapi sekarang sudah menjadi rutinitas ku." Cahaya menatap langit yang sebentar lagi akan gelap.
"Emang dulu kenapa?"
"Dulu jam segini harus kerja jadi pelayan." Matanya tertuju pada langit yang indah itu.
"Em... " Langit hanya mengangguk.
Cahaya dan suaminya sering menghabiskan hari-harinya di balkon entah malam atau sore.
"Kapan rencana kafe dibuka?" Langit melirik kearah istrinya.
"Entahlah ...aku belum mencari karyawan..."
"Lebih cepat lebih baik, dan kamu akan lelah nantinya"
"Gimana kalau, bukannya bareng."
"Ide bagus." Langit menyetujui ide yang istrinya kasih.
"Kalau Mas, sudah dapat karyawan penjaga minimarket."
"Aku akan minta bantuan Black, siapa tahu dia punya temen atau kenalan yang butuh kerjaan."
"Iiih ...Masnya enggak kasian apa. Biarin Black bahagia, menikmati kebersamaan dengan keluarga. Bentar lagi dia juga ke Jogja." Cahaya mencibir suaminya. Apa suaminya tidak punya malu meminta bantuan dari Black yang sebentar lagi akan jauh dengan keluarganya.
"Terserah dong."
Jawaban Langit membuat tangan kanan Cahaya memukul lengannya.
Kemudian Cahaya tertawa kecil, karena bisa mukul lengan suaminya.
"Ehm ...ngomong-ngomong Mas, berapa harga ruko dua lantai itu?"
"Dan Mas, beli saat umur berapa?"
"Entah aku lupa, tapi kalau ruko itu aku beli saat umur dua puluh tahun." Langit menjawab, sambil meninggalkan Cahaya. Cahaya ingin tahu, mana ada umur dua puluh sudah bisa beli ruko lantai dua.
"Masnya kerja apa? Kok sampai dapat uang buat beli ruko." Cahaya berlari mengikuti suaminya dari belakang. Namun yang dikejar terus berjalan.
"Dapat warisan."
"Masnya jangan bercanda." Cahaya menutup pintu sliding yang terbuat dari kaca.
"Sejak kapan aku bercanda?" tanya Langit, sambil duduk di sofa.
"Eh ...emang bener?" tanya Cahaya,yang duduk di samping suaminya.
__ADS_1
"Kau tidak percaya?"
Cahaya menggeleng pelan.
"Huft ...gini waktu itu kakek ngasih warisannya ke bapak!"
Langit memperbaiki posisinya agar menghadap istrinya.
"Bapak menolak, karena gajinya sudah cukup untuk menua bersama ibu nanti."
Cahaya mendengarkan suaminya dengan baik.
"Terus ..." tanya Cahaya ingin tahu.
"Bapak memutuskan jika warisan itu dibagikan kepada anak-anaknya."
"Berarti si kembar sudah punya harta?"
"Tentu saja, tapi aset mereka berupa tanah. Karena harga tanah tahun berganti harga makin mahal."
"Wah ...enak ya kalau dapat warisan bisa kaya." ujarnya berseru.
"Nah... aku boro-boro, harus banting tulang."
Langit yang mendengar hal itu tersenyum meringis.
"Apa lagi selama aku kerja tiga tahun cuma punya tabungan 10juta." Wajah Cahaya jadi suram, merasa tidak punya apa-apa.
"Oh ...ya Mas kira-kira berapa modal kafe ya?"
"Kau ingin tahu?" tanya Langit yang mendekatkan wajahnya dengan wajah milik istrinya.
Cahaya sangat terkejut karena wajah suaminya itu tiba-tiba sangat dekat dengan wajah miliknya.
"Iy-iya." jawabnya, sambil memalingkan wajahnya yang panas entah karena apa.
"Ada syaratnya." Langit tersenyum penuh arti.
"Aa-apa?" tanya Cahaya, yang sudah berdiri dari sofa.
"Kau mau nanti malam atau sekarang?" tanya Langit tersenyum miring.
"Terserah, tapi jawab dulu."
"Tidak bisa, kau harus terima syaratnya dulu."
"Kita sholat dulu, sudah magrib."
"His ...aneh kenapa ada syaratnya segala." Cahaya menghentak kedua kakinya.
Mereka berdua melaksanakan sholat maghrib bersama. Langit sudah duduk di balkon sambil membawa laptop kerjanya, belum juga selesai. Dia harus memeriksa laporan keuangan. Syukur ada Asya yang bisa membantunya. Perempuan itu mempunyai skillnya patut diacungi jempol.
"Bu Asya, bisa kirim laporan keuangan pajak lewat email?"
"Baik makasih bu!"
Langit mematikan telpon itu. Cahaya tadi sempat dengar suaminya menelpon seseorang.
"Rekan bisnis ya MMas" Cahaya, duduk di samping suaminya.
"Oh ...ya Mas tadi aku sudah cari supplier. Mas bisa cek dulu." Cahaya menyuruh suaminya melihat hasil kerjanya seharian.
"Bentar Az-zahra, Mas lagi mempelajari data keuangan perusahaan, yang baru di kirim bu Asya!"
Cahaya menutup laptop pinjamannya kembali dengan kesal. Karena suaminya lebih mementingkan kerjaannya. Yang harusnya dikerjakan di kantor, bukan di rumah.
Langit yang melihat hal itu tersenyum, karena bisa melihat istrinya cemberut.
"Sabar Az-zahra jangan cemberut nanti kayak ninik-ninik!"
"Bayarin," ujarnya, sambil memalingkan wajahnya.
Langit membuang napas kasar.
"Ya sudah mana laptopnya, biar Masnya check." Langit menaruh laptopnya ke lantai. Kemudian mengambil laptop yang ada di pangkuan istrinya.
Cahaya tersenyum, namun hal itu tidak luput dari penglihatan Langit. Langit mulai mengecek data supplier.
"Track Record Supplier-nya sudah di cek belum?"
Langit menahan senyuman, karena istrinya itu.
"Maaf-maaf aku lupa!" Cahaya menggaruk kepalanya.
"Sudah gingsul ceroboh lagi." Langit mengejek istrinya itu.
"Suka pakai kaus hitam terus bau lagi." Cahaya yang tidak terima diejek, dia membalas mengejek suaminya kembali.
__ADS_1
Langit mencium tubuhnya kemudian ketiaknya. Langit berpikir jika tubuhnya tidak bau malahan masih ada aroma maskulin. Langit tersenyum licik, sepertinya ada ide yang muncul di otak Langit.
"Coba lihat ini." Langit menyuruh istrinya melihat layar laptop. Cahaya sedikit menggeser tubuhnya dekat Langit, agar bisa liat layar laptop itu.
"Apanya yang harus dilihat?" tanya Cahaya, mendekatkan mukanya kearah layar laptop.
Wanita itu berpikir apa ada yang salah, dengan data supplier yang ia pilih.
Langit meraih kepala Cahaya dengan tangan kirinya. Kemudian menarik kepala Cahaya hingga mencium ketiak kanan miliknya.
"MASSSS!!!!"
Sedangkan Langit tersenyum puas.
"Gimana baunya harum kan?"
"Le-pasin Mas!" Cahaya memukul tubuh suaminya.
"Bilang harum dulu, baru nanti dilepaskan." Langit masih menahan kepala istrinya agar tetap mencium ketiaknya. Sedangkan Cahaya terus memukul dada suaminya.
"Enggak!"
"Aku tahu kau sangat suka dengan tubuhku ini, sampai-sampai kalau tidur minta di peluk ya kan?"
"Enggak, ayo lepasin ah... ah... "
"Bilang harum, nanti dilepaskan." Langit semakin menekankan kepala istrinya. Agar istrinya bisa menikmatinya dengan afdol.
"Iy!-iya harum... "
"Masnya BA-U!" Cahaya mau berdiri namun kaki kirinya dipegang Langit.
Langit meletakkan laptop berwarna putih itu di lantai dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya ia pakai memegang kaki kiri milik istrinya.
"Ayo bilang apa?" .
"Ah.. Masnya... ah... jangan usil... " Cahaya memukul pergelangan tangan suaminya.
"Bilang dulu baru dilepaskan Az-zahra. "
"BA-U!" Cahaya berbicara seperti orang yang mau menangis saja.
"Jangan bohong kamu?"
Sebenarnya enggak bau, malahan aku suka wanginya. Sampai saat ini aku masih bisa mencium harum tubuh milik masnya. Batin Cahaya, menatap suaminya yang masih memegangi kakinya.
"Hahaha... "
Cahaya tertawa karena kakinya digelitik suaminya.
"Mas cukup, hahaha, hiks hahaha." Cahaya tertawa tapi juga terisak karena kakinya keram.
"Mas-mas cukup Mas!" Cahaya terus bersuara, tapi sayang suaminya malah asik menyeretnya, seperti menyeret kantong beras.
"MAS CUKUP!" bentak kan Cahaya yang cukup keras, membuat Langit berhenti menyeret istrinya.
"Kakiku itu sudah keram sejak tadi ...hiks ...tapi Masnya! Asik gelatik kakiku enggak berhenti ...hiks ...terkadang bercanda itu ada batasnya ... hiks... " Cahaya sudah tidak tahan lagi, wanita itu menitihkan air mata. Langit yang melihat hal itu sangat terkejut. Dia pikir malam itu adalah malam yang indah dengan istrinya, bercanda dan tertawa. Namun itu salah besar. Tidak! Dia bukan membuat istrinya bahagia, tapi malam itu dia membuat istrinya menangis perlahan. Yang tadinya bibir istrinya tersenyum. Kemudian senyum itu hilang. Langit hanya melihat mata istrinya yang mengeluarkan air mata mengalir membasahi pipi.
"Az-zahra aku minta maaf!" Langit mengusap air mata itu dengan kedua ibu jarinya.
Langit mendekap kepala istrinya ke tubuhnya.
"Sungguh aku tidak bermaksud ingin membuatmu menangis!" Langit mengelus kepala istrinya yang ada di dekapannya. Cahaya masih membisu.
"Masih keram?" Langit ingin menyentuh kaki yang tadi ia seret.
"Jangan Se-ntuh!" Cahaya memukul tangan suaminya pelan.
"Masih keram tauk... "
"Ya sudah, Mas bantu kamu ke kamar." Langit menggendong istrinya.
Cahaya mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Cahaya teringat saat suaminya menggendong dia waktu acara resepsi dulu. Cahaya menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, bibirnya tersenyum saat mengingat hal itu.
Langit membaringkan istrinya di kasur. Langit benar-benar merasa bersalah, karena dia Cahaya menangis. Menarik selimut warna putih itu sampai perut istrinya.
"Kamu tidur dulu," ujarnya, sambil mengelus kepala istrinya. Cahaya mengangguk pelan, wanita itu tidak sanggup jika melihat suaminya merasa bersalah.
Malam ini aku membuatnya menangis. Untuk yang kedua kalinya Tuhan. Pertama saat kita baru menikah dulu. Saat aku membanting pintu sangat keras. Dan malam ini aku membuatnya tersenyum kemudian membuatnya menangis dengan perlahan. Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu Az-zahra.
Langit terus berkutat dengan laptopnya. Pemuda itu harus paham masalah keuangan perusahaan. Hingga jam dua belas pemuda itu baru masuk kamar. Berbaring di samping istrinya. Menatap wajah istrinya kemudian mencium. Dan bibir itu selalu tersenyum saat dia menciumnya. Langit tersenyum melihat hal itu.
"Mimpi indah Az-zahra, maaf karena malam ini aku sudah membuatmu menangis."
Malam itu Langit tidur dalam keadaan merasa bersalah. Malam itu Langit tidak berani memeluk istrinya, karena merasa bersalah.
__ADS_1