
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Pasangan baru itu akan pergi ke Semarang. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Cahaya sudah terbangun, memutuskan untuk mandi. Sedangkan suaminya masih tidur pulas. Cahaya yang sudah selesai mandi, dia membangunkan suaminya.
"Bangun Mas, sudah setengah tiga." Cahaya mengelus pundak suaminya.
"Lima menit lagi," sahutnya sang suami.
Cahaya yang mendengar jawaban itu, hanya menggeleng sambil membuang napas.
"Lebih baik aku bangunin si kembar saja dulu."
Tok... tok... tok...
Cahaya mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
"His ...apa mereka juga belum bangun. Enggak kakak enggak adik sama saja," gerutu Cahaya.
"Kalian sudah bangun?" tanya Cahaya, di sela-sela mengetuk pintu.
"Iya, Teh! Aku baru selesai mandi, sekarang gantian kakak!" jawaban dari dalam kamar.
"Ya sudah, kalau begitu. Teteh bangunin kang mas mu!"
Cahaya meninggalkan kamar si kembar. Wanita itu, sudah ada di depan kamarnya. Di bukalah pintu kamar itu. Langit masih tengkurap dibawah selimut. Cahaya membuang napas pelan.
"Mas, ayo bangun sudah hampir jam tiga ini." Cahaya menggoyang tubuh suaminya.
"Hmmm..."
"Sudah ayo bangun." Cahaya menarik selimut sedikit kasar. Wanita itu tidak sabar lagi jika harus menunggu, apalagi masalah almarhum ibu.
"Ck... " Langit berdecak sebal.
Sedangkan Cahaya tersenyum, karena bisa membangunkan suaminya yang kalau tidur sudah kayak mayat hidup.
Langit berjalan kearah kamar mandi dengan malas. Matanya masih ngantuk. Pemuda itu menabrak tembok karena matanya masih berat. Cahaya menahan tawanya, karena kejadian itu.
Cahaya memutuskan untuk sholat tahajjud selagi menunggu suaminya.
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Pak Khan dan istrinya mengantar mereka sampai depan rumah.
"Hati-hati, selamat sampai tujuan," ucap Abidah Aminah kepada anak-anaknya.
"Kalau ngantuk jangan jalan dulu, coba cari tempat peristirahatan. Bahaya kalau ngantuk menyetir." Pesan bapak kepada anak-anaknya.
"Pakai mobil kalian ya?" tanya Langit.
"Tapi Kang Mas, yang isi bahan bakarnya." Archer sangat perhitungan dengan kang masnya itu.
"Kita berangkat Pak, Buk!" Langit mencium tangan orang tuanya.
Pemuda itu mengeluarkan mobil dari bagasi. Mobil keluaran 2006 itu adalah pemberian bapak untuk si kembar. Dengan satu syarat, harus lulus dengan nilai yang sangat bagus.
Mobil warna hitam itu sudah meninggalkan rumah Raharja satu menit yang lalu.
"Nanti kalau sudah tiga jam kita gantian nyetirnya" Langit memberi tahu.
"OKEY!"
Payah! Baru tiga puluh menit si kembar kelaparan.
"Kang Mas, aku pengen minum, tadi lupa tidak bawa minum!" ucap Archer mengeluh.
"Ya sudah, kita mampir di indomaret saja Mas. Beli makanan sama minuman buat perjalanan nanti!" Cahaya memberi saran kepada suaminya.
Mobil hitam itu berhenti di depan indomaret. Cahaya dan adik iparnya turun untuk beli makanan ringan dan minuman. Langit menunggu di luaran mobil. Jalan masih petang, karena masih setengah empat. Mata pemuda itu tak sengaja, melihat perempuan yang tak jauh darinya, mau menyebrang jalan, tapi tidak lihat kanan-kiri. Langit spontan menarik lengan perempuan itu. Dan berujung pelukan layaknya drama. Cahaya bisa melihat adegan itu dari kejauhan. Wajahnya kesal, karena suaminya itu. Si kembar yang melihat hal itu saling kode.
Langit sangat gelagapan kemudian melepaskan pelukan itu. Sedangkan perempuan yang pagi itu, ia selamatkan sangat canggung.
"Makasih," ucap perempuan itu.
Langit hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Perempuan itu berpikir sejenak, sepertinya dia pernah bertemu dengan orang yang baru saja menyelamatkan dirinya.
Cahaya keluar dari indomaret dengan perasaan jengkel, karena suaminya itu. Dulu saat dia ingin mencium telapak tangan pemuda itu. Langit menolaknya mentah-mentah. Malam itu dia malah lihat adegan yang tidak sepantasnya ia lihat.
Cahaya masuk mobil kembali, dan membanting pintu mobil sangat keras. Membuat si kembar meringis, karena mobil baru miliknya, pintunya dibanting kakak iparnya dengan keras.
Langit mengerutkan dahi, tidak biasanya istrinya itu membanting pintu mobil dengan keras.
__ADS_1
Mobil itu terus melaju dengan kecepatan sedang.
"Oh ...ya untuk kafe modalnya dari kamu, karena aku ingin istriku bisa bisnis, bukannya kau ingin punya karyawan istimewa?" Langit mencoba memecah keheningan.
Sedangkan Cahaya hanya diam, tidak menjawab suaminya.
Si kembar sedang asik makan. Saling menyikut satu sama lain. Seolah tahu, jika kakak iparnya sedang cemburu.
Langit tidak tahu kenapa istrinya itu seolah membisu. Padahal malam itu Langit ingin sekali membahas tentang kafe dan minimarket. Langit berpikir, jika malam itu adalah malam yang tepat. Karena kalau sudah kerja pasti jarang bertemu.
Archer mengetik sesuatu di ponselnya kemudian mengirimkan ke seseorang.
Ting ...pesan masuk ke ponsel Langit.
Pemuda itu mengerutkan dahi. Kenapa si Archer mengirim pesan kepadanya. Buang-buang pulsa saja, pikir pemuda itu. Tapi pemuda itu memutuskan untuk membaca pesan itu, siapa tahu penting.
Tadi sewaktu kita didalam indomaret teh Cahaya melihat kang mas, meluk perempuan. Mungkin saja teteh cemburu, jadi kang mas didiamkan.
Kira-kira seperti itu pesannya. Langit membuang napas karena pesan itu.
Cemburu? Bukannya orang yang cemburu itu takut kehilangan sesuatu. Apa dia takut kehilangan diriku. Batin Langit tersenyum ke-GR-an memikirkan hal itu.
Cahaya yang tidak sengaja, dia bisa lihat suaminya yang tersenyum.
Lihatlah dia tersenyum, karena habis pelukan dengan perempuan. Dasar lelaki mata keranjang.
Cahaya mendengus sebal. Mana ada keranjang punya mata Cahaya? Bener ya cinta itu memang buta. Lihat saja Cahaya, masa keranjang punya mata katanya.
"Kalian tidur dulu, nanti kalau Kang Mas lelah kalian yang gantiin," ucap Langit.
Tidak perlu disuruh yang kedua kalinya. Si kembar sudah tidur dengan posisi paling wenak.
"Kau temani aku bicara takut ngantuk," ucap Langit, kepada istrinya. Tapi sayang istrinya tidak menjawab.
"Dosa loh ...kamu mendiamkan suami ...katakan kenapa? Apa kesalahan yang tak sengaja aku perbuat?" tanya Langit, memberi kesempatan istrinya untuk bertanya. Dan dia akan menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
Tapi Cahaya masih diam tidak mau angkat bicara.
"Az-zahra!" panggilnya sambil melirik istrinya yang cemberut. Entah mengapa malam itu, pemuda yang suka memakai kemeja hitam sering tersenyum.
"Zahra!" panggilannya lagi, pemuda itu melirik kearah istrinya sebentar, kemudian fokus mengemudi.
"Modus!" jawab Cahaya, yang tahu artinya.
Langit ingin sekali tertawa, karena jawaban dari istrinya itu.
"Loh ... kok modus. Masnya kan cuma bilang ...jadi bunga hatiku doang."
Cahaya makin dibuat sebal oleh pemuda yang duduk di sampingnya itu.
"Jangan mudah marah nanti kayak ninik-ninik loh."
Cahaya yang di bilang ninik-ninik dia tidak terima sebenarnya. Tapi males ngeladenin suaminya itu.
"Az-zahra aku tahu, kau tidak suka dengan sikapku yang tadi kan?"
Cahaya mengerutkan dahi, kenapa suaminya seperti tahu saja perasaannya.
"Kau cemburu? Saat aku meluk orang tadi? Sebenarnya tadi itu ...aku reflek jadi, aku tarik saja orang itu. Kasian kalau ketabrak, aku yakin jika kau ada diposisi ku pasti ngelakuin hal yang sama."
Langit menjelaskan kepada istrinya. Sedangkan Cahaya hanya mendengar, tidak mau menanggapi ucapan suaminya.
"Mending kamu tidur, dari pada diam. Aku akan memutar musik, untuk menemaniku, biar tidak ngantuk."
Cahaya yang di suruh tidur malah asik buka ciki-ciki kemudian memakannya.
Sepertinya malam kedua lebaran, pemuda itu tidak punya harga diri didepan istrinya itu.
Ponsel Cahaya berdering siapa jam empat pagi menelpon dia.
"Hm... "
"Ngumpul yuk,"
"Kapan Rai?"
"Besok, lu bisa kan?"
"Gua enggak bisa kalau besok, soalnya gua masih ada di Semarang,"
__ADS_1
"Ya sudah, sebisa lu. Lu jarang ikut ngumpul setelah nikah. Ale yang sudah punya anak, dia aja masih bisa ngumpul sama kita. Lu gitu ya Ay lebih milih suami dan ngelupain sahabat." Rai bicara sambil tertawa.
"Hahaha, gua mah milih yang menjanjikan Rai!"
"Iya orang suami selalu ada, gua tahu. Maaf ya nelpon pagi buta."
Cahaya mengakhiri panggilan itu. Langit melirik kearah istrinya yang asik makan.
"Dengar, kafe itu miliki mu, jadi semua yang handle kamu. Aku sudah menyediakan tempat ...jadi aku harap kau bisa menangani hal itu. Mulai dari modal sampai karyawan." Cahaya hanya diam, tidak menjawab asik makan kentang goreng.
"Jika kau mau karyawan yang istimewa, kau harus tahu dimana kau harus menempatkan orang itu."
Langit yakin jika istrinya itu mendengarkan dia, meski seperti orang yang tidak perduli.
"Cuma saran, seumpama ada yan cacat kaki melamar kerjaan... kau bisa menerimanya... kau bisa menempatkan oran cacat kaki di bagian kasir, untuk tuna wicara bisa di bagian waitress."
"Dan jika kurang, kau bisa memperkerjakan tunawisma di bagian dapur. Mungkin kau tidak hanya menjual kopi saja, kau bisa jualan makan yang jarang dijual di Jakarta mungkin. Seperti makanan daerah khas mana gitu."
Cahaya tetap diam, tapi mencerna ucapan suaminya.
"Dan untuk minimarket, aku harap kau juga ikut andil dalam bisnis ku itu." Langit terus bicara, sesekali membuang napas kasar karena istrinya hanya diam.
"Tidak ada ucapan terima kasih?" tanya Langit.
"Makasih!" ucap Cahaya tersenyum sebentar.
"Cuma gitu, enggak ada inisiatif untuk mengapresiasi?"
"Enggak!" jawabnya ketus.
"Hmmm ...kau bisa bayar sewa kalau gitu," Langit tersenyum menyeringai.
"Heh!" Cahaya melongo. Karena ucapan suaminya.
Bayar sewa, buat modal saja pas-pasan apa lagi bayar sewa. Batin Cahaya memikirkan uang yang harus ia siapkan.
"Caranya?" tanya Cahaya.
"Apanya?"
"His ...apresiasi."
"Beneran pengen tahu caranya? Akh ...kamu enggak akan mau pasti," ucap Langit tersenyum puas.
"Katakan, ayo katakan!" desak Cahaya sambil mengguncang tangan suaminya.
"Eh ...jangan gini, nanti kita nabrak."
"Makanya katakan dulu dong," ucap Cahaya.
Langit melirik kearah kaca spion adik kembarnya tertidur dengan pulas.
"Kissing!"
Cahaya yang mendengar hal itu terkejut.
"Enggak ada cara lain gitu. Mungkin muji-muji atau gimana gitu Mas!" tawar Cahaya.
"Kok nawar sih?"
"Mungkin saja dapat diskon." Cahaya menatap jalan. Wanita itu menyembunyikan senyumannya dari suaminya.
"Mau enggak?" Langit sudah lelah menyetir.
"Enggak!" jawab Cahaya, enak saja emang ada mengapresiasi dengan acara ciuman.
"Baiklah, bayar sewa!"
"Eh... eh... kok gitu?" Cahaya tidak mau jika harus bayar sewa.
"Berarti Kissing!"
"Hah... "
"Kalau iya aku akan berhenti di depan, mumpung si kembar sedang tidur." Langit tersenyum licik.
Cahaya terdiam tidak mau menjawab.
"Bayar sewa atau kissing, penawaran berlaku lima menit dari sekarang. Kalau lebih berarti harus bayar sewa." Lagi dan lagi pemuda itu tersenyum. Karena bisa memberi pilihan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Cahaya terdiam, dia tidak mau jika mengeluarkan uang banyak. Dia juga enggak mau nyium suaminya.