Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Katanya Lebih Suka Dipanggil Masnya


__ADS_3

"Satu, dua ti—" Cahaya berdiri kesamping pintu.


Disaat itu Langit yang ada di luar mencoba untuk mendobrak pintu kamar itu.


Barakkkk! Pintu terbuka.


Bug! Krekkk!


"Buahahaha!!!!" Cahaya tertawa ngakak karena rencananya berhasil.


Pemuda itu terpleset sampai duduk di lantai. Ditambah sarungnya robek bagian belakang.


"Ahaaaaaa, aku haaaa!" Cahaya tertawa sambil menaruh tangan kanan di pinggang. Sedangkan yang satunya menutup mulutnya. Cahaya tidak bisa menahan tawanya, karena suaminya terkena jebakannya.


Langit menatap istrinya yang mentertawakan nya. Sepertinya pemuda itu juga ingin membalas kelakuan istrinya itu. Langit tersenyum miring, dia berfikir rencananya malam itu aku berhasil.


"Byur!" Langit menyiram tubuh istrinya, layaknya menyiram bunga di depan rumah.


Cahaya yang tadinya tertawa, perlahan tawanya hilang. Wanita itu mengelap wajahnya dengan kedua tangannya yang terkena air.


"Ahahahahaha!" tawa itu keluar dari mulut pemuda yang masih duduk di lantai itu.


Cahaya yang mendengar tawa suaminya, dia segera mengambil gayung yang ada di tangan suaminya itu.


Langit tahu istrinya itu akan balas dendam karena ulahnya.


Cahaya sudah mengambil air, tanpa kata Cahaya langsung menghamburkan air itu kearah suaminya.


Byur!


"Ahahaha!" Cahaya tertawa lagi.


Tangan Cahaya kembali mengambil air dari bak mandi.


Byur! Air itu tepat mendarat di wajah suaminya.


"AHAHAHAHAHAHA!" Cahaya tertawa keras.


Sedangkan Langit, pemuda itu harus mencari ide agar membalas istrinya itu.


Ah ide tidak ada. Batin Langit.


Byur!


"Ahahaha!" Cahaya sangat senang karena bisa memandikan suaminya itu.


Sedangkan sang suami hanya menutupi mukanya dengan kedua tangannya.


Byur!


"Ahahaha!"


"Ahahaha!" Cahaya sangat antusias karena bisa bermain air dengan suaminya itu.


Langit menatap bagian dinding, mungkin saja dia menemukan sesuatu untuk membalas ulah istrinya. Langit membuka keran yang ada tidak jauh dari tangannya itu.


Cahaya sudah siap menyiram suaminya. Tapi langkahnya terhenti, saat air dari shower itu turun membasahi tubuhnya. Cahaya mendongakkan kepalanya.


Pemuda itu tertawa melihat istrinya.


"Hahaha, kau itu. Ini masih malam, kenapa mengajakku main air." Langit tertawa, sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tidak marah?" tanya Cahaya, sambil meletakkan gayung yang ia pegang. Shower sudah Langit, matikan.


"Kenapa harus marah?" tanya Langit, mendongak untuk melihat wajah sang kekasih.


"Apa kau, tidak merasa aku ini kurang aja*?" tanya Cahaya kembali.


"Aku hanya menikmati apa yang ada saja. Kalau hal ini buat aku bahagia dan tertawa. Aku pun hanya bisa menikmatinya, karena apa yang ada sekarang. Boleh jadi besok sudah tidak ada. Dan untuk panggilan mu untukku, aku tidak suka." Langit bicara santai.


"Panggilan ku? Emang kenapa, apa kau tidak suka dengan panggilan yang aku berikan?'


"Aku lebih suka kamu memanggilku dengan panggilan Masnya daripada kau-kau. Enggak jelas banget!" Langit bicara tanpa sungkan.


"Bukanya Masnya, juga begitu saat memanggilku?"


"Ayolah ini hanya masalah panggilan, bantu aku berdiri. Aku tidak bisa berdiri." Langit tidak mau berbalas kata dengan istrinya di kamar mandi.


Cahaya pun membantu suaminya untuk berdiri.


"Ayo, Kek aku bantu," ujar Cahaya, sambil merengkuh tubuh suaminya.


"Aku rasa kau sudah tidak sabar menua bersama ku," ujar Langit, tersenyum mengejek sambil melirik wajah istrinya itu.


"Aku rasa begitu," jawab Cahaya melirik suaminya. Dengan senyuman yang tak kalah mengejek.


"Hahaha!" Mereka berdua tertawa serempak karena candaan yang mereka lontarkan.


Coba saja jika mereka sudah di beri momongan. Pasti momen seperti itu, sangat langka bagi pasangan itu. Mungkin Tuhan, ingin mereka saling memahami terlebih dahulu, mengenal satu sama lain, dan saling menguatkan yang satu dengan yang satunya. Ada alasan kenapa, Tuhan! belum memberikan sesuatu kepada seseorang hamba. Dan alasan itu sangat baik bagi hamba itu. Mungkin pasangan itu harus ber-perasangka baik kepada Tuhan.

__ADS_1


"Ayo, cepat aku sudah kedinginan karena ulah mu!" protes Langit kepada istrinya.


"Iya, aku akan ambil wudhu dahulu," ujar Cahaya.


Setelah hampir sepuluh menit. Mereka sudah siap menghadap ke Tuhan pemilik Arsy yang Agung.


"Mau berapa rokaat?" tanya Langit, menghadap belakang.


Cahaya yang ditanya, hanya memperlihatkan kedua jarinya.


"Kok cuma dua, bukannya biasanya empat?" Langit pikir istrinya akan meminta lebih dari empat rokaat.


"Aku sudah kedinginan, dan aku tahu Masnya akan kesusahan. Karena bokongnya tadi nyium lantai," kekeh Cahaya menutup wajahnya, karena membayangkan kejadian yang menimpa suaminya.


Mereka pun sholat tahajjud bersama.


Dengan jumlah rokaat yang paling sedikit.


Mereka sudah berbaring di ranjang dengan Cahaya yang memegang selimut dengan sangat erat karena kedinginan. Sedangkan Langit, pemuda itu mencari posisi yang membuat bokongnya tidak sakit. Sepertinya badan pasangan itu, remuk.


"Kau sudah tidur?" tanya Langit, yang masih saja mencari posisi yang nyaman.


"Aku, his ...aku kedinginan his... " Suara wanita itu menggigil.


"Ambilah jaket kemudian tidur!" ujar Langit yang membelakangi istrinya. Pemuda itu sepertinya sudah mendapatkan posisi paling nyaman.


"Tidak sanggup, untuk berdiri. Sudah diam lah, kita tidur, besok kerja." Cahaya memilih untuk mengakhiri pembicaraan untuk malam itu. Masalahnya jika mereka saling sahut-menyahut itu akan membuat mereka tidak tidur.


Terdengar suara adzan subuh. Kuping kedua orang itu pun mendengarnya.


"Allahu Akbar! Allahu Akbar!"


Cahaya mulai membuka matanya perlahan.


"Hacih!" Cahaya sepertinya sakit.


Sedangkan pemuda itu, masih berusaha membuka matanya. Pemuda itu merasakan sakit di bagian bokongnya. Sepertinya sakitnya tambah parah.


"Hacih!" Cahaya berusaha bangun.


"Hacih!" Bersin itu datangnya dari Langit.


"Hacih!" Cahaya.


"Hacih!" Langit mengusap hidungnya.


"Hacih!" Cahaya.


"Hahaha haha!" Cahaya dan suaminya tertawa, karena bersin mereka saling bersahutan.


"Kau bisa membantu ku?" tanya Langit, yang berusaha untuk bangun.


"Tunggu dulu, aku juga kesusahan! Badanku sakit, tambah aku kedinginan." Cahaya menyahut sambil berusaha berdiri.


Cahaya sudah bisa duduk dengan baik, wanita itu membantu suaminya. Tangan Cahaya, mengangkat kepala suaminya. Sedangkan yang satu ia gunakan untuk menarik tangan suaminya. Agar pemuda itu bisa duduk.


"Aaaa!" Langit nampak kesakitan, karena bokongnya yang terpleset malam itu.


"Maaf!" ujar Cahaya yang merasa bersalah.


"Bagaimana mungkin, sesakit ini!" Langit menatap istrinya.


"Aku tidak tahu, tapi biasanya emang gitu. Saat kita terjatuh, rasa sakit itu tak sesakit saat luka itu baru menimpa kita." jawab Cahaya.


"Aku rasa hari ini, aku tidak masuk kerja. Aku saja tidak bisa duduk dengan baik!"


"Aku rasa itu lebih bagus, baiklah sini aku bantu!" ujar Cahaya, sambil turun dari ranjang. Agar bisa membantu suaminya untuk berdiri.


Saat Cahaya berdiri, wanita itu merasakan sakit yang teramat di bagian kepalanya.


"His... " Cahaya memegang kepalanya.


Langit yang melihat hal itu dia berucap. "Apa kau baik-baik saja?"


"Entahlah, kepalaku sangat sakit. Aku rasa tubuhku tidak sehat. Karena tadi malam, main air!" jawabnya, sambil memegang kepalanya seraya berjalan. Sedangkan tangan yang satu, ia gunakan buat pegangan ranjang agar tidak jatuh.


"Ayo aku bantu!" ujarnya, yang siap membantu suaminya berdiri.


Langit pun langsung menerima bantuan dari istrinya itu. Mereka pun memutuskan untuk sholat subuh, dengan keadaan yang memperhatikan.


Sholat subuh berjalan dengan sangat lama.


Karena sang imam tidak sesehat biasanya, pun sang makmum juga begitu.


Cahaya langsung saja berjalan kearah ranjang. Wanita itu membaringkan badannya, karena kepalanya sakit. Padahal mukena masih dipakai.


Sedangkan Langit, pemuda itu kesusahan untuk berdiri. Padahal waktu sholat tidak sesusah itu.


"Kenapa, susah sekali berdiri," gerutu Langit sambil, pegangan pinggiran ranjang. Untung sholatnya dekat ranjang, jadi bisa membantu untuk berdiri.

__ADS_1


"Karena, enggak solat. Coba kalau sholat, pasti Allah bantu berdiri dan mengurangi rasa sakitnya," sahut Cahaya, sambil menghirup minyak kayu putih.


Langit dengan susah payah berusaha berdiri. Akhirnya pemuda itu bisa, dia tidak mau merepotkan istrinya itu.


Pemuda itu membaringkan badannya di ranjang dengan posisi tengkurap. Sedangkan sang istri membelakangi nya.


"Jangan ke kafe dulu, istirahat dulu," perintah Langit kepada istrinya.


"Baiklah, tapi kepalaku sangat sakit... apa yang harus aku lakukan?" tanya Cahaya.


"Makan, minum obat kemudian tidur."


"Aku tidak sanggup menuruni anak tangga, kalau jatuh bagaimana?"


Mereka berdua hanya diam, tidak bersuara lagi, Setelah hampir lima menit, tak ada pembicaraan. Langit sepertinya mau angkat bicara.


"Tidur saja, mungkin saja nanti sembuh. Tubuhku juga sakit semua," ucap Langit memberi saran.


"Baiklah!"


Dilantai bawah seluruh keluarga sudah pada ngumpul.


"Kenapa Kang Mas, tak ada?" tanya Arche.


"Mungkin saja mereka sedang siap-siap," celetuk Archer, sambil makan kerupuk.


"Tapi tadi, Aya, tidak ke dapur," timpal Alula.


"Sepertinya, anak itu makin hari makin tidak punya sopan santun," sinis Eyang.


Semua yang ada di sana, hanya diam tidak mau menjawabi ucapan Eyang.


"Baru tiga bulan, jadi mantu. Tapi etika sudah hilang," tukasnya lagi.


Abidah Aminah yang mendengar hal itu hanya menggelengkan kepalanya. Sudah hampir dua bulan, Eyang kenal Cahaya. Tapi hal itu tak membuat hati Eyang goyah, sedikitpun untuk menyukai Cahaya.


"Cher! Tolong panggil mereka, bilang kita menunggu mereka makan!" ujar Hazel.


Archer pun segera melaksanakan tugasnya. Dara delapan belas tahun itu, segera menaiki tangga. Agar bisa memanggil kang masnya.


Tok... tok...


Pasangan baru ini belum tertidur, mereka baru saja mau memejamkan matanya. Tapi hal ini tak jadi, karena pintu kamarnya mengeluarkan suara.


"Siapa?" tanya Langit.


"Aku, Kang Mas sudah ditunggu semua orang buat makan, cepatlah ke bawah!" ujar Archer.


"Katakan, kita tidak bisa makan bersama. Dan bilang kepada bapak, Kang Mas hari ini tidak ke kantor."


"Kenapa, apa alasannya Kang Mas enggak ngantor?" Archer bertanya ingin tahu.


"Kita sedang sakit," jawab Langit.


"Maksudnya kita? Apa Teh Cahaya dan Kang Mas sakit?" tanya Archer kembali.


"Iya!"


"Baiklah!"


"Tunggu dahulu, tolong bawakan makanan untuk kita. Paham, Cher?"


"Siap! Laksanakan!" Archer bicara tegas.


Archer pun kembali ke bawah.


"Apa mereka masih lama?" tanya Alula.


"Mereka tidak akan turun," jawab Archer, sambil memasukkan nasi goreng ke mulut.


"Maksudnya?" tanya Arche.


"Mereka sakit, entah sakit apa. Mereka tidak memberi tahunannya. Dan kata Kang Mas. Untuk hari ini enggak ngantor," ujar Archer menatap pak Khan. Pak Khan pun mengangguk.


"Meraka maksudnya?" tanya Hazel ingin tahu.


"Ya! Teh Cahaya juga!" jawab Archer.


"Ea romantis banget sakit saja barengan," celetuk Arche terkekeh.


"Dramatis iya, kalau romantis itu yang satunya sakit, yang satunya merawat. Nah kalau yang sakit semua siapa yang ngerawat?" tanya Alula.


"Bilang saja Mbak Al, iri. Kalau iri aku do'ain deh Kak Hazel sama Mbak Al. Seperti Kang Mas dan istrinya." Arche terkekeh karena ucapannya.


"Maksudnya kamu, mau mendoakan kita agar sakit?" tanya Hazel melotot.


"Aku tidak pernah bilang seperti itu, aku bilang biar sama kayak ktang Mas dan istrinya. Entah itu romantisnya atau lain lagi. Kak Hazel itu su'udzon mulu sama adik iparnya." Arche menggelengkan kepalanya.


"Oh ya, Bu! Tadi Kang Mas, minta dibawakan makanan ke kamar!"

__ADS_1


__ADS_2