Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Ciuman Lima Kali


__ADS_3

Puasa ke-dua puluh tiga, bertepatan dengan tanggal 16 Oktober. Anniversary pernikahan Langit dan Cahaya yang ke sebulan. Malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Bisa disebut dengan hari lailatul-qadar. Lailatul-qadar akan turun di tanggal-tanggal ganjil bulan Ramadhan, 21,23,25,27,29.


Cahaya menatap langit malam yang penuh bintang, langit tanpa awan membuat rembulan terlihat terang.


"Ya Allah. Jikalau malam ini, adalah malam lailatul-qadar aku berdoa. Semoga imanku pada-Mu tambah tebal. Aku sekarang sudah jadi istri ya Allah, tapi aku tidak tahu apa aku ini istri yang baik atau tidak."


"Ya Allah hubunganku dengan suamiku sudah lebih baik dari sebelumnya. Tapi aku tak tahu apa hatiku sudah memilihnya. Dulu aku pernah mencintai salah satu hamba-Mu. Tapi cinta itu tidak terbalas. Aku mengerti, mungkin Engkau. Tidak mau aku sakit hati. Malam ini aku berdoa, semoga suamiku adalah orang yang benar-benar tepat yang Engkau, kirim kepadaku." Cahaya berdoa, sambil melihat langit malam.


Langit menggeser pintu sliding itu. Dia baru saja dari bawah. Pemuda itu berjalan kearah istrinya yang sedang mendongak melihat bintang dan rembulan, senyuman terluas di bibir istrinya.


"Ehm... "


"Eh ...Masnya disini?" tanya Cahaya menengok. Hembusan angin membuat rambut sebahu itu berterbangan. Cahaya merapikan rambutnya dengan kedua tangannya, namun sayang itu sia-sia karena malam itu anginnya sangat kencang. Sedangkan pemuda itu menikmati hal itu.


"Ish.... " desis Cahaya.


"Nih," ucap Langit, memberi ikatan rambut yang baru saja ia lepas dari pergelangan tangannya.


"Makasih," ucapnya tersenyum dan menerima ikatan rambut itu.


Cahaya mulai mengikat rambutnya, yang sedikit susah karena rambutnya pendek.


"Nah gini kan enak," ucap Cahaya.


Pemuda itu menatap leher jenjang milik istrinya.


"Aset pribadi," desis nya pelan.


"Apa Mas?" tanya Cahaya yang tidak mendengar ucapan suaminya.


"Ehm..." Langit menetralkan suaranya, sebelum berkata. " Besok kita ziarah ke makam."


"Ke makam mbak Mentari?" tanya Cahaya menatap wajah suaminya.


"Termasuk, kita ke makam kakak sama mbah putri dilanjut makam nenek."


"Kalau gitu kita ajak Cantik saja, saat ke makam Mbak Mentari!" Ide Cahaya.


"Cuma di makam Mentari saja, tidak untuk yang lain. Kasian dia." Langit menjawab, sambil meninggalkan istrinya. Namun langkahnya terhenti, saat pintu sliding itu ada yang menggeser.


"Happy Anniversary," teriak si kembar sambil bawa kue. Langit mengusap dahi karena si kembar. Cahaya terharu dengan perlakuan si kembar yang sudah seperti keluarga lama. Adik tirinya yang mengenal dia tidak pernah memberi kejutan jangankan kejutan yang ada hujatan.


"Happy anniversary buat Kang Mas sama Teh Cahaya. Di beri kebahagiaan dan yang terbaik pokoknya," ucap Arche.


"Ya sudah potong kue dulu, kita enggak ada lilin jadi langsung potong kue." Archer.


"Maklum badge terbatas ," celetuk salah satu dari si kembar.


"Gimana caranya?" tanya Cahaya.


"Gini Nih." Arche menyuruh Cahaya memegang pisau plastik itu. Kemudian Arche memegang tangan kanan kang masnya, agar memegang pergelangan tangan Cahaya. Dan tangan kiri kang masnya ditaruh di pundak kakak iparnya.


"Cepat potong kue, posisi udah bagus, Kak Arche. Saat Kang Mas sama Teh Cahaya potong kue. Kak Arche siap jebret, okay!" Archer memegang kue itu sambil ngoceh. Arche menyetujui ide adiknya.


Pasangan yang sedang merayakan sebulan pernikahan itu memotong kue. Tidak perlu make a request dulu, karena make a request mereka saat sholat. Arche mulai menjadi fotografer dadakan untuk malam itu.

__ADS_1


"Kalau sudah potong kue kita ngapain?" tanya Cahaya, khusus malam itu dia akan jadi robot yang di jalankan si kembar.


"Kang Mas ambil kuenya kemudian suapi Teteh!" Archer menyuruh kang masnya.


Oke! Pemuda itu hanya menurut. Cahaya menerima suapan kue dari suaminya itu.


"Sudah?" tanya Cahaya.


"Belum, sekarang. Eh ... Kang Mas jangan dimakan kuenya." ujar Arche, dari pojok balkon, karenakan dia adalah sang fotografer. Langit yang mau masukin kue itu ke mulut enggak jadi. Karena suara cempreng adiknya.


"Kuenya kasih ke Teteh, langsung Teteh yang ganti menyuapi gitu. Tadi aku liat YouTube gitu."


Langit menurut apa kata adiknya. Cahaya menerima dan melakukan apa yang Archer katakan.


"Sudah kan?" tanya Cahaya.


"Belum."


"Apa lagi?" tanya Cahaya.


"Kang Mas harus cium pipi kiri lima kali dan yang kanan lima kali." Arche memberi ide gila. Padahal saat nonton YouTube tidak ada acara seperti itu.


"Enggak." Langit.


"Ayolah Kang Mas," ucap Archer.


Sebenarnya Langit tidak suka memperlihatkan keromantisan nya, kepada istrinya untuk orang banyak. Apa lagi untuk orang yang berstatus JOMBLO FISABILILLAH seperti adiknya itu.


"Ayo lahhh... "


"Ayo... please... "


Si kembar terus saja mendesak kang mas agar mau nyium Cahaya.


Sedangkan Cahaya salah tingkah karena ulah adik iparnya.


"Oke, tapi dengan satu syarat." Langit memberi syarat kepada adik kembarnya itu.


Sedangkan Cahaya hanya bisa menghembuskan napas.


"Apa syarat nya?" tanya orang yang ada di pojok kan.


"Tutup mata kalian."


Si kembar mengangguk serempak. Tanpa disuruh yang kedua kali. Mata mereka sudah tertutup. Bukan cuma si kembar Cahaya juga ikut menutup mata. Sepertinya malam itu adalah malam yang mulia bagi pemuda itu dia bisa nyium istrinya dua kali lipat dari hari biasanya. Dipegang lah pundak istrinya. Dilihat mulut istrinya seperti membaca sesuatu atau berdoa juga tidak tahu. Perlahan bibir itu menempel di pipi kanan Cahaya. Cahaya memejamkan matanya rapat. Kedua tangannya meremas ujung piyama. Bibir itu beralih ke pipi kiri milik Cahaya. Dan ciuman itu sudah selesai seperti apa yang si kembar inginkan, yaitu lima kali ciuman.


"Terima kasih ciumannya ...eh ...salah maksud kejutannya," ucap Cahaya yang salah bicara.


Sedangkan si kembar tertawa, sambil meninggalkan balkon itu. Langit yang mendengar itu ingin sekali tertawa ngakak seperti si kembar tapi ia tahan.


"Kenapa Mas?" tanya Cahaya melihat wajah Langit seperti menahan sesuatu.


"Apanya yang kenapa?" tanyanya yang sudah bisa mengembalikan wajahnya seperti biasa.


"Ya sudah tidur sana," ucap Langit, sambil mendorong istrinya masuk kamar. Sedangkan pemuda itu masih setia menikmati indahnya langit malam.

__ADS_1


"Tidak perlu yang instan cukup yang berproses saja Tuhan. Karena kita butuh saling memahami satu sama lain dulu." Langit berbicara sambil menatap langit malam.


Pemuda itu mengunci pintu yang terbuat dari kaca itu. Dilihatnya istrinya sudah tertidur. Pemuda itu mulai berbaring menarik selimut. Menatap wajah ayu istrinya, kemudian mencium pipi itu. Bibir sang istri tersenyum setiap kali suaminya menciumnya.


"Mimpi indah Az-zahra." Pemuda itu mulai terlelap.


Jam menunjukkan pukul sembilan. Seperti yang sudah disepakati bahwa mereka akan pergi ke makam. Mereka sudah ada di makam nek Endah. Cahaya tak bisa menahan air matanya. Air mata itu terus menetes. Lebaran tanpa nenek adalah mimpi terburuk bagi Cahaya.


"Nek, kenapa nenek pergi di saat, apa yang nenek ingin sudah terjadi. Nenek sejak dulu pengen Aya nikah, sekarang Aya sudah nikah nek. Kenapa nek begitu?" tanya Cahaya.


"Karena Allah sudah menakdirkannya sedemikian rupa."


Cahaya sangat kenal dengan suara itu perlahan dia mendongak.


"Pak Kyai!" panggil Cahaya.


"Gimana kabarmu, Nak? Dan apa ini suamimu?" tanya pak kyai, sambil mengulurkan tangan kearah Langit. Pemuda itu menerima uluran tangan itu dan tersenyum. Entah mengapa bibir itu mau tersenyum dengan kakek tua itu. Sedangkan istrinya tidak memperhatikan senyuman suaminya itu.


"Alhamdulillah baik, iya dia suami ku Pak Yai!"


"Pak Kyai kalau boleh tahu sedang berziarah ke makam siapa?" tanya Cahaya.


"Oh ...aku sedang berziarah ke makam guru ngaji ku dulu Nak!" jawabnya.


"Pak Kyai, bisa jelasin apa yang Pak Kyai maksud tadi?" tanya Cahaya. Sedangkan Langit hanya menjadi pendengar setia saja.


"Nak, Allah itu tidak akan membuat makhluk-Nya merasa sendiri. Jika Allah mengambil yang lama. Pasti Allah mendatangkan yang baru. Seperti kasus mu ini. Secara bersamaan Allah bisa mengambil juga memberikan. Allah mengambil nenekmu, tapi Allah juga yang memberimu keluarga baru. Contohnya orang yang ada di sampingmu itu." Cahaya menatap suaminya sejenak.


"Allah mengambil nenek, tapi Allah pula yang memberi kamu suami. Kau tahu kenapa Nak?" Cahaya menggeleng.


"Karena Allah tidak akan membuat hamba-Nya merasa sedih dan sendiri. Kamu bisa berbagi keluh-kesah dengan suamimu. Dan mengenai, kenapa nenek harus pergi saat keinginan nya sudah terpenuhi. Mari kita melihat dari sudut pandang takdir. Jika nenek masih hidup saat ini. Boleh jadi nenek tidak terurus, jika kamu tinggal dengan keluarga suamimu. Siapa, Nak yang akan ngurus nenekmu? Siapa yang ngasih makan? Siapa yang membuatkan kopi? Maka Nak, jangan menilai hanya dengan satu sudut pandang, tapi gunakanlah sudut pandang yang bisa membuatmu berpikir bahwa keputusan Allah jauh lebih baik, dari pada yang menurut kita baik." Cahaya menunduk dia sadar jika apa yang Allah kasih pasti lebih baik.


Mereka berdua memutuskan untuk menjemput Cantik. Karena pasangan baru itu akan ke makam Mentari.


Mentari, maafkan kesalahan yang pernah aku buat dulu. Karena aku tidak bisa menepati perjanjian yang kau buat. Batin Langit.


Mbak Mentari aku tidak tahu apa hubungan Masnya denganmu. Tapi masa lalu tidak pernah bisa terlupakan. Aku berdoa semoga Allah menempatkan mbak Mentari ditempatkan yang paling baik di sisiNya. Batin Cahaya.


Cantik mengelus batu nisan kakaknya. .


Teteh, Cantik rindu sama Teteh. Semoga nanti kita satu surga dan tentunya yang paling bagus, Cantik sayang teteh. Batin Cantik.


Mereka meninggalkan pusaran Mentari. Pasangan baru itu, akan mengantar gadis berwajah bulat itu pulang dulu. Sebelum melanjutkan ziarah ke makam selanjutnya.


Pasangan itu sudah ada di makam Bumi.


Kak Bumi, aku berpikir jika tidak ada wanita di dunia ini yang pantas menjadi istri kak Bumi. Termasuk aku, mungkin Allah menyiapkan bidadari cantik untuk kak Bumi di sana. Kak Bumi terlalu berharga, membuat semua wanita tidak bisa memiliki kakak. Batin Cahaya.


Kakak dia adalah calon istri kakak. Aku tak tahu kenapa takdir seperti ini kak. Aku tidak pernah berpikir jika aku akan menikah dengan calon istri kakak. Maaf kak!. Batin Langit.


Makam mbah putri tidak terlalu jauh cuma selisih lima makam dari makam Bumi.


"Ini istrinya mbah!" ucap Langit, memberi tahun.


"Assalamu'alaikum mbah putri," ucap Cahaya memberi salam.

__ADS_1


"Mbah Putri ini istriku, namanya Bintang Cahaya Bulan. Semoga Allah menempatkan mbah putri di tempat yang baik."


Pasangan baru itu sudah ada di rumah Raharja, karena sudah hampir berbuka.


__ADS_2