Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Rambut Sebahu


__ADS_3

Satu tahun setelah kek Raharja, meminta Cahaya menjadi cucu menantunya. Wanita itu kini sudah lulus kuliah satu bulan yang lalu.


Pernikahan Langit dan Cahaya hanya tinggal menghitung minggu saja.


Cahaya yang sedang asik bermain ponsel di rumah dia dikagetkan dengan pesan masuk dari ponselnya.


Bersiaplah nanti aku akan ke rumahmu jam setengah satu. Kita diskusikan tentang acara pernikahan.


Itulah pesan masuk yang sempat dibaca Cahaya. Jam seakan jalan begitu cepat, pemuda yang tadi pagi mengirim pesan sudah ada di depan rumah.


"Kita bahas dimana, Bang?" tanya Cahaya.


"Nanti juga tahu," ucapnya, sambil menutup pintu. Cahaya hanya bisa menghela napas, bagaimana dia bisa hidup bersama dengan Langit yang irit bicara itu. Sepertinya Cahaya harus lebih bisa bersikap, memahami pemuda itu.


Mobil itu mulai meninggalkan rumah Cahaya. Mobil itu sepertinya putar balik, ya mobil itu, menuju jalan arah rumah Raharja.


Sesekali Cahaya melirik kearah pemuda yang sedang fokus menyetir.


Mereka telah sampai di sekolah si kembar. Karena tadi sebelum menjemput Cahaya, Abidah Aminah meminta Langit menjemput si kembar .


Langit mulai keluar dari mobil itu dan diikuti oleh Cahaya.


"Si kembar sekarang mau naik kelas tiga, Bang?" tanya Cahaya sekadar basa-basi. Pemuda itu hanya mengangguk. Terlihat si kembar berjalan kearah mereka.


"Masuklah," ucapnya pemuda itu, membuat si kembar langsung masuk tanpa harus disuruh untuk kedua kalinya.


Tanpa disuruh Cahaya langsung masuk ke dalam mobil itu. Pemuda itu juga masuk mobil dan langsung melanjutkan perjalanan yang akan, ia tuju.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Cahaya, kepada si kembar. Mereka sudah lama tak jumpa. Karena Cahaya waktu itu sedang fokus dengan kuliahnya.


"Baik," jawab Archer.


Pembicaraan sangat singkat antara calon kakak dan adik ipar. Mobil itu berhenti diparkiran kafe. Langit menyuruh mereka turun. Mereka berjalan kearah kafe itu, dan masuk kedalam kafe yang bisa dibilang sangat besar pada masa itu.


"Kalian berdua, carilah tempat duduk. Dan silahkan pesan apa yang kalian suka. Kang Mas dan Teh Cahaya akan duduk di sana, untuk membahas tentang acara pernikahan. Nanti setelah selesai kita akan ikut bergabung dengan kalian," ujarnya.


Cahaya hanya mengikuti pemuda itu dari belakang. Sekarang mereka sudah duduk bersebrangan.


"Apa kau punya persyaratan untuk maharnya?" tanya Langit.


"Apa yang Abang kasih aku terima, tapi ..." ucapnya tak diselesaikan, takut jika permintaannya itu terlalu berlebihan.


"Katakan, jika aku bisa memberinya akan aku berikan," ucap pemuda itu yang tahu, jika wanita yang ada di depannya itu ingin sesuatu.


"Em..." Cahaya ragu-ragu ingin mengatakannya. Pemuda itu berdeham, pertanda jika dia ingin mendapatkan jawaban yang cepat.

__ADS_1


Cahaya yang tahu itu dia langsung berucap. "Al-Rahman."


"Katakan yang jelas!" ujarnya pemuda itu, tidak suka bertele-tele.


"Aku ingin Abang membacakan surah Ar-Rahman, saat Abang sudah sah, menjadi suamiku. Jangan salah paham, Bang. Ini bukan mahar yang aku minta, tapi aku hanya ingin Abang membacakan surah itu untukku. Mungkin malam, atau siang setelah kita menikah," ucapnya Cahaya.


"Untuk cetak undangan keluargamu butuh berapa? Nanti biar sekalian cetak kartu undangan di tempat yang sama," ucapnya pemuda itu.


"Aku hanya mengundang beberapa teman kuliah, saja."


"Yang jelas, biar mudah hitungannya. Sekalian dengan kerabat dekat," ucapnya, Langit ini benar-benar semua harus detail.


"Tiga ratusan," ucapnya.


"Acara pernikahan dilakukan seminggu sebelum ramadhan. Aku ingin kamu pakai hijab saat acara akad dan resepsi," ucap Langit, yang menyampaikan keinginannya langsung pada intinya.


"Baiklah," ucap Cahaya, menyetujui keinginan calon suaminya itu. Berbeda dengan Cahaya yang mudah mengiyakan, pemuda itu tidak bilang iya atau tidak. Saat wanita yang ada di depannya itu meminta dibacakan surat Ar-Rahman setelah pernikahan.


"Mungkin besok kita akan cetak undangan," ucap Langit, memberi tahu wanita yang ada di depannya itu. Pembicaraan keduanya telah selesai, mereka berjalan kearah si kembar yang asik makan. Mereka sudah duduk bergabung dengan si kembar.


"Makanlah," ucap Langit kepada Cahaya.


"Enakkan soto betawinya?" tanya Archer, kepada Cahaya. Sepertinya dara delapan belas tahun itu, sudah mulai akrab dengan Cahaya.


"Iya dong," jawabnya Archer.


"Kalian sudah sholat?" tanya Langit, yang dijawab gelengan kepala.


"Sholat lah dulu, udah mau habis waktunya. Di samping kafe ini sepertinya ada mushola," ucap Langit, meminta si kembar untuk sholat.


"Lah kalian?" tanya Arche.


"Kang Mas sudah sholat tadi di rumah, enggak tahu kalau Teh Cahaya!"


"Kalian sholat lah, aku sedang datang bulan," ucap Cahaya.


Mereka meninggalkan kedua calon pasangan itu. Langit dan Cahaya sedang makan soto betawi itu. Tak ada pembicaraan dari keduanya, karena mereka lebih fokus makan dahulu. Sudah hampir sepuluh menit mereka makan akhirnya telah selesai. Si kembar juga sudah kembali dari mushola.


"Nanti ini kita langsung pulang Kang Mas?" tanya Arche, yang duduk di depan kang masnya.


"Kita akan ke salah satu tempat, selesaikan makannya," ucapnya Langit kepada si kembar, yang sepertinya belum kenyang.


Mereka telah selesai makan, dan mereka sudah ada di dalam mobil. Pemuda itu mulai melanjutkan perjalanan yang akan mereka tuju selanjutnya.


Hampir lima belas menit perjalanan, mobil berwarna silver itu memasuki gerbang, sepertinya itu salon potong rambut. Mereka keluar dari mobil. Kemudian masuk ke salon yang tidak terlalu ramai itu.

__ADS_1


"Kita ngapain ke salon Bang?" tanya Cahaya.


"Aku mau rambutmu dipendekkan, kalau panjang seperti masih anak kuliahan." Langit memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Si kembar saling memberi kode. Ada apakah dengan lang masnya itu.


"Kenapa tadi enggak bilang dulu?" tanya Cahaya dengan suara lembut.


Jarang-jarang wanita itu berbicara dengan suara lembut, jika tidak dengan orang yang lebih tua darinya.


Langit berucap. "Kalau enggak mau kita bisa keluar."


"Bukan begitu Bang, semua itu harus di bicarakan sebelum mengambil keputusan, jika ini menyangkut kedua belah pihak."


Mereka terdiam sejenak, sebelum Cahaya angkat bicara. "Baiklah, jika itu mau Abang, aku akan melakukannya." Cahaya meninggalkan Langit yang masih berdiri di dalam pintu salon.


"Potong model apa Mbak?" tanyanya.


"Potong biasa sebahu, Mbak!"


Mbak salon itu mulai memotong sedikit demi sedikit rambut milik Cahaya. Rambut Cahaya awalnya sampai punggung. Namun setelah hampir setengah jam. Mbak salon itu memotong akhirnya. Gaya rambut Cahaya sudah berubah menjadi sebahu. Benar kata Langit jika rambut Cahaya dipendekkan akan lebih bagus, wanita itu tampak lebih dewasa dengan gaya rambut barunya itu.


"Bagus juga," ucap Cahaya, tersenyum sambil melihat pantulan wajahnya.


Cahaya yang sudah selesai dengan acara potong rambut, ia memutuskan untuk menemui pemuda yang tadi menyuruhnya memotong rambut.


"Apa seperti ini, Bang?" tanya Cahaya.


Langit yang tadi fokus pada layar ponsel, pemuda itu mulai mendongak kan kepalanya untuk melihat wanita yang tadi, ia suruh potong rambut. Matanya tak berkedip, saat melihat wanita yang berdiri di depannya itu. Si kembar yang melihat kang masnya seperti itu, mereka terbatuk-batuk kencang. Agar kang masnya itu sadar dengan apa yang dilakukan sekarang.


"Iya, baiklah aku akan membayarnya terlebih dahulu," ucap pemuda itu, yang berdiri dari duduknya.


"Cantik juga ya, Kak kalau rambutnya pendek." Archer berseru pelan, yang ditanya hanya mengangguk pelan.


Mereka keluar dari salon itu dan langsung naik ke dalam mobil. Mobil itu mulai berjalan dengan kecepatan sedang.


"Setelah ini kita kemana, Kang Mas?" tanya Arche.


"Kita ngantar, Teh Cahaya pulang," ucap Langit.


Saat sedang fokus menyetir sesekali Langit melirik kearah Cahaya yang melihat keluar jendela. Mereka sampai di depan rumah Cahaya. Cahaya pun keluar dari mobil itu.


"Hati-hati jangan ngebut, sudah sore kendaraan juga banyak," ucap Cahaya.


Sore itu diakhir dengan Cahaya yang melambaikan tangannya kearah calon suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2