Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Kau Memang Bukan Cinta Pertamaku ... Tapi Kau Cinta Terbaikku


__ADS_3

"Kau itu bicara apa?" tanya pemuda itu, kepada istrinya.


Cahaya menatap sang suami. Pun dengan Langit, pemuda itu juga menatap istrinya.


"Aku tahu! Masnya, ceritakanlah padaku!" pinta Cahaya, yang ingin tahu kisah cinta itu dari suaminya.


Langit mengerucut dahi, apa Mentari juga menuliskan cerita dimana dia menembaknya.


"Apa yang kau tahu?"


"Banyak!"


"Terus, ngapain tanya?"


"Aku mau Masnya, bercerita. Aku ingin tahu dari kedua belah pihak," jawab Cahaya, sambil menghela napas dalam-dalam.


"Apa kau siap? Mendengarkan! Aku takut kau akan cemburu." Langit tersenyum simpul.


Cahaya terdiam, dia tidak tahu apa dia akan cemburu.


"Tidak akan!" jawabnya tegas, hal itu membuat pemuda yang berdiri di sampingnya tersenyum.


"Saat itu, aku baru sadar jika aku mencintai dia. Tepatnya saat aku merasa jauh dengan dia." Langit mengingat kejadian itu.


"Maksudnya, saat kalian tinggal di apartemen yang berbeda?" tanya Cahaya, yang teringat waktu Mike menawarkan diri agar Langit pindah apartemen.


Langit terdiam, belum mau menjawab. Pemuda itu menghela napas, kemudian memulai pembicaraan lagi.


"Bukan! Awal aku sadar mencintai dia adalah, saat aku sudah bekerja. Saat itu, aku memutuskan untuk mencari, apartemen dekat tempat kerjaku. Hal ini membuat aku jarang bertemu dengan dia, jika ingin bertemu aku harus menempuh dua jam perjalanan. " Langit menghirup udara malam, sejenak.


Sedangkan Cahaya masih setia, menunggu kelanjutan cerita dari suaminya. Wanita dadanya sangat sesak entah karena apa.


"Hingga ada suatu hari dimana, dia mengajakku bertemu. Aku sangat ingat, waktu itu dia menelpon ku. Dia mengajak ketemuan di kafe. Waktu itu aku sudah jatuh cinta kepadanya." Cahaya yang mendengar hal itu dadanya semakin, berdegup kencang.


"Aku pun menyetujui. Dan tibalah pagi dimana aku sudah bersiap menuju kafe. Sampai kafe, aku dibuat semakin mencintainya."


Cahaya yang mendengar hal itu, wanita itu memejamkan matanya rapat. Entah mengapa saat, suaminya bilang cinta dia tidak tahan ingin seakan ingin menutup telinganya.


"Kau tahu karena apa?" tanya Langit, kepada istrinya.


Wanita itu mendongak untuk melihat wajah sang kekasih.


"Lanjutkan, aku akan menjadi pendengar yang baik. Bagaimana pun, aku yang memintamu bercerita! Tak layak jika aku bilang cukup!" suaranya terdengar datar.


"Bukannya tadi sudah ku bilang, aku takut kau cemburu! Tapi kau memaksaku untuk bercerita. Sekarang aku bisa menyimpulkan kau sedang cemburu." Langit tak percaya jika istrinya, masih saja tidak mau berpikir dulu sebelum memutuskan sesuatu. Ya! Contohnya dalam kasus ini.


"Tidak! Mana mungkin aku cemburu, dengan seseorang yang sudah meninggal. Sungguh konyol!' Cahaya bicara sambil mengalihkan pandangan lain. Dia menyembunyikan wajahnya yang merah padam, karena rasa cemburu.


Langit lagi dan lagi tersenyum karena istrinya mengelak. Pemuda itu jelas sangat tahu, jika istrinya mati-matian menyembunyikan rasa sakit hati dalam dada. Karena cemburu.


"Benarkan? Nanti jangan marah. Awas marah, orang kamu yang memaksa untuk bercerita." Langit mengelus kepala istrinya, dan memutarkan pundak istrinya agar menatapnya.


Cahaya menatap mata suaminya, sekilas. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke atas.


"Aku sangat terkejut saat dia memakai pakaian syar'i. Dia meminta pendapatku, tentang gaya pakaiannya kala itu. Dan aku bilang—" Cahaya memotong ucapan suaminya dengan cepat. "Jauh lebih bagus!"


Langit tidak percaya jika istrinya tahu, jawaban yang ia ucapkan kela itu.


Langit berucap. "Sepertinya dia menulis, semua kisah hidupnya."


Mereka berdua terdiam hampir empat menit. Cahaya menghela napas, dia pikir suaminya akan cerita kembali. Namun sepertinya itu tidak akan, karena wanita berambut sebahu itu sudah tahu kelanjutannya.


"Dan Masnya bilang, Mas mencintai mbak Mentari ya kan?" tanya Cahaya menatap suaminya. Pemuda itu mengangguk pelan.


"Tapi aku tidak tahu, bahkan sampai sekarang. Saat itu dia ingin berbicara sesuatu. Namun saat itu, aku juga ingin bicara sesuatu. Dan dia memutuskan, agar aku yang bicara terlebih dahulu. Namun saat aku, mulai angkat bicara, semua jadi kacau!" Langit menunduk, dia teringat saat sahabatnya bicara dengan intonasi tinggi. Saat dia mengutarakan cintanya.

__ADS_1


"Aku tahu!" Cahaya angkat bicara.


Langit melirik kearah istrinya, seakan dia ingin tahu jawabannya.


"Waktu itu sahabatmu, ingin membagi sesuatu denganmu. Lebih jelasnya, mbak Mentari ingin memberi tahu mu, tentang penyakitnya itu. Dia berharap, jika dia bisa berbagi kesedihan itu dengan sahabatnya Ajil!"


Langit yang mendengar hal itu, pemuda itu tersungkur. Matanya berkaca, hal yang telah lama ingin ia ketahui. Sudah mendapatkan jawaban.


"Aku adalah sahabat yang paling egois dimuka bumi ini! Tidak ada yang lebih egois dari aku. Kenapa aku dulu tidak memberikan dia bicara dahulu. Harusnya aku dulu mengalah, agar kejadian ini tidak terjadi." Langit memegang tangan istrinya yang berdiri di sampingnya.


"Bukankah aku sangat egois?" tanya Langit yang duduk tersungkur. Sambil memandang wajah istrinya.


Cahaya yang melihat suaminya mengeluarkan air mata. Wanita itu sangat sedih. Cahaya menyamakan badannya dengan posisi suaminya. Wanita itu mencakup wajah suaminya.


"Dulu Masnya, tidak tahu. Jikalau dulu Masnya, tahu. Kalau kejadiannya seperti ini, aku yakin kau tidak akan melakukan kesalahan. Ini adalah pemainan takdir. Masnya boleh menyesal, tapi jangan jadikan itu sebagai kesalahan besar. Tapi jadikanlah sebuah pembelajaran, yang tidak akan kamu ulangi untuk kedepannya. Terhadap seseorang, yang bersamamu." Langit menangis di pelukan sang istri. Cahaya baru pertama kali melihat suaminya menangis.


Pasangan itu sangat tahu memposisikan dirinya. Saat Cahaya yang sedang terpuruk, pemuda itulah yang akan mengayomi dan memberikan semangat. Tak jarang pemuda itu, selalu memberikan motivasi untuk istrinya.


Dan disaat Langit, membutuhkan seseorang sebagai penyemangat. Istrinya lah yang ada di garda terdepan. Untuk membangkitkan semangat untuk sang suami. Itulah alasannya kenapa Tuhan, menciptakan sesuatunya dengan berpasang-pasang. Mungkin saja salah satunya adalah, agar bisa saling melengkapi satu sama lainnya.


"Ayolah, jangan bersedih. Dalam hidup ini, tidak ada yang namanya terhindar dari penyesalan. Semua orang pasti pernah merasakan penyesalan. Entah itu penyesalan yang besar, atau kecil. Mungkin seperti, harusnya tadi pagi aku enggak usah makan sambal. Agar perutku enggak sakit, nah kan itu juga disebut penyesalan." Cahaya bicara sambil mengelus rambut suaminya.


Pemuda masih saja menyembunyikan wajahnya, di pelukan istrinya itu. Tapi air matanya, sudah tidak keluar.


"Berjanjilah, kau tak akan meninggalkan ku!" ucapnya disela-sela pelukan istrinya.


Cahaya terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Aku tidak bisa berjanji, karena aku tak tahu takdir apa yang Pencipta, tuliskan untukku."


Langit yang mendengar jawaban dari istrinya, dia melepaskan pelukan itu. Kemudian mencakup wajah istrinya, dengan kedua tangannya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu Az-zahra?" Mata itu kembali berkaca, saat mendengar jawaban istrinya.


"Karena aku tidak tahu, apa yang Allah tuliskan. Untuk takdir kedepannya." Langit semakin gelisah, karena ucapan istrinya itu. Napasnya terengah-engah.


Cahaya yang melihat hal itu, dia mencoba menenangkan suaminya itu.


"Aku memang tidak bisa berjanji untuk selalu bersamamu. Tapi aku akan berusaha untuk mendampingi mu, sampai Allah yang memisahkan kita. Pada dasarnya, saat kita diberi rasa memiliki. Akan ada saatnya kita disuruh merelakan." Langit yang mendengar hal itu, pemuda memeluk istrinya sangat erat. Sepertinya pemuda itu, sangat takut kehilangan istrinya itu.


"Hem ...aku tidak bisa napas, jika dipeluk seperti ini," ujar Cahaya.


Langit tidak memperdulikan ucapan istrinya.


"Aku sangat mencintaimu."


"Iya-iya!" Cahaya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!


Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! " Pemuda itu mencium wajah istrinya rata.


"Aku ingin bertanya, apa Masnya masih mencintai dia." Cahaya ingin, tahu siapa tahu suaminya itu masih menyimpan perasaan untuk Mentari.


Langit menghentikan acara, mencium istrinya itu.


"Tidak! Aku hanya mencintaimu!" ujarnya tanpa ada keraguan sedikitpun.


"Kapan cintanya hilang?" tanya Cahaya, sepertinya ingin tahu mendetail.


"Saat, aku kembali ke Indonesia untuk menengoknya. Saat itu pula aku baru tahu jika dia didiagnosis kangker."


Cahaya mengangguk paham.


"Dan satu hal, yang harus kau tahu. Aku tidak mudah jatuh cinta. Jika dengan Mentari saja, butuh puluhan tahun untuk jatuh cinta. Tapi kau, kau membuatku jatuh cinta hanya dengan waktu yang singkat. Satu tahun perkenalkan, ditambah satu bulan setengah pernikahan. Kau adalah cinta terbaikku!" Langit menggenggam tangan Cahaya.

__ADS_1


Cahaya tersenyum, karena ucapan suaminya itu.


"Apa Masnya tahu, siapa cinta pertamanya mbak Mentari?" tanya Cahaya.


"Kenapa harus membahas dia? Jika itu akan membuatmu cemburu?" tanya Langit, yang tidak mau dalam masalah. Apalagi kalau istrinya marah. Pokoknya pemuda itu menghindari banget lah untuk urusan itu.


"Aku hanya bertanya,"


"Tidak! Lupakan, sudah kita nikmati malam ini berdua saja."


"Pengen tahu tidak?" tanya Cahaya lembut.


Langit sebenarnya tidak mau mengungkit masa lalunya kembali. Tapi istrinya itu membuat dia, jadi pengen tahu.


"Kau tahu?"


Cahaya mengangguk.


"Siapa?"


"Kakak dari sahabatnya!" Langit tidak kunjung paham, padahal istrinya sangat jelas. Waktu berbicara, masa dia enggak faham juga.


"Aku berpikir hanya aku sahabatnya... " Langit berfikir sejenak. "Tunggu-tunggu, apa yang kamu maksud kakak?" tanya Langit baru paham.


Cahaya tersenyum, menjadikan itu sebuah jawaban.


"Ternyata ...mereka saling mencintai!"


Cahaya yang mendengar hal itu dia memutuskan untuk bertanya.


"Apa maksudnya?"


"Kakak juga mencintai Mentari, aku juga baru tahu saat kau ikut ke kantor. Saat itu aku membaca surat yang kakak tulis. Disitu kakak, mencurahkan perasaannya untuk Mentari!" jawab Langit, yang membuat Cahaya tercengang.


"Cinta yang begitu rumit!" ujar Cahaya.


"Mas, geli." Cahaya menepuk pundak suaminya.


Langit terkekeh karena Cahaya memprotes.


"Kenapa aku merasa, kenapa badanmu berisi!" Langit mendekatkan, wajahnya ke pipi istrinya.


"Pipimu, saja dikit lagi kayak pau!" Langit memegang pipi istrinya.


Cahaya sangat jengah karena ulah istrinya.


"Gara-gara minum milo. Biar, berarti aku enggak kurus banget dong."


"Tapi aku sangat suka, kalau kau sedikit berisi." Langit bicara apa yang ada.


"Makanya tambahin, uang bulanannya. Biar aku bisa jajan."


"Baiklah, tambah lima ratus." Pemuda itu sangat loyal.


"Aku hanya bercanda, aku tidak perlu. Karena uang bulanan yang Mas, kasih sudah lebih dari cukup." Cahaya, wanita itu tidak suka dengan kemewahan.


Setelah lima menit, posisi keduanya sudah berbeda. Wanita itu bersandar di pundak suaminya, sambil menatap rembulan.


"Masnya!"


"Hem!" sahutnya, sungguh pasangan itu sangat enak. Kerena bisa menikmati indahnya malam tanpa ada jeda.


"Mas, kenapa berapa minggu ini. Kepalaku, sering sakit. Aku jadi malas beraktivitas. Dan sakitnya itu saat pagi, sore menjelang magrib. Dan saat mau tidur."


Langit sangat kasian karena istrinya berkeluh kesah.

__ADS_1


__ADS_2