Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Main Cubit Saja


__ADS_3

Hari ke-sepuluh puasa. Tiga hari lagi pemuda itu akan interview untuk yang kedua kalinya. Interview pertamanya dilakukan dengan wakil direksi. Mungkin interview kedua akan dilakukan dengan Direksinya langsung. Kemungkinan besar Langit akan diterima. Jika dilihat dari syrat-syaratnya pemuda itu hampir mempunyai semua. Ada beberapa syarat seperti. Pertama, minimal mempunyai gelar S1 (jurusan apa saja, namun umumnya berhubungan dengan ekonomi) Dan pemuda itu mempunyai gelar S1 jurusan Manejemen Ekonomi dan dia memilih untuk pindah S2 jurusan hukum. Syarat yang kedua, punya kemampuan dan organisasi kemapuan yang baik. Syarat yang ketiga, mempunyai ketrampilan komunikasi dan interpersonal skill yang bagus. Pemuda itu pernah bekerja di perusahaan Singapore dan skill yang ia milik sangat bagus. Pernah ada kejadian lucu waktu itu dia berselisih dengan rekan kerjanya. Karena kesalahan pahaman. Mungkin dia belum bisa berkomunikasi dengan baik karena rekan kerjanya mengunakan bahasa Perancis. Tapi setelah dibahas dengan otak dingin ternyata pemikiran mereka sama, butuh proses emang untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Syarat yang keempat ini sangat berat yaitu, mempunyai pengetahuan aturan dan pedoman hukum dalam dunia industri. Untuk pengetahuan hukum pemuda itu tentu tahulah tentang hukum.


Mungkin pak Khan tahu jika putranya akan diterima jadi dirut keuangan. Oleh sebab itu lelaki paruh baya itu bersi keras agar putranya mau bekerja di pekerjaan PT. Jaya Karya.


Kita beralih ke rumah Agama Ariaja sekarang. Gadis berwajah bulat itu sedang tiduran di sofa sambil nonton kartun kesukaannya apa lagi jika tidak si kuning kotak alias 'Spongebob'


"Petric oh ...Petric," ucapnya gadis itu.


Gadis berwajah bulat yang sekarang usianya menginjak enam tahun tuju hari lagi itu. Sudah belajar puasa sehari penuh. Ya meskipun agak rewel kalau sore hari harus diajak ngabuburit bukan cuma ngabuburit tapi pulang ke rumah harus bawa takjil. Tapi tak apa kedua orang tua gadis berwajah bulat itu tak mempermasalahkan yang penting anaknya mau puasa.


"Cut Abang kalau Cut Abang kuliah, Cantik sendirian di rumah dong?" tanyanya, kepada kakaknya yang ada di sebrang nya sedang selonjoran di sofa sambil main ponselnya. Bukan Main! PW (Posisi Wenak) lah pokoknya.


Pemuda itu melirik kearah gadis berwajah bulat itu. Tadi pemuda itu sedang berbalas pesan dengan Archer. Archer memberi tahu jika selama seminggu ini dia membantu tante Walsall di toko. Tapi dia tidak pernah bertemu dengan Black seminggu itu.


Bagaimana bisa bertemu jika pemuda keturunan Aceh itu sedang sibuk ngurusin kuliahnya. Black memutuskan kuliah di Yogyakarta katanya dia ingin seperti Langit yang kuliah di luar daerahnya. Jika Langit kuliah di luar Negeri tidak dengan Black dia lebih suka di dalam Negeri yang penting bisa mandiri.


"Ya, Cut adik kan setelah puasa daftar TK kan. Jadi yakin deh sama Cut Abang! Cantik enggak akan ke sepian, sayang," ucap Black, merayu adiknya agar tidak sedih.


"Tetap saja tidak ada yang diajak main." Cantik memasang wajah cemberut. Black tersenyum melihat tingkah adiknya itu.


"Ya, kalau sekolah pasti dapat teman cayang-cayang!" Black sudah ada di dekat Cantik sambil mencium pipi gembul itu.


"Ih... geli... "


"Hahaha, biasanya Cut Abang suka menjaili Cantik! Kan kalau Cut Abang enggak di rumah kan enak enggak ada yang jailin lagi," ucapnya, sambil mengelus rambut hitam milik adiknya.


"HUA.... ABANG JAHAT J—A— NG AN TINGGALIN CANTIK HUA... HIKS. HIKS... " Gadis itu menangis sangat kenceng. Ayah dan ibu tidak ada di rumah. Ayah ada rapat dengan dosen untuk persiapan buka puasa bersama. Karena antara rektor dan dosen harus membangun hubungan yang bagus. Toh juga Agam Ariaja baru setahun jadi rektor di sana. Ya meskipun itu tidak terlalu penting di banyak kalangan. Tapi menurut Agam Ariaja berbeda itu sangat dibutuhkan. Sedangkan istrinya Agam Ariaja sedang di toko apa lagi lebaran sudah dekat. Toko itu selalu ramai tidak pernah sepi pengunjung. Jam sepuluh malam baru tutup, terkadang juga sampai larut malam.


"Cantik puasanya enggak sah loh kalau nangis. Cut Abang enggak akan tinggalin Cantik. Nanti kalau kangen Cut Abang, ajak papi tengok Cut Abang ke Jogja, kita kulineran di sana. Nanti kalau Papi enggak bisa Cut Abang yang pulang Okey, don't cry pliss." Black mengusap wajah adiknya yang basah itu.


"Really, Cut Abang not lying?" Black hanya mengangguk.


Black bertanya kepada adiknya. "Okey, gimana kalau kita ke toko. Ada akak Bubble di sana."


Cantik berpikir jika itu penawaran yang bagus.


"Let's Go."


Di toko Walsall Mentari sangat ramai hingga pelayannya kalang kabut. Cantik dan Black baru saja datang. Gadis berwajah bulat itu langsung berlari setelah melepas alas kaki. Gadis berwajah bulat itu tidak menemukan orang yang ia cari. Gadis itu harus mencari kemana lagi dia tidak bisa melihat batang hidung wanita berambut sebahu.

__ADS_1


"AKAK... " Istri Agam Ariaja yang dengar suara putrinya ia tidak bisa menemui karena ada banyak pengunjung. Sedangkan Black langsung berjalan kearah ibunya untuk mencium tangan ibu. Setelah itu membantu ibu untuk melayani pelanggan.


"AKAK... " teriak gadis itu lagi.


"Aduh kenapa dicubit pipiku Tante?" tanya Cantik polos, kepada wanita yang ada di depannya itu.


"Kamu lucu sih," ucap wanita itu adalah pengunjung toko.


"Emang kalau lucu harus dicubit ya Tante?" Gadis berwajah bulat itu, tidak kenal dengan wanita itu.


"Tentu saja," jawabnya.


"Oh... berarti Cantik juga boleh cubit Tante dong? Kan Tante lucu enggak kenal tapi langsung cubit hahahaha." Gadis itu terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Tante kan belum punya anak, jadi kalau ada anak kecil ya Tante cubit."


"Wah.. itu sih ngawur namanya. Kalau mamanya enggak terima bisa dilaporin," celetuk Archer menyeringai.


"Lapor kemana Kak Archer?" tanya Cantik yang ingin tahu.


"Ke polisi lah masa ke K-U-A," jawab Archer.


"ARCHER, BLACK!" celetuk Arche yang ada di pojokan sedang mengemas barang pembeli.


"Emang ada yang mau?" tanya Black agak keras.


"Sama Kak Jooooo!" Arche.


"Kepanjangannya apa?"


"JOMBLO FISABILILLAH!"


"Kak jangan keras-keras dong, kasian si Hitam dia juga Jomblo Fisabilillah tauk." Archer tersenyum menyeringai.


"Sadar diri kalian berdua juga jomblo fisabilillah."


"Kata siapa? Kak Arche sudah punya gebetan, ya, kan Kak?"


"Wah ketinggalan informasi nih. Siapa namanya?" Black.

__ADS_1


"Udah kalian bertiga itu Trio Jomblo fisabilillah," celetuk Cahaya, dari belakang Archer dan Black.


"TETEH.... " ucap serempak dari trio jomblo fisabilillah.


Membuat pengunjung melihat kearah Cahaya, Black, Archer dan Cantik.


Candaan siang itu cukup sampai disitu saja.


Jam menunjukkan pukul tiga sore. Setelah menikah Cahaya tidak bekerja hanya membantu saja. Karena itu dia bisa pulang dan berangkat kapan saja. Karena suaminya sudah tidak mengizinkan dia kerja lagi, takut kalau pulang malam.


"Baiklah kita pamit Tante." Archer mencium tangan wanita itu. Biasanya saat pamit si kembar selalu pulang tanpa tangan kosong.


"Terima kasih Nak, nih uang buat jajan." Istri Agam Ariaja menyodorkan uang berwarna biru dua lembar untuk Archer, dua lembar untuk Arche.


Bayangkan saja berapa uang yang si kembar dapat selama seminggu puasa.


"Tidak Tante, kami ikhlas kok," ucap Arche. Kata-kata itu sudah hampir tujuh hari diucapkan dari salah satu si kembar. Sudah di luar otak mereka lah.


"Tidak Tante, untuk hari ini tidak usah, karena aku bingung mau dibeliin apa. Selama seminggu kita dapat uang dari Tante, tapi untuk hari ini kita tidak bisa terima," ucapnya tertawa.


"Ya baiklah kalau gitu, terima kasih."


Saat mereka mau keluar dari toko. Gadis berwajah bulat itu berlari.


"Aku boleh ikut Akak ya Mi?" tanyanya kepada ibunya. Gadis berwajah bulat itu baru saja bangun tidur. Tadi sebelum tidur Cantik menangis gara-gara mau ikut Cahaya pulang. Istri Agam Ariaja itu tidak mengizinkan karena bulan puasa takut jika merepotkan Cahaya.


"Jangan gitu Can, ini masih ramadhan. Cantik kalau sore kan selalu minta jalan-jalan."


"POKOKNYA ikut AKAK!" Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya.


"Sudah lah, Mi enggak apa-apa kok. Malah enak jadi ramai rumah ya, kan Ar, Cher?"


"Iya Tan, biar ada yang ganggu tidurnya kang mas sama Teh Cahaya!" jawaban Arche, membuat Cahaya melotot. Sedangkan Arche tersenyum menyeringai dia suka ngerjain kakak iparnya itu.


"Wakakak wakaka," tawa keras dari Black.


"Ya sudah, adik ambil baju dulu. Cut Abang antar Teh Cahaya," ucap istri Agam Ariaja. Gadis berwajah bulat itu sudah ambil baju dari toko ibunya. Bukan baju baru.


Jam menunjukkan pukul empat Cahaya sudah pulang dari tadi. Pintu kamar terbuka. Langit baru pulang, pemuda itu tadi pagi sampai sore harus mengurus syarat membangun minimarket. Mulai dari scan KTP. Scan arahan peruntukan Dinas Bangunan dan Penataan Ruang. Scan Ijin Gangguan ( HO ). Scan Bukti Kepemilikan Tanah/Surat Perjanjian Sewa Menyewa. Hal itu membuat pemuda itu lelah. Untung saja itu ruko sudah atas nama dia. itu belum semua.

__ADS_1


"Om Dosen kita jalan-jalan yuk, beli takjil," ucap Cantik, yang melihat Langit baru masuk kamar.


__ADS_2