
Gadis berwajah bulat itu masuk ke ruangan om Dosennya.
"Dimana om dan akak?" tanya gadis itu, sambil jalan kearah sofa.
"Apa mereka sudah pulang?" tanya Cantik, berjalan kearah meja kerja om Dosennya.
Di sisi lain pemuda itu baru keluar dari lift, dan berjalan kearah ruang pribadinya.
Krekkk... Langit membuka pintu itu dan berjalan kearah meja kerja. Pemuda itu duduk di kursi kerjanya, sambil membuka laptopnya.
"Kenapa lama sekali tidak balik," gumamnya pelan.
Pintu lift terbuka, perempuan itu keluar dari lift.
"Daaa, senang bisa bicara dengan mu," ujar Asya, sambil melambaikan telapak tangan.
Cahaya tersenyum mengangguk.
"Mainlah ke ruangan ku," tawar Asya kepada Cahaya.
"Kapan-kapan saja Mbak, aku sudah lama meninggalkan ruangan suamiku," jawab Cahaya, sambil tersenyum.
Pintu lift itu tertutup kembali. Didalam lift Cahaya makan kue yang Asya kasih untuknya.
"Kata, mbak Asya, sebenarnya kue ini bukan untuk masnya saja. Tapi banyak juga yang mbak Asya kasih, katanya kak Hazel juga dapat." Asya saat di dalam lift bercerita, sebenernya kue berbentuk hati itu ia bagikan ke sebagian rekan kerjanya.
"Tapi— kata mbak Asya, ini buat memperingati hari jadi seseorang." Cahaya bicara sendiri di dalam lift itu.
Cahaya keluar dari lift itu, kemudian masuk ke dalam ruangan suaminya.
Langit yang mendengar pintu terbuka, dia mendongak untuk melihat siapa yang datang.
Cahaya tersenyum lebar kearah suaminya itu, sambil menutup pintu. Kemudian berjalan kearah suaminya.
Langit mengerutkan dahi, kenapa istri gingsulnya itu senyam-senyum. Berbeda sekali sebelum dia membanting pintu.
Aku tak tahu, kenapa dia seperti orang lagi bahagia. Melihat dia seperti ini, aku harap aku aman tidak dapat amukan.
"Maaf, aku keluar sebentar," ujar Cahaya, yang sudah berdiri di samping kursi yang suaminya buat duduk.
Langit melirik kearah istrinya itu. Dahinya berkerut saat melihat, kue yang ada di tangan istrinya itu.
Kue itu! Kenapa dia bisa makan kue yang tadi di bawa OB. Batin Langit.
"Dari mana?" tanya Langit datar.
"Makan di kantin," jawabnya, sambil memasukkan kue ke mulutnya.
Langit hanya mengangguk saja. Pemuda itu tidak mau komen, atau bertanya kembali. Malas! Jika harus berdebat dengan istrinya yang labil itu.
"Ayo, aaaa!" ujar Cahaya, yang siap memasukkan kue itu ke mulut suaminya.
Pemuda itu yang fokus pada layar laptop, mukanya ia alihkan kearah istrinya. Dan menerima suapan dari tangan istrinya itu.
"Enakkan?" tanya Cahaya, sambil tersenyum dan menjilati jari-jemarinya yang masih ada sisa-sisa cokelatnya.
Langit hanya mengangguk saja. Pasangan itu lupa dengan peliharaannya. Entah kemana gadis berwajah bulat itu.
"Akak! Om! Hihihi!" panggilan itu membuat pasangan itu kaget.
Cahaya yang mendengar hal itu, langsung turun dari kursi suaminya.
Pasangan itu mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan itu, tapi tidak ada pemilik suara itu.
"Akak! Om! Cie-cie!" Suara itu terdengar lagi di telinga pasangan itu.
Cahaya semakin mengerutkan dahi, karena tidak tahu gadis yang memanggilnya itu ada di mana.
Sedangkan Langit menengok ke bawah, meja kerjanya.
"Hihihihi," gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya. Karena om Dosennya menemukan dia.
"Ayo, keluar ngapain disitu?" tanya Langit, sambil membantu Cantik keluar dari kolongan meja.
Cahaya tersenyum karena ulah Cantik itu. Hal itu mengingatkan dia saat kecil, ketika ibu memarahi dia. Cahaya akan ngumpet di bawah ranjang.
"Aku hanya main petak umpet Om!" Gadis itu menjawab.
Langit melongo karena jawaban Cantik.
__ADS_1
"Maaf, Can aku lupa menjemputmu." Cahaya mengelus pundak Cantik.
"Akak, aku sudah menunggumu, tapi Akak malah tidak datang." Cantik protes, karena akak Bubble bohong padanya.
"Apa?" Langit terkejut, karena ucapan Cantik.
"Ya, aku kan lupa, tadi aku makan di kafe jadi lupa hehehe!" Cahaya menjawab, sambil tersenyum canggung karena merasa bersalah.
"Wah ...ini kue siapa?" Matanya berbinar, saat melihat kue coklat yang tinggal separoh. Kue itu ada di atas meja om Dosen.
"Kamu mau?" Cahaya bertanya, dan dijawab anggukan kepala.
"Makanlah," ujar Cahaya, dengan senang hati membiarkan Cantik memakan kuenya.
"Asik... " Gadis itu mengambil kuenya, kemudian berlari ke sofa untuk memakan kue itu.
"Akak, aku punya sesuatu untuk Akak!" Gadis itu berbicara, sedangkan Cahaya yang dipanggil dia berjalan kearah Cantik dan duduk di samping Cantik.
"Apa?" tanya Cahaya ingin tahu, mungkin saja makanan.
Cantik membuka tasnya, kemudian mencari sesuatu dan mengeluarkannya. Cantik tersenyum memperlihatkan hal itu didepan wajah Cahaya.
"Wah ...cilok!" Cahaya langsung mengambil cilok itu dari tangan Cantik.
Langit hanya menggelengkan kepalanya, karena kelakuan istrinya itu sudah seperti gadis berwajah bulat.
"Terus Om, enggak dibeliin Can?" tanya Langit, yang duduk di kursi kerjanya.
"Emang, Om suka?" tanya Cantik, tak percaya jika om Dosen suka jajanan seperti itu.
"Kalau, om Jofis tidak dinas, pasti Om selalu makan cilok," jawab Langit, matanya fokus ke laptop.
"Ya sudah, Akak berbagilah dengan Om, aku cuma beli satu bungkus," ujar Cantik.
Cahaya yang mendengar hal itu, menatap Cantik tak percaya. Cahaya mendekatkan bibirnya ke telinga Cantik dan berbisik. "Can, apa kau yakin?" Cantik mengangguk. Cahaya berbisik kembali. "Cilok nya cuma empat, kalau dibagi sama Om! Berarti Akak, cuma dapat dua," bisik nya pelan.
Cahaya tidak mau, jika harus berbagi cilok, istilah itu jajanan kesukaannya. Cantik yang mendengar hal itu dia berfikir, sambil menaruh jari telunjuknya di kening. Kemudian menggelengkan kepalanya. Sebelum berbicara. "Om, Akak! Tidak mau berbagai dengan Om!"
"Aku tahu Can, dia memang seperti itu," ujar Langit, yang tidak melirik ke Cantik.
Cahaya yang mendengar jawaban suaminya dia melotot. Ditambah lagi Cantik yang tidak ada di kubunya.
"Okey!" jawab Langit, sambil mengangguk pelan.
Cahaya yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya, sambil memasukkan cilok kedalam mulutnya.
Di ruangan GM perempuan itu sedang memikirkan sesuatu.
"Apa pak Dirkeu, tidak mengetahui tentang hal ini," ujar perempuan itu bicara sendiri.
"Berarti— Cahaya belum memberi tahu tentang ancaman yang eyang berikan untuknya? Kepada pak Arkana!" tanya Asya, menyimpulkan gerak-gerik Cahaya.
"Hubungan macam apa ini, bagaimana mungkin dia tidak bisa terbuka dengan suaminya." Asya bicara, sambil mengetuk meja dengan bolpoin.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Asya berpikir.
"Tidak mungkin aku, langsung bilang ke pak Dirkeu, yang ada malah pak Dirkeu salah paham. Istilahnya aku tidak terlalu dekat dengan pak Dirkeu!" Asya tidak tahu bagaimana cara membuat Langit, tahu jika istrinya itu sedang tertekan.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Seluruh karyawan beristirahat ada yang dzuhur dulu atau ada yang makan dulu. Di ruangan Dirkeu, pemuda itu berdiri dari duduknya dan berjalan kearah istrinya dan gadis itu.
"Mau di antar pulang?" tanya Langit.
Cahaya dan Cantik menggeleng kompak. Cahaya tidak mau pulang karena malas bertemu eyang, dia ingin santai menikmati hari tanpa kerjaan. Sedangkan Cantik dia tak mau pulang karena harus menemani ibunya di toko. Malas, sekali lihat kerumunan orang bernegosiasi dengan ibunya.
"Terus mau nunggu, sampai Om pulang?" tanya Langit, kepada Cantik.
Cahaya dan Cantik mengangguk kembali. Cahaya tidak ditanya, tapi ikut jawab.
"Baiklah, aku sholat dahulu. Kalian tetap di sini, atau mau makan di kafe?" tanya Langit, sambil membuka jasnya.
"Nunggu di sini, nanti kita makan bersama. Kau setuju Can!?" tanya Cahaya.
Cantik hanya mengangguk saja. Langit keluar dari ruangan pribadinya. Pemuda itu sudah ada di lantai bawah.
"Lang!" panggil seseorang dari belakang, Langit pun membalikkan badannya agar bisa melihat orang itu.
"Bagaimana? Apa kamu dapat hadiah dari kakak ipar?" Hazel berjalan di samping Langit.
"Hadiah apa maksudmu?" tanya Langit.
__ADS_1
"Apalagi jika tidak sifat labilnya itu. Kau dapat yang baik atau yang buruk?" Hazel terkekeh dengan pertanyaannya itu.
Langit hanya menggeleng saja.
Sholat dzuhur sudah selesai, lima menit yang lalu. Langit juga sudah ada di depan pintu ruangannya. Pemuda itu membuka pintu itu dengan pelan.
Bibirnya tersenyum, tatkala melihat istrinya yang tertidur bersandar di kepala sofa. Sedangkan Cantik juga tertidur, kepala gadis itu ditaruh dipangkuan akak Bubble-nya.
Langit menutup pintu itu kembali, kemudian berjalan kearah meja kerjanya. Pemuda itu akan menyelesaikan kerjanya, agar bisa pulang lebih cepat dari biasanya.
Jarum jam berada diangka nomor dua. Mata yang tadinya tertutup perlahan terbuka. Cahaya mengucek matanya, efek datang bulan membuat Cahaya tertidur.
Langit yang tadinya fokus kepada laptop, ia alihkan pandangannya ke sofa.
"Sudah bangun?" tanyanya, sambil memutarkan kursi kerjanya, agar melihat istrinya.
Cahaya mengangguk, sambil menguap.
"Hoam!"
"Masnya, tadi bilang ke mami enggak, kalau Cantik mau pulang, kalau Masnya pulang kerja?" tanya Cahaya.
"Kau jangan khawatir, aku selalu mengabari mami. Saat Cantik bersama ku. Mami juga sangat tahu jika Cantik, kesepian karena Black tidak ada. Itu sebabnya mami, tidak mempermasalahkan jika Cantik, mencari kebahagiaan di luar rumah," ujarnya, sambil memainkan bolpoin.
Cahaya mengangguk saat mendengar jawaban suaminya.
"Sudah makan?" tanya Cahaya.
"Malas!"
"Kamu mau sakit?" tanya Cahaya, menatap tajam suaminya.
Langit membuang napas pelan, sebelum menjawab. "Iya, nanti aku makan. Kerjaan masih banyak." jawabnya sambil memutarkan kursi kerjanya, ke posisi semula.
Cahaya hanya menggelengkan kepalanya, karena suaminya keras kepala. Apa bedanya dengannya, yang juga keras kepala menurut Langit.
Cahaya merasakan sesuatu, dahinya berkerut.
Ma*pusss, kenapa harus sekarang. Batin Cahaya.
Perlahan Cahaya mengangkat kepala Cantik. Wanita itu melakukan dengan hati-hati, agar Cantik tidak bangun. Setelah itu Cahaya berdiri, kemudian mengecek baju bagian belakang. Dan benar saja, apa yang Cahaya takutkan terjadi. Di sana Cahaya, bisa melihat ada bercak merah.
"Mas!" panggilannya, sambil menatap dress hitamnya sudah kotor karena noda merah itu.
"Hmmm!" jawab dari sebrang sana, yang tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Aku bisa minta tolong enggak?" tanya Cahaya, sambil berjalan kearah suaminya.
"Apa?" tanya Langit, yang sudah menatap muka istrinya. Karena Cahaya sudah berdiri di sampingnya.
Cahaya mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya sebelum, berbisik. "Tolong belikan aku pembalut." Langit yang mendengar hal itu dengan jelas dia melotot.
"Kamu bisa beli sendiri, bukan?" tanyanya lembut, pemuda itu tidak akan mau memberi barang satu itu. Hal itu sangat haram baginya, mau di taruh mana tuh muka. Kalau sampai beli barang itu.
Cahaya yang mendengar hal itu dia harus berusaha menahan emosi. Kata Asya, tidak boleh marah dengan suami DOSA.
"Tapi aku, juga enggak berani ini tembus. Apa kata orang nanti," ujarnya, sambil merengek dan menggoyang tangan suaminya.
"Coba hadap ke kiri," ujar Langit.
Cahaya pun hanya mengikuti apa yang suaminya ucapkan. Langit bisa melihat jika dress itu sudah ada noda nya.
Cahaya memutarkan tubuhnya ke posisi semula yaitu menghadap suaminya.
Langit berfikir sejenak, dia benar-benar tidak mau membeli barang itu.
"Kau bisa memakai jas ku, untuk menutupi noda itu. Setelah itu kamu bisa beli pembalut sendiri," ujar Langit, sambil mengambil jas yang ia taruh di kursi. Kemudian mengikat di pinggang istrinya itu.
"Selesai!" Langit tersenyum, karena rencananya berhasil.
"Enggak mau, tetap saja aku malu," ujar Cahaya, sambil melepaskan jas yang ada di pinggangnya itu kemudian membuangnya ke lantai. Sepertinya Cahaya lupa dengan perkataan Asya, jika marah dengan suami hukumnya dosa.
"Ssttt!" Langit mengumpat karena ulah istrinya itu.
Tok.. tok...
Langit dan istrinya menatap kearah pintu itu. Kemudian mereka saling menatap, siapa yang mengetuk pintu di saat ada keributan dalam rumah tangga mereka.
Dia adalah penyelamat untuk Langit.
__ADS_1