Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Pa! Katian Bunda ... Nunggu Papa puyang


__ADS_3

Berapa bulan telah berlalu, perut wanita itu semakin lama semakin maju ke depan. Pagi itu rutinitas Cahaya seperti biasanya, wanita itu membantu suaminya memakai kan dasi.


"Tak terasa, hampir setahun kerja ya Mas!" Cahaya membuka suara saat memakaikan dasi.


Langit mengangguk pelan, pemuda itu harus bersyukur. Karena kehamilan istrinya yang pertama tidak nyidam yang aneh-aneh.


"Dedek nya juga mau lahir, ya Dek?" Cahaya bicara sambil, mengelus perutnya.


Pemuda itu hanya tersenyum, istrinya itu sangat berhati-hati dalam melakukan apapun. Setelah kandungan mengajak tiga bulan.


"Papa, berangkat kerja dulu ya dek? Dedek nya jangan nakal kasian Bundanya!" ujar Langit, sambil mengelus perut istrinya itu. Dan bayi yang ada di dalamnya, memberi respon. Saat ayahnya menasehati nya. Bayi itu menendang-nendang, perut ibunya.


"Hemmm!" keluh Cahaya, saat anak yang ada di kandungannya menendang.


Kemudian wanita itu, terkekeh karena wajah suaminya yang cemberut.


"Dedek nya belum lahir, tapi sudah ngebantah Papanya!" ujar Cahaya, memukul pundak suaminya.


"Dedek! Papa, enggak suka, kalau dedek ngebantah! Kasian Bundanya!" Langit menaruh telinganya, dekat perut istrinya. Apa anaknya akan merespon atau tidak.


"Wah ... si dedek takut Papa, marah ya? Kok enggak nendang-nendang." Cahaya mengelus rambut kepala Langit yang ada di perutnya.


"Wah, kamu pintar Dek! Sudah paham dengan nasehat yang Papa, berikan." Pemuda itu kembali berdiri tegak.


"Daa Dedek! Papa kerja dulu, sampai bertemu nanti malam." Langit mengelus perut buncit itu. Si bayi, merespon ayahnya kembali.


Langit menggelengkan kepala karena respon dari sang buah hati.


"Iya Papa!" Cahaya bicara layaknya anak kecil.


Langit mencium kening istrinya. Setelah itu mereka akan makan pagi.


"Pagi semua!" sapa pemuda itu, sambil menarik kursi.


"Pagi, calon Papa!" Hazel menjawab sambil tersenyum.


Sedangkan eyang, nenek tua itu tidak suka. Nenek tua itu, sudah beberapa kali mencelakai Cahaya tapi selalu gagal. Entah kenapa hal itu terjadi, seperti ada yang memberi tahunnya saja.


"Tinggal nunggu dikit lagi, lah!" Jo ikut dalam pembicaraan.


"Ah ... kau kapan Jo? Aku sudah punya Balqis! Sedangkan Langit, nunggu buah hatinya lahir." Hazel mencibir, dan Langit tersenyum. Sedangkan Jo, terhina dengan ucapan Hazel.


Sedangkan si kembar tertawa, tidak beradap.


"Namanya juga, Jo! Jomblo Orangnya!" Alula juga ikut mengejek Jo.


Setelah acara makan pagi bersama. Semua mengantar suaminya ke teras.


"Jangan lupa sholat." Cahaya menginginkan suaminya.


Langit mengangguk, pemuda itu sebenernya enggak mau jauh dari istri dan calon anaknya. Tapi, ya mau gimana lagi. Dia juga harus kerja untuk mencukupi kebutuhan.


Mobil silver itu, meninggalkan rumah Raharja. Langit melajukan mobilnya dengan sangat tinggi. Kalau tidak alarm akan bunyi bikin kuping sakit. Pemuda itu berhenti di depan kafe. Gadis berwajah bulat itu, masuk mobil dengan senyuman.


"Om lama banget!" Alarm itu berbunyi nyaring.

__ADS_1


"Maaf, Can! Aku harus berbicara dengan dedek yg ada di dalam perut akak!" jawab Langit, sambil menjalankan mobilnya.


"Oh ..." gadis berwajah bulat itu, mengangguk paham.


"Terus nanti dedek nya, nanti keluar dari mana?" tanya gadis berwajah bulat itu, ingin tahu. Mengingat perut akak, yang maju ke depan. Membuat gadis berwajah bulat itu, berpikir bagaimana dedeknya keluar.


Langit terdiam, pemuda itu tidak tahu harus jawab apa.


"Apa perut, akak, akan dibelah? Seperti, mami yang membelah semangka? Atau seperti, saat membelah buah durian. Kemudian diambil buahnya! Dan buahnya itu dedek nya!" Cantik bertanya, dengan semangat.


Sedangkan Langit yang mendengar perkataan gadis itu, dia mengangguk. Seraya bicara. "Ada dua cara, dan salah satunya seperti perumpamaan buah durian."


"Ah-begitu? Terus yang satunya dengan cara apa?" Cantik ingin tahu.


Langit yang ditanya, matanya membulat sempurna.


"Tidak, aku tidak akan memberi tahu mu!" Langit bicara, dengan cepat.


"Kenapa begitu?" Cantik menatap om Dosennya.


"Sampai!" Langit bicara tersenyum. Untung pemuda itu, tepat waktu sampai ke sekolah. Jika tidak apa yang harus ia jawab.


Pemuda itu, membukakan pintu untuk gadis itu. Setelah itu, mengantarkan gadis itu sampai di depan kelas.


Pemuda itu menyeka dahinya, setelah kembali ke mobil.


"Syukur, sampai diwaktu yang tepat. Jika tidak, aku tidak tahu harus jawab apa. Dasar Cantik!" ujarnya, sambil membuang napas lega.


Pemuda itu mulai memasuki gerbang kantor. Langit memarkirkan mobilnya kemudian keluar. Saat itu pula Asya, juga keluar dari mobilnya.


"Pagi, Bu Asya!" Langit mengangguk.


Mereka berjalan beriringan sambil masuk kantor.


"Bagaimana kabar, istrinya Pak?" tanya Asya, sambil membawa beberapa laporan.


"Baik!" jawabnya singkat.


"Kandungannya?" tanya Asya menelisik.


"Baik!" jawabnya lagi.


Setelah itu kedua orang itu berpisah.


Disisi lain, wanita berambut sebahu itu. Sedang duduk di sofa, sambil membuat sesuatu.


"Dedek tahu tidak? Hari ini Bunda, buatkan dedek baju. Buat dedek nanti, kalau sudah lahir. Dedek pakai ya?" Cahaya bicara, sambil merajut baju buat hatinya.


"Wah ... dedek! Setuju berarti! Buktinya dedek, menendang-nendang!" Cahaya mengelus perutnya sambil tertawa.


Cahaya menghabiskan hari itu, dengan membuatkan perlengkapan anaknya. Seperti, topi bayi, kaus tangan sampai kaus kaki. Sungguh, wanita itu sangat bahagia dengan adanya bayi dalam perutnya.


Malam telah tiba, Cahaya menunggu suaminya yang belum juga pulang. Wanita itu berdiri di balkon, sambil menatap bawah. Mungkin saja, mobil suaminya datang. Tapi, sepertinya itu hanya angan Cahaya.


"Papa, lama ya dek?" Cahaya kepada anaknya.

__ADS_1


"Sudah satu bulan lamanya, Papa, enggak pernah bisa menikmati. Malam bersama kita!" Cahaya menatap rembulan, yang bentar lagi tertutup awan. Semenjak istrinya hamil tua, pemuda itu selalu pulang terlambat. Semua itu karena pekerjaan sebagai seorang yang mempunyai jabatan tertinggi.


Cahaya selalu mengeluh tentang suaminya, yang selalu pulang terlambat. Tapi Langit, pemuda itu bisa menasehati istrinya dengan lembut. Jadi Cahaya, juga sedikit bisa menerima kenyataan. Jika waktunya dan suaminya harus berkurang.


Cahaya berjalan kearah kamar, wanita itu menutup pintu kaca itu. Cahaya berjalan ke sofa, kemudian duduk dan bersandar. Wanita itu mencoba untuk terus terjaga. Saat matanya ingin tertutup. Cahaya segera memperbaiki posisinya agar tidak ketiduran. Lagi-lagi wanita itu, harus memperbaiki posisinya. Karena rasa kantuk, yang terlalu berat. Mata wanita itu, perlahan tertutup rapat. Cahaya sudah tertidur dengan posisi bersandar di sofa. Dan kepalanya, miring ke kanan.


Cahaya tertidur jam sepuluh, tapi wanita itu juga belum terbangun. Sampai jam menunjukan pukul, setengah satu.


Pintu kamar itu terbuka perlahan. Pemuda itu memasukkan, kepalanya untuk mengecek. Apa istrinya sudah tidur.


Pemuda itu masuk ke kamar, dan menutupnya perlahan. Langit membuang napas, istrinya itu benar-benar keras kepala. Sudah dibilang, jangan nunggu dirinya. Saat dia pulang terlambat, tapi sepertinya. Istrinya itu kekeh menunggu dirinya. Langit meletakkan tas kerjanya, di atas meja. Mata pemuda itu, tertuju pada baju bayi. Yang hampir satu bulan istrinya rajut, hanya untuk sang buah hati. Langit memegang baju dan topi itu, bibirnya tersenyum.


"Sudah hampir jadi, kau membuatnya dengan penuh cinta!" Langit melirik istrinya, kemudian meletakan baju dan topi itu ke atas meja.


Langit mengangkat tubuh istrinya, dan membaringkan keranjang. Setelah itu menyelimuti dan mengusap kepala istrinya.


Pemuda itu, memutuskan untuk membersihkan badannya. Lima belas menit, Langit keluar dari kamar mandi. Pemuda itu, membaringkan badannya di samping istrinya. Langit mendekap, wajah istrinya. Kemudian menyembunyikan wajah sang istri di dadanya.


Cahaya yang tertidur mencium, khas bau badan suaminya. Harum maskulin itu, menyeruak di indra penciuman Cahaya. Wanita itu, perlahan membuka matanya. Cahaya menggerakkan kepalanya. Hal itu membuat Langit, menatap kearah istrinya.


"Masnya, sudah pulang?" Cahaya bicara setengah sadar dan mata yang sulit untuk tetep terbuka. Wanita itu mati-matian untuk membuka matanya.


"Hmmmm!" jawabnya.


Setelah itu Cahaya sudah kehilangan kesadarannya. Wanita itu sudah terlelap kembali. Sedangkan Langit, tersenyum simpul.


Pasangan itu, sudah terlelap dalam alam bawa sadar. Jarum jam berputar dengan cepat, sudah jam tiga dini hari. Pasangan itu, masih tertidur dengan tenang. Tapi, ponsel yang ada di atas laci itu, terus berbunyi.


Langit yang mendengar, ponselnya berdering dia mengambil ponsel itu, Dahinya mengkerut, saat melihat nomor yang tertera di ponsel. Kenapa nomor itu, bisa menelpon nomornya pikir Langit.


Pemuda itu melepaskan pelukan istrinya, dia tidak akan mengangkat panggilan itu dekat istrinya. Pemuda itu, takut jika sang istri mendengar dan terbangun. Setelah bisa melepaskan pelukan dari istrinya. Pemuda itu berjalan kearah balkon.


Langit mulai mengangkat panggilan itu. Sudah sangat banyak, panggilan dari nomor itu. Tapi Langit tidak mengangkat.


"Malam," sapa orang yang ada di dalam ponsel itu.


"Iya!" Langit menjawab.


Langit mendengar, apa yang orang itu katakan padanya. Setelah itu, pemuda mematikan ponselnya. Sambil menarik napas berat.


"Dia bikin masalah! Aku tidak percaya ini!" ujarnya, sambil memijat pangkal batang hitung.


"Aku akan menelpon rekan kerjaku! Siapa tahu, ada tiket pesawat untuk pagi ini," ujarnya, tangganya memijat keyboard ponsel. Setelah ia meletakkan di telinganya.


"Tan, saya butuh dua tiket pesawat untuk pagi ini. Apa, rekan kantor ada yang mau dinas. Tapi enggak jadi?" tanya Langit, berharap.


"Ada, Pak! Tapi kira-kira daerah mana Pak?" tanya orang yang ada di dalam ponsel .


Langit memberi tahu, daerah yang ingin ia kunjungi. Dan kabar baiknya, tiket pesawat yang karyawan kantor punya. Itu sesuai yang pemuda itu tuju.


Langit bernapas lega, pemuda itu segera masuk kamar kembali. Langit segera bergegas untuk bersiap setelah itu, dia akan pergi ke bandara.


Pemuda itu telah selesai berganti baju. Gayanya sangat berbeda dari biasanya, yang biasanya hanya pakai kemeja. Pagi itu, Langit memakai kaus putih dan dilapisi dengan jaket. Pemuda itu menatap istrinya yang tertidur. Langit menghela napas panjang, karena harus meninggalkan istrinya. Satu ciuman mendarat di kening Cahaya.


"Maaf, aku tidak bisa memberi tahu mu. Tidur yang nyenyak ya Az-zahra!" Langit meninggalkan istrinya yang masih tertidur.

__ADS_1


__ADS_2