Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Sakittis Bukan Dramatis — Apalagi Romantis


__ADS_3

Sepertinya pasangan itu, tidak bisa tidur.


"Aku benar-benar tidak bisa tidur," gerutunya Cahaya, sambil membolak-balikan badannya.


"Jangan tidur kalau begitu," sahut Langit, yang masih setia menyembunyikan wajahnya di bantal. Dengan posisi tengkurap.


"Masnya bisa buat quotes enggak, aku pengen dengar. Aku tak punya pembahasan. Jadi buatlah quotes untuk ku," pinta Cahaya, sambil menatap suaminya.


"Kau pikir aku bisa?" Langit kembali bertanya.


"Ayolah!"


"Dalam hidup itu ada banyak sekali yang harus kita tahu. Tapi dua hal ini kamu harus bisa menerimanya. Pertama, tidak semua apa yang kamu inginkan itu biasa kamu dapatkan. Dan yang kedua, tidak semua apa yang kamu ucapkan itu bisa diterima. Sekalipun yang kau ucapkan itu, mengajaknya untuk berbuat baik!" Langit, pemuda itu menasehati istrinya.


Cahaya yang mendengar hal itu, dia mencoba untuk memahaminya.


"Aku rasa kata-katanya benar."


"Kau tahu?" tanya Langit.


"Tidak!"


"Mana bisa kamu tahu, jika aku saja tidak pernah mengatakan apa-apa. Hahaha!" Langit tertawa ngakak karena candaan yang ia buat.


Cahaya sangat sebal karena ulah suaminya itu. Cahaya berfikir dia juga ingin main tebak-tebakan.


"Kau tahu?" tanya Cahaya.


Langit mengerutkan dahi, apa istrinya itu akan bicara serius atau malah mau balas candaannya itu.


"Tentu saja tidak, kamu belum bicara apapun." Langit tersenyum miring, dia yakin istrinya akan kehabisan akal.


"Aku pun tak tahu, aku mau bicara apa?" Cahaya terkekeh karena jawabannya.


Sedangkan Langit, dia masih loading.


Sedetik kemudian mereka saling tatap, kemudian. "HAHAHAHA!" Mereka tertawa bersama. Sungguh pagi itu adalah pagi yang paling penuh canda tawa untuk pasangan itu.


Tok... tok... ketukan pintu dari luar, membuat pasangan itu menghentikan tawanya.


"Kang Mas, makanannya," ujar orang yang ada di luar kamar.


"Iya, Bu! Tunggu dulu," jawab Cahaya.


"Ayolah, kamu yang bangun. Masnya, cepat kasian ibu," ujar Cahaya memukul pundak suaminya.


"Baiklah, aku rasa tidak akan sakit. Karena aku tidur tengkurap," pikir Langit.


Pemuda itupun mencoba untuk bangkit, dengan hati-hati. Akhirnya bisa bangun juga, meski dengan susah payah.


Pemuda itu berjalan kearah pintu, dan membukanya.


"Kata Archer kalian sakit?" tanya Abidah Aminah, sambil jalan masuk ke kamar anaknya.


"Cuma flu dan sakit kepala," ujar Cahaya tersenyum.


"Bagaimana mungkin itu bisa barengan?" tanya Abidah Aminah, sambil meletakkan makanan di meja.


"Cinta sejati," celetuk Langit, yang berjalan kearah ibunya.


Abidah Aminah tersenyum mendengar hal itu.


"Ngomong-ngomong kenapa jalan Kang Mas, kayak kakek tua?" tanya Abidah Aminah, menatap anaknya.


"Ayolah Bu, Masnya itu ingin belajar jalan layaknya kakek-kakek!" kekeh Cahaya yang duduk di ranjang.


Langit yang mendengar hal itu dia memutar bola matanya dengan sempurna.


Sedangkan Abidah Aminah dia terkekeh, karena perkataan sang menantu.


"Aku rasa, satu tahun kalian menikah. Kang Mas akan menjadi kek medy, karena ulah mu Ay!" timpal Abidah Aminah.


Cahaya dan suaminya mengerutkan dahi, karena perkataan wanita paruh baya itu.


"Kek medy apaan Bu?" tanya Cahaya yang ingin tahu. Sedangkan Langit, pemuda itu ingin dengar langsung jawaban dari ibunya itu.


"Kakek comedy!"


Cahaya terkekeh karena jawaban mertuanya itu. Sedangkan Langit, tidak tersenyum. Karena ulah dua wanita yang ia cintai.


"Maksudnya, Masnya akan suka bercanda gitu?" tanya Cahaya.


"Ibu rasa begitu, istilah istrinya seperti kamu. Pasti ngikutin karakter yang istrinya bawa!"


"Aku bukan anaknya, Bu! Mana ada karakter suami ngikutin karakter istrinya," sahut Langit, sambil menatap ibunya.


"Ada!"


"Siapa?" Langit bertanya kepada ibunya.


"Ya kamu siapa lagi,“ ujar Abidah Aminah, sambil berlalu menjauh dari pemuda itu.

__ADS_1


"Ibu jangan bicara yang tidak-tidak!" Langit tidak terima dibilang ngikutin karakter istrinya.


"Coba tengok dirimu, di kaca. Perhatikan dirimu, jika kamu tersenyum berarti karakter istrimu sudah ada di dalam dirimu. Dulu kamu jarang senyum, setelah sahabatmu meninggalkan mu. Sekarang aku sering sekali melihatmu tersenyum. Bukan cuma itu, karakter istrimu yang suka bercanda sepertinya kamu sudah mau masuk ke karakter itu." Abidah Aminah terkekeh sambil tersenyum.


"Hanya sahabatmu dan istrimu yang bisa merubah dirimu." Abidah Aminah berjalan kearah pintu.


Sedangkan pemuda itu terdiam, benar apa yang ibunya bilang. Mentari dulu juga sepeti istrinya. Mentari yang mengajarkan dia tertawa dan bercanda. Setelah sahabatnya pergi, Tuhan memberikan gantinya dengan ganti yang lebih bagus. Yang bisa ia miliki, dan bisa mencintainya melebihi dia mencintai diri sendiri. Benar! Takdir itu terkadang indah tapi tidak dirasa. Karena nikmat Tuhan, yang dikasih sangat banyak, bahkan terlalu berlebih. Jadi itu sebabnya manusia tidak merasakan nikmat yang diberi Sang Khalik. Beda kalau dikasih cobaan, pasti manusia ingat. Karena Allah hanya memberikan sedikit cobaan. Kenapa? Karena manusia lebih suka mengingat yang sedikit dari pada yang banyak.


Cahaya hanya diam melihat percakapan ibu dan anak itu.


"Sudahlah, makanlah kalian. Aku akan keluar," ujar Abidah Aminah, sambil menarik gagang pintu.


"Maaf Bu! Merepotkan!" ujar Cahaya.


"Tidak apalah Ay!" jawabnya.


"Terima kasih Bu!" Cahaya berterima kasih, sedangkan Abidah Aminah hanya mengangguk.


"Mau makan dimana?" tanya Langit.


"Aku, tetap disini. Kepalaku benar-benar sakit," balas Cahaya, sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Langit hanya mengangguk, pemuda itu menyiapkan makanan untuk istrinya. Dan pemuda itu berjalan kearah istrinya, dan menyodorkan piring yang sudah lengkap berisi makanan.


"Makasih Kek medy!" Cahaya tersenyum sambil menerima makanan.


Langit hanya diam, istrinya itu benar-benar pintar. Baru saja diajarin bilang kek medy sudah hapal.


"Kenapa berdiri terus?" tanya Cahaya, sambil memasukkan makan ke mulut.


"Aku sedang berfikir sesuatu," jawab Langit menatap.


"Apa yang kau pikirkan? Apa ini berkaitan dengan bokong yang sakit?" tanya Cahaya menatap.


"Sudah aku bilang, aku tidak suka kau memanggilku dengan panggilan kau!"


"Ah ...iya aku lupa, maafkan aku Kek!"


Langit yang mendengar hal itu reflek menunjuk kening istrinya sampai kepentok kepala ranjang.


"Aaaaa, sakit aduh!" Cahaya mengusap kepalanya.


"Aku rasa kamu sudah benar-benar jadi kakek, lihat saja kelakuanmu ini. Menoyor kepalaku yang sedang sakit, dasar pikun," tukasnya kembali.


Wanita itu mengerucut bibirnya karena kesal dengan suaminya.


"Ya, terserah kamu, mau bilang apa Nek, aku tidak perduli," sinis Langit.


Plak!!!


"Aduh! Kau benar-benar!" greget Langit sambil menunjuk wajah istrinya dengan gregetan.


Cahaya yang menyadari apa yang ia perbuat dia menyengir.


"Maafkanlah, sungguh aku tak sengaja!" Cahaya merasa tidak enak kepada suaminya itu.


"Yasudah aku maafkan, karena tadi aku juga menoyor kepalamu. Kita sama satu-satu," canda Langit yang mau mencairkan suasana.


"Kenapa cuma berdiri?" tanya Cahaya kembali, wanita itu akan bertanya sampai mendapatkan jawabannya.


"Kau sudah tahu!"


"Aku tahu, gimana caranya! Apa mau mencoba?" Cahaya menaik turunkan alisnya.


"Caranya?"


"Sini tangannya," ujar Cahaya meminta tangan sang suami. Langit pun memberikan tanpa berpikir terlebih dahulu. Sepertinya pemuda itu, sangat mempercayai istrinya.


Cahaya tersenyum, wanita itu meletakkan piring di atas laci.


"Siap?" tanya Cahaya.


Langit yang tahu istrinya akan menariknya dia segera menolak.


"Tidak-tidak!" Langit menggelengkan kepalanya.


Tapi tak Cahaya, jika tidak jail. Wanita itu tidak memperdulikan ucapan suaminya. Wanita itu menarik tangan suaminya agar bisa duduk tanpa harus susah payah mencari posisi yang enak.


"Aaaaaaaaaa!" Langit mengeluarkan suara. Pemuda itu sudah duduk di depan istrinya.


"Sakitnya sebentar kok, Kek!"


"Aku rasa kau benar-benar mengerjai ku." Langit meringis kesakitan.


"Diam lah, jangan banyak bicara! Aku akan menyuapi mu," ujar Cahaya, yang menghindari perdebatan dengan suaminya.


"Ayo, buka mulutnya!" ujar Cahaya.


Langit hanya mengikuti saja, apa yang istrinya bilang.


"Ceritakan sahabatmu itu!"

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Langit tak mengerti.


"Mbak Mentari!" ujar Cahaya yang kembali memasukkan makanan ke mulutnya.


Langit terdiam sejenak, pemuda itu jadi mengingat masa dulu bersama sahabatnya.


"Apa yang ingin kau tahu?"


"Apapun itu, dari sekolah sampai kuliah. Apa Masnya, kuliah bersama mbak Mentari?" tanya Cahaya, yang ingin tahu kisah cerita Mentari saat kuliah dari suaminya langsung.


"Iya, kau benar! Kami kuliah di Universitas yang sama!"


"Terus!"


"Sudahlah, aku malas bercerita," imbun Langit sepertinya itu malas memikirkan masa lalunya itu.


"Baiklah aku tidak memaksamu!" Cahaya tersenyum, jika dia tidak bisa dengar dari suaminya dia bisa membaca diary punya Mentari.


"Oh ya ...aku lupa! Aku ingin bertanya ... kenapa waktu aku ingin mencium tangan Masnya menolak? Terus kenapa aku merasa Masnya seolah jaga jarak gitu!" Cahaya menatap suaminya dengan jarak dekat.


Langit terdiam sejenak, pemuda itu seolah berfikir. Langit sepertinya akan menjawabnya.


"Aku sangat menghargai mu!" ujarnya sambil menatap istrinya, tanpa berkedip.


"Maksudnya?"


"Ya! Aku sangat menghargai dirimu ... itu mengapa aku sangat jaga jarak denganmu ...kau pantas dihargai ... kau tahu? Kenapa?" tanya Langit kembali.


"Apa alasannya?"


"Karena kamu, tidak seperti wanita pada umumnya ...kau sangat berbeda ...aku suka dengan gaya pakaianmu ...tidak terbuka ... kamu yang apa adanya ...sungguh aku menyukai semua itu!"


Cahaya yang mendengar hal itu dia tersenyum tipis, tapi gingsul nya kelihatan. Hal itu membuat suaminya mencubit hidungnya.


"Sakit!" Cahaya memukul tangan suaminya.


Drd... drd... suara ponsel yang ada di atas laci bergetar.


"Ponselmu bunyi!" Langit memberi tahu istrinya.


Cahaya segera mengambil ponselnya itu, dilihatnya tertera nama sahabatnya yang ada di sana.


"Senja! Apa aku boleh mengangkatnya?" tanya Cahaya kepada suaminya.


Langit nampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk menyetujui. Pemuda itu, tidak bisa mengekang istrinya dan tidak akan melepaskan begitu saja. Langit mencoba untuk berfikir lebih dewasa. Kalau cemburu pasti, tapi dia juga enggak boleh terlalu egois.


" Wa'alaikumsalam!" Cahaya Me-lopsepiker panggilan telepon itu, agar suaminya mendengar.


"Btw, gua ke kafe lu ...tapi enggak ada?" tanya dari ponsel itu.


"Gua enggak ke sana Sen! Soalnya gua lagi enggak enak badan," jawab Cahaya, sambil menatap suaminya.


Langit hanya diam sebagai pendengar antara kedua sahabat itu. Mungkin jika Mentari, masih ada. Dia juga akan melakukan hal yang sama dengan sahabatnya. Atau malah takdir berkata lain. Tapi itu hanya angan Langit saja.


"Cepat sembuh," ujar Senja.


"Terima kasih bri! Tapi ada apa lu nelpon gua?" tanya Cahaya, dia tahu sahabatnya itu akan menelpon jika ada hal yang penting.


"Cuma mau bilang gua mau ke Sumatra, lu jangan kangen," Senja terkekeh.


Sedangkan Langit yang mendengar hal itu dia berdeham.


"Ehem!"


Senja yang ada di sana, dia terkejut.


"Aduh, maafkan saya Pak Arkana! Tidak ada maksud yang terselubung kok Pak!" Senja tahu jika itu suara milik Langit.


"Saya tidak pernah berfikir sampai begitu! Saya percaya dengan kalian. Tapi ...saya, takut kalau kalian kena was-was setan!" Langit bicara tanpa sungkan.


Sedangkan Cahaya hanya menelan ludahnya saja.


"Iman saya insya Allah kuat, tepi yang jadi masalah saya belum menemukan makmumnya," ujar Senja, yang malah ingin berbicara dengan Langit.


"Senja harusnya sama Esok, mungkin besok lusa sudah bisa jadi imam." Wanita berambut sebahu itu menimpali.


"Do'akan saja, biar cepat nyusul, nanti kita jodohkan anak kita!' Langit dan istrinya saling tatap karena ucapnya Senja.


"Saya rasa perjodohan sudah tak berlaku tahun 2030!" jawab Langit santai.


"Hahaha!"


Cahaya menggelengkan kepalanya karena ucapan suaminya itu.


"Sen, gua kasih tahu ya! Mending lu urus jodoh lu dulu, sebelum mempersiapkan jodoh anak lu. Apa lu mau, gua kenalin dengan sahabat gua?" tanya Cahaya, menggoda sahabatnya itu.


"Gua, masih menunggu keajaiban. Gua nunggu dia yang tak ada kepastian," jawab Senja.


"Kenapa harus menunggu kepastian? Jika ada yang pasti?" tanya Langit.


"Bukan main! Kena mental dong Pak!"

__ADS_1


Mereka bertiga tertawa kompak. Siapa sangka, jika pagi itu. Senja dan Langit bisa melempar candaan.


__ADS_2