Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Pendahuluan Lima


__ADS_3

Cahaya yang ingin mengambil buku diary Mentari, tak jadi karena ponselnya berdering. Cahaya mengambil ponselnya yang ada di laci.


"Wa'alaikumus'salam." Cahaya menjawab panggilan itu.


"Cahyono, gua udah ada di Jakarta, kita ketemuan di tempat biasa biasa kan?" Suara orang dari telpon itu.


"Sejak kapan lu di Jakarta Sen?" tanya Cahaya, yang tidak menjawab pertanyaan dari Senja.


"Sejak lebaran kedua, gua ada kerjaan di sini. Eh gimana kabar lu?" Suara Senja terdengar sangat eksaited.


"Alhamdulillah gua baik, nah lu bagaimana?" Cahaya juga sangat bahagia dengan panggilan siang itu.


"Gua bersyukur masih sehat hahaha, gimana lu bisa enggak ketemu gua. Ada yang ingin gua omongin sama lu." Senja sangat berharap, jika sahabatnya itu bisa meluangkan waktu untuk dirinya.


Cahaya berpikir sejenak, wanita itu sudah tidak bisa hangout sesuka hatinya karena sudah jadi istri.


"Emm, gimana ya Sen! Gua enggak bisa putusin detik ini juga. Gua harus izin sama ibu dulu. Lu tunggu saja nanti gua kabarin lagi gimana?" tanya Cahaya, mencoba bernegosiasi kepada sahabatnya itu.


"It's okay My bestest... "


Panggilan antara kedua sahabat itu telah terputus. Cahaya memutuskan untuk ke bawah minta ijin ke mertuanya.


"Bu, aku mau bertemu dengan temanku, apa aku boleh keluar sebentar?" Cahaya bertanya, kepada mertuanya yang sedang nonton televisi.


"Tapi kamu enggak boleh pulang terlambat. Kamu harus pulang sebelum suamimu pulang, ingat, Aya di sini ada eyang, kamu tidak boleh pergi sesuka hatimu. Ibu enggak mau kalau eyang, nyindir kamu terus ...dan satu lagi, kamu sudah ijin sama suamimu belum?" Abidah Aminah bertanya, sambil mengubah saluran televisi.


Cahaya menepuk dahinya, wanita itu lupa belum meminta izin kepada suaminya.


"Iya Bu, Aya paham, nanti aku izin sama mas dulu. Aya ke atas dulu kalau begitu Bu!" Cahaya menjawab dan meminta izin untuk ke atas. Abidah Aminah menganggukkan kepala.


Setelah sampai di atas, wanita itu lebih memilih mengirim pasan kepada sahabatnya dulu.


Okey kita jadi bertemu Sen, gua otw.


Seperti itulah pesan yang Cahaya kirim untuk sahabatnya.


Cahaya duduk di meja riasnya, menatap lehernya yang merah karena ulah suaminya itu.


"Hem ...akan aku kasih plester." Cahaya menarik laci meja rias. Tangannya mulai mencari plester dan wanita itu menemukan apa yang ia cari. Cahaya mulai memakaikan plester itu, di bagian lehernya.


"Bagus tidak terlihat bekas gigitan." Cahaya tersenyum.


Wanita itu mulai mengaplikasikan bedak ke wajahnya. Hampir setengah jam memoles wajahnya. Cahaya berdiri dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.


Cahaya yang sudah ada di bawah pamit kepada mertuanya.


"Bu, Aya pamit ya?" Cahaya mencium tangan mertuanya.


"Istri jaman sekarang suaminya kerja, istrinya kelayapan." Eyang baru saja datang langsung membuat kegaduhan.


Cahaya hanya diam dan menundukkan kepala.


"Ya sudah lah Ami, meskipun begitu istri juga ingin refreshing enggak diam di rumah terus. Abid dulu juga gitu ...tapi Mak, enggak pernah marah sama Abid! Sudah Ay, kamu berangkat sekarang tadi, Ibu nyuruh pak Jayin, buat nganter kamu." Abidah Aminah tersenyum kearah menantunya.


"Tapi Bu, aku bisa naik taksi saja," ujarnya, Cahaya merasa tidak enak.


"Enggak opo-opo toh Nduk, nanti setelah mengantar kamu biar pak Jayin langsung ke sekolah si kembar." Abidah Aminah sangat mengerti posisi menantunya itu.


Cahaya mencium tangan Eyang, meskipun eyang engan menerima uluran tangan dari Cahaya, tapi tetap saja nenek tua itu menerima uluran tangan Cahaya.


"Assalamu'alaikum Bu!" Wanita itu mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam." Abidah Aminah menjawab.


Saat Cahaya keluar dari rumah itu. Abidah Aminah bicara pada eyang.


"Ami, itu bisa enggak jaga perasaannya menantu Abid, jangan di omelin mulu Ami."


"Ami, enggak suka sama wanita itu Bid." Eyang menjawab, dengan cepat pertanda jika tidak menyukai Cahaya dan ucapan anaknya.


"Lah teros Ami! Suka yang seperti opo? Cahaya juga hatinya baik Ami!" Abidah Aminah tidak habis pikir, dengan ibunya yang sangat tidak suka dengan menantunya.

__ADS_1


"Ami suka seperti Asya!" Eyang tersenyum saat memikirkan Asya.


Abidah Aminah tidak mengenal siapa yang orang dimaksud ibunya.


"Sop kui Ami? Asya wong endi... Ami kenal kapan?"


"Pokoknya dia cantik, molek wanita karier enggak kayak menantu mu itu." Eyang berbicara dengan sinis.


Abidah Aminah membuang napas pelan.


"Paras ayu iku ora biso menggambarkan ayune ati, Ami( Wajah cantik itu tidak bisa menggambarkan kecantikan hati)" Abidah Aminah memberi jeda sejenak, sebelum melanjutkan ucapnya lagi.


"Tapi nak ati ayu iku iso gawe karismatik ing paras(Tapi kalau hati yang cantik itu biasa membuat wajah menjadi berkharisma)" Abidah Aminah bangkit dari duduknya berjalan kearah kamarnya.


Cahaya yang ada di dalam mobil dia segera menghubungi suaminya.


"Assalamu'alaikum Mas!"


"Wa'alaikumussalam." Langit baru saja, keluar dari masjid untuk sholat dzuhur.


"Sudah sholat kan Mas?" Cahaya selalu bertanya tentang sholat.


"Hmm ...ada apa nelpon?" Langit menjawab, sambil memakai sepatu.


"Aku mau minta izin sama Masnya, aku pengen ketemu sama sahabat aku." Cahaya bicara sedikit takut, jika suaminya tidak mengizinkan.


"Oke aku izinkan ...but ...promise to me ...you should be able to keep yourself (tapi ...berjanjilah kepada ku ...kau harus bisa menjaga dirimu sendiri)." Langit tidak tahu siapa yang ingin ditemui oleh istrinya itu.


"Ehem but ...my best friend is a man!' Cahaya bicara dengan nada sedikit pelan.


"Apa? lelaki?" Langit sedikit terkejut, dia kira sahabatnya istrinya itu wanita.


"Iy-iya!" Cahaya menjawab dengan terbata-bata.


"Oke enggak masalah, tapi jangan terlalu banyak melakukan kontak fisik, kau paham!" Langit menekankan kata paham.


Cahaya menutup panggilan dengan suaminya karena sudah mau sampai.


"Tida apa-apa Neng!" Pak Jayin menjawab.


Cahaya mencari tempat duduk di kafe outdoor.


Setelah hampir lima menit menunggu. Seseorang memukul pundaknya pelan. Cahaya membalikkan badannya, untuk melihat siapa, bibir wanita itu tersenyum kearah orang yang menepuk pundaknya.


"Sorry nungguin lama ya?" Senja bicara, ambil menarik kursi untuk dia pakai duduk.


"Enggak, cuman lima menit lah hahaha." Cahaya tertawa, mata wanita itu fokus pada kantung kresek yang Senja bawa.


Pria dengan kulit gelap itu, tersenyum melihat tingkah wanita yang ada di depannya itu.


"Apa itu Sen?" Cahaya bertanya dengan senyuman. Wanita itu sudah ke GRan jika yang ada di kantung kresek itu untuknya.


"Hahaha, gua rasa lu udah tahu kalau ini untuk lu." Senja menggeser plastik itu kearah Cahaya.


"Hahaha, sedikit basa-basi bisa tidak mengurangi harga diri." Cahaya tertawa, sedangkan Senja juga tidak mau kalah dengan tawa.


Pelayan kafe menghampiri kedua sahabat itu.


"Mau pesan apa Mbak, Mas!"


"Es kelapa sama soto betawi." Cahaya menjawab.


"Kalau Mas pesan apa?" Pelayan itu sudah siap, untuk mencatat pesanan dari pria yang ada di depannya itu.


"Minumannya sama tapi makanannya bakso saja lah."


"Baik tunggu sebentar." Pelayan itu berucap, sambil meninggalkan dua sahabat itu.


"Mau apa kok ngajak ketemuan, nanti ada yang marah enggak nih." Cahaya menggoda sahabatnya itu.


"Pengen ketemu sama lu, toh terakhir kita ketemu saat lu mau kerja ...setahun yang lalu ya kayaknya?" Senja mengingat kapan mereka terakhir bertemu.

__ADS_1


Cahaya mengangguk pelan. Wanita itu membuka kresek mengeluarkan kardus yang berisi martabak. Cahaya tidak tahan lagi untuk tidak mengeksekusi martabak itu. Martabak yang di buatkan oleh Senja itu beda dari martabak yang Cahaya beli. Pria berkulit gelap itu, mempunyai delapan cabang penjualan martabak bukan cuma itu saja, pria itu juga seorang investor.


"Sudah ketemu?" Cahaya bertanya, sambil memasukkan martabak itu ke mulutnya.


Senja menggelengkan kepalanya wajahnya sangat murung.


"Sabar Sen, gua enggak tahu jika gua yang ada di posisi lu." Cahaya sangat kasian dengan sahabatnya itu.


"Hampir empat tahunan atau lebih ...enggak sebentar itu Cah. Gua enggak tahu harus cari kemana lagi. Kita kenal tahun 99, dia menghilang tanpa kabar awal tahun 2001 mungkin." Wajahnya menunduk, sesetia itu kah pria yang ada di depan Cahaya.


"Tapi kalau masih cinta ya pertahanin lah Sen! Cari tahu, semangat!"


Pesanan mereka sudah datang saat Senja curhat.


"Ya kalau cinta ya cinta Cah. Tapi masalahnya ini sudah empat tahunan lebih loh. Gua selalu ditanya keluarga, kapan gua bawa cewek ke rumah. Mereka pikir gua itu waras enggak? Bahkan nenek gua berpikir kalau gua itu... " Senja mendekatkan wajahnya kearah sahabatnya itu.


"Gay!" Senja bicara pelan takut jika ada yang mendengar.


Cahaya yang mendengar hal itu, dia terbatuk-batuk, karena sedang minum es kelapa.


Uhuk... uhuk..


"Nenek lu kok mikir sampai segitunya," ujar Cahaya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Bisalah orang gua enggak pernah ketemu cewek, gua sibuk sama kerjaan gua." Senja bicara, sambil memasukkan bakso ke dalam mulut.


"Terus apa yang mau lu lakukan?" Cahaya bicara sambil makan soto betawi.


"Gua enggak bisa ngelupain dia. Gua enggak bisa mencintai orang lain Cah. dan gua akan cari dia, terkadang gua berpikir, kenapa takdir ini tidak adil dengan gua." Senja menundukkan kepalanya, matanya sudah memerah tidak kuasa untuk menahan air mata.


"Gua juga enggak bisa ngebantu, karena gua juga enggak pernah ketemu dia Sen." Cahaya meletakkan sendok dan garpu itu ke mangkuk. Tangan kanannya mengelus bahu sahabatnya itu.


Takdir yang sangat tidak bisa di tebak. Dulu pria itu menyakiti dua wanita meskipun tidak disengaja. Saat Senja menyukai wanita ada dua wanita yang menyukainya. Salah satunya adalah orang yang ada di depannya itu. Dan yang satunya lagi masih setia mencintai pria itu.


"Harusnya dulu gua kenalin ke lu, tapi ya waktu tidak bisa di ulang kembali." Pria itu tersenyum menatap wajah sahabatnya.


"Semua sudah berlalu Sen, tapi pasti ada sesuatu deh, gua ngerasa ada yang janggal." Cahaya bicara, sambil minum es kelapa dari sedotan.


"Maksudnya?" Senja bertanya sambil mengerutkan dahi.


"Masa Sen, tidak ada berita apapun tentang dia. Seumpama dia nikah pasti lu sudah dengar. Iya meskipun, kemungkinan besar lu tahunnya belakangan, tapi kasus lu itu kayak, dia itu ngilang gitu saja. Dan tidak ada jejak sedikit pun."


"Entahlah gua bingung, sudah lupakan sejenak tentang dia." Senja bicara. sambil ngabisin bakso yang ada di mangkuk.


Cahaya hanya mengangguk pelan.


"Oh ...by the way rambut lu bagusan pendek, kapan potong?" Senja bicara, sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Dua bulan setengah kayaknya." Cahaya menjawab, sambil menatap kearah samping.


"Kenapa leher lu, kok lu plester?" Senja menatap leher Cahaya sekilas. Kemudian menatap wajah Cahaya, yang sudah berbalik menghadapnya.


"An-anu, apa ya?" Cahaya menjawab sambil menggaruk rambutnya.


"An-anu apa? Ngomong lu kenapa terbata-bata? Enggak pernah lu bicara kayak gitu, kalau enggak ada yang lu tutup-tutupin." Senja bicara, sambil memanggil pelayan kafe dengan tangannya.


"En-enggak itu karena ke gores saja, jadi gua plester." Cahaya menjawab nada sok santai. Tidak mungkin jika dia bilang tanda permintaan maaf dari suaminya, malu kan.


"Em... " Senja mengangguk pelan karena jawaban sahabatnya.


"Berapa Mbak?" Senja bertanya kepada pelayan itu.


"120.000 Mas!"


Setelah membayar makanan itu, kedua sahabat itu berdiri.


"Gua anterin lu ya?" Senja memberi Cahaya penawaran.


"Tidak perlu, gua bisa cari angkot sendiri kok." Cahaya menjawab sambil memakai tas selempang.


"Gua cabut ya Sen." Cahaya melakukan TOS dulu sebelum meninggalkan sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2