Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Jangan Sia-siakan Peluang Berbisnis


__ADS_3

Wanita berambut sebahu itu, menundukkan kepalanya. Bagaimana tidak! Jika partner bisnisnya tidak bisa datang. Partner yang menyediakan tempat untuknya berhalangan datang. Partner yang akan memberikan komisi dua persen perhari dalam penjualan barang yang ada di minimarket.


"Kakak baik kenapa?" tanya Gibril.


Si bule belum tahu nama Cahaya, makanya hanya memanggil kakak baik saja.


Wanita berambut sebahu itu melirik kearah Gibril. Bibirnya masih bisa tersenyum. Karena wanita berambut sebahu itu percaya, jika partner bisnisnya akan datang. Meski kemungkinan besar hanya angannya saja.


"Tidak aku tidak apa-apa." Meskipun begitu ia tetap masih bisa jawab.


Suara adzan isya berkumandang si kembar dan Gibril pergi ke masjid dekat kafe. Bocah yang memiliki mata coklat itu, sudah memakai sarung dan baju koko. Si kembar yang ingat pakaian Gibril tidak layak pakai. Mereka menyuruh ibu mereka untuk mengeledah baju kang masnya yang masih tersimpan rapi, di lemari ibu mereka. Abidah Aminah masih menyimpan baju milik anak-anaknya yang masih bagus. Bajunya kak Bumi aja masih ada.


Bukan cuma Gibril saja yang memakai baju bagus. Kakek tua dan ibu penyandang tuna wicara juga memakai pakaian yang lebih layak.


Cahaya menatap bintang-gemintang beredar sesuai perhitungan. Wanita itu sangat sedih karena partner bisnisnya belum datang.


"Apa Mas, tidak akan datang? Bukankah malam ini harusnya kita berjabat tangan sebagai rekan bisnis." Wanita itu bicara, sambil meletakkan kedua tangannya di dada.


Cahaya menghela napas panjang.


"Hai!" suara wanita yang sangat ia kenal.


Cahaya tersenyum sahabatnya telah datang.


Williams yang melihat penampilan sahabatnya yang berbeda itu menelan ludahnya.


"Heh Wil, lu kenapa?" tanya Rai.


"Istrinya orang cantik Rai!" Williams menjawab, tapi matanya tidak teralihkan. Williams menatap Cahaya dengan kagum. Maklum wanita berambut sebahu itu, selalu menutup lekuk tubuhnya dengan jeans dan kemeja.


Rai yang melihat Williams seperti itu, menampar pipi sahabatnya tidak terlalu keras.


"Sia*an lu Rai!" Williams memegang pipi yang di tampar Rai.


"Punya orang Wil, enggak boleh sudah hak paten." Alexa bersuara, dengan memperbaiki gendongannya. Karena anak sambungnya tidur.


"Hahaha, gua cuma terpanah doang." Williams tertawa.


"Fafa enggak bisa datang Ay!" Rai memberi tahu sahabatnya itu.


"Oh, kenapa?" Cahaya bertanya.


"Dia lembur, biasa dia ada di divisi disain, dan kepala divisi juga sangat suka dengan kerjanya si Fafa!" Rai menjawab.


"Ya sudah masuk sana, ada makanan pilih aja gratis tanpa dipungut biaya." Cahaya menyuruh sahabatnya masuk.


Di bawah sana si kembar dan Gibril baru pulang dari masjid. Mata Arche melihat sosok yang seminggu mereka kenal.


"Bukanya itu Kenzi?" Arche menunjuk kearah cowok yang menaiki tangga.


Archer mengikuti arah tangan kakaknya. Dara delapan belas tahun itu, mengerutkan dahi. Kenapa cowok itu, ada di kafe kakak iparnya.


"Iya!" jawabnya singkat.


"Malam Mbak!" Kenzi menyapa Cahaya yang ada di depan kafe.


"Malam juga Ken, gimana kabarmu?" Cahaya bertanya.


"Baik!" Kenzi menjawab, sambil mengedarkan pandangannya ke dalam kafe. Tapi tidak menemukan sosok yang ia cari. Lantas cowok itu berinisiatif untuk bertanya kepada wanita yang ada di depannya.


"Maaf, apa Black juga akan datang?" Ternyata Kenzi masih ingat dengan pemuda keturunan Aceh itu.


"Dia tidak akan datang, dia ada di Jogja."


Kenzi berharap akan bertemu dengan Black tapi harapannya sia-sia. Padahal dia mau nganter ibu tirinya hanya ingin bertemu Black.


"Ngapain dia di sana Mbak?" Kenzi bertanya.


Sebelum Cahaya menjawab, ada seseorang yang mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Cahaya menjawab. Kenzi membalikkan badannya. Dan betapa terkejutnya saat melihat siapa yang datang.


"Kalian." Kenzi menunjuk mereka bergantian.


"Kalian sudah kenal?" tanya Cahaya.


"Bagaimana tidak kenal, orang dia yang buat aku di hukum." Archer berdiri di samping kakak iparnya.


"Maksudnya?" tanya Cahaya sedikit lupa.


"Yang aku ceritakan waktu itu loh Teh!" Archer mencoba mengingatkan kakak iparnya.


"Yang katanya lempar kamu pakai kertas?" Cahaya bertanya, yang di jawab anggukan oleh Archer.


Kenzi menggaruk kepalanya karena malu.


"Aunty!" teriakan Balqis membuat Cahaya bejalan kearah bocah it,u dan merentangkan tangan. Balqis langsung meminta gendong aunty nya itu.


Kenzi sudah masuk di dalam kafe.

__ADS_1


"Ponakan Aunty belum tidur?" Cahaya bertanya kepada Balqis.


"Elum." Bocah itu menjawab sambil minum susu.


Keluarga Raharja sudah datang tapi yang tidak ada bapak dan kak Hazel. Wanita berambut sebahu itu, mencium tangan kakek Raharja, ibu mertuanya dan eyang. Keluarga Raharja sudah masuk tapi Balqis ikut aunty-nya. Terdengar suara langkah kaki yang menaiki tangga.


"Malam Kakak ipar." sapa Hazel.


Cahaya yang melihat Hazel datang, dia seperti mencari seseorang.


"Malam Kak Hazel!" Cahaya menjawab, sambil mencari seseorang.


"Daddy!" Balqis memanggil daddy Hazel. Hazel mengelus rambut kriting milik anaknya.


"Kak Hazel sendirian?" Cahaya bertanya. Wanita berambut sebahu itu berpikir, jika suaminya juga datang bersama Hazel.


"Ah ...iya ...tadi ini aku naik taksi."


"Masnya?" tanya Cahaya, kepada adik iparnya.


"Langit masih ada kerjaan, dan hari ini kerjaan ku tidak terlalu banyak, jadi bisa pulang lebih awal." Hazel bicara, sambil mengambil Balqis dari gendongan Cahaya. Kemudian masuk ke dalam kafe.


Cahaya mengangguk paham, raut wajahnya sedih. Ayah Brian juga tidak hadir karena ada di Semarang.


"Akak!" Suara itu membuat Cahaya tahu siapa pemiliknya.


"Cantik!" Cahaya tersenyum.


Gadis berwajah bulat itu, langsung memeluk Cahaya.


"Malam Nak!" sapa Agam Ariaja.


"Malam Pi!" Cahaya menjawab, sambil mencium tangan Agam Ariaja.


"Apa yang Mami bawa?" Cahaya bertanya, kearah wanita paru baya itu.


"Mie Aceh, untukmu!" Cahaya menerima rantang dari istrinya Agam Ariaja. Wanita itu sangat senang dengan mie Aceh buatan istri Agam Ariaja.


"Terima kasih!" Cahaya bicara, sambil menelan ludahnya karena tidak sabar makan mie itu.


Cahaya masih menunggu di luar. Semua yang ada di dalam kafe hanya kerabat dan sahabat.


"Assalamu'alaikum Pak Kyai!" Cahaya menyapa pak kiyai itu.


"Wa'alaikumussalam!"


"Gimana kabarnya Pak Yai?" tanya Cahaya. Cahaya sengaja mengundang pak kiyai biar pimpin doa. Peresmian kafe dan minimarket sangat berbeda. Karena tidak ada acara potong pita. Ngapain dikasih pita segala jika pada akhirnya dipotong mubazir kan.


"Mangga masuk Pak Kiyai!" Cahaya menyuruh pak kiyai masuk.


Cahaya masih berjaga di luar, ada dua lelaki yang ia tunggu. Wanita itu berdiri sambil bersandar di pintu dapur.


Seorang pria datang dengan memakai baju santai. Matanya melihat wanita yang sedang bersandar di pinggiran kursi. Bibirnya terbuka matanya menatap takjub.


"Cantik!" serunya pelan.


Orang itu tersadar dengan apa yang keluar dari mulutnya itu. Cahaya melirik kearah kanan dan menemukan pria yang ia tunggu.


"Sen!" Cahaya menghampiri pemuda itu.


"Cahyono ini lu?" Senja memutar tubuhnya Cahaya. Wanita berambut sebahu itu sangat risih. Wanita itu takut jika ketahuan eyang. Pasti dia akan di bilang wanita enggak benar.


"Heh iya." Cahaya segera melepaskan tangan Senja yang ada di bahunya.


"Sudah masuk acara doa mau dimulai." Cahaya mendorong sahabatnya itu.


Senja masuk dan salaman kepada yang ada di sana.


"Siapa namamu wahai pemuda?" Agam Ariaja bertanya.


"Senja Pak!" Senja menjawab, sambil menjabat tangan Agam Ariaja.


"Mari-mari bergabung dengan kita." Senja bergabung dengan keluarga Agam Ariaja.


Di sana ada empat gengs. Gengs kakek Raharja duduk di samping gengs Agam. Didepan Agam ada gengs Williams dan sahabatnya. Di samping gengs Williams ada gengs karyawan minimarket. Cahaya menunggu suaminy,a tapi tak ada tanda-tanda datang. Wanita itu memutuskan untuk masuk kafe.


"Baiklah, pertama-tama saya ucapkan assalamu'alaikum wr. wb untuk kalian yang ada di sini."


"Wa'alaikumussalam wr. wb." Semua orang yang ada di sana menjawab kompak.


"Malam ini kita di kumpulkan di sini, untuk memberikan doa kepada pemilik kafe dan minimarket. Semoga Nak Cahaya dan suaminya di beri kemudahan untuk semua urusan yang ada di dunia maupun diakhirat." Pak Kiyai itu mulai berdoa dengan menggunakan bahasa Arab.


Senja yang mendengar kata suami dia berpikir keras. Apa maksud pak kiyai itu. Apa sahabatnya sudah menikah. Lalu kapan, kenapa dia tidak diundang. Dada pria itu sangat sesak, apa Cahaya tidak menganggap dia sebagai sahabatnya.


Sampai acara berdoa selesai, suaminya tidak datang. Harapan Cahaya sudah hancur. Wanita itu, tidak bisa merasakan doa bersama suaminya. Cahaya berjalan kearah sahabatnya untuk menghibur diri.


"Dimakan dong, Wil jangan cuma di pandang tidak akan kenyang jika kamu hanya memandang saja." Cahaya duduk di samping Williams.


"Iya, Bu Langit!" Williams langsung memasukkan makanan ke mulutnya.


"Mbak emang si kembar itu siapanya Mbak Aya?" Kenzi bertanya.

__ADS_1


"Dia adik ipar ku Ken, emang kenapa?" Cahaya bertanya kembali.


"Tidak Mbak, cuma nanya doang." Ada yang Kenzi tutupin sepertinya.


"Oh ... ya Le, ibumu kan enak tuh kalau buat bakso. Gini Le, gimana ya jelasinnya." Cahaya menggaruk kepalanya.


"Apaan sih lu bicara yang benar." Alexa bicara sambil makan kerupuk kulit.


"Gini Le, gua berinisiatif untuk ngajak bisnis gitu. Ibumu yang bikin bakso gua yang jualin." Cahaya tidak bisa me-sia-siakan peluang bisnis bakso. Wanita itu sangat jeli melihat peluang bisnis yang akan buat kafe rame.


"Maksudnya? Ibu gua bikin bakso, modal sendiri—lu yang jualin gitu, nanti bagi hasil?" Alexa bertanya.


"Nah, itu maksud gua." Cahaya mengangguk.


"55% ibu gua lu yang 45% setuju? Lu cuma jualin dapat 45℅." Alexa langsung to the poin.


Cahaya berpikir sejenak penawaran yang bagus. Dia dapat 45% lumayan lah buat nambah pemasukan.


"Oke deal!" Cahaya menjabat tangan Alexa.


"Teran saksi sepihak," celetuk Rai.


"Maksudnya?" tanya Alexa.


"Ibu lu belum bilang iya, lu udah main iya-iya." Rai bicara sambil meneguk jus.


"Tenang Ay, jangan khawatir ibu pasti mau, apalagi kalau sama lu, gua aja yang anaknya di geser." Alexa terkekeh.


"Wah lu Ay, gesit amat melihat peluang bisnis yang memungkinkan." Williams bersuara.


"Pakai jurus BODOL Berani Optimistis Duit Orang Lain." Cahaya berseru, sambil menepuk pundak Williams.


"Lu kagak cuma jurus BODOL Ay, lu juga pakai jurus BOTOL Berani, Optimis, Tenaga, Orang, Lain. Wah lu, dua jurus sekaligus." Rai berbicara.


"Ya gitulah Rai, si Aya!" ujar Williams.


"Tunggu ya, gua mau samperin sahabat gua dulu." Cahaya berdiri dari duduknya.


"Permisi boleh ikut gabungkan Can?" tanya Cahaya.


"Tentu Akak! Tapi mana om Dosen kok enggak ada?" Gadis berwajah bulat itu, tidak menemukan om Dosennya.


"Om, lagi kerja sayang." Cahaya menjawab, sambil duduk di samping Senja.


"Sen gua mau bicara sama lu," ujar Cahaya.


"Gua juga mau tanya sama lu." Senja melirik kearah Cahaya.


Agam Ariaja dan istrinya saling tatap karena keduanya.


"Lu mau bicara apa?" Senja bertanya.


"Ah, iya masalah bisnis lu mau enggak bisnis sama gua?" Cahaya bertanya.


"Wah, Nak Senja punya bisnis apa?" tanya istrinya Agam Ariaja.


"Dia punya delapan anak cabang penjualan martabak Mi!" Cahaya yang menjawab.


Senja mengerutkan dahi, kenapa sahabatnya memanggil orang yang ada di depannya dengan sebutan mami.


"Wah, hebat Kakaknya. Kapan-kapan aku dikasih ya?" Cantik tidak takut dengan siapapun semua orang dia anggap seperti saudara.


"Iya nanti, Kakak titipin ke." Senja menunjuk kearah Cahaya.


"HORE!" Gadis itu membuat semua ketua gengs menatapnya.


"Maksudnya gimana?" Senja bertanya.


Eyang melihat gerak-gerik Senja dan Cahaya sangat dekat. Merasa jika Cahaya wanita gampangan.


"Mau enggak lu buatin adonan martabak. Nanti aku jualin gitu." Cahaya berucap.


"Maksudnya, gua yang buat lu yang jual, atau lu mau diajarin buatnya?" Senja bertanya kepada sahabatnya.


"Lu yang buat gua yang jual, tapi lu juga harus ngajarin cara bakar tuh martabaknya gimana?" Cahaya sangat antusias jika bahas bisnis.


"Modal dari siapa?" Senja bertanya.


Cahaya tersenyum sambil menunjuk kearah Senja.


"Dasar licik." Senja mencibir.


Pemuda itu menaiki tangga dengan terburu-buru. Saat ada di depan pintu dia melihat istrinya tersenyum bersama pria lain. Pemuda itu berjalan menghampiri istrinya.


"Om Dosen!" Cantik berseru saat melihat om Dosennya.


Cahaya langsung membalikkan badannya, saat gadis berwajah bulat itu berseru.


"Mas!" Wanita berambut sebahu itu tersenyum.


Langit menatap pria yang duduk di samping istrinya. Matanya tak percaya jika itu adalah.

__ADS_1


__ADS_2