Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Definisi Romantis


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang. Cahaya terbangun dari tidurnya. Wanita itu membalikkan badannya, agar bisa melihat suaminya. Wanita itu beranggapan jika suaminya itu masih terlelap. Padahal pemuda itu sudah terbangun sebelum dirinya bangun. Cahaya turun dari tempat tidurnya, dan berjalan kearah kamar mandi. Saat Cahaya pergi ke kamar mandi, pemuda itu membuka mata. Langit segera menutup matanya kembali tatkala pintu kamar mandi terbuka, dia tahu istrinya akan membangunkannya. Pemuda itu belum mendengar istrinya memanggilnya 'mas' setelah perdebatan siang itu.


Benar saja, wanita itu berjalan ke sisi ranjang suaminya. Cahaya terdiam sejenak, sepertinya wanita itu sedang berpikir. Cahaya mengambil jam weker di atas laci, yang ada di samping suaminya. Dia mulai memutar jam itu, kemudian kembali meletakkan ke atas laci.


Satu detik kemudian jam itu berbunyi sangat nyaring ditelinga Langit.


Kring... kring!!!


Sepertinya pemuda itu menunggu istrinya membangunkan dirinya. Tapi mengapa yang membangunkan dirinya bukan suara lembut istrinya, tapi malah jam weker.


Cahaya meninggalkan suaminya, dia memilih untuk memakai mukena dahulu. Sedangkan pemuda itu berdecak sebal, karena ulah istrinya itu.


Sial. umpat pemuda itu.


Baru kali itu saja, Langit dibuat frustrasi karena didiamkan orang. Mana pernah dia, rela pura-pura tertidur agar dibangunkan istrinya, dan tentunya memanggil namanya.


Langit berjalan kearah kamar mandi, sambil melirik kearah istrinya yang sudah memakai mukena dan duduk di atas tempat tidur. Yang dilirik tidak tahu.


Mereka sudah melaksanakan sholat subuh, pagi itu Cahaya mencium tangan suaminya itu. Saat Cahaya ingin berdiri, suaminya menyuruhnya duduk kembali.


"Kenapa masih diam? Jangan seperti anak kecil, umurmu sudah dewasa. Bahkan Alula saja sudah punya anak? Kalian hanya terpaut satu tahun, tapi lihat Alula dia menjadi ibu dan istri yang baik." Cahaya hanya mengangguk. Tidak ingin membantah suaminya.


Langit semakin kesal dibuatnya, karena istrinya tidak mengeluarkan suara.


"Apa mulutmu ada masalah, kenapa tak menjawab?" tanya Langit, yang sudah menaikkan suaranya.


"Iy-iya suamiku!" jawab Cahaya, dengan suara terbata-bata.


"Nanti malam kita akan ke rumah papi!" ucap Langit, memberi tahu istrinya.


"Iya."


Cahaya memutuskan untuk ke dapur, sepertinya dapur masih gelap, dia menyalakan lampu dapur. Kemudian dia mulai memasak, apa yang dia bisa dan apa yang ada.

__ADS_1


Sambil memasak Cahaya berbicara sendiri. "Lihat masnya begitu, aku jadi berpikir. Cara efektif membuat pendiam berbicara adalah didiamkan balik." Cahaya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh, semua masakan sudah ada di atas meja makan. Mbok Ijah datang saat masakan sudah selesai. Cahaya naik ke atas untuk mandi terlebih dahulu. Dia melihat suaminya sedang mengancing kan kancing kemeja.


Langit sengaja memakai kemeja warna hitam, dia tahu jika istrinya itu bosan kalau dia memakai kemeja warna hitam. Dia berharap Cahaya menegurnya, karena dia memakai kemeja warna hitam. Tapi naas wanita itu tidak menegurnya.


"Apa kau bisa membantu melipatkan lengan kemejaku?" tanya Langit, yang bisa melihat istrinya dari lemari kaca.


Cahaya berjalan kearah suaminya, tanpa kata, wanita itu langsung membantu suaminya melipat lengan suaminya.


"Aku akan keluar, bersama Black dan Cantik!" ucap Cahaya disela-sela melipat lengan suaminya.


"Terserah!" jawabnya.


Cahaya berjalan kearah kamar mandi dan hampir dua puluh menit wanita itu pun keluar.


"Tunggu," ucap Langit, mencekal tangan istrinya saat mau keluar kamar. Cahaya membalikkan tubuhnya. Langit masih setia memegang tangan kiri istrinya, dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masuk ke saku celananya. Pemuda itu mulai memasangkan gelang, di pergelangan tangan istrinya. Cahaya tak percaya, jika suaminya itu memberikan gelang emas dan memakaikannya langsung kepadanya. Gelang itu sederhana tidak neko-neko, hanya ada inisial L di gelang itu, tapi orang tidak akan tahu jika gelang itu ada inisialnya karena tulisan itu tidak timbul.


"Makasih," ucap Cahaya pelan. Langit hanya mengangguk.


Cahaya keluar dari kamarnya, dengan wajah yang berseri-seri. Senyuman itu selalu setia menemani dia saat melewati tangga sampai meja makan. Di sana sudah pada kumpul semua, Cahaya menyapa mereka kemudian duduk. Langit baru saja datang dia duduk di samping istrinya.


"Jarang-jarang kita makan nasi goreng di pagi hari," ucap Archer.


"Apa kau tak suka? Maaf tadi aku yang memasaknya Cher!" jawab Cahaya.


"Tidak, aku tidak bilang begitu, aku sangat suka." Archer menjawab, sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Kata mbok, ini semua kamu yang masak Nduk?" tanya Abidah Aminah, yang ada di seberang Cahaya.


"Iya, Bu!" jawab Cahaya tersenyum.


"Enak sekali sarapan pagi ini, pagi-pagi sudah makan sayur, mungkin menu pagi kita selanjutnya harus seperti ini," ucap kakek Raharja.

__ADS_1


"Baru kali ini kita makan pagi tanpa daging, tapi pagi ini kita makan ikan laut, sambal terasi, lalapan, ini mah mengingat kan masakan almarhum Mak, saat Bapak isih tok desa. (masih di desa)" Suaminya Abidah Aminah teringat dengan ibunya, yang tak lain adalah istri kek Raharja.


"Apa rasanya hampir sama buatan mbah putri, Pak?" tanya Arche, yang tidak pernah merasakan masakan mbah putri. Karena mbah putri meninggal saat si kembar masih usia balita.


"Tentu saja anakku, ini bukan hampir sama lagi. Tapi ini sangat sama, jika tidak percaya tanya saja kepada Mbak kalian, dia pernah makan-makanan buatan mbah putri! Apalagi Kang Mas kalian, pasti lahap kalau makannya kayak buatan mbah putri!"


Langit yang mendengar ucapan ayahnya dia tak menghiraukan, pemuda itu fokus dengan makanannya.


"Benarkah itu Mbak?" tanya Arche.


"Iya, sambal terasi ini mengingatkan sambal buatan mbah putri Ar. Bukan cuma itu, hampir semua masakan pagi ini, seperti makanan buatan mbah putri!" jawab Alula.


Balqis bocah itu sedang mengitari meja makan.


"Kalian tadi sedang romantis-romantisan, atau apa? Kenapa selalu datang terlambat," ucap Hazel menggoda pasangan baru itu.


"Tidak Kak Hazel, tadi aku baru selesai mandi, jadi kita telat kesini!" Cahaya memanggil Hazel 'kak, karena usianya lebih tua dari Cahaya.


"Tidak masalah jika romantis-romnatisan, toh baru nikah. Siapa tahu Balqis punya teman bermain," ucap Hazel terkekeh, melihat wajah Cahaya yang memerah. Sedangkan pemuda di samping Cahaya hanya diam dan menikmati makanan buatan istrinya itu.


"Lang, nanti bisakah kamu ke kantor Bapak, Bapak ingin bicara sesuatu denganmu," ucap suaminya Abidah Aminah. Langit hanya mengangguk.


“Wah ...Cahaya gelangnya sangat bagus,” Alula berseru melihat gelang milik Cahaya.


“Iya, tadi Masnya yang kasih,” jawab Cahaya sambil tersenyum.


“Lihat sayang, Kang Mas saja ngasih istrinya gelang, kamu ngasih apa ke istrimu ini?” tanya Alula kepada Hazel yang ada di sampingnya.


"Iya Zheng, kalian sudah punya anak tapi manggilnya sayang!" ucap Archer yang sebal jika mendengar kata romantis.


"Ndak masalah toh? (enggak masalah kan)" jawab Alula.


“Ngasih adik buat Balqis,” jawab Hazel, yang langsung di sahut Arche.

__ADS_1


“Jangan bahas yang plus-plus dong Kak Hazel, kita masih anak-anak, ya, kan Cher?” tanya Arche kepada adiknya, yang dijawab anggukan kepala.


Pembicaraan pagi itu cukup sampai disitu saja.


__ADS_2