Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Black Disuruh Cari Ibu Baru


__ADS_3

Cahaya yang mau masuk rumah langkahnya terhenti, saat melihat adik iparnya sedang duduk di kursi depan rumah.


"Kenapa belum berangkat?" tanya Cahaya.


Si kembar baru masuk pertama kali setelah libur lebaran.


"Kita nunggu Black jemput." Arche menjawab, sambil melihat jam di tangannya.


"Bukannya Black sudah lulus, apa kalian lupa?" tanya Cahaya lagi.


"Tidak! Si Hitam bilang akan nganterin kita ke sekolah, untuk yang terakhir kali sebelum dia kuliah." Archer menjelaskan kepada kakak iparnya.


"Oh ...baiklah aku ke dalam dulu," ucap Cahaya, yang di jawab anggukan kepala.


"Akh ...kenapa Black lama sekali." Arche berdiri dari duduknya.


Si kembar bisa melihat mobil warna putih yang berhenti di depan pagar.


Tin... tin... tin... suara klakson membuat si kembar berlari kearah gerbang.


"Maaf gua terlambat." Black meminta maaf kepada si kembar.


Si kembar langsung masuk mobil. Archer duduk di samping Black dan kak Arche duduk di belakang.


"Tak masalah Tam, lebih baik kita berangkat sekarang." Archer menjawab sambil memasang seat belt.


Mobil putih itu mulai membelah jalan.


"Enggak nyangka ya kita harus berpisah." Arche memulai pembicaraan.


"Waktu jalan begitu cepat, tidak terasa memang. Tapi aku sangat sedih dengan perpisahan kita." Black mengangguk-anggukkan kepala.


"Hal yang paling konyol adalah saat lu pura-pura jadi pacar gua hahahaha." Archer tertawa ngakak karena sandiwara ketiganya.


"Gua lakuin hal itu, untuk kalian ...gua enggak mau kalau kalian disakiti cowok ...satu pesan gua untuk kalian ...jangan sampai mencintai orang yang sama ...gua enggak bisa ngebayangin kalau kalian bertengkar gara-gara cowok." Black bicara sambil menggelengkan kepala dan bibir tersenyum.


"Kau benar, tapi gua masih enggak percaya kita akan jauh nantinya. Kenapa sih lu kuliah pakai yang jauh segala," protes Arche kepada sahabatnya itu.


"Hitam mau cari ibu baru Kak!" celetuk Archer.


"Parah lu, kalau ngomong enggak di pikir duluan, nyakitin hati orang yang diajak ngobrol enggak." Black menegur Archer.


"Maksudnya Tam, kalau tante Walsall ibu kamu di rumah yang ngasih makan, ya kamu kalau di Jogja cari ibu baru gitu ... yang bisa ngasih makan ...ibu mertua hahahaha." Archer tertawa ngakak karena ucapnya barusan.


"Gua mau cari yang kayak teh Cahaya. " Black tersenyum, membayangkan orang yang ada di dalam pikirannya. Yang tidak jelas bentuk wajahnya. Tapi yang pasti mempunyai sifat seperti teh Cahaya nya itu.


"Wau .. serela lu, tinggi juga Black!" Arche mengangguk.


"Satu frekuensi Tam, gua juga ingin punya pasangan kayak kang mas!" Archer tersenyum, membayangkan lelaki yang ada di pikirannya.


Tapi Archer tidak tahu wajah lelaki itu seperti apa. Yang pasti memiliki sifat seperti kang masnya.


"Ya sudah kalian pacaran saja, kan sama tuh serela kalian." Arche tersenyum menyeringai, sambil menatap kedua orang itu bergantian.


Archer dan Black saling pandang. Sedetik kemudian mereka merinding karena ucapan Arche. Archer memilih menatap luaran mobil. Sedangkan Black bergidik ngeri karena ucapan Arche.


Hampir lima menit, tidak ada pembicaraan di dalam mobil itu.


"Ehm... " Black berdehem untuk menetralisir suaranya.


"Setelah sekolah mau kuliah kemana kalian?" tanya Black, yang sudah tidak canggung dengan Archer.


"Yang dekat sama Jakarta lah Black mungkin di Bandung, ya kan Cher?" tanya Arche kepada adiknya.


Archer hanya mengangguk menyetujui.


"Kenapa nyari yang dekat, mending Jogja saja kita bisa ngumpul," ujar Black, sambil menatap lampu merah yang menyala.

__ADS_1


"Ibu enggak ngebolehin, Jogja mah jauh delapan jam perjalanan ...kalau di Bandung kan cuma dua jam. Kita bisa pulang dua minggu sekali. Kata ibu di usia yang sudah tidak lagi muda, kepengen nya. Anaknya ngumpul gitu, itu kenapa kak Hazel tinggal di rumah karena... ibu yang menyuruh, sebenarnya kak Hazel juga sudah ada rumah, tapi di kontrakin, gara-gara ibu menyuruh mereka, tinggal di rumah." Arche bicara panjang lebar.


"Baiklah, gua pikir kita akan bertemu lagi di kampus yang sama." Black sangat berat jika meninggalkan sahabatnya itu.


Mobil putih itu berhenti di depan pagar sekolah. Si kembar sudah keluar dari mobil. Black berdiri di samping Archer.


"Mengonngon ureng yang bisa mat amanah ngon bisa di mat janji. (Bergaul lah bersama orang yang jujur dan menepati janji)" Black bicara, sambil menepuk pundak si kembar.


"Seuleusoe(siap)" jawabnya si kembar dengan bahasa Aceh.


"Baiklah gua cabut daaaa." Black melambaikan tangannya, kemudian menjalankan mobil putih itu, dan meninggalkan sekolah itu.


Si kembar masuk ruangan kelas, dengan tidak semangat. Karena tiga hari lagi, Black akan ke Jogja.


Si kembar duduk di barisan paling depan. Kabar burung hari itu katanya akan ada murid baru.


"Gila bet ...murid barunya gaul banget. " Siswa perempuan itu berseru.


Si kembar sedang memikirkan Black tidak menghiraukan ucapan Caimun.


"Bentar lagi bel masuk, pasti bu Maria segera masuk. Teman-teman kita berdoa sebelum bu Maria, datang." Ketua kelas itu memberi tahu teman-teman nya.


Mereka telah selesai berdoa. Bu Maria juga sudah ada di dalam kelas.


"Assalamu'alaikum wr. wb!" Bu Maria mengucapkan salam untuk siswa nya.


"Wa'alaikumussalam wr. wb." Seluruh siswa menjawab.


"Baiklah murid-murid selamat pagi! Seperti yang kalian ketahui. Kita kedatangan murid baru yang baru pindah dari SMA sebelah. Kenzi silahkan masuk." Bu Maria menyuruh siswa nya masuk.


Seluruh siswa melihat pintu masuk itu. Pemuda dengan gaya urakan rambut acak-acakan. Kalung rantai di lehernya, ditangan ada gelang karet. Baju keluar dari celana, tasnya tidak di pakai dengan benar. Jika di nilai penampilan pemuda itu mendapatkan nilai C.


"Kenalkan nama mu, dan setelah itu kau boleh duduk." Bu Maria memberi perintah.


"Kenalin gua Kenzi Ali, gua pindah ke sini gara-gara rumah gua juga pindah. Gara-gara ibu tiri gua lebih tepatnya." Kenzi bicara dengan suara lantang, tapi saat akhir ucapan, dia mengecilkan suaranya. Menurut Kenzi itu adalah aib keluarga.


"Baiklah Kenzi, boleh duduk." Bu Maria tersenyum.


"Lumayan, Cher!" Kak Arche berbisik menatap Kenzi. Sedangkan Archer hanya mengangkat bahu acuh.


Bu Maria menjelaskan di depan kelas. Archer yang fokus mencatat pelajaran, tangannya berhenti menulis. Saat ada yang melemparkan kertas kearah kepalanya.


"His ...siapa sih?" Archer menggerutu, kemudian meremas kertas itu dan menyimpan ke laci meja.


Archer mulai menulis lagi, namun lagi-lagi ada yang melempar kertas ke kepalanya.


"His ...entah siapa yang melemparkan kertas ini." Archer menatap ke seluruh ruangan. Melihat wajah-wajah yang sepertinya suka jail.


"Kenapa Cher?"


"Lupakan Kak!" Archer kembali menulis, namun matanya melirik kearah samping. Siapa tahu akan ada yang menimpuk kepalanya lagi.


Pemuda itu, menyobek bukunya bagian tengah-tengah. Kemudian melemparnya kearah Archer. Archer sudah siap untuk menerima lemparan kertas itu.


Pluk... kepala Archer terkena lemparan kertas itu. Dan Archer tahu siapa yang melemparkan kertas kearahnya.


"Kau... " Archer menunjuk pemuda itu.


"Apa?" jawaban Kenzi nyolot.


Archer melemparkan kertas itu kearah Kenzi.


"Archer, Kenzi keluar dari kelas saya. Hormat kepada bendera di lapangan." Bu Maria kalau sudah marah enggak ada bedanya dengan banteng kalau ngamuk.


Archer langsung berdiri dari duduknya, kemudian keluar dari kelas di ikuti Kenzi.


"Kenapa mereka bisa di hukum bersamaan, selama dua tahun ini kita tidak pernah buat masalah." Arche menatap adiknya yang keluar kelas.

__ADS_1


"Laki-laki si*lan ...kenapa aku harus kena hukuman karena dia." Archer ingin menangis, karena dia melakukan kesalahan. Jika bapak tahu anaknya di hukum, pasti akan sedih. Karena anaknya bukan anak yang baik.


Archer sudah berdiri di lapangan, sambil hormat kearah tiang bendera. Kenzi pun demikian melakukan hal sama seperti yang Archer lakukan.


"Andai saja ada si Hitam!" Archer bicara pelan. Tapi Kenzi yang berdiri di sampingnya masih bisa mendengar.


"Semua ini gara-gara si tepung kanji urakan, gua jadi di hukum."


"Siapa yang lu maksud tepung kanji?" Kenzi yang merasa tersindir bertanya.


"Gua enggak bicara sama lu." Archer menjawab dengan ketus.


"Gua pikir lu manggil gua tepung kanji." Kenzi meletakkan tangan kirinya di atas kepala Archer agar gadis yang ada di sampingnya tidak kepanasan.


"Emang lu siapa, gua kagak kenal." Archer bicara, tapi tidak melihat orang yang ada di sampingnya itu.


Kenzi tersenyum tipis karena ucapan Archer.


"Lu mau kenalan sama gua?" tanya Kenzi, tersenyum menyeringai.


"Ogah, enggak sudi!" Archer merasa jika Kenzi ingin membuat dia sebal.


"Siapa nama lu?" tanya Kenzi, namun Archer tidak menjawab.


"Oh ...gua ingat lu Archer tadi bu Maria nyebut nama lu Archer!" Kenzi tersenyum puas, karena ingat nama gadis yang berdiri di sampingnya.


"Sok tahu." Archer tersenyum, sepertinya akan ada yang Archer lakukan.


"Gila itu cewek cantik banget." Archer berseru. Kenzi melihat kearah yang Archer lihat. Tapi Kenzi tidak melihat siapa-siapa. Sebelum Kenzi melihat kearahnya. Archer dengan cepat menendang lutut Kenzi dari belakang. Membuat Kenzi terjatuh dengan posisi bersimpuh.


"Lu!" Kenzi menunjuk Archer dengan telunjuk nya.


"Apa? Lu mau marah sama gua, silakan gua enggak perduli. Karena gua enggak kenal sama lu. Jujur saja gua kesal sama lu. Karena lu, gua jadi di hukum. Kalau bapak gua tahu, dia sangat kecewa sama gua. Gua berpikir jika gua enggak akan dihukum. Di akhir gua jadi seorang pelajar di SMA. Semua ini gara-gara lu, lu laki-laki B*ji*gan. Aapa ibu lu enggak pernah ngedidik lu." Archer bicara, dengan nada emosi wajah memerah.


Kenzi terdiam, semua itu salah dia. Kenapa dia mengganggu Archer gadis baik yang tidak pernah keluar-masuk ruang BK. Gadis yang selalu dapat juara satu atau dua. Gadis yang selalu memperhatikan guru.


"Gua enggak sengaja," kilah Kenzi sambil berdiri.


"Ibu gua udah meninggal, papa gua nikah lagi." Kenzi tidak sadar curhat dengan Archer.


"Sa bodo gua." Archer menjawab tidak berperasaan.


"Apa lu enggak punya perasaan, ini anak piatu curhat loh." Kenzi bicara lagi.


"Tanyakan kediri lu dulu. Baru tanya ke orang. Mungkin lu juga, pernah enggak punya perasaan sama orang lain, Jadi jika ada orang yang tidak berperasaan ke lu, itu wajar." Archer meninggalkan Kenzi.


Untung saja bel istirahat sudah berbunyi. Archer mencari kakaknya yang ada di kantin.


"Kang, aku bakso." Archer memesan bakso, kemudian duduk di samping kakaknya.


"Kenapa tadi kau di hukum dengan murid baru?" tanya Arche, sambil makan kerupuk.


"Dia dulu Kak, yang bikin masalah, dia melemparkan kertas kearah ku. Setelah aku perhatikan siapa yang melemparkan kertas itu ...ternyata lelaki itu." jawab Archer, sambil membuka stoples kerupuk.


"Makasih Kang!" ucap Archer tersenyum.


Saat Archer mau memasukkan bakso itu ke mulutnya. Ada cowok yang bertanya kepada mereka.


"Boleh gua duduk sini, soalnya sudah penuh tempat duduknya." Tenyata cowok itu si Kenzi .


"Tentu!" Arche menjawab sambil tersenyum.


"Kang, bakso saya ini bisa dibungkus, saya mau makan di dalam kelas, enggak napsu kalau di sini." Archer berbicara kepada kang bakso.


"Oke ...bentar ya Neng!" Kang bakso itu menjawab.


"Cher kenapa?" tanya Arche, yang melihat adiknya tidak biasanya makan di bungkus.

__ADS_1


"Males... " jawabnya Archer, sambil membawa mangkuk bakso kearah pedagang.


Kenzi tahu, pasti Archer menghindarinya. Sepertinya Archer tidak suka dengan si tepung kanji itu.


__ADS_2