
Kini ku berbaring di tempat tidur yang mewah. Bulan 30 Maret 2001. Ah ... tidak! Aku hanya bercanda, aku tidur di ranjang rumah sakit maksudnya. Meskipun begitu aku bisa menulis. Keluarga sudah tahu tentang penyakit ku ini, mami, papi serta adikku sangat terpukul dengan cobaan ini. Tapi Tuhan itu sangat adil, saat Tuhan ingin mengambil sesuatu. Tak lupa Tuhan menyiapkan gantinya. Iya! Tepatnya setengah bulan lalu, malaikat kecil itu datang untuk keluarga kami. Dia sangat imut, namanya hampir sama seperti ku. Cantik Cut Wallsal Mentari! Nama yang indah bukan? Aku sangat mencintai adik kecil ku itu. Tapi ... aku sangat sedih karena aku tidak bisa bersamanya hingga dia bisa mengenal, Tetehnya ini. Aku putuskan hari ini untuk membuat video untuk adik ku Cantik! Aku ingin memberikan kenangan untuk adikku ini.
Cahaya yang membaca dia berkaca-kaca, ada rasa kasian.
"Benar, apa kata mami waktu itu, aku harus bersyukur karena Allah memberikan kesempatan untukku, yang bisa bertemu dengan nenek," ujar Cahaya menghela napas.
"Lalu, hubungan mbak Mentari dengan pria itu bagaimana?" Cahaya bertanya kepada dirinya sendiri.
Cahaya menghela napas dalam, sebelum melanjutkan ceritanya.
Akhirnya ...pagi tadi aku sudah buat video untuk Cantik. Aku bilang kepada Cantik agar menjadi anak yang baik.
"Hai... Cantik! Kamu adalah adik kecilku... Teteh harap Cantik bisa jadi anak yang baik, berbakti dan kenali Tuhan dan Rasulullah. Karena jika mengenal Tuhan dan Rasul mu, pasti kamu akan menjadi seorang wanita yang baik." Aku berbicara seperti ini saat Black mem video ku. Rasanya sesak sekali dada ini, tapi inilah hidup ada pahit ada manis. Jalanin saja apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Enggak ada gunanya juga mengeluh. Ya, kalau mengadu ke Tuhan itu jauh lebih bagus.
"Teteh yakin, Cantik pasti jadi anak baik. Satu lagi pesan Teteh, untuk Cantik sayang! Ini muka Teteh!" ujar ku sambil membuka cadar ku.
"Kamu harus ingat wajah Teteh mu ini, jika Tuhan mengizinkan, kamu bisa bermimpi tentang aku. Meskipun kita tidak bisa bertemu secara langsung. Jika Cantik melihat, mengamati wajah ini, tidak ada yang mustahil. Untuk Cantik, bermimpi tentang Teteh. Maaf sayang, kita tidak bisa bertemu. Jika Cantik ingin berkomunikasi dengan Teteh, cukup kamu berdoa dan doa itu InsyaAllah akan sampai kepada Teteh, jika Cantik, berdoa dengan sungguh. Dan yakin pastinya. Karena kunci dari keinginan tercapai ada yakin jika Tuhan akan mengabulkan permintaanmu." Seperti itu yang aku ucapkan pagi ini. Tanpa sadar aku menulis ini dengan air mata yang membasahi pipiku ini.
"Daa Cantik, Teteh mencintaimu. Jadilah anak yang baik, aku harap nanti saat kita bertemu kembali. Kita bisa satu surga bersama, atau kamu yang bisa menolongku saat Malaikat Zabaniyah mau menyiksaku! Kau tahu tidak apa tugas Malaikat Zabaniyah?" tanya ku, layaknya aku ini sedang bicara dengan Cantik langsung.
"Ah ... aku tahu ...kamu tidak tahukan? Baiklah akan Teteh kasih tahu. Malaikat Zabaniyah ini tugasnya kalau enggak salah penyiksa orang-orang yang berdosa. Makanya Cantik, harus jadi anak baik biar bisa nolong Teteh oke. Daa Cantik, assalamualaikum!" Itu adalah salam pertama dan terakhir buat adik yang tersayang. Saat dia lahir, aku adalah orang yang paling tak sabar melihat wajah imut Cantik.
Tapi aku sedih karena aku belum menyelesaikan masalahku di dunia ini. Pertama hubungan ku dengan Ajil, aku belum sempat bertemu dengan dia. Yang kedua dengan si kulit gelap, aku tidak bisa menghubungi dia karena ponselku hilang. Aku lupa nomornya, entah dalam akhir hayat ku ini meninggal dalam keadaan baik atau buruk. Tapi aku kan tidak pacaran? Aku maunya meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Tapi, melihat semua ini aku tidak yakin. Mati dalam keadaan baik. Tapi aku percaya Tuhan itu mencintai aku, nanti Tuhan akan memaafkan aku. Amin.
^^^TTD^^^
^^^Mentari.^^^
Lembaran itu rusak seperti terkena tetesan air. Mungkin saja ...itu karena air mata Mentari yang menetes. Cahaya terisak panjang, saat membaca itu.
"Hikssss!"
Langit yang baru kembali dari balkon, pemuda itu mengerutkan dahi. Kenapa pujaan hatinya itu menangis.
"Aneh sekali, kenapa dia menangis? Seperti itu! Apa dia sudah kedatangan tamu bulanan, baru juga ditinggal setengah jam sendiri. Ayo, Lang kau harus siap menghadapi istri gingsul mu yang labil." Pemuda itu bicara pelan, takut sang istri dengar.
Pemuda itu berjalan mendekati istrinya. Langit sudah berdiri di samping istrinya itu.
"Kenapa?" tanyanya lembut, takut istrinya ngambek. Kan enggak lucu, jika hal itu benar-benar terjadi.
Cahaya yang mendengar suara yang sudah tak asing di telinganya dia mendongak untuk melihat pemilik suara itu. Satu detik kemudian, wanita berambut sebahu itu. Menarik selimut, untuk menutupi wajahnya. Sedangkan Langit, semakin tidak mengerti karena ulah sang istri.
"Kenapa? Jangan main petak umpet," ujarnya sambil menarik paksa selimut yang Cahaya gunakan untuk menutupi wajahnya.
Wanita berambut sebahu itu sangat malu, karena sang suami melihat dia yang menangis.
"Pergilah, sudah mau dzuhur." Cahaya bicara dari dalam selimut.
"Jangan nangis, nanti kepalanya tambah sakit," ujarnya, sambil mengelus kepala sang istri, yang tertutup selimut.
Cahaya hanya mengangguk setuju, dia benar-benar malu sepertinya.
__ADS_1
"Dzuhur kan?" Langit bertanya memastikan. Apa istrinya sudah kedatangan tamu yang tak perlu undangan itu.
"'He'em!" Cahaya mengangguk pelan.
Langit meninggalkan istrinya, sambil membatin.
Mungkin mendekati tanggalnya, jadi dia sudah mulai labil. Tapi ini sudah melebihi tanggal, hampir dua mingguan sepertinya. Batin Langit sambil menggaruk kepalanya.
Sepertinya pemuda itu, sangat tahu tanggal istrinya saat sedang menstruasi. Suami idaman banget!
Pemuda itu masuk ke kamar mandi, saat itu Cahaya mulai membuka selimut yang ia gunakan menutupi wajahnya.
Wanita itu, melirik kearah pintu kamar mandi yang tertutup. Cahaya menghela napas lega.
"Ganggu saja, aku kan sedang baper, sama cerita mbak Mentari!" Cahaya menatap pintu kamar mandi datar.
"Kenapa dia datang secara tiba-tiba, aku jadi malu. Karena menangis tiba-tiba!" ujarnya pelan, wanita cemberut saat bicara.
"Sudahlah, aku akan baca ceritanya lagi, keburu adzan dzuhur! Dan Masnya juga pasti akan cepat selesai, karena cuma wudhu." Cahaya segera membuka buku harian itu lagi.
Hampir satu minggu aku dirawat, tubuhku semakin hari semakin lemah. Tapi aku tetep kekeh untuk menulis kisah ku ini. Ajil katanya akan datang dua minggu lagi. Semua itu karena kerjaannya, yang membuat dia sibuk. Do'a nya semoga sebelum aku pulang, aku bisa bertemu sahabatku. Tadi malam kak Bumi kemari, untuk menengok ku. Aku tidak tahu, kenapa matanya berkaca-kaca saat melihat aku yang berbaring di ruang inap. Hal ini mampu membuat aku, mengingat pertama kali aku suka padanya.
"Cepat sembuh ya Dik!" ujar kak Bumi malam tadi.
"Ya itu pasti, Kak! Bahkan aku akan sembuh untuk selamanya," jawabku terkekeh.
Aku sangat ingat kak Bumi tersenyum simpul kearah ku.
"Belum, aku tidak memberitahukan hal ini kepadanya. Aku tidak mau dia terlalu banyak pikiran," jawabku malam tadi, sambil memejamkan mata.
Aku mengingat kejadian saat di kafe, saat Ajil bilang mencintaiku. Oh... sahabat, kenapa bisa terjadi, harusnya ini tidak terjadi sahabat. Ajil aku do'a kan kau mendapatkan kekasih yang baik, yang bisa membuatmu tertawa dan bahagia.
"Aku pamit dulu," ujar kak Bumi melengos, entah kenapa kak Bumi bersikap aneh. Aku tidak tahu, tapi kenapa aku merasa ada yang disembunyikan kak Bumi. Sudah cukup sekian nulisnya, aku tak kuat. Semoga hari esok aku bisa menulis kembali.
TTD
Mentari.
Cahaya ingin membalikkan kertas itu, namun ia segera menutupnya kembali saat, pintu kamar mandi terbuka. Ternyata suaminya sudah selesai, lihat saja! Wajahnya sudah basah karena air wudhu.
"Ayo sholat, bisa berdiri enggak?" tanya Langit, sambil merapikan rambutnya kemudian memakai peci hitam.
"Bisa!" Cahaya menjawab sambil mencoba berdiri dari ranjang. Wanita itu harus berpegangan tembok saat mau ke kamar mandi. Maklum kepalanya sangat sakit.
"Hati-hati, enggak usah terburu-buru. Takutnya kamu jatuh!" anjur pemuda itu kepada istrinya.
"Ya, suamiku, kamu sangat perhatian," goda Cahaya, sambil mengedipkan kedua matanya. Ya! Maklum Cahaya tidak bisa mengedipkan satu matanya saja. Jadi dia kedip kan dua-duanya.
Langit menggeleng sambil tersenyum simpul karena ulah istrinya itu.
"Cepatlah, jangan bercanda, aku akan menyiapkan sajadah untukmu!" Langit bicara dengan lembut.
__ADS_1
"Aku—" ujar Cahaya yang tak diselesaikan karena adzan dzuhur berkumandang.
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar.
Cahaya tahu jika saat adzan tidak boleh bicara. Keagungan azan sebagai panggilan Allah maka diserukan kepada setiap hambaNya agar tidak berbicara saat adzan sedang dikumandangkan. Bahkan bagi siapa yang berbicara saat adzan Allah akan melaknatnya pada saat sakaratul maut yaitu dengan dikelukan lidahnya.
Langit tersenyum menggeleng karena istrinya tidak bicara lagi. Setelah lima menit, pasangan itu sudah bersiap melaksanakan dzuhur bersama. Sholat berjalan dengan sangat baik. Wanita tidak akan lupa mencium tangan suaminya itu.
"Aku akan kebawah, mengambil makanan untuk kita," ujar Langit sambil melipat sajadah nya.
Cahaya mengangguk menyetujui, kepalanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
"Setelah itu minum obat," tukasnya lagi, sambil berjalan menjauh dari istrinya.
Cahaya berdecak, karena dia tidak suka obat.
"Nanti kalau kamu tak minum obat, ada dokter yang akan memaksamu," pungkasnya kembali.
Cahaya mendelik saat mendengar perkataan Langit.Cahaya berfikir kenapa harus panggil dokter segala.Bukannya sakitnya tidak parah.
" Jangan membuang uang," serunya, ah tidak wanita itu takut dokter sepertinya.
"Enggak, dokternya gratis, malah dia sendiri yang menawarkan diri," terang Langit kepada istrinya.
"Apa dia dokter tidak laku? Kenapa mau meriksa tanpa dibayar! Aneh!" Cahaya mendengus sebal, memikirkan dokter yang akan memeriksanya.
Langit hanya terkekeh karena istrinya.
"Aku yakin kau tidak bisa menolak, saat dia menyuruhmu minum obat."
Cahaya sangat jengah dengan dokter yang dibicarakan suaminya itu.
"Apa dia dokter yang suka memaksa?" tanya Cahaya, tidak percaya jika ada dokter yang tidak memiliki sopan.
"Kurasa tidak, dia akan memberi nasehat kepadamu seperti ini. Akak! Kenapa Akak tak mau minum obat? Aku saja waktu sakit, selalu minum obat tepat waktu," tutur pemuda itu, sambil menirukan nada bicara gadis berwajah bulat.
Sedangkan Cahaya masih, bingung. Sedetik kemudian wanita berambut sebahu itu, tahu siapa yang dimaksud sang suami.
"Ponsel mana, ponsel. Aku akan bilang jika kita tidak di rumah," Cahaya panik sambil mencari ponselnya.
Tin... Tin Suara klakson itu terdengar dari kamar pasangan itu. Langit tersenyum sebelum berucap. "Aku rasa, itu akan sia-sia. Itu sepertinya Black!"
Cahaya sudah tidak bisa mengelak lagi, kalau dokter kecil itu akan memaksanya untuk minum obat.
"Keluarlah," ujar Cahaya tegas kepada suaminya itu.
Saat Langit keluar. Cahaya mulai membuang napas pelan. Wanita itu mulai menghibur diri, dengan membaca buku harian milik Mentari.
Namun saat dia ingin membaca, ada sebuah kertas seperti kertas foto. Terjatuh ke lantai, dengan posisi tengkurap.
Cahaya yang melihat hal itu dia mulai mengambilnya, dan mulai membalikkan kertas foto tiga kali tiga itu.
__ADS_1