Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Anugrah Untuk Siapa


__ADS_3

Karena masih jam empat sore Cahaya memutuskan menunggu suaminya yang mandi. Mereka akan sholat ashar berjamaah. Di sela-sela menunggu suaminya. Wanita itu berbicara kepada Cantik.


"Can sholat ya? Akak pinjamkan mukena nya kak Arche?" tanya Cahaya.


"Tidak usah Akak, aku akan pinjam sendiri." Gadis berwajah bulat itu, berlari kearah pintu keluar. Cahaya tersenyum melihat hal itu. Pintu kamar mandi terbuka. Langit berjalan kearah lemari mengambil baju. Gadis berwajah bulat itu, sudah ada di kamar pasangan baru itu lagi. Cahaya membantu gadis berwajah bulat itu, memakai mukena.


"Sudah siap?" tanya pemuda itu, sambil menengok ke belakang. C Two mengangguk kompak. Sholat itu telah selesai. Gadis berwajah bulat itu mencium tangan Langit dan dilanjut dengan mencium tangan Cahaya. Cahaya mencium tangan suaminya. Namun saat Cahaya mau menyudahi adegan itu.


Cantik berucap. "Om Dosen cium kening Akak dong. Biasanya papi kalau habis sholat cium kening mami." Gadis itu berseru ingin melihat adegan yang biasanya ia lihat setelah sholat bersama orang tuanya.


Sedangkan kedua pasangan itu sangat terkejut dengan ucapan Cantik.


"Eh, eh Cantik masih puasa enggak boleh sayang!" Cahaya memilih jawaban yang aman.


"Oh... " Cantik mengangguk.


"Tapi Om mau enggak ajak aku jalan-jalan?" tanya Cantik, dengan wajah berseri.


"Nanti malam gimana?" tanya Langit, dia masih lelah baru juga pulang.


"Tidak mau, nanti malam juga sekarang juga."


"Tapi Om baru pulang Can!" celetuk Cahaya.


Gadis berwajah bulat itu wajahnya muram. Pemuda itu jadi kasian demi melihat wajah Cantik ceria. Akhirnya pemuda itu menyetujui.


"Baiklah."


Cahaya sangat terkejut, sekarang suaminya itu sudah ada perubahan.


"Hore." Gadis berwajah bulat itu, jingkrak-jingkrak karena jawaban om Dosennya. Eh.. kan sudah enggak jadi dosen. Kenapa gadis berwajah bulat itu masih manggil om Dosen.


Cantik sudah menggandeng tangan om Dosen dan ingin keluar kamar. Sedangkan Cahaya duduk di kasur.


"Kenapa masih diam?" tanya Langit, sambil mengerutkan dahi.


"Maksudnya?"


"Kau pikir aku akan pergi berdua saja, kau juga ikutlah dengan kita."


"Ayo Akak!" Cantik menarik tangan Cahaya.


Sore itu ke-tiga orang itu sudah ada di bawah.


"Mau kemana kalian?" tanya Arche, yang duduk di teras.


"Ngabuburit, mau ikut?" tanya Cahaya.


"Tidak, males."


Mereka sudah ada di mobil. Cantik sangat bahagia karena keinginannya diturunin om Dosen-nya. Cahaya juga sangat menikmati hal itu. Langit mulai memarkirkan mobil itu.


Langit berucap. "Kita jalan sebentar cari takjil."


Cahaya pikir jika suaminya hanya mengajak mereka keliling komplek. Tapi itu salah, sifat Langit yang tidak mudah ditebak membuat orang yang dekat dengan dia selalu mendapat kejutan yang tak pernah dipikirkan.


Ketiga orang itu keluar dari mobil. Dan berjalan bergandengan dengan Cantik yang ada di tengah.


"Akak kita cari es kepala ya? Eh maksudnya kelapa!" tanya Cantik.


Kalau bulan puasa banyak orang jualan berjejer dipinggir jalan sangat ramai.


"Okey."


Mereka bertiga harus sabar menunggu karena yang beli banyak.


"Makasih Bang!" Cahaya berucap dan menerima es pesanannya.


"Kita pulang ya, Can bentar lagi buka." Cahaya kewalahan membawa kantung plastik berisi jajanan kuliner pilihan Cantik. Gadis berwajah bulat itu, menyetujui ucapan akak Bubble-nya, karena apa yang ia inginkan sudah ia dapat.


...Allahuakbar... Allahuakbar......


Adzan maghrib berkumandang keluarga Raharja sudah pada siap membuka puasanya. Buka puasa kesepuluh sangat sepesial karena ada Cantik di sana. Berbeda dengan keluarga Raharja di rumah Agam Ariaja sangat sepi biasanya ada yang teriak-teriak karena sudah berbuka.

__ADS_1


"Ada gunanya juga si Cantik ikut kesini." Archer.


"Emang gunanya apa Kak?" tanya Cantik.


"Tentu saja ada gunanya, kalau enggak ada kamu enggak ada makanan banyak."


"Ya, sudah Cantik disini aja ya?" Arche.


"Itu sih enakan kalian," celetuk Alula.


Sekarang pasangan baru itu, sudah ada di kamar mereka melaksanakan sholat maghrib bersama. Saat Cahaya mencium tangan suaminya. Gadis berwajah bulat itu berucap seperti tadi sore. " Om Dosen cium kening Akak dong."


"Eh... Can... " ucapan Cahaya dipotong gadis berwajah bulat. "Sudah enggak puasa Akak, berarti boleh dong."


Cahaya terdiam, gadis berwajah bulat itu sangat pintar.


"Baiklah, tapi Cantik tutup matanya Om akan melakukan seperti yang papi lakukan ke mami." Cahaya yang mendengar jawaban suaminya sangat shock.


"Okayy," ucap gadis berwajah bulat itu, yang sudah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tapi gadis itu masih bisa melihat di sela-sela jari jemarinya. Langit yang tahu hal itu dia segera menutupi mata Cantik dengan telapak tangannya. Dan tangan kanannya menarik kepala istrinya.


Cup... Cahaya membulatkan matanya karena ulah suaminya itu. Dia pikir suaminya akan pura-pura dan kenapa suaminya bukan cium keningnya melainkan cium bibir.


"Gimana udah belum Om?" tanya gadis berwajah bulat itu, yang tidak bisa melihat adegan itu. Karena tangan om Dosen sangat besar, jadi bisa menutupi matanya. Langit tersadar karena suara Cantik. Dan ciuman itu segera berakhir. Cahaya cemberut karena suaminya itu. Tapi yang harusnya disalahkan dalam kasus ini adalah gadis berwajah bulat itu. Langit yang melihat hal itu bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang samar. Tidak ada yang melihat termasuk Cahaya.


"Baiklah sekarang Om sama Akak cium aku ya. Biasanya setelah sholat papi sama mami nyium aku."


"Baiklah," jawab Cahaya, wanita berambut sebahu itu berpikir, jika mencium gadis berwajah bulat itu lebih bagus.


Gadis berwajah bulat itu, sudah ada di tengah-tengah mereka. Lebih tepatnya duduk di paha om Dosen. Entah drama apa lagi yang akan terjadi karena ulah gadis berwajah bulat itu.


Gadis berwajah bulat itu sudah memajukan wajahnya. Cahaya mulai mendekatkan bibirnya dengan pipi milik Cantik. Langit juga melakukan hal yang sama seperti Cahaya. Namun ciuman itu kembali terjadi antara Langit dan Cahaya karena sewaktu mereka mau mencium Cantik. Gadis itu memundurkan wajahnya seratus delapan puluh derajat. Karena waktu itu ada sumut yang mengigit pinggang Cantik.


Cahaya memutar bola matanya dengan sempurna. Dan pemuda itu juga sangat terkejut. Dalam kasus ini, yang harus di salahkan adalah semut bukan gadis berwajah bulat. Kenapa semut, karena semut yang gigit Cantik. Cahaya langsung berdiri dan melipat mukena nya.


"Akak kenapa enggak jadi nyium aku?" protes gadis berwajah bulat itu.


Cahaya hanya diam saja, dia sangat malu. Wanita itu kemudian berbaring di kasur.


"Enggak baik habis makan tidur," tegur Langit sambil melipat sajadah.


"Akak kenapa murung?"


Keluarga Raharja sholat tarawih di masjid dekat rumah.


"Cantik ikut tarawih?' tanya Abidah Aminah.


" Iya, Nek! Kita masih lama enggak Nek jalannya?"


"Bentar lagi Can!" jawab pak Khan.


"Oh ...Kakek kalau habis sholat cium kening Nenek enggak?" Abidah Aminah malu, karena pertanyaan Cantik kepada suaminya.


"Tentu saja, masa Kakek cium tembok," jawab pak Khan bercanda. Hazel yang ada di samping mertuanya tertawa.


"Tapi tadi saat aku digigit semut, Akak sama Om Dosen bukan cium kening tapi cium ini." Cantik menunjuk bibirnya. Langit dan Cahaya yang ada di belakang mendengar jelas celotehan gadis itu. Mereka menahan malu karena celotehan gadis berwajah bulat itu. Sedangkan yang lain menahan tawa karena celotehan Cantik.


Sholat tarawih berjamaah sudah dimulai. Cantik Payah! Baru rakaat ke sepuluh Cantik sudah istirahat. Saat sholat witir gadis berwajah bulat itu, baru ikut sholat lagi.


"Nawaitu shauma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati lillahi ta'aalaa."


Seluruh jamaah niat bersama-sama. Tapi suara milik gadis berwajah bulat itu yang paling keras. Sampai-sampai terdengar di saf lelaki.


"Om nanti ini kita jalan-jalan kan?"


Tidak biasanya pemuda itu langsung pulang sehabis sholat tarawih. Biasanya pemuda itu ikut tadarus bersama.


"Kan tadi sore sudah Can!" Cahaya.


Gadis berwajah bulat itu kesal dengan akak Bubble-nya. Cantik berjalan lebih cepat meninggalkan pasangan baru itu. Cahaya yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng. Cantik lebih memilih jalan di samping kakek.


"Mbah lebaran berapa hari lagi?" tanya gadis berwajah bulat itu.


"Iya, jalanya emang lebar sekali Can!" Cantik menepuk dahi karena jawaban kakek Raharja.

__ADS_1


"Le-Bar-an."


"Iya, kalau puasa itu emang sering banyak liburannya," jawab kakek Raharja tersenyum.


Cantik menepuk dahi kembali. Dia lebih memilih jalan kearah pasangan baru itu yang ada di belakangnya. Ngomong sama kakek Raharja bikin darah tinggi naik. Untungnya Cantik tidak punya penyakit laknat itu. Cahaya tersenyum melihat Cantik yang seperti itu. Ke-tiga orang itu sudah ada di kamar. Cantik berharap jika malam itu ada Anugrah dari Tuhan. Dan dia di ajak jalan-jalan om Dosen.


Cahaya sedang mengganti seprei. Langit keluar dari kamar mandi setelah berganti baju. Pemuda itu memakai kemeja merah muda yang dibelikan istrinya waktu itu.


"Ayo... " Cahaya yang sedang merapikan kasur, dia menengok ke belakang untuk melihat orang yang baru saja bicara. Matanya tidak percaya, karena suaminya memakai kemeja yang ia beli.


"Kemana Om?" tanya Cantik antusias, siapa tahu Anugrah bener datang untuknya pikir gadis itu.


"Jalan-jalan."


Ketiga orang itu sudah ada di mobil. Mobil itu terus melaju hingga akhirnya sampai di Monumen Nasional (Monas)


Ketiga orang itu keluar dari mobil. Mereka hanya melihat Monas dari kejauhan. Kembang api membuat suasana malam itu jadi lebih indah. Cantik sangat bahagia karena dia tidak pernah jalan-jalan saat malam hari. Apalagi melihat petasan kembang api.


"Kau, suka?" tanya Langit menatap Cantik. Gadis itu mengangguk.


Cukup menikmati kembang api mereka memutuskan untuk kembali masuk mobil. Dalam mobil Cantik melihat jalan yang ramai menyalip mobil yang ia tumpangi.


"Mas boleh aku pinjam ponselnya?" tanya Cahaya. Langit tak bertanya buat apa dia langsung memberikan ponselnya kepada istrinya. Cahaya mulai memijit ponsel itu, kemudian menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ayah di rumah enggak, besok Aya mau ke sana."


"Ayah masih ada di luar kota Nak! Proyek yang ayah ambil belum selesai."


Ayah Cahaya emang jarang di Jakarta karena pekerjaannya sebagai mandor. Setiap berapa tahun, atau bulan selalu berpindah tergantung proyek yang ia bangun. Kadang di Sumatera, Kalimantan hingga pelosok desa terpencil juga pernah.


"Ayah pulang kapan berarti?"


"H-2 lebaran mungkin Nak!"


"Ayah jaga kesehatan ya." Panggilan terputus.


"Ponselnya masih rusak?" tanya Langit.


"Iya."


Mobil itu berhenti di sebuah tempat pembelanjaan.


"Sekalian beli baju buat lebaran," ucap Langit. Cahaya hanya mengangguk saja. Ketiganya sudah ada di dalam toko baju. Nampak ramai mereka memilih untuk pindah toko. Hingga toko ketiga baru sepi.


"Kau pilihlah," ucap Langit, kepada Cahaya. Gadis berwajah bulat itu sangat bahagia meskipun hanya lihat-lihat saja.


Cahaya memilih gamis warna putih yang sederhana tidak terlalu banyak pernak-pernik gratis pasmina warna putih.


"Itu saja?" tanya Langit, dan dijawab anggukan kepala.


"Masnya enggak beli?"


"Jarang beli baju, biasanya titip teman kalau di Singapura. Kalau dia beli. Kadang kalau teman tidak muat aku yang makai." Cahaya mengangguk. Cahaya berjalan kearah baju cowok. Cahaya memilih tapi tidak ada yang suka. Wanita itu memutari toko itu beberapa kali. Tangan kanan Cahaya mengambil baju koko warna putih lengan pendek sedikit bordiran di bagian dada. Cahaya menunjukkan baju itu kearah suaminya.


"Suka enggak Mas?" tanya Cahaya.


Langit melihat baju yang ada di tangan istrinya itu. Menurutnya itu sederhana, pemuda itu tidak terlalu suka yang mewah. Langit mengangguk pelan.


"Size berapa?" tanya Cahaya.


"Aku tidak suka yang terlalu kecil."


"XXL?"


"Kau jangan bercanda." Cahaya tersenyum, karena jawaban suaminya.


"XL kan?" Langit mengangguk pelan.


Cahaya berjalan kearah bagian sarung. Wanita itu membeli sarung warna hitam dan warna putih polos. Mereka membayar baju itu. Langit teringat sesuatu dia mengetik di ponselnya kemudian menyuruh Cahaya membaca.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Cahaya tak percaya.


__ADS_2