Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Nikmatnya Bersabar


__ADS_3

Sore jam tiga. Cahaya baru sampai rumah. Wanita itu langsung naik ke atas, untuk berganti baju. Setelah itu, ia akan ke dapur untuk masak buat makan malam.


"Kisah cinta yang begitu rumit, siapa yang tahu dulu aku pernah mencintaimu Sen? Namun memang takdir tidak mengizinkan kita untuk berbalas perasaan ...kau adalah cinta pertama ku Sen." Cahaya berbicara sendiri mengingat masa lalunya.


"Hampir empat tahunan atau lebih ...enggak sebentar itu Cah. Gua enggak tahu harus cari kemana lagi. Kita kenal tahun 99, dia menghilang tanpa kabar awal tahun 2001 mungkin." Cahaya mengingat ucapan Senja.


"Jika tahun 2001. Berarti hampir lima tahunan, sebegitu berharganya dia! Di hidupmu Sen?"


Cahaya menuruni anak tangga tapi nampak sepi entah pada kemana.


"Apa si kembar belum pulang, kenapa rumah ini sepi, biasanya Balqis akan bermain di sini." Cahaya bicara sendiri.


Wanita itu berjalan kearah dapur dan langsung memotong bawang. Sudah hampir lima belas menit Cahaya masak di dapur sendirian. Wanita itu, mendengar suara kaki berjalan kearah dapur.


"Eyang mau bicara sama kamu." Ternyata eyang yang datang. Cahaya hanya mengangguk saja.


"Eyang, mau kasih waktu kamu setahun untuk punya keturunan. Tapi jika dalam setahun itu, kamu belum juga punya keturunan ...maka kamu harus ikhlaskan suamimu cari wanita lain."


Perkataan eyang membuat Cahaya tersentak. Pisau yang ada di tangannya jatuh ke lantai. Untung tidak mengenai kakinya. Cahaya dengan susah payah menahan air matanya, agar tidak keluar. Wanita itu, harus kuat tidak boleh lemah, dia teringat perkataan suaminya, yang tidak mau, jika wanita itu lemah di depan orang lain.


"Baik Eyang, jika itu permintaan Eyang aku akan melakukannya." Cahaya menjawab sambil tersenyum. Entah melakukan apa yang wanita itu maksud, hanya Cahaya yang tahu maksudnya.


Tidak! Hatinya sangat hancur saat eyang bilang seperti itu kepadanya. Bagaimana mungkin, dia ikhlas melihat suaminya dengan orang lain. Cahaya tidak bisa berbagi sumi, wanita itu tidak bisa berbagai cinta.


"Baiklah deal." Eyang mengulurkan tangannya kearah Cahaya.


"Maaf Eyang, tanganku kotor, jadi aku takut jika tangan Eyang juga kotor." Cahaya tidak akan mau berjabat tangan, itu sama saja bersumpah dan otomatis dia menyetujui apa yang eyang katakan.


"Baiklah satu tahun usia pernikahan mu!" Eyang bicara sambil meninggalkan Cahaya.


Saat Eyang keluar, wanita itu terduduk di lantai. Air matanya terus membasahi pipi. Wanita itu terisak, dadanya sangat sesak. Cahaya terus menangis sampai ada suara langkah kaki tangisannya berhenti. Wanita itu segera mengusap wajahnya.


"Sore Ay!" Abidah Aminah menyapa menantunya. Tapi tak seperti biasanya, menantunya itu hanya menunduk saja.


Cahaya menjawab mertuanya dengan anggukan kepala saja.


Kenapa anak ini tidak menjawab sapaan ku. Biasanya dia akan menjawab dan tersenyum kemudian mengajakku bercanda. Abidah Aminah melirik kearah menantunya yang hanya menunduk sambil masak.


"Gimana tadi ketemuannya, berjalan dengan baik?" Abidah Aminah mencoba bertanya.


Cahaya menjawab dengan mengangguk, tidak mengeluarkan kata sedikit pun.


Abidah Aminah mendengar suara seperti orang terisak.


Apa dia menangis? Lalu siapa yang membuat dia menangis. Batin Abidah Aminah yang melihat punggung menantunya.


"Kamu menangis Nak?" Abidah Aminah bertanya, sambil membuka lemari pendingin.


Cahaya hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa, coba cerita sama Ibu!" Abidah Aminah berjalan kearah menantunya.


Cahaya menggelengkan kepalanya lagi.


"Aku sudah menganggap mu sebagai anak ku sendiri, lalu apa kau tidak bisa menganggap ku sebagai Ibumu, Nak!" Abidah Aminah mengelus kepala menantunya.


Cahaya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu menganggap aku itu Ibumu, maka ceritakan apa masalahmu kepadaku, Nak!" Abidah Aminah terus saja bicara agar menantunya itu bicara.


Cahaya yang selalu diberikan pertanyaan tak kuasa menahan tangisannya. Cahaya langsung memeluk mertuanya dan menangis di peluk kan mertuanya. Abidah Aminah langsung mengelus kepala menantunya itu.


"Katakan ada apa, Nak?" Abidah Aminah memeluk menantunya dan mengelus kepala Cahaya.


Cahaya hanya bisa terisak, dia tidak mau bercerita tentang perkataan eyang kepada ibu mertuanya.


"Ak-aku ha-hanya merindukan almarhum ibu, Bu!" Cahaya memilih jawaban yang tidak membuat ibu mertuanya curiga.


Tidak mungkin hanya merindukan ibunya, pasti ada hal yang lain yang kamu tutupi dari Ibu. Batin Abidah Aminah.

__ADS_1


"Bukannya kamu baru mengunjungi makam ibumu, lalu hal lain apa yang membuat kamu bersedih." Abidah Aminah bertanya tanpa ada yang di tutup-tutupin.


"Ti-tidak Bu, tidak ...ada ...hiks ...hal lain ...hiks." Cahaya memeluk mertuanya sangat erat.


Sepertinya dia tidak mau bercerita padaku. Baiklah aku tidak akan memaksanya. Abidah Aminah mengelus punggung menantunya.


Jam menunjukkan pukul lima sore. Langit belum juga pulang, padahal istrinya sudah menunggu kedatangannya. Cahaya melakukan sholat maghrib sendirian, karena suaminya belum juga pulang. Cahaya menangis dalam sholatnya. Wanita itu mencurahkan isi hatinya, kepada Allah. Sebaik-baik nya Pendengar adalah Tuhan Yang Maha Esa.


Pintu kamar ada yang membuka. Cahaya langsung membalikkan badannya, untuk melihat siapa yang datang. Bibirnya tersenyum, saat melihat orang yang ia tunggu, baru saja membuka pintu itu.


Cahaya melepaskan mukena, kemudian melipatnya, setelah itu berjalan kearah suaminya.


"Kenapa matamu merah?" Langit bertanya, sambil melonggarkan dasinya.


Cahaya memalingkan wajahnya mengelap lembut matanya, kemudian membalikkan badannya untuk melihat suaminya lagi.


"Ah ...tadi mataku kemasukan debu." Cahaya berbicara, sambil membuka kancing kemeja suaminya.


"Kenapa kemasukan debu, langsung dua sekaligus?" Langit mencoba mencari tahu.


"Kenapa bertanya kepadaku, tanya saja debunya." Cahaya menjawab sambil terkekeh.


"Kau habis nangis?" Langit memegang kedua pundak istrinya.


Cahaya spontan mendongak kan kepalanya, hal itu membuat mata Cahaya menatap mata suaminya. Cahaya teringat ucapan eyang. Matanya berkaca-kaca, saat melihat mata suaminya. Apa benar, dia harus mengikhlaskan suaminya itu.


Langit mengerutkan dahi kenapa mata istrinya mau menangis.


"Kau kenapa?" Langit mengguncang tubuh istrinya.


"Ak-aku." Langit memotong ucapan istrinya.


"Kenapa kau bicara terbata-bata? Katakan?" Langit mengguncang tubuh istrinya semakin keras.


"Hehehe aku tidak apa-apa, cuman ingin bercanda sama Mas, saja." Cahaya tertawa layaknya tidak ada beban dalam hidupnya.


"Apa Mas, mau mandi?" Cahaya bertanya, ingin meninggalkan suaminya.


"Baiklah aku siapkan dulu, tunggu di sini." Cahaya meninggalkan suaminya. Sedangkan Langit menatap punggung istrinya itu.


Didalam kamar mandi Cahaya menangis saat menyalakan keran air. Wanita itu, menutup mulutnya agar suaminya tidak mendengar tangisannya.


Aku enggak sanggup melihat suamiku bersama wanita lain, ak-aku sudah mencintai masnya. Ta-tapi kenapa saat aku sudah cinta, a-aku harus mendengar ucapan eyang yang begitu menyakitiku. Aku harus gimana hiks... hiks... hiks.


Cahaya memejamkan matanya, wanita itu tidak bisa membayangkan jika sang suami bersama wanita lain.


Tok... tok... ketukkan pintu dari luar membuat Cahaya segera mengusap air matanya, kemudian mencuci mukanya.


"Lama sekali, apa yang kau lakukan, nangis kan?" Langit menebak.


"Enggak tadi kerannya ngadat." Cahaya menggelengkan kepalanya.


Langit membuang napas kasar, istrinya tidak mau terbuka dengan dia.


"Aku mandi dulu, kau duduklah di kasur nanti kita kebawah bersama." Langit masuk kedalam kamar mandi.


Cahaya berjalan kearah ranjang dan duduk di sana. Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya suaminya sudah keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"Oh ...tadi aku membelikan mu martabak, tapi ada di bawah." Langit bicara, sambil jalan kearah meja rias kemudian menyisir rambutnya.


"Em ...makasih." Cahaya mengangguk dan tersenyum.


"Kita ke bawah sekarang, aku sudah lapar." Langit berjalan mendahului istrinya. Cahaya hanya mengekori suaminya. Setelah sampai di ruang makan. Cahaya langsung mengambilkan makanan untuk suaminya. Eyang yang melihat wajah Cahaya segar, merasa tidak suka. Nenek tua itu, berpikir jika malam itu. Dia bisa melihat wajah sedih milik Cahaya.


"Kau mau makan martabak?" Langit bertanya, sambil mengambilkan martabak untuk istrinya. Cahaya tidak bisa nolak. Wanita itu, menerima martabak dari tangan suaminya.


"Kenapa wajahmu kusut Cher?" Alula bertanya kepada si bungsu.


"Maaf Pak, tadi Archer di hukum guru," ujar Archer menunduk. Gadis itu harus memberi tahu kesalahannya kepada keluarganya.

__ADS_1


Pak Khan yang mendengar hal itu tidak suka. Kenapa anaknya begitu nakal pikir pak Khan.


"Kok bisa Dik?" Pak Khan bertanya, rada tenang, karena tidak akan ada asap jika tidak api.


"Tadi ada murid baru Pak!. Aku juga bingung kenapa cari gara-gara sama aku, masa enggak kenal tapi langsung ngelempar kertas kearah ku. Saat aku mau bales, bu Maria melihat itu ...jadi aku di hukum ...maaf Pak. Archer sudah ngecewain Bapak." Archer menjelaskan, tapi tidak berani menatap wajah pak Khan.


Semua orang ada di sana mendengar penjelasan dari Archer.


"Ya sudah enggak apa-apa, tapi besok enggak boleh diulang lagi. Adik bisa pindah bangku. Biar tidak di ganggu sama teman Adik." Pak Khan masih bisa mentolerir kesalahan Archer, karena tidak semua salah anaknya.


"Anak jaman sekarang sukanya bercanda ...tapi kadang tidak tahu terkadang bercandaannya itu merugikan orang lain." Abidah Aminah tidak terima jika anaknya di gituin.


"Sudah lah Bu, yang penting Archer tidak di skors." Hazel mengeluarkan pendapat.


"Kalian belajar yang rajin sudah kelas tiga ... harus siap buat UN. Jangan mikir yang enggak guna. Apa lagi mikir cowok yang belum penting, untuk usia kalian." Kang mas menasehati adik kembarnya. Arche menelan ludahnya karena ucapan kang masnya itu. Sedangkan Archer tidak terlalu menganggap ucapan kang masnya sebagai beban. Karena si bungsu dari Raharja sepertinya belum tertarik dengan lawan jenis. Jika tertarik pun, dia akan lebih tenang. Archer berprinsip jika jodoh pasti akan bersama.


Semua orang sudah pada bubar, hanya meninggalkan Cahaya dan suaminya. Sedangkan Abidah Aminah ada di dapur.


"Makan dulu nasinya," ujar Langit, kepada istrinya yang belum juga mau makan.


"Sudah kenyang tadi makan martabak," menjawab dengan tersenyum.


"Tapi enggak baik kalau makan martabak saja, ayo makan nasinya. Disini tidak ada siapapun." Langit mencoba merayu istrinya agar mau makan.


Cahaya menggelengkan kepalanya.


"Dikit saja, nanti tidurmu enggak nyenyak loh. " Langit terus saja merayu istrinya agar mau makan.


Akhirnya Cahaya mau makan tapi cuma tiga suapan saja.


"Sudah, aku udah kenyang." Cahaya meletakkan sendok itu di atas piring.


"Baiklah, kita sholat isya setelah itu tidur." Langit bicara, sambil berdiri dari duduknya.


Pasangan itu kembali ke kamarnya, kemudian melaksanakan sholat berjamaah. Berbincang di balkon sebentar kemudian berbaring di ranjang.


Cahaya mengunci pintu kamarnya. Wanita itu, berjalan kearah samping suaminya. Kemudian duduk di samping suaminya, yang asik main ponsel sambil memiringkan badannya dan membelakanginya.


Cahaya ingin mengucapkan sesuatu, tapi takut. Wanita itu meremas kedua tangannya.


"Mas!" panggil nya dengan lembut.


"Hm... " Langit menjawab, tapi dia tidak melirik kearah istrinya sedikitpun. Pemuda itu malah asik menatap ponselnya.


"Mas!" panggilannya lagi, karena suaminya mengacuhkan nya.


"Apa?" Langit tidak melirik istrinya. Pemuda itu malah tersenyum kearah layar ponsel.


Cahaya dibuat jengkel oleh suaminya itu.


"Mas, taruh dulu ponselnya." Cahaya mengambil ponsel itu dari tangan suaminya kemudian ia taruh kearah laci.


"Dengerin aku bicara, jangan di potong." perintah Cahaya kepada suaminya. Langit memperbaiki duduknya.


Cahaya mengambil napas panjang, ucapnya malam itu, akan membuatnya malu.


"Sebenernya... "


Langit menunggu terusan nya.


"Mas, aku siap menyerahkan, yang aku jaga selama ini, kepadamu. Jika Mas, mau malam ini juga aku siap." Cahaya bicara sambil memejamkan matanya.


Langit yang mendengar hal itu bibirnya tersenyum. Dia tak menyangka, jika istrinya yang mengajaknya duluan. Ya! Itu adalah hasil yang Langit petik. Pemuda itu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Kalau istrinya belum siap dia siap menunggu. Hadiah untuk Langit dari kesabarannya adalah istrinya mengajak duluan. Sedangkan hadiah kesabaran Cahaya adalah mendapatkan suami yang sangat perhatian. Pahit diawal manis di akhir. Mereka adalah pasangan yang sabar menghadapi pasangannya. Cahaya yang sabar punya suami pendiam. Dan Langit yang sabar menahan hawa napsunya.


"Beneran?" Langit memastikan, bahwa istrinya tidak bicara omong kosong.


Cahaya mengangguk pelan kemudian menunduk.


'Terkadang yang bersabar ...mendapatkan sesuatu yang lebih indah ...dan siapa yang bersabar pasti dia akan menang'

__ADS_1


Langit teringat ucapan istrinya Itu, saat malam takbiran.


__ADS_2