
Dua hari setelah wanita berambut sebahu itu sadar. Di ruangan itu, Cahaya ditemani oleh Black karena sang suami kerja.
"Teteh, waktunya makan! Setelah itu minum obat," ujar Black, sambil berdiri di samping ranjang Cahaya. Pemuda keturunan Aceh itu, sedangkan menyiapkan makanan untuk Cahaya.
"Tidak, aku tidak mau!"
"Jangan seperti anak kecil, kapan lagi di suapi sama Black Agam!" Black sudah duduk di kursi samping ranjang.
"Setiap siang, dan sore kau yang menyuapi ku. Jadi hal seperti ini, tidak sepesial lagi!" Cahaya mengerucutkan bibirnya.
"Setidaknya, makanlah karena aku!" Black sudah mau memasukkan makanan ke mulut Cahaya. Tapi wanita itu, tidak mau membuka mulut.
"Kok aneh, karena mu, emang kau siapa?"
"Entahlah, tapi kalau aku tidak membuat istrinya abang, makan. Abang akan marah denganku. Apa Teh Cahaya, enggak kasian sama jofis seperti ku?" Black bicara dengan wajah melas. Hal itu membuat Cahaya menggeleng dan tersenyum.
"Black, makan dulu! Cicipi enak tidak, kalau tidak enak aku enggak mau. Terus yang kedua, ada racunnya tidak. Kalau ada racunnya, biar kamu yang kena. Jadi pastikan makanan itu aman, sebelum masuk ke mulutku." Cahaya bicara panjang, hanya ingin ngulur waktu. Biar tidak makan, makanan hambar itu.
Black menggeleng keheranan, karena Cahaya seperti anak kecil. Black pun memakan, makanan hambar itu. Tapi setelah memakannya, pemuda itu memegang lehernya.
"Te-eh ma-makanannya a-da ra-cun-nya!" Cahaya sangat panik melihat Black, seperti orang keracunan makanan.
"Black! Black! Kau tidak apa-apa kan?" Cahaya khawatir karena Black. Dan di sana tidak ada siapa-siapa selain kedua orang itu.
"Hahaha! Aku hanya bercanda!" Black tertawa terpingkal-pingkal. Karena berhasil mengerjai Cahaya.
Sedangkan Cahaya sangat kesal, karena Black iseng. Cahaya memukul pundak Black.
"Sudah, ayo makan! Abang kalau marah, enggak ada bedanya sama guru BK!"
"Ayo buka mulutnya!" perintah Black, Cahaya pun membuka mulutnya.
"Sudah cocok belum, aku jadi pengasuh?"
"Cocok banget!" Cahaya mengacungkan kedua jempolnya.
Terdengar ketukkan dari pintu membuat Black berhenti menyuapi Cahaya.
"Masuk!"
Perempuan itu masuk kemudian menutup pintu ruangan Cahaya. Wanita berambut sebahu itu, terkejut karena dapat suprise.
"Mbak Asya!" Cahaya berteriak girang.
Asya tersenyum, kemudian berjalan kearah ranjang Cahaya. Asya memberikan pelukan hangat untuk Cahaya. Cahaya memeluk Asya sangat erat, karena pelukan Asya seperti pelukan seorang kakak baginya.
__ADS_1
"Waduh ... Kak Asya enggak mau begitu meluk aku?"
Sedangkan Cahaya menatap Black tajam. Karena ucapan Black, yang menurutnya tidak sopan. Asya tertawa karena wajah Black yang berubah drastis.
"Maaf ya Kak Asya! Aku hanya bercanda!"
"Black, aku tahu itu!"
"Black!" panggil Cahaya dengan suara lembut.
Black mengangkat kepalanya yang menunduk.
"Kau menganggap ku! Seperti Kakak perempuanmu bukan?" Cahaya bertanya lembut, Black mengangguk pelan.
"Sebagai seorang Kakak! Aku tidak akan membiarkan dirimu, menjadi seseorang yang tidak bisa menjaga lisanmu! Terkadang bercanda itu, ada batasnya dan ada tempatnya. Kamu boleh bercanda dengan orang yang deket dengan kamu. Tapi kamu tidak bisa bercanda dengan semua orang. Kamu enggak boleh menyamakan orang yang dekat denganmu, dengan orang yang baru kamu kenal. Karena boleh jadi, niatmu bercanda. Tapi orang itu, tidak merasa jika itu bercanda. Dan kadang candaan yang kita lontarkan itu, menjadi boomerang untuk kita." Cahaya memberikan sebuah nasehat.
Black mengangguk, dia sangat suka jika Cahaya memberi nasehat untuknya. Itu pertanda Cahaya sangat perhatian dengannya.
"Benar! Black aku setuju dengannya!"
"Wah ... sepertinya aku harus keluar. Tidak mungkin aku bersama ciwi-ciwi di sini. Takut ganggu, mungkin kalian ada yang mau di bicarakan!" .
"Tapi, makanannya belum habis dan aku belum membantu Teteh minum obat!" Black menatap mangkuk yang ada di tangannya.
"Biar aku, yang menyuapi nya, Black!" Asya menawarkan diri agar bisa menyuapi Cahaya.
Black keluar dari ruangan Cahaya. Di dalam ruangan hanya meniggalkan kedua wanita itu.
"Bagaimana kabarmu? Maaf aku baru sempat menjenguk!" ujar Asya merasa tidak enak karena baru bisa menjenguk Cahaya.
"Baik! Tidak masalah, karena aku sudah bahagia Mbak Asya, bisa kesini sekarang!" Cahaya bicara sambil menerima suapan dari Asya.
"Tapi kenapa, Mbak Asya kemari? Bukannya ini jam kantor?"
"Aku sengaja, meluangkan waktu makan siang, untuk menengok istrinya pak Arkana!"
"Tapi kenapa, dia tidak pulang?" tanya Cahaya keheranan, biasanya suaminya akan pulang saat jam istirahat.
"Aku dengar-dengar ada meeting untuk dewan direksi!"
Cahaya mengangguk, wanita berambut sebahu itu menunduk.
"Apa masih sedih dengan semua ini?"
"Semua seolah seperti mimpi Mbak! Aku sangat terpukul dengan semua ini. Aku tidak pernah berpikir hal seperti ini terjadi!" Cahaya bersedih kembali, jika mengingat anaknya.
__ADS_1
"Aku pernah ada diposisi mu!" Asya menunduk dia ingin menangis, jika membahas masa lalunya.
Cahaya menatap Asya lekat, dia tidak percaya. Asya mempunyai takdir sepertinya.
"Aku akan ceritakan padamu, tapi dengan satu syarat!" Asya memberikan syarat sebelum bercerita tentang masa lalunya.
"Syarat?"
"Aku akan bercerita— jika ...kau minum obat dahulu!" .
"Tahu saja kalau aku tidak suka obat. Aku terpaksa, meminum karena ingin mendengarkan cerita dari Mbak Asya!"
Asya tersenyum sambil membantu Cahaya minum obat.
"Kamu ingat, waktu kita pertama kali bertemu?"
"Aku waktu itu, membagikan kue kepada sebagian karyawan kantor. Dan aku juga membagikan untukmu. Sebenarnya kue itu, adalah kue untuk memperingati hari jadi anakku. Aku tidak pernah melihat wajahnya. Karena kata keluargaku dia meninggal saat aku melahirkan!" Asya memberi jeda sejenak. "Aku sangat terpukul dengan semua itu. Aku patah harapan, hanya dialah kekuatan ku. Aku berpikir, jika dia akan menjadi satu-satunya penyemangat untukku! Tapi semua itu sirna, saat melihat kenyataan jika malaikat kecil itu telah pergi untuk selamanya." Asya mengelap pipinya yang basah karena air mata.
"Maksudnya satu-satunya, memang suaminya dimana?" Cahaya tidak paham dengan cerita yang Asya ucapkan.
"Aku tidak pernah menikah!" jawaban Asya membuat Cahaya membulatkan matanya. Namun segera Cahaya, menampakkan wajah biasanya. Dia tidak mau menyinggung Asya karena raut wajahnya.
"Aku tahu, kamu pasti terkejut. Semua itu, terjadi karena pekerjaanku!" Asya terdiam, dia tidak sanggup melanjutkan kisah perjalanan hidupnya. Tapi demi Cahaya, dia harus bercerita. Karena Asya yakin, jika Cahaya akan merasa lebih bersyukur. Karena takdir Cahaya lebih bagus dari takdir Asya.
"Aku bekerja sebagai seorang cobo di sebuah negara tetangga. Aku berkerja karena aku ingin kuliah. Aku menginginkan sebuah gelar. Aku berpikir, jika dengan gelar semua bisa ku raih. Tapi aku salah!" Asya terkekeh karena kebodohan yang ia lakukan dulu.
"Aku malah kehilangan, masa depanku. Karena sebuah kecelakaan yang merenggut semua dari ku!" Cahaya merasa iba dengan Asya. Bagaimanapun Caranya juga seperti Asya. Sama-sama wanita, ama-sama mudah rapuh.
"Aku tidak pernah mau, menjual diriku. Banyak lelaki yang menawarkan, harga mahal untuk bersama dengan ku. Tapi aku tidak mau, karena bayaran ku sudah lebih dari cukup. Aku di sana bekerja, menjadi seorang penghibur. Menuangkan minuman di cangkir, atau yang paling rendah duduk di pangkuan, pelanggan kami."
"Pada suatu malam, aku ditarik oleh seorang lelaki yang mabuk berat. Aku mencoba untuk memukul tangannya. Namun semua sia-sia, aku berteriak meminta bantuan kepada siapa yang mau membantu. Tapi tak ku dapatkan seseorang pun, yang mau membantuku. Mereka malah tertawa, seakan melihat drama. Aku sangat kecewa dengan kenyataan ini. Bagaimana mungkin ada orang yang meminta tolong malah di tertawa kan. Dan akhirnya, sebuah penyesalan besar terjadi di malam itu. Aku sangat membenci diriku. Karena sebuah gelar, membuatku buta. Dan melakukan kebodohan berujung penyesalan. Tidak semua orang akan melakukan kesalahan sepeti ku. Dan tidak pula yang bergelar itu mendapatkannya dengan cara yang salah. Banyak yang bergelar, tapi mereka juga benar-benar mendapatkan dengan cara yang baik. Bahkan ada yang mendapat beasiswa." Asya mengusap hidungnya dengan ujung bajunya.
Cahaya yang mendengar hal itu, dia mengelus pundak Asya. Sebagai bentu rasa prihatin.
"Semua itu tidak berakhir di situ, aku mengandung anak, lelaki yang telah menghancurkan hidupku itu. Aku kembali ke negara ini, saat kandungan ku berumur sembilan bulan. Keluargaku sangat membenciku, karena—" Asya tidak bisa melanjutkan ceritanya, perempuan itu menangis tersedu-sedu. Tapi Asya, tidak akan memberikan cerita setengah-setengah dia akan menyelesaikan kisah hidupnya untuk Cahaya.
"Sepuluh hari kemudian, aku melahirkan dia. Aku ke rumah sakit seorang diri, tanpa seorang yang mendampingi ku. Dokter menyuruhku, untuk memberi kabar keluargaku. Aku pun mengabari mereka. Setelah itu aku tak tahu, yang aku tahu keluarga ku bilang. Jika, anakku tidak bisa terselamatkan! Disitulah aku kehilangan semuanya, karena kesalahanku dan kebodohan ku." Asya menghamatkan cerita kisah hidupnya.
Cahaya yang mendengar kisah hidupnya Asya, wanita itu meneteskan air mata.
"Aku sudah lega, karena bisa berbagi cerita dengan mu!"
"Mbak Asya, masa lalu memang tak bisa dihapus dari ingatan. Tetapi karena masa lalu, kita bisa belajar dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Menjadikan masa lalu sebagai alarm, untuk tidak melakukan kesalahan. Itu sangatlah penting!" Cahaya memberi semangat.
"Baiklah, aku harus pamit karena jam kerjaku telah habis."
__ADS_1
"Makasih loh, udah di sempetin kemari!" Cahaya menegangkan kedua tangan Asya.
"Baiklah lekas sembuh!" Asya memeluk Cahaya.