Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Buku Harian


__ADS_3

Hari kedua puasa Cahaya memutuskan untuk pergi ke toko istri Agam Ariaja. Dari pada di rumah mending bertemu banyak orang untuk menghabiskan waktu puasa. Wanita itu membuka kamar tidurnya. Di lihatlah sang suami yang sudah memakai baju rapi. Cahaya yang ingin tahu dia memutuskan untuk bertanya. "Mau kemana Mas?" Obrolan tadi malam, membuat wanita itu lebih dekat dengan sang suami. Pemuda itu mendongak untuk melihat wajah sang istri. Tidak ada lima menit, pemuda itupun menjawab. "Aku akan ke kampus untuk resign." Cahaya mengangguk paham.


"Mas, boleh aku meminta tolong?" tanya Cahaya, masih sedikit takut. Karena ia tahu sang suami tidak suka dengan orang yang banyak bicara.


"Katakan."


"Em ...Masnya kalau ke kampus lewat depan toko mami kan? Apa aku boleh nebeng?" tanya wanita itu. Langit adalah tipikal orang yang tidak suka basa-basi. Boleh jadi ini adalah poin plus buat istrinya, pemuda itu sangat senang dengan orang yang terus terang.


"Tentu saja."


Pasangan baru itu menuruni anak tangga. Mata pasangan baru itu melihat dua dara delapan belas tahun, sedang tiduran di sofa.


"Ngapain kita Kak, buka puasa masih lama," ucap sang adik, yang selonjoran di sofa sambil main ponsel.


"Entah, andai saja sekolah masuk. Pasti jarum jam berputar lebih cepat," jawab kakak yang tengkurap di sofa.


Cahaya tersenyum mendengar ocehan adik iparnya itu. Wanita itu berucap. "Ikut Teteh, ke toko mami saja, di sana kalian bisa bantu, udah dapet pahala dapat kebahagiaan pula. " Dua dara itu langsung bangun dari tidurnya. Mereka berdua saling tatap dan berpikir sejenak kemudian berucap. "Ide bagus," jawab keduanya sambil tersenyum menyeringai.


"Ya sudah kalian bersiaplah," ucap Cahaya.


Arche melihat kang masnya dia bertanya. "Kang Mas mau kemana, anterin Teteh ke toko ya?"


"Kampus!" jawab Langit.


"Iya, Ar! Kang Mas-mu, mau ke kampus. Jadi sekalian Teteh nebeng," jawab Cahaya, memberi tahu. Kedua dara itu mengangguk kompak.


"Ya sudah kita berangkat sekarang, kita juga udah mandi," jawab Archer.


"Kita tidak perlu dandan bukan?" jawab Arche.


"Kita takut Kang Mas, telat." Archer.


Dara delapan belas tahun itu tidak suka berpakaian ala anak muda pada umumnya. Mereka selalu memakai kaus lengan pendek dan celana jeans panjang. Bisa dibilang tidak terlalu rempong.

__ADS_1


Ke-empat orang itu sudah ada di dalam mobil. Mobil warna silver itu sudah meninggalkan pekarangan rumah Raharja satu menit yang lalu. Mobil itu terus melaju hingga sampai ditempat tujuan. Cahaya mulai membiasakan mencium tangan suaminya. Dan si kembar juga tak mau kalah, si kembar menang banyak. Karena mereka mencium pipi kang masnya itu. Pemuda itu membuang napas kasar, karena ulah adiknya.


Wanita berambut sebahu itu tersenyum dengan tingkah iparnya itu


"Hehehe." Arche tertawa mengejek kakak iparnya.


"Kenapa tertawa Ar?" tanya Cahaya, yang pura-pura memasang wajah seperti orang cemburu.


"Kalah!" jawab Arche dengan wajah menyeringai, sambil meninggalkan pasangan baru itu. Sedangkan Archer mengikuti kembarannya dari belakang.


Masih meninggalkan pasangan baru itu. Pemuda itu masuk ke mobilnya tanpa berucap apa-apa. Sedangkan Cahaya masih setia berdiri menunggu suaminya tancap gas.


"Jangan ngebut Mas, dan hati-hati," ucapnya, sambil mengulas kan senyuman dan melambaikan tangan. Pemuda itu mengangguk dan meninggalkan istrinya yang masih setia melihat mobil silver itu dari kejauhan.


"ASSALAMU'ALAIKUM!" ucap si kembar serempak.


"Wa'alaikumussalam," jawab istri Agam Ariaja, sambil tersenyum. Si kembar mencium tangan wanita paruh baya yang memakai hijab.


"Sama teteh?" jawab Archer. Istri Agam Ariaja itu tak melihat wanita berambut sebahu. Wanita itu memutuskan untuk bertanya. "Mana kok enggak ada?"


"Di belakang, mungkin sedang pacaran sama kang mas!" jawab Archer, sambil menaik-turunkan alisnya.


"Assalamu'alaikum," suara orang yang tadi dibicarakan datang.


"Kira-kira ada lowongan kerja enggak ya Mi? Katanya Arche mau ngelamar kerja," goda Cahaya, kepada iparnya yang tadi bilang 'Kalah' kepadanya.


Arche melotot karena ucapan kakak iparnya itu.


"Tidak Tan, aku ikhlas membantu bukan ingin cari kerja."


"Ya masa cari makan," celetuk Archer.


Si kembar benar-benar membantu istri Agam Ariaja, lihat saja mereka sangat lihai menjadi pedagang. Pagi itu pengunjung toko sangat ramai. Padahal baru memasuki hari kedua puasa. Tapi orang-orang sudah berburu baju baru. Cahaya yang melipat baju ia termenung mengingat nenek. Hatinya masih sedih karena kepergian neneknya. Istri Agam Ariaja yang melihat hal itu mendekati wanita berambut sebahu itu. Wanita paruh baya itu, duduk di samping Cahaya. Dan memegang tangan, wanita berambut sebahu itu, dengan lembut. Cahaya tersadar dari lamunannya, wanita itu kemudian tersenyum kepada istri Agam Ariaja.

__ADS_1


"Apa kau masih sedih Nak?" tanyanya, Cahaya mengangguk pelan.


"Kau tahu, kau itu beruntung Nak! Karena kau bisa bertemu nenek!" Cahaya terdiam, apa maksud ucapan wanita disampingnya itu.


"Mentari! Ya! Hari ini akan aku ceritakan tentang dia. Cerita ini akan membuat kamu bersyukur karena Allah memberi kesempatan kepadamu untuk merasakan kasih sayang dari orang yang kau sayang, Nak!" Cahaya masih terdiam.


Pengunjung toko itu pada keluar-masuk, ada yang beli. Ada juga yang pulang dengan tangan kosong. Mungkin saja tidak ada yang cocok. Si kembar sangat antusias melayani pengunjung toko itu. Sesekali mereka memuji pembeli agar membeli baju. Sesekali mereka juga bertanya berapa harga baju kepada karyawan di sana. Jika ada yang nawar mereka akan bilang begini. 'Kakak, ibu, mbak harganya sudah pas. Memang kalian mau amal kalian ditawar Allah.' Ada juga pengunjung yang suka dengan candaan keduanya. Ada juga yang tidak suka dengan gaya mereka bercanda. Mungkin saja pengunjung yang pulang tanpa bawa kantung belanjaan itu tidak suka dengan candaan si kembar.


"Keluarga kami sangat bahagia, setelah kedatangan anak ketiga kami. Tapi kebahagiaan itu sirna tatkala anak pertama kita dipanggil Sang Khalik!" Cahaya teringat dengan kata-kata Agam Ariaja waktu ia masih kuliah dulu. "Cantik yang tak pernah melihat wajah Mentari. Tapi dia mampu mengenalinya"


"Kami tidak tahu! Jika anak kami mempunyai penyakit yang serius. Mentari menyembunyikan penyakitnya dari kami. Tuhan memberi tahu kami tepat satu bulan sebelum Mentari menghembuskan napas terakhir." Istri Agam Ariaja itu, tak tahan menahan air matanya. Cahaya mengelus pundak wanita paruh baya itu.


"Kau tahu? Mentari sangat mencintai adik kecilnya itu, sebelum Tuhan memanggilnya, dia sempat membuat video untuk adik kecilnya. Dia berpesan kepadaku untuk melihatkan video itu, saat adiknya sudah mengerti dan mampu mengenalinya." Istri Agam Ariaja memberi jeda sejenak. Karena cerita ini belum lengkap, maka wanita paruh baya itu akan melengkapi cerita itu. Wanita paruh baya itu mulai menarik napas panjang, sebelum mulai bercerita lagi.


"Saat usia Cantik mengajak tiga tahun, aku mulai menceritakan tentang Mentari saat mau tidur." Cahaya teringat ucapan gadis berwajah bulat, berapa hari yang lalu. Tepatnya saat mereka sedang berbicara di mobil dengan si kembar dan Black. Saat itu dia bertanya tentang.


"Harvard, kamu tahu darimana Cantik?" tanya Cahaya


"Papi, dia selalu bercerita saat malam sebelum aku tidur. Kalau mami juga suka bercerita tentang..." ucapnya tak diselesaikan karena waktu itu mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Pagi itu Cahaya sudah mengerti.


Istri Agam Ariaja mulai bercerita. " Saat usianya menginjak tiga tahun setengah, aku memutuskan untuk memutar video Mentari untuk Cantik, setiap kali dia menangis. Tapi keajaiban Tuhan itu benar-benar ada. Entah mengapa saat video itu diputar Cantik tak menangis lagi. Saat umur lima tahun. Cantik sudah mengenal wajah kakaknya. Hingga sekarang aku selalu menceritakan tentang Mentari kepadanya. Bukan kah dia sangat pandai? Sampai-sampai dia bisa menilai wajah milikmu dengan wajah Mentari yang katanya mirip. Dan benar saja penilaian dia sangat tepat." Istri Agam Ariaja menyentuh lembut wajah Cahaya. Dengan mata yang memerah karena menangis. Cahaya Lagi-lagi teringat dengan ucapan Agam Ariaja satu tahun yang lalu. Waktu itu Cahaya bertanya apa maksud dari perkataan Agam Ariaja. Namun lelaki paruh baya itu hanya menjawab. "Kamu akan menemukan jawabannya, tapi tidak dariku, Nak!" Dan benar saja! Cahaya mendapatkan jawaban tidak dari Agam Ariaja, tapi dari istrinya Agam Ariaja.


"Jadi kau jangan bersedih dan harusnya kau bersyukur karena Allah, mengizinkan kamu merasakan kasih sayang nenek, dan bisa melihat wajah nenek." Cahaya terdiam, benar apa kata wanita paruh baya yang ada disampingnya itu. Karena Tuhan memberi kesempatan dia untuk merasakan apa yang tidak bisa dirasakan gadis berwajah bulat, yang selalu memanggilnya akak.


"Ikhlaskan Nak, yakinlah nenek sudah bahagia di sana. Bukanya kamu pernah bercerita jika nenek ingin bertemu kakek?" Ya! Waktu itu setelah pemakaman nenek. Cahaya bercerita jika nenek ingin bersama kakek. Cahaya mengangguk.


"Mungkin sekarang nenek sudah bertemu kakek dan bahagia di sana. Jadi jangan bersedih jika kamu bersedih nenek juga pasti sedih." Tangan putih itu menghapus air mata yang menetes membasahi pipi milik Cahaya. Istri Agam Ariaja itu berdiri meninggalkan Cahaya. Wanita paruh baya itu berjalan kearah meja kerjanya, dan membukanya laci dengan kunci. Dan kembali duduk di samping Cahaya.


"Untuk mu," ucapnya, menyerahkan buku kearah Cahaya. Wanita berambut sebahu itu tidak tahu apa artinya itu.


Istri Agam Ariaja tersenyum sebelum berucap. "Dibuku ini kau akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mu, aku tidak tahu apa isi buku ini. Tapi kata pemilik buku ini kamu yang berhak membacanya." Cahaya menerima buku itu.


Siapa pemilik buku ini.

__ADS_1


__ADS_2