
Tiga hari kemudian, wanita berambut sebahu itu. Menunggu suaminya pulang.
"Sudah jam sebelas, kenapa belum pulang." Cahaya bicara, sambil mondar-mandir disisi ranjang.
"Hoammm." Wanita itu menguap.
Wanita itu memutuskan untuk menyandarkan badannya ke kepala ranjang.
Cahaya mecoba untuk membaca buku, agar dia tidak terlelap.
"Sungguh kenapa aku mengantuk sekali." Cahaya mengucek matanya.
"Aku harus menunggu dia pulang, tidak enak, jika dia pulang aku tertidur." Cahaya bicara sambil merebahkan badannya ke kasur.
Wanita itu sepertinya, salah posisi. Harusnya dia, duduk di sofa. Itu tidak akan membuat tertidur.
Cahaya mencari posisi yang enak, dan yang enak adalah posisi miring sambil memeluk guling. Dan menatap tempat tidur suaminya yang kosong.
Wanita mengelus, tempat tidur suaminya. Cahaya sudah kehilangan setengah kesadaran. Namun saat mau benar-benar terlelap. Dia teringat jika suaminya belum pulang. Marahnya kembali terbuka.
"Hihi ...hihik ...kenapa kau tak pulang-pulang!" Cahaya sepertinya mau menangis.
"Hua ...hiks ... aku sudah ngantuk. Kenapa tak pulang?" Wanita itu benar-benar sudah menangis.
"Masnya kapan pulang? Hua..." jerit diiringi dengan tangisan.
"Aku ngantuk, aku tidak mau tidur sebelum kamu pulang." Wanita itu menyembunyikan wajahnya dengan guling.
"Huaaaaa ... huuuuuuuuu ... hua!" Tangisan itu perlahan memudar menjadi pelan. Wanita itu memejamkan matanya, sepertinya dia terlelap tanpa sadar.
Jam setengah dua belas, pintu kamar itu terbuka. Ternyata pemuda itu, sudah pulang. Langit membuka pintu itu perlahan. Pemuda itu tersenyum, saat melihat istrinya tidur sambil memeluk guling. Langit menutup pintu itu perlahan. Pemuda itu berjalan kearah kamar mandi, untuk berganti pakaian sekalian mandi. Setelah hampir dua belas menit. Pemuda itu sudah selesai, dan memakai kaus. Langit yang sangat lelah, dia membaringkan badannya. Untungnya dia sudah sholat di kantor.
Pemuda itu sudah memejamkan matanya, dia lupa tidak mencium istrinya.
Seorang wanita duduk sendirian di ayunan. Rambut sebahu nya berterbangan, wanita itu tersenyum. Namun senyuman itu, sirna saat melihat perempuan sedang tersenyum kearahnya.
"Tidak mungkin!" ujar wanita berambut sebahu itu, sambil menggeleng cepat.
Perempuan itu tersenyum, kemudian duduk di samping wanita berambut sebahu itu.
Wanita berambut sebahu itu, memberi jarak dengan perempuan itu.
"Mbak, hidup lagi?" tanya wanita itu.
Perempuan itu hanya tersenyum, tidak mengeluarkan kata sepatah pun. Perempuan itu, memegang tangan wanita berambut sebahu itu.
Wanita berambut sebahu itu, terdiam saat perempuan yang duduk di sampingnya. Meletakkan kalung emas di telapak tangannya.
"Makasih!" perempuan itu tersenyum, sembari bangkit dari duduknya. Dan berjalan menjauh dari wanita berambut sebahu itu.
“Tunggu, mbak!" Wanita berambut sebahu itu, berdiri dari duduknya.
Perempuan yang di panggil, membalikkan badannya. Menatap wanita berambut sebahu itu, kemudian tersenyum. Setelah itu berjalan menjauh dari wanita berambut sebahu itu. Saat perempuan itu pergi. Wanita berambut sebahu itu, mencari kalung emas yang diberikan kepadanya. Tapi dia tak menemukan kalung itu kembali.
"Mbak Mentari!" Cahaya terbangun dari tidurnya. Deru napas Cahaya tersengal-sengal. Mengingat mimpi yang ada dalam tidurnya.
Langit yang baru bisa memejamkan matanya, kurang lebih sepuluh menit. Pemuda itu terbangun karena teriakan istrinya. Pemuda duduk, sama halnya yang istrinya lakukan.
"Kau kenapa?" tanya Langit, dengan mata mengantuk.
Cahaya melirik kearah suaminya.
"Aku mimpi almarhumah," ujarnya.
Langit tahu siapa yang istrinya maksud.
"Tapi, mimpinya aneh!" ujarnya kembali.
Tak heran jika Cahaya bermimpi Mentari. Karena Cahaya juga pernah melihat foto Mentari. Tepatnya waktu, dia membuka lemari hitam milik suaminya.
"Sudah tidurlah, istirahat!" Langit kembali membaringkan badannya ke kasur.
"Tapi Mas, masa dalam mimpi itu. Almarhumah ngasih aku kalung emas. Tapi setelah dia pergi, kalung yang ada di telapak tanganku hilang. Padahal aku belum sempat menggenggamnya." Cahaya mulai membaringkan badannya dan menatap suaminya.
"Hanya mimpi enggak usah dipikirkan." Langit menyahuti, sambil memejamkan matanya. Pemuda itu sangat ngantuk.
"Tapi artinya apa?" tanya Cahaya, menggoyang pundak suaminya.
__ADS_1
"Entah, aku sangat lelah. Besok aku harus bangun pagi karena akan ke luar kota." Pemuda menutup wajahnya dengan lengannya.
Semua itu akan terjawab, saat malam takbiran.
Cahaya terdiam, hampir sepuluh menit dia terdiam. Pemuda itu sudah tertidur kembali.
"Mas!" Cahaya menggoyang lengan suaminya.
Langit yang belum benar-benar kehilangan kesadaran, dia menjawab dengan suara malas. "He'em!"
Cahaya yang mendengar jawaban itu, dia mulai mengucapkan sesuatu. "Buka bajumu!"
"Kau sudah gila, kenapa aku harus buka bajuku. Ayolah ini sudah malam, tidurlah." Pemuda itu sangat ngantuk, tapi istrinya membuat ulah.
"Ayo buka-buka!" Cahaya sudah duduk dan menggoyang tubuh suaminya dengan guncangan yang kasar.
Pemuda itu terbangun, kemudian melakukan apa yang istrinya minta. Langit membuka kayanya, kemudian menaruhnya di atas tempat tidur.
"Sudah?" tanya Langit dengan mata yang sayup.
"Sudah, ayo kita tidur!" Cahaya memposisikan tubuhnya.
Mereka tidur saling berhadapan, Cahaya memeluk suaminya itu.
"Ketiaknya harum!" ujar Cahaya di sela-sela tertidur di peluk kan suaminya. Wanita itu terus saja mencium ketiak suaminya itu.
Langit sangat terkejut, saat istrinya bilang seperti itu. Beberapa hari istrinya itu selalu mencium ketiaknya saat sedang tidur. Tapi berbeda dengan malam-malam biasanya. Malam itu istrinya menyuruhnya melepaskan kaus nya. Secara langsung, tanpa basa-basi.
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Wanita itu membuka matanya kembali.
"Aku lapar!" ujarnya sambil melepaskan pelukan itu.
Cahaya berjalan kearah pintu, wanita itu memutuskan untuk keluar. Setelah di dapur, wanita itu mencari makanan.
"Tidak ada makanan?" tanya Cahaya.
Wanita itu membuka kulkas, di sana dia menemukan roti.
"Baiklah, aku akan memakan mu!" Cahaya bicara sambil menatap roti warna hijau itu.
Wanita itu sudah kembali ke kamarnya. Cahaya memutuskan untuk duduk di sofa.
"Aku sangat lapar!" Cahaya bicara sambil memasukkan roti itu.
Hampir lima kali Cahaya, mengulangi acara oles coklat. Wanita itu, menghabiskan roti itu dalam sekejap. Setelah itu dia minum air. Wanita itu mengelus perutnya, menandakan jika dia sudah kenyang.
"Perutku sedikit besar! Apa karena aku makan roti banyak ya?" tanyanya kediri sendiri.
Cahaya menggelengkan kepala, karena apa yang ia ucapkan. Cahaya kembali ke tempat tidurnya. Wanita itu menatap suaminya yang tertidur pulas.
"Mas!" panggil Cahaya.
Langit tidak menyahut, pemuda itu masih terlelap.
"Bangun! Bangun!" Cahaya menggoyang tubuh suaminya sangat kenceng.
Langit yang merasakan ada yang menggoyangkan tubuhnya. Pemuda itu membuka matanya.
"Hem!" pemuda itu, tidak bisa melihat wajah istrinya dengan jelas.
"Pakai kausnya!"
"Hah?" Langit mengangkat tubuhnya sedikit.
"Iya, Masnya kausnya pakai!" perintah Cahaya.
Langit hanya menurut saja, dia malam itu tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Sudah ayo kita tidur!" Cahaya menyuruh suaminya tidur, wanita itu memeluk suaminya. Sambil menaruh wajahnya di ketiak suaminya. Langit masih membuka matanya, pemuda itu mengelus rambut istrinya itu.
Langit menatap jam, jarum pendek ada di tengah angka empat. Setengah jam lagi, subuh pikir pemuda itu.
"Apa kau sudah tidur?" tanya pemuda itu.
Merasa tidak ada jawaban, pemuda itu memutuskan untuk melihat wajah istrinya. Ternyata kekasih hatinya sudah terlelap.
"Aku besok harus keluar kota, tapi aku belum menyiapkan apapun!" Langit bicara sambil terus mengelus rambut istrinya itu.
__ADS_1
"Dia benar-benar, membuatku tidak tidur semalaman."' Langit menggerutu karena ulah istrinya.
Dering ponsel berbunyi. Membuat pemuda itu berdecak sebal.
"Siapa jam segini menelpon."
Pemuda itu mengambil ponselnya, dan membaca nama yang tertera di ponsel itu. Ternyata rekan kerjanya.
"Iya!" jawab Langit.
Pemuda itu mendengarkan panggilan itu dengan baik.
"Baiklah, terima kasih! Karena telah mengabari," jawab Langit.
Pemuda itu bernapas lega karena besok pagi dia tidak perlu keluar kota. Karena mereka yang akan menguji ke perusahaan langsung.
"Syukur, setidaknya aku tidak perlu capek keluar kota segala."
Adzan subuh berkumandang, pemuda itu segera bangkit dari tidurnya. Karena ada larangan saat adzan tidak boleh baring. Pemuda itu melepaskan pelukan istrinya, yang sangat kuat itu.
"Sungguh pelukannya, susah dilepaskan." Langit masih mencoba melepaskan pelukan itu. Pemuda itu butuh waktu dua menit, untuk melepaskan pelukan istrinya itu.
Setelah selesai wudhu, pemuda itu. Membangunkan istrinya.
"Bangun, sholat!" ujarnya.
Tapi wanita itu, tidak membuka matanya. Wanita itu malah mencari posisi yang enak.
"Ayo bangun, nanti telat!"
"Lima menit lagi," jawab melas.
"Lima menit, lima menit. Enggak ada, lima menit itu sangat berharga. Ayo bangun!" Langit bicara seperti yang Cahaya lakukan, saat membangunnya.
"Aku tidak sholat!" jawab Cahaya.
Layak tadi malam dia aneh, ternyata kedatangan tamu.
"Baiklah kalau kamu, sedang berhalangan. Aku akan sholat." Langit membenahi pecinya.
"Heen, ngantuk ku. Benar-benar menghalangiku untuk bangun sholat. " Cahaya menjawab sambil menarik selimut ke sekujur tubuhnya.
Langit yang mendengar hal itu, dia berpikir apa maksud istrinya itu.
"Kau PMS?" tanya Langit.
"Tidak!" Cahaya masih menjawab padahal dia ngantuk.
Langit yang mendengar hal itu, dia menarik selimut istrinya.
"Ayo bangun subuh, kau kenapa jadi malas?" tanya Langit, yang sudah ada di samping ranjang.
"Aku tadi malam, tidak tidur jadi biarkan aku tidur untuk pagi ini."
Pemuda itu tidak bicara, tapi pemuda itu langsung membopong tubuh istrinya kearah kamar mandi.
Cahaya wanita itu meronta, saat suaminya main angkat-angkat tubuhnya dari ranjang. Tapi pemuda itu, tetap menggendong istrinya sampai ke kamar mandi.
"Ayo, cuci muka. Lanjutkan wudhu." Langit menurunkan istrinya.
Wanita itu bersandar di dinding, sambil memejamkan matanya. Langit yang melihat hal itu, dia mengambil air ke tangannya. Kemudian membasuh kan air itu ke wajah istrinya. Agar sadar, pemuda itu benar-benar dibuat kerepotan karena istrinya.
Cahaya yang ngantuk, tapi tiba-tiba yang membasuh wajahnya dia tersentak.
"Mas, enggak sopan!" Cahaya menjauhkan tangan suaminya dari wajahnya.
"Yang enggak sopan itu kamu, ada seruan dari Tuhan! Kamu malah nawar, lima menit lagi, lima menit lagi. " Langit menirukan suara istrinya.
"Biasanya Mas, juga gitu!" gerutu Cahaya.
"Beda! Orang aku, bilangnya kalau mau kerja!" Langit bicara sambil membuka keran.
"Ayo, cepat wudhu. Aku juga harus wudhu kembali karena ulah mu," ujarnya, sambil menarik pundak istrinya agar mendekat ke keran.
Cahaya dengan malas, diapun berwudhu. Kalau tidak suaminya akan menyiram dia pakai gayung mungkin.
Setelah selesai wudhu, mereka sudah siap untuk sholat.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Langit. Berasa tidak ada jawaban dari yang ditanya. Pemuda itu menengok kebelakang, dan dia membulatkan matanya. Karena melihat istrinya, memejamkan matanya sambil melihat kebawah. Sepertinya Cahaya sangat ngantuk.