Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Menjadikan Cinta Kita Sejarah


__ADS_3

Langit membuka pintu itu perlahan. Dia melihat istrinya yang menangis, sambil menutupi wajahnya.


Langit membuka laci, yang ada di sampingnya. Pemuda itu mengambil sesuatu. Langit membuka kotak obat itu, untuk mengobati lukanya. Sedangkan Cahaya menangis tersedu-sedu.


"Hisss!" Langit mendesis pelan, karena perih di bagian siku.


Cahaya yang mendengar suara suaminya menahan sakit. Dia mengintip dari celah jari-jemarinya. Wanita itu, melihat suaminya sedangkan kesusahan. Mengobati luka yang ada di siku.


Tanpa bicara Cahaya menuang alkohol ke kapas. Kemudian memegang tangan suaminya dengan hati-hati. Mengobati luka itu, sesekali dia meniupnya. Agar sedikit mengurangi, rasa perih itu.


"Sakit ya?" tanya Cahaya dengan suara orang yang habis menangis.


Pemuda itu tersenyum tipis, tatkala istrinya bertanya.


"Aku minta maaf, karena ulahku kau terluka!" Nada bicaranya terdengar menyesal.


Langit mengelus kepala istrinya lembut. Cahaya mendongak, untuk menatap wajah suaminya itu.


"Makanya lain kali, dengerin dulu penjelasannya. Jangan mudah emosi, kamu sih mudah emosi. Untung tadi enggak ada orang di rumah. Coba saja kalau, ada ibu. Apa yang mereka pikiran tentangmu istriku!" Langit berkata lembur.


"A-aku hiks eng-gak hiks bisa jadi istri yang baik huaaaa." Cahaya menghamburkan badannya ke pelukan suaminya. Wanita itu menangis sesenggukan di pelukan suaminya.


Langit mengelus punggung istrinya. "Istriku ... kau hanya manusia. Yang tak pernah luput dari dosa, jadi jangan bersedih. Jika hari ini, kamu tidak bisa menjadi istri yang baik. Maka besok, kau harus belajar dari kesalahan hari ini." Langit memberi istrinya nasehat.


"Dan berjanji, tidak mengulanginya."


"Tapi tetap saja hari ini, aku berdosa!"


"Masalah dosa, serahkan kepada Tuhan. Tuhan tidak melihat dosa hambaNya, tapi Tuhan! Dia melihat bagaimana gigihnya seorang hamba yang ingin memperbaiki diri. Yang penting kamu sudah berusaha, untuk menjadi istri yang baik." Langit melepaskan pelukan itu. Kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya itu. Pemuda itu mencium pipi istrinya.


"Untuk masalah rokok, aku tidak bisa bilang kenapa rokok itu ada disaku. Tapi aku bisa bilang dengan yakin jika itu bukan milikku."


Tidak mungkin aku bilang, jika Black yang menaruh rokok itu di saku. Aku tahu, Black takut, kalau kamu marah padanya.


"He'em!"


"Nanti aku akan mengantarkan Black pulang, kamu mau ikut tidak?"


Cahaya mengangguk, dia tidak pernah berpikir. Jika dulu suaminya sangat kaku. Setelah beberapa bulan, Cahaya menjadi istrinya. Sifat Langit yang lembut, penuh kasih sayang dan ngayomi tumbuh seiring berjalannya waktu.


Setelah sampai di bawah, mereka memutuskan untuk menemui keluarga.


"Bu, aku akan mengantarkan Black pulang, sekarang." Langit bicara kepada Abidah Aminah.


"Enggak makan bersama kita dulu?" tanya Abidah Aminah.


"Tidak, Bu! Mungkin nanti saja. Kita belum lapar."


"Hati-hati, jangan pulang malam. Istrimu sedang mengandung tidak baik pulang larut." Pak Khan menasehati anaknya itu.


Black memasukkan koper dan tasnya di bagian bagasi.


"Bang, biar aku saja yang mengemudi. Abang duduk yang manis, dengan istri tercinta." Black mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Black genit!" Cahaya terkekeh karena ulah Black.


Apa abang, tidak memberi tahu, jika aku yang membuat, teteh nangis. Black tersenyum kecut, karena merasa bersalah.


"Ayo cepat masuk, nanti kita harus pulang cepat!" Langit menyuruh kedua orang itu masuk.


Tak terasa mobil itu, telah memasuki gerbang kediaman Agam Ariarja. Ketiga orang itu, keluar dari mobil silver itu.


"Bang, aku takut kalau papi, marah!" Black bicara, sambil membuka bagasi.


"Tenanglah, aku yang akan bicara dengan papi. Kau cukup diam!" Langit memberi perintah, sekaligus membuat hati Black tenang.


Cahaya menatap mobil warna putih, dia tahu itu mobil siapa.


"Dia kesini!" gumamnya pelan.


"Kau bicara apa?" tanya Langit, melirik istrinya.


"Tidak, ayo kita masuk!" Cahaya menarik tangan suaminya.


Sesampainya di pintu utama, mereka mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, Akak! Om! Cut Abang! Mami, Cut Abang pulang!" teriak Cantik, kebetulan si bulat yang membuka pintu itu.


Agam Ariarja yang sedang bicara dengan tamu. Mendengar teriakan anak bungsunya. Memutuskan untuk meminta izin kepada tamu itu, untuk ke pintu utama.


"Can! Ngapain teriak-teriak!" ujar Agam Ariarja, sedangkan istrinya ada di belakangnya.


"Black!" Agam Ariarja, terkejut karena anak lelakinya pulang tanpa memberi kabar.


"Cut Abang, kenapa bawa koper sama ransel. Biasanya kalau pulang, cuma bawa badan saja." Istrinya Agam Ariarja yang bertanya.


"Nanti aku jelaskan, Pi, Mi!" Langit yang menjawab.


"Yasudah, masuklah!"


Mereka telah sampai di ruang tamu. Di sana juga ada tamu, tentunya Cahaya sangat kenal dengan pria yang bertamu itu.


"Duduklah! Nak Senja! Juga kebetulan sedang bertamu dengan calonnya," ujar Agam Ariarja tersenyum. Langit dan Cahaya mengangguk. Sedangkan Senja, pria itu membalikkan badannya.


"Wah ... Cahyo sama Pak Arkana! Kebetulan sekali ya!" Senja bicara dalam posisi duduk di sofa. Sedangkan perempuan yang duduk di samping Senja belum membalikkan badannya.


"Jodoh kali," celetuk Black.


"Enggak akan!" Langit ngeri karena ucapan Black.


"Sudah, kasian Bumil! Berdiri dari tadi. Mari duduk!" Istrinya Agam Ariarja mempersilahkan.


Belum juga Cahaya duduk, wanita itu dikejutkan dengan perempuan yang duduk di samping Senja.


"Fa!" panggil Cahaya, tidak percaya jika calonnya Senja adalah sahabatnya.


"Ay!" Fafa tak kalah terkejut.

__ADS_1


"Loh, kalian kenal?" tanya Senja tidak percaya.


"Bagaimana mereka tidak kenal, orang Nak Cahaya dan calon mu itu, satu universitas kebetulan Langit juga pernah jadi dosen di sana." Agam Ariarja memberi tahu, sebenarnya Agam Ariarja tidak terkejut dengan wajah Fafa karena mereka sudah bertemu sebelumnya.


"Enggak nyangka gua, kok kalian bisa kenal dari mana?" Cahaya tidak menyangka kenapa, kisah cinta mereka seakan berkaitan.


"Sebenarnya kita sudah lama kenal ya Fa?" tanya Senja, sedangkan yang di tanya mengangguk pelan.


"Yang bener saja Cah, dia itu cucunya nek Miker!" Senja mengingatkan sahabatnya itu.


"Nek Miker, yang suka manggil kita Nang dan Ning itu?" tanya Cahaya mengingat saat tinggal di Sumatera.


"Iya, tuh ingat!" Senja tertawa.


"Tapi kok, aku enggak pernah ketemu kamu ya Fa! Kita ketemunya malah saat kuliah!" Cahaya bertanya kepada Fafa.


"Entahlah, sepertinya takdir belum mengizinkan kita bertemu," canda Fafa.


Cahaya yang duduk di samping Fafa, dia berbisik sesuatu.


"Bukanya lu, suka sama seorang. Yang katanya dia suka orang lain. Terus bagaimana dengan pria itu sekarang?" Cahaya teringat saat Fafa bercerita di kantin waktu itu.


Fafa berbisik pelan ke telinga Cahaya.


"Dialah pria itu, waktu itu dia suka dengan orang yang namanya Mentari!" Cahaya membulatkan matanya, mendengar kebenarannya.


"Kok tahu?" tanya Cahaya yang tidak berbisik.


"Orangnya cerita ama gua!"


Sedangkan orang yang ada di sana menatap kedua wanita itu bingung.


"Kalian itu, bahas apaan kok bikin penasaran!" Istri Agam Ariarja, bertanya karena melihat sikap kedua wanita itu.


"Ah ... tidak Mi, kita hanya mengenang masa kuliah dulu. Ya kan Fa?" Cahaya menatap Fafa, sedangkan Fafa menjawabnya dengan anggukan.


Inilah Kekuasaan Tuhan, benar-benar ada. Disaat Fafa menunggu beberapa tahun, berharap cintanya terbalas. Di situlah Tuhan, memperlihatkan KebesaranNya.


Dan inilah akhir kisah cinta dari cerita ini.


"Kapan acara nikah digelar?" tanya Langit, sambil membenahi posisi duduknya.


"Sebelum ramadhan!" Senja menjawab.


"Wah ... tinggal ngitung bulan yak?" sahut Black.


"Setuju enggak Black, jika aku menjodohkan anakku dengan Pak Arkana?" Senja bertanya menggoda.


"Tidak! Kau belum menikah, atur dulu acara nikahnya. Kau baru boleh bicara anak!" Langit mendengus sebal.


Semua yang ada di sana tertawa karena jawaban Langit.


Rasanya tidak percaya, jika kisah cintaku dan Fafa berkaitan. Kita mencintai orang yang sama, diwaktu yang sama. Kita tersakiti karena Senja lebih mencintai mbak Mentari. Sebelumya, akulah yang menyakiti mbak Mentari terlebih dahulu. Karena perjodohan ku dengan kak Bumi. Setelah itu. Masnya yang tersakiti karena, mbak Mentari tidak membalas cintanya. Sekarang aku bersama masnya. Dan Senja bersama Fafa. Ku do'akan semoga kak Bumi dan mbak Mentari dipersatukan di sana. Mereka saling mencintai, tapi tidak pernah tahu. Jika mereka saling berbalas cinta. Inilah sejarah cinta kita.

__ADS_1


__ADS_2