
Pasangan itu keluar dari rumah sakit. Wajah keduanya nampak bersinar. Pasangan itu benar-benar masih tidak percaya dengan kabar gembira. Langit membukakan pintu untuk istrinya itu.
Setelah itu, pemuda itu masuk ke bagian kemudi. Mobil itu keluar dari gapura rumah sakit. Langit melajukan mobilnya dalam laju sedang. Didalam mobil, pasangan itu tidak pernah berhenti tersenyum. Apalagi Cahaya, wanita itu mengelus perutnya yang sedikit maju ke depan. Sambil berbicara dengan buah hatinya dengan suaminya. "Dedek, mau bikin kejutan untuk orang tua dedek ya?"
Langit yang melihat hal itu, dia tersenyum. Pemuda itu, tidak pernah melihat istrinya sebahagia hari itu.
"Aneh enggak sih, Mas! Biasanya kalau orang hamil itu mual-mual. Tapi aku enggak!" Cahaya menatap sang suami.
"Mungkin dedeknya, kasian sama yang mengandung, ya kan dek!" Langit mengelus perut istrinya, dengan salah satu tangannya.
"Aku masih tidak percaya dengan hal ini. Aku pikir sakit kepala ku itu, karena penyakit. Enggak tahunya bawaan dari dedek!" Sepertinya sikap Cahaya tidak semenyebalkan berapa hari lalu.
"Terus, yang suka tidur di ketiak ku, juga bawaan kamu dek?" tanya, Langit terkekeh.
Cahaya memukul lengan suaminya.
Sedangkan Langit, dia tersenyum sambil mengeluarkan suara.
"Dedeknya, juga yang makan rotinya bibik Archer!" Langit berbicara sambil menyengir.
"Aku, akan memberi tahu keluarga saat makan malam. Aku yakin mereka akan terkejut," ujar suami pengertian itu.
Cahaya mengangguk setuju, kabar gembira harus dibagi bukan.
Malam harinya, pasangan itu sudah melaksanakan sholat magrib. Setelah itu mereka memutuskan untuk makan malam.
"Terima kasih!" ujar Langit mencium telapak tangan istrinya lembut.
"Untuk apa? Aku rasa aku tidak melakukan apa-apa," jawab Cahaya.
"Kau itu, padahal aku berusaha bersikap romantis loh," tuturnya dengan sebal.
"Sudahlah, kita ini pasangan yang tidak bisa romantis. Jadi enggak usah berlagak seperti pasangan romantis." Cahaya mengajak suaminya bercanda.
Langit hanya mengangguk, memang kalau dipikir-pikir perkataan istrinya itu benar.
Pasangan itu, melewati tangga dengan gandeng tangan. Setelah sampai di ruang makan, pemuda itu menyapa. "Malam semua!"
"Lam-ma!" jawab Archer, yang lain hanya mengangguk.
"Tadi Kang Mas, balik kantor jam berapa?" tanya suami Abidah Aminah.
"Setelah ngantar istri ke rumah sakit, Pak!" jawab Langit, sambil menunggu istrinya mengambilkan nasi.
"Terus apa kata dokter, menantu baik-baik saja kan?" tanya pak Khan kembali, paruh baya itu terlihat khawatir.
Cahaya yang mendengar hal itu, tersenyum menatap Langit. Sedangkan pemuda mengangguk, pemuda itu akan memberi kabar gembira.
"Kok tersenyum, sih?" tanya Abidah Aminah, seperti orang bingung.
"Iya, jangan sembunyikan apa pun. Atau berlagak sok kuat, jika ada masalah," papar pak Khan, paruh baya itu, takut jika anak dan menantunya menyembunyikan sesuatu. Apalagi jika itu kabar buruk.
"Tentunya kami akan, membagi kabar bahagia ini." Semua orang saling tatap, tak mengerti dengan perkataan pemuda berkaus hitam.
"Maksudnya?" Pak Khan bertanya.
"Sebenarnya— sakit kepala yang istriku derita itu karena—"
Eyang berharap jika cucu menantunya itu, menderita penyakit serius. Tapi sepertinya, harapannya sia-sia.
Semua keluarga menunggu ucapan Langit.
"Mengandung!" Semua orang, tertegun dengan pernyataan yang keluar dari pemuda itu.
Sedangkan eyang, nenek tua itu bak tersambar petir tanpa kedatangan hujan. Hatinya bergemuruh, tidak suka dengan pemberitahuan yang cucunya sampaikan.
"Langit, merdeka, merdeka!" Hazel, berseru sambil mengangkat tangannya.
Cahaya tersenyum karena ulah adik iparnya itu.
"Akhirnya, kita punya cucu lagi Pak!" Ibu mertua Cahaya, sangat bahagia.
"Iya Buk!"
"Ternyata ini toh, yang beberapa hari membuat sifat mu berubah Ay!" Alula menggeleng sambil menyuapi anaknya.
"Jadi malas ya Mbak?" tanya Cahaya menatap Alula.
__ADS_1
"Hahaha, iya!" jawab Alula apa adanya.
"Kang Mas mu itu, buatnya enggak pakai basmallah. Jadinya, ya gitu—" Hazel diam tidak mau melanjutkan kembali.
"Ya gitu apanya Kak?" tanya Archer yang baru ikut pembicaraan.
"Males!"
Cahaya yang mendengar hal itu, dia menundukkan kepala. Sedangkan Langit, mengambil tempe dan melemparkan kearah Hazel.
"Golllllll!!!" Langit berseru, karena lemparan nya masuk gawang, alias mulutnya Hazel. Ya! Maklum tepat sasaran, orang saat Langit melemparkan tempe itu. Hazel sedang tertawa ngakak.
Hazel yang dibekap dengan tempe yang melayang. Lelaki itu berhenti tertawa.
"Hole Goll!!!!" Si kriting, mengikuti seruan o'om nya.
"Ukhuk!" Hazel tersedak karena tempe. Ditambah anaknya malah tertawa, seneng pula.
"Aku rasa kau lupa, baca hamdalah saat selesai." Langit memutar ucapan Hazel.
Sedangkan Cahaya yang ada di samping pemuda itu. Wanita berambut sebahu itu, memukul lengan suaminya. "Kayak anak kecil, saja!" ucapnya yang hanya bisa di dengar suaminya saja.
"Cie-cie Kang Mas, sudah kayak orang." Arche berkomentar tentang kelakuan kang masnya itu.
"Emang dulu, kayak apa?" Cahaya bertanya.
"Frozen!" jawab Arche, yang membuat Cahaya mengerutkan dahi. Sedangkan Langit, dia tidak terima masa dibilang seperti frozen.
"Frozen?" tanya Cahaya, bingung.
"Hehehe, salah maksudnya fliser!" Arche tertawa, karena dia tidak bisa membedakan mana lemari pendingin mana saudaranya Elsa.
Mereka telah kembali ke kamar. Pasangan itu sudah melakukan tugasnya yaitu mengerjakan sholat isya. Wanita itu duduk di pangkuan suaminya, yang duduk di ranjang.
"Masnya, nati mau dipanggil apa sama dedek?" tanya Cahaya, sambil menaruh tangan suaminya di perutnya.
Langit bepikir sesuatu, dia mau anaknya. Memanggil dia dengan panggilan yang cocok.
"Em ... Papa!" ujarnya, Langit sepertinya bagus dan sangat cocok untuk dia.
"Bagus! Aku suka." Cahaya menanggapi dengan anggukan kepala.
"Bunda!"
"Jadi anak Panda dong?" Langit membelai rambut istrinya, yang duduk di pangkuannya itu.
"Maksudnya Papa-Bunda?" tanya Cahaya, memutar kepalanya. Agar menatap wajah suaminya. Langit menjawab dengan anggukan kepala.
Nanti kalau anaknya, enggak mau sama kalian jangan nyesel ya. Karena kalian lah, yang bilang jika bayi yang ada dalam kandungan adalah anak Panda. Bukan anak manusia.
"Kira-kira dia cewek apa cowok?" Cahaya begitu antusias jika membahas bayinya itu.
"Nanti kalau sudah, berapa bulan kita chek! Yang penting dedeknya sempurna!" Langit tidak terlalu mempermasalahkan baby boy atau baby girl. Yang penting sempurna.
"Mas!"
"Iya!"
"Aku hanya ngecek, saja." Cahaya terkekeh dengan perkataannya sendiri .
"Sudah malam, tidur yuk. Kamu enggak usah capek ngurus kafe sama minimarket. Aku sudah menyuruh si kembar untuk mengelolanya. Biar mereka, belajar, karena mereka juga mau juga bentar lagi kuliah. Aku ingin mereka bisa memenej waktu, sebaik-baiknya. Di masa mudanya, karena itu akan menjadi sebuah hebit untuk mereka kelak." Langit menyuruh istrinya turun dari pangkuannya.
Pasangan itu sudah bersiap untuk tidur. Cahaya menatap wajah suaminya, kemudian mengelus wajah itu lembut.
"Ayo tidur, jangan bergadang. Bumil enggak boleh tidur larut, harus jaga kesehatan!" Langit menyelimuti tubuh istrinya.
Wanita itu tidur sambil menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya.
Jarum jam berputar begitu cepat, hingga menunjukkan pukul tiga dini hari. Wanita yang tertidur pelukan sang suami. Merasakan lapar, yang tidak bisa ditahan. Cahaya membuka matanya perlahan, wanita itu menatap wajah suaminya yang damai saat tertidur. Cahaya melepaskan tangan suaminya, yang memeluk tubuhnya. Langit yang tertidur, merasakan ada pergerakan. Pemuda itu memutuskan untuk membuka matanya. Mulai malam itu, dia ingin menjadi siaga.
"Kau butuh sesuatu?" Langit berbicara sambil menahan kantuk dimatanya. Tapi pemuda itu bisa melihat sang istri, berusaha melepaskan pelukan.
Cahaya yang mendengar suara suaminya, dia mendongak untuk melihat wajah suaminya.
"Tidak, aku hanya ingin ke kamar mandi," jawabnya cepat.
"Kalau butuh sesuatu bilang padaku, aku akan dengan senang hati membantu," tutur Langit, membuat Cahaya senang.
__ADS_1
Cahaya sangat senang, karena suaminya memberi perhatian lebih. Setelah tahu jika dia mengandung.
"Iya, nanti kalau butuh sesuatu, aku akan bilang. Tapi ini masih pagi, Masnya tidurlah!" perintah Cahaya kepada suaminya.
Setelah bicara seperti itu, Cahaya berjalan kearah kamar mandi. Sedangkan pemuda itu, menatap punggung istrinya. Langit yang ngantuk, dia sudah tertidur kembali.
Sedangkan Cahaya, wanita itu membuka pintunya perlahan. Dia ingin mengecek apa suaminya sudah terlelap atau belum. Senyuman di bibirnya terukir, ternyata suaminya sudah tertidur. Cahaya menutup pintu kamar mandi perlahan, kemudian berjalan kearah ranjang.
"Dedek nya lapar ya?" tanya wanita itu kepada perutnya.
"Kita makan ya sayang, tapi makannya sama Bunda saja. Jangan ngerepotin, Papa! Karena besok, Papa harus kerja, yang pintar yang sayang!" Cahaya menutup pintu kamar, kemudian berjalan kearah dapur. Setelah sampai di dapur, wanita itu segera membuka kulkas. Cahaya tersenyum, karena ada roti yang beberapa malam ia makan.
Wanita itu mengambil roti itu, namun saat dia ingin menutup kulkas. Lampu dapur menyala.
"Teteh!" panggil sang pemilik roti.
Cahaya yang mendengar panggilan itu, wanita itu membalikkan badannya kearah adik iparnya. Cahaya tersenyum kaku, karena dia tertangkap basah saat sedang mencuri roti.
"Teteh ngapain?" tanya Archer, sambil ingin tahu apa yang kakak iparnya sembunyikan.
"Tidak-tidak ada!" Cahaya menyembunyikan roti itu, di belakang tubuhnya.
Tapi Archer mendengar suara, seperti plastik yang diremas.
"Hayo, Teteh jangan bohong, aku tahu pasti ada sesuatu di tangan Teteh!" tebak Archer, sambil menggerakkan kepala agar bisa tahu. Sebenarnya apa yang kakak iparnya sembunyikan itu.
"Enggak ada!" Cahaya menggeleng, wanita itu tidak mau mengakuinya.
"Teteh, dibelakang ada siapa?" tanya Archer, hanya dengan cara seperti itu. Dia akan tahu apa yang kakak iparnya sembunyikan darinya.
Cahaya langsung menengok kebelakang. Untuk melihat siapa yang adik iparnya maksud. Saat Cahaya menengok, Archer segera mengintip, dari samping tubuh Cahaya.
"Ah ...ternyata Teteh, yang mengambil roti ku! Bukan kang mas!" Archer mengambil roti itu dari tangan kakak iparnya.
Cahaya yang ketahuan dia terdiam. Sedangkan Archer, dia berjalan kearah kursi yang ada di dapur. Sambil membawa rotinya, yang kakak iparnya curi.
"Kesini Teh, kita bisa memakannya bersama," ajak Archer, sambil mengoleskan coklat di roti itu.
Cahaya yang mendengar hal itu, dia langsung mendekati adik iparnya. Untunglah malam itu, masih bisa makan roti yang selama beberapa malam ia makan.
"Ini buat Teteh!" Archer menyodorkan roti yang sudah diberi coklat kepada kakak iparnya.
Cahaya menerimanya, wanita itu membolak-balikan. Roti yang Archer buatkan khusus untuknya.
"Kenapa Teh?" tanya Archer, bingung karena kakak iparnya yang bersikap aneh.
"Aku kalau makan langsung tiga lapis!" pengakuan Cahaya bikin Archer melotot.
"Buukannn Mainnnn!" Archer menggeleng tidak percaya.
"Emang kenapa, dua itu tipis Cher!" Cahaya menatap adiknya.
"Enggak apa-apa, sini aku tambahin lagi. Biar jadi tiga la—"
"Pis!" Cahaya menjawab seperti anak kecil. Archer terkekeh karena kakak iparnya bak anak-anak.
Cahaya pun memberikan roti itu kembali, agar Archer menambah satu lapis lagi.
"Makasih Cher!" Cahaya tersenyum, kemudian memakan roti itu. Archer yang juga ingin memasukkan roti ke mulutnya, tidak jadi. Karena dia tertegun dengan gaya makan kakak iparnya yang cepat.
Archer menelan ludahnya sendiri.
Cahaya bisa menghabiskan roti itu dengan cepat. Roti ditangan Archer masih utuh. Membuat Archer menyodorkan roti tiga lapis itu, kearah Cahaya. Sebenarnya Archer ingin mengikuti jejak kakak iparnya. Memakan roti tiga lapis sekaligus.
Dengan kondisi tidak percaya. Archer menyodorkan roti itu sambil bicara. "Ini buat Teteh, saja! Entah mengapa aku sudah kenyang saat melihat Teteh makan!" Cahaya tersenyum, karena dia bisa makan enam roti untuk malam itu.
Archer melihat Cahaya makan dia hanya diam.
"Nambah lagi?" tanya Archer.
Cahaya mengangguk cepat, dia akan tidur jika sembilan roti itu masuk kedalam mulutnya. Archer dengan cepat mengoleskan coklat.
Disisi lain ruangan rumah Raharja. Nenek tua itu, Sedang berpikir sesuatu. Tangannya memijit ponsel, sepertinya nenek tua itu ingin mengirim sesuatu untuk orang yang ada di sebrang sana.
Tepatnya di sebuah kamar, perempuan itu terbangun karena ada pesan yang masuk. Perempuan itu mengambil ponselnya dan membaca isi pesan itu.
Nak Asya, ada kabar buruk. Istrinya Langit sedang mengandung. Tapi aku tidak akan membiarkan, wanita kampung itu melahirkan anak yang ada dalam kandungannya itu. Aku akan memberi tahu, semua rencana-rencana ku. Dikirim 03:00
__ADS_1
Asya yang membaca pesan itu, da tersenyum, kemudian senyuman itu berubah menjadi senyuman smirk.
"Jebakan berhasil!"