Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Tradisi Yang Berbeda


__ADS_3

Malam itu di rumah Kek Raharja sangat ramai tak seperti biasanya. Di sana juga sudah ada keluarga dari Brian dan Agam Ariaja.


"Baiklah karena sekarang semua sudah berkumpul mungkin lebih baik acaranya di mulai." Itu Kek Raharja yang angkat bicara terlebih dahulu.


"Acara pertama kita akan melakukan tukar cincin, untuk hal itu yang memakaikan cincinnya adalah menantuku dan dari keluarga wanita mungkin Nak Brian!" Tukar cincin mereka sedikit berbeda, dengan orang lain. Biasanya acara tukar cincin itu, akan dilakukan oleh kedua pasangan yang mau menikah.


Suaminya Abidah Aminah melepaskan cincin dari jari-jemari nya. Pun dengan Abidah Aminah juga melakukan hal yang sama seperti suaminya lakukan.


Suaminya Abidah Aminah itu memberikan cincin yang tadi ia lepas kepada Brian. Brian pun menerimanya.


"Baiklah, Nak Brian kamu pasangkan cincin itu kepada cucuku. Dan menantu kamu juga pasangkan cincinmu ke calon menantu mu," perintah kek Raharja kepada mereka. Black yang ada di sana, dia seakan bertanya-tanya tradisi dari mana itu.


Acara memasang cincin itu telah selesai mereka pun duduk kembali.


"Baiklah, kalian pasti bertanya kenapa acara tukar cincinnya seperti itu." Black yang tadi ingin tahu, ia tak sabar mendengar penjelasan dari kek Raharja.


"Ini adalah tradisi dari keluargaku. Waktu itu mbah buyut ku, menikah dengan seorang kiyai. Kalian pasti tahukan? Jika kebanyakan kiyai itu tidak mau bersentuhan dengan orang yang bukan mahrom-nya."


"Dari situlah tradisi ini muncul, dan kalian pasti bertanya, kenapa cincinnya punya anak dan menantuku langsung, kenapa tidak beli yang baru saja." Black sangat tidak sabar menunggu kek Raharja berucap lagi.


"Karena itu adalah cincin turun temurun. Mulai dari zaman mbah buyut sampai sekarang. Cincin itu akan diturunkan oleh penerus keluarga kita. Dan karena aku laki-laki jadi cincin itu ada denganku, karena anak dan cucunya mbah buyut ku perempuan semua. Dan hanya bapak ku saja yang laki-laki, kemudian cincin itu dikasih kan kepada ku dan almarhum istriku."


"Kemudian cincin itu beralih kepada anakku dan sekarang cincin itu ada di tangan cucuku. Aku harap kalian bisa menjaganya."


"Baiklah mumpung kita ada di sini semua, kita bisa menentukan tanggal dan tempat acara pernikahannya, aku tak akan ikut campur semua urusan kalian. Dan aku akan diam saja. Jika aku bicara mungkin akan membuat kalian pulang pagi. Karena telingaku yang sudah tak berfungsi lagi," .

__ADS_1


"Acara pernikahan akan dilakukan dengan adat Jawa, untuk akad nikah akan dilakukan sehari sebelum resepsi pernikahan. Bagaimana menurut mu Ayahnya Cahaya?" tanya suaminya Abidah Aminah.


"Iya, selaku kita dari keluarga wanita kita mengikut saja," jawab Brian.


"Untuk akad nikah kita sebaiknya di mana ya? " tanya pak Khan.


"Bagaimana jika di Masjid Istiqlal aja," saran Agam Ariaja. Yang disetujui oleh mereka.


"Lalu acara pernikahan dimana, Kang!" tanya Brian. Mereka nampak berpikir sejenak, sebelum ada yang berbicara.


"Gimana kalau di hotel saja, kan mungkin tamu undangan juga banyak dari teman kuliah, dosen-dosen dan belum dari kerabat dekat keluarga kami dan keluarga Kang Brian!" saran Abidah Aminah, yang disetujui semuanya.


"Untuk masalah mahar dan baju pengantin kami serahkan kepada kalian berdua selaku calon pengantin. Tapi adatnya masih ada Jawa lho ya,"


Semua sudah setuju dari tanggal, tempat resepsi, sampai hidangan untuk tamu.


"Cahaya, bisa bantu menghidangkan makanan," ucap Abidah Aminah, yang tak sungkan meminta bantuan dari calon menantunya itu.


"Al, kamu bawalah minuman itu,"


"Calon menantu apa kamu tahu, kenapa aku tak sungkan memintamu untuk membantuku, padahal aku bisa meminta si kembar membantuku?"


"Itu karena ...aku sudah menganggap mu sebagai anakku. Karena ibu sendiri akan mendidik anaknya untuk menjadi lebih baik, meski caranya sedikit keras. Berbeda dengan ibu mertua yang cenderung sungkan jika menyuruh menantunya untuk mengerjakan sesuatu. Jadi kamu jangan salah paham. Jika aku meminta mu untuk melakukan sesuatu, seperti saat ini contohnya. Aku ingin kamu menjadi istri yang baik dan jika suatu saat kamu mempunyai anak kamu akan menjadi orang tua yang baik." Cahaya paham apa yang dimaksud Abidah Aminah padanya.


Semua mulai makan, sesekali mereka makan dengan candaan yang diberikan oleh anak-anak remaja yang ada di sana.

__ADS_1


"Kalau, Bang Langit nikah si kembar terlupakan dong," ucap Black menyeringai. Karena si kembar takut jika kang masnya terlalu memprioritaskan istrinya.


"Mungkin saja itu Black, seperti Mbak Alula yang melupakan si kembar saat sudah menikah denganku," ujar Hazel yang suka menggoda si kembar. Dia ingat saat si kembar datang kepadanya dan bilang kalau prioritas Alula saat sudah menikah dengannya hanya dirinya saja. Padahal waktu itu pernikahan Hazel dan Alula baru juga tiga hari.


"KAK HAZEL... " ucap si kembar agar Hazel tak menceritakan kejadian itu.


"Baiklah, Kakak akan diam, tapi siapa yang waktu itu menguping didepan kamar saat aku dan Mbak Alula ada di kamar," ucap Hazel, si kembar sangat malu. Kata Hazel akan diam. Tapi mengapa bukanya diam malah membuka kartu As mereka di depan semua. Semua yang ada di sana tertawa. Tapi dari sekian orang tertawa yang paling keras tawanya milik Black. Berbeda dengan Black. Pemuda yang baru saja tunangan itu hanya diam saja.


"Awas kau Black!" ucap Arche.


"Emang apa yang Kakak dengar waktu menguping?" tanya Cantik, yang sepertinya ingin tahu.


Si kembar tersenyum menyeringai kearah Hazel.


"Kak Hazel apa perlu kartu As-nya kita buka sekarang?" tanya Archer kepada Hazel, suami Alula itu sepertinya tak tenang jika mereka benar-benar membuka kartu As-nya.


"Emang apa yang kalian dengar waktu itu?" tanya Black.


"Bagaimana ini Kak Hazel, apa boleh," ujar Arche menyeringai.


"Tidak usah lah Kak, kasian Kak Hazel sama Mbak Alula nanti malu," ucap Archer.


"Baiklah, Tenang saja Kak Hazel aman sama kita." Arche tak jadi memberi tahu hal itu membuat Black mengumpat.


Sebenarnya malam itu Alula menangis gara-gara bertengkar dengan Hazel entah apa masalahnya, padahal baru menikah sudah bertengkar saja.

__ADS_1


"Jangan-jangan waktu itu Om Hazel dan Aunty Alula bertengkar karena rebutan guling. Biasanya aku sama Cut Abang juga begitu saat tidur bersama," ucap Cantik yang membuat Black malu, dia kan sudah besar mengapa harus pakai rebutan guling segala. Semua yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Cantik. Dan tawa yang paling keras adalah milik si kembar. Sepertinya si kembar balas dendam. Lagi-lagi pemuda yang baru tunangan itu tidak ikut tertawa.


__ADS_2