
Masih dihari yang sama, hari dimana Black pergi ke Jogja. Jam menunjukkan pukul tuju lima belas. Cahaya harus cepat membantu si gadis berwajah bulat untuk sekolah.
"Ayo cepat! Akak bantu," ujar Cahaya, sambil membuka kancing seragam sekolah.
"Nanti mau Akak, antar enggak?" Cahaya bertanya kepada gadis itu lagi.
Gadis itu menggelengkan kepala pertanda enggak mau.
"Kenapa?" Cahaya bertanya, dengan kerutan di dahi.
Tidak biasanya gadis itu menolak dia.
"Sudah sama Om Dosen." Cantik tersenyum lebar.
"Baiklah, sekarang pakai sepatu yang Om, kasih waktu ramadhan ya?" Cahaya mengeluarkan sepatu itu dari kardus.
Gadis itu mengangguk menyetujui.
"Cantik, sudah makan?" Cahaya bertanya, sambil memakaikan hijab.
Gadis berwajah bulat itu, mengangguk.
Cantik, sekolah di Madrasah Ibtidaiyah favorit. Agam Ariaja, ingin anaknya lebih belajar ke agama. Sekolah Madrasah Ibtidaiyah itu, baru berdiri satu tahun yang lalu. Andai saja dulu saat Black masih kecil sudah ada Madrasah Ibtidaiyah, pasti Agam Ariaja akan memasukkan ke sekolah agama.
"Oke selesai! Kita ke depan om, sudah nunggu," ujar Cahaya, sambil menggandeng tangan gadis itu.
Mereka berjalan keluar rumah. Karena om Dosen menunggu di luar.
"Ayo Om, aku sudah siap." Aduh senyumnya manis sekali.
Langit yang mendengar suara Cantik, pemuda itu, segera menutup laptop dan memasukkan ke tas kerjanya.
"Hmm ayo."
Akh— om Dosen sangat manis, karena menggandeng tangan Cantik.
"Kau tidak ikut?" Langit bertanya, kepada istrinya.
Cahaya hanya menggelengkan kepala.
"Lalu, pagi ini kau akan ke mana?" Langit sangat banyak tanya pagi itu.
"Ke ruko, aku akan ke sana. Toh juga sudah ada teman di sana," jawabnya, sambil menaruh tangan kebelakang.
Tentu saja wanita itu sudah ada teman.
Karena karyawan minimarket sudah mulai bekerja, meskipun belum buka. Karyawan itu kerjanya cuma menata barang-barang. Sebelum minimarket itu diresmikan.
"Ya sudah aku antar?" Suami yang satu itu sangat perhatian.
"Beda arah, aku ke sini dan kamu ke sana." Cahaya bicara, sambil menggerakkan tangan kanan ke barat sedangkan tangan kiri kearah timur.
"Terus... "
Cahaya memotong ucapan suaminya.
"Sudah jangan khawatirkan aku, Mas! Cepat antar Cantik! Nanti telat!" Cahaya mendorong tubuh suaminya.
Saat Cantik mau masuk mobil, gadis itu teringat sesuatu.
"Tunggu, Om aku belum cium tangan Akak!" Gadis itu turun lagi, dan berjalan kearah akak Bubble-nya.
Cahaya mengerutkan dahi kenapa gadis itu balik kearahnya lagi.
"Kenapa sayang?" Cahaya bertanya, kepada gadis itu.
__ADS_1
"Lupa belum cium tangan Akak!" Gadis itu mencium tangan akak Bubble-nya.
"Tidak mau cium yang lain?" Cahaya bertanya, sambil membungkukkan badannya.
Langit yang melihat hal itu mengerutkan dahi. Kenapa saat dia mau kerja, istrinya tidak bilang seperti itu kepadanya.
Gadis itu langsung mencium pipi kanan-kiri, kening dan bibirnya akak Bubble-nya. Langit yang melihat adegan itu, mengusap keringat yang ada di dahinya. Padahal masih pagi tapi kenapa pemuda itu berkeringat.
Cantik masuk ke dalam mobil dibantu oleh om Dosen. Langit masuk mobil dan membantu gadis itu memakai seat belt.
"Kita berangkat Om." Gadis itu berseru riang. Langit mengangguk dan membuka kaca mobil.
"Daaa Akak!" Gadis itu melambaikan telapak tangan kearah akak.
Cahaya membalasnya, sambil tersenyum. Langit pagi itu tidak bisa menggoda istrinya.
Mobil silver itu keluar dari pekarangan rumah Agam Ariaja. Untung saja sebelum berangkat ke bandara, istrinya Agam Ariaja memberitahu sekolah Cantik. Dan sekolah Cantik, berhadapan dengan perusahaan PT. Jaya Karya.
"Om! Cantik nanti kalau pulang gimana, apa akak yang akan menjemput ku?" tanya gadis itu, melihat wajah om Dosennya.
Langit melirik kearah gadis yang banyak tanya itu.
"Tidak, nanti Om, yang akan mengantarkan pulang. Nanti kamu bisa cari Om ke kantor depan sekolah mu. Kau bisa cari Om, di sana, karena Om, kerja di sana." Langit memberi tahu gadis itu.
Si wajah bulat hanya mengangguk pelan.
"Nanti Om, anterin aku sampai masuk kelas ya Om. Aku enggak berani. Pasti mereka di antar kedua orang tuanya." Gadis itu bicara dengan wajah sendu.
Langit melirik kearah gadis itu dan mengelus kepala gadis itu. Pemuda itu teringat saat dia dan Mentari awal masuk dulu. Langit tersenyum memikirkan Mentari.
"Tentu saja."
Mobil itu parkir di parkiran perusahaan PT. Jaya Karya. Langit membuka pintu dan keluar dari mobil. Membuka pintu untuk Cantik dan membantu membuka seat belt. Cantik turun dari mobil dan pemuda itu menutup pintu.
"Iya, ayo Om antar kamu ke sekolah." Langit menggandeng tangan gadis itu, dan berjalan kearah jalan raya. Hampir satu menit mereka menunggu jalan sepi tapi tidak sepi-sepi juga. Langit berpikir jika dia menyuruh gadis yang ia gandeng itu berjalan pasti lambat. Yang ada dapat ciuman dari kendaraan. Langit menggendong gadis itu, dan segera menyebrangi jalan. Cantik tersenyum karena dapat gendongan dari om Dosen, dua kali untuk pagi itu. Mereka sudah ada di halaman sekolah. Siswa didik baru seperti Cantik pasti di antar orang tuanya.
"Ma, aku enggak mau sekolah." Terdengar rengek kan dari bocah lelaki yang umurnya seperti lebih tua satu tahun dari Cantik.
"Abi aku takut," ujarnya gadis yang memegang tangan ayahnya.
Cantik yang ada di gendongan om Dosen menatap pemuda itu. Kemudian mengangkat bahu seolah bertanya 'kenapa pada takut' itulah yang Langit artikan.
"Kamu enggak boleh sama seperti mereka.. Kau harus berani, kau tahu?" Langit bertanya kepada Cantik.
Gadis itu menggelengkan kepala.
"Dulu saat Om dan almarhumah masuk TK untuk yang pertama kalinya. Kita sangat berani, tidak takut siapapun. Jadi kau juga harus seperti kita." Langit bicara menceritakan tentang Mentari.
Gadis itu sangat senang jika seseorang bercerita tentang kakaknya itu.
"Baik Om, tapi sepulang sekolah Om, mau bercerita tentang almarhumah kepada ku?" gadis itu bertanya, kepada om Dosen.
Langit terdiam, entah apa yang ia pikirkan. Tapi pemuda itu, akan bercerita tentang sahabatnya itu. Toh akar dari permasalahannya ada saat mereka kuliah di luar negeri.
"Tentu saja." Langit bicara, sambil berjalan kearah kelas Cantik.
Ibu-ibu yang melihat pemuda berjas menggendong gadis sedikit gemuk itu, hatinya langsung menjerit. Kemudian berbisik satu dengan satunya. Mengagumi pemuda berjas dan gadis itu.
"Lihat deh Bu, pria berjas itu dengan anaknya sangat kompak ya?" Ibu kurus itu mengawali pembicaraan. Kebiasaan jika sudah ngumpul pintu ghibah terbuka lebar untuk ibu-ibu.
"Iya ...eh itu lalaki éta ganteng pisan, sareng putrina ogé imut( ya eh pria itu sangat tampan, dan putrinya juga imut)" Ibu yang jawab sepertinya dari Bandung Jawa Barat kalau melihat logatnya.
"Tapi kenapa tak sama istri?" Ibu gemuk itu memakai logat Malayu.
"Bisoae istrine sibuk(bisa saja istrinya sibuk)" Ibu itu makai bahasa Jawa pasti orang Demak.
__ADS_1
Langit menurunkan gadis itu, dan Cantik langsung berjalan masuk kelasnya. Langit mengikuti gadis itu, dari belakang. Di dalam kelas sangat ramai ada yang nangis karena orang tuanya mau keluar. Ada juga yang tertawa, pokoknya semua ada di sana. Cantik mencari tempat duduk seperti yang kak Black bilang. Gadis itu memilih tempat duduk yang berhadapan langsung dengan meja guru. Langit berjalan kearah gadis itu.
"Kau akan duduk di sini?" Langit bertanya, dan duduk di samping Cantik.
Gadis itu mengangguk pelan, sambil menaruh tasnya dimeja.
"Jangan takut, kau anak yang pintar." Langit memberi dukungan kepada gadis itu, sambil merengkuh nya dan dengan tidak sadar pemuda itu mencium kepala gadis itu.
"Baik." Cantik mengangguk.
Anak perempuan itu menghampiri gadis berwajah bulat.
"Nana!" Anak perempuan itu mengulurkan tangannya.
Cantik tidak tahu kenapa anak perempuan itu mengulurkan tangannya. Gadis itu menatap om Dosen seolah bertanya' kenapa dia mengulurkan tangannya, bukannya dia tak pernah bertemu dengan ku sebelumnya'. Seperti itulah yang pemuda itu tangkap. Pagi itu Langit harus jadi bapak buat Cantik.
"Dia mengajakmu berkenalan, Cantik harus menerima uluran tangan Nana, dan menyebutkan namamu. Itu yang dimaksud perkenalkan," imbuh pemuda itu.
Cantik mengangguk, kemudian melakukan yang dikatakan om Dosen.
Gadis itu menjabat tangan anak perempuan itu seraya berkata. "Aku Cantik!" Gadis itu memberi tahu namanya.
"Kita berteman, Cantik!" Nana tersenyum.
Sepertinya bu guru akan segera datang, seluruh orang tua harus keluar kelas.
"Nanti kalau mau nyebrang minta di sebarang kan petugas jalan ...jangan nyebrang sendiri oke." Langit bangkit dari duduknya, gadis itu mengangguk.
"Baiklah ini hari pertama, jadi belum ada pelajaran full, jadi kau bisa santai untuk hari ini ...tapi ibu guru akan memberikan materi sedikit. Entah itu berhitung atau berkenalan dengan teman." Langit bicara sangat panjang.
Gadis itu mengangguk paham dan mencium tangan om Dosennya itu. Langit meninggalkan ruangan kelas itu. Pemuda itu membuang napas lega. Karena tugasnya jadi bapak dadakan sudah selesai pikir pemuda itu.
Belum! Tugas jadi bapak dadakan untuk Cantik belum selesai. Tapi jam delapan sampai jam sembilan bisa istirahat jadi bapak dadakan. Kalau jam setengah sepuluh sudah masuk jam kerja, jadi bapak dadakan lagi. Langit menyeberangi jalan, pemuda itu masuk perusahaan PT. Jaya Karya.
"Pagi, Pak Arkana!" Karyawan divisi pajak menyapa atasannya.
"Pagi juga Bu!" Langit menjawab, sambil mengangguk dan berlalu.
"Pagi.Pak Langit!" Pasti orang terdekatnya, karena manggil nama panggilannya saat di rumah.
Langit mencari suara itu, ternyata orang yang bersuara ada di sampingnya sambil tersenyum lebar.
"Pagi Jo, kapan kau pulang ke rumah?" Langit tahu, Jo tidak akan pulang ke rumah jika masih ada eyang.
"Hehehe, kapan ya Pak, masih ada dinas luar kota, Pak! Mungkin sehabis itu baru pulang." Entah itu alasan saja atau benarkan lihat saja nanti.
Keduanya masuk lift saat di dalam lift Jo berbicara pelan tapi Langit mendengar nnya.
"Setelah dinas dari Kalimantan, aku akan buat paspor."
"Kau mau buat paspor Jo?" Langit bertanya, pemuda itu berpikir, jika akan membuat paspor juga untuk istrinya.
"Iya Pak, emang Pak Langit mau buat? Bukanya Pak Langit sudah pernah ke luar negeri pasti punya lah."
Jo bertanya tapi juga menjawab pertanyaannya sendiri.
"Tidak untuk ku, tapi untuk istriku." Langit bicara, sambil membenarkan tas kerja yang mau jatuh dari lengannya.
Jo sudah keluar dari lift tapi Langit masih ada didalam lift itu. Berapa menit kemudian Langit keluar dari lift dan masuk ruangan. Hari itu Langit ada pertemuan dengan investor asal Sumatra. Langit duduk di kursi kerjanya sambil memijat dahinya. Pekerjaan hari itu numpuk, jadi bapak dadakan sekaligus jadi karyawan perusahaan. Yang pasti pemuda itu dapat bayaran dari kedua kerjaan itu. Tapi yang paling mahal bayarannya jadi bapak dadakan. Langit dapat belajar menjadi bapak yang baik jika suatu saat nanti dia jadi bapak. Tapi entah kapan itu terjadi. Semua tergantung takdir yang dicatat untuknya.
"Entah mengapa aku ingin membuatkan dia paspor dan visa." Langit memejamkan matanya, memikirkan ucapnya tadi.
Sepertinya pasangan itu akan ada perjalanan ke luar negeri. Tapi semua itu ada alasannya. Yang pasti karena wanita berambut sebahu itu. Entah takdir apa yang mereka harus lewati.
"Dia pasti sedang kerja dengan karyawan minimarket, baiklah aku akan ke ruang meeting sekarang ...semoga berjalan lancar." Langit berdiri dari duduknya, dan membawa laptop dan beberapa berkas yang ada di meja.
__ADS_1