Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Kalau Marah Selalu Diam


__ADS_3

Malam ini aku ingin bercerita tentang kisah persahabatan ku dengan Ajil lagi. Tak terasa kita sudah SMA kelas satu. Menghabiskan masa SMP bersamanya, membuat kita mengerti satu sama lain. Tidak afdol rasanya, jika sebuah hubungan itu berjalan lurus tanpa kelok. Tidak nikmat rasanya, jika sebuah hubungan tidak ada krikil-krikil kecil. Pun sama dengan hubunganku dengan Ajil. Kita sering berdebat sering bertengkar hanya masalah sepele. Ajil itu sangat pintar, di sekolah dia selalu dapat rangking satu. Dan otomatis dia gratis tanpa harus bayar SPP. Aku sangat iri dengan dia, bagaimana tidak! Dia itu pintar dan cerdas semua guru selalu bilang ke siswa seperti ini ' Kalian itu makan nasi, Langit juga makan nasi kenapa tidak ada satupun dari kalian yang bisa ngalahin Langit, dari kelas tujuh sampai kelas sembilan dia selalu juara kelas' Bu guru selalu saja bilang seperti itu, membuat seluruh murid terdiam. Sedangkan si Ajil tersenyum bahagia. Akh lupakan tentang Ajil. Entah mengapa jantungku berdetak saat bertemu dengan dia. Apa aku ini sedang jatuh cinta. Ya Allah kenapa saat aku dekat dengan kak Bumi, jantungku seperti itu. Aku ingin bercerita kepada Ajil, tapi aku urungkan, aku takut jika dia bilang kepada kakaknya.


^^^TTD.^^^


^^^Mentari.^^^


Cahaya membuka lembaran selanjutnya, wanita berambut sebahu itu, ingin tahu kisah selanjutnya. Wanita berambut sebahu itu, terbangun saat jam dua dini hari. Cahaya membaca buku itu di balkon kamar, sendirian.


Satu bulan telah berlalu, aku memendam perasaan ini untuk dia. Saat aku bermain di rumah Ajil. Aku berdoa jika aku bertemu dengan kak Bumi. Kak Bumi selalu menyapaku saat aku menunggu Ajil untuk belajar.


"Loh Adik sedang nunggu, adiknya Kakak?" tanya kak Bumi waktu itu, sambil duduk di sampingku.


Sia*nya waktu itu, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Bagaimana tidak, orang yang aku suka duduk di sampingku lagi. Aduh kak Bumi itu, selalu memanggilku adik bikin aku tambah kepedean.


"Iya Kak!" jawabku sedikit geroqi, bukan sedikit sih tapi banyak.


"Dik, sudah makan belum, mending ikut Kakak makan ke dapur, sambil nunggu sahabatmu itu." Kak Bumi bicara seperti itu, bikin aku degdegan. Bukan cuma perkataannya saja, tapi waktu itu kak Bumi menggandeng tanganku sampai dapur. Aku pun hanya mengikuti orang yang ada di depanku itu.


"Ayo di makan." Kak Bumi, waktu itu bilang seperti itu. Waktu itu kak Bumi masak mie dikasih telur. Setelah itu dia membagi mie itu dengan ku.


"Enak Kak mienya, Kakak jago masak ternyata," pujiku kepada Kak Bumi.


"Ya ampun Dik, ini kan mie instan, jadi semua orang pasti bisa masak. Dan rasanya pasti sama seperti tante Walsall kalau buat mie." Aduh jawaban kak Bumi waktu itu bikin aku malu.


"Ehm... "


"Mie?" Ajil waktu itu bertanya kepada kakaknya.


"Mau? Biar Kakak masakin buat kamu?" Kak Bumi menawarkan diri kepada si Ajil.


"Enggak, cuma mau ingcip aja." Ajil waktu itu bicara, sambil merebut sendok di tangan kakaknya. Kemudian menyeruput kuah mie instan sambil berdiri.


"Enggak pedas." Ajil bicara, sambil meletakkan sendok itu ke mangkuk lagi.


Si Ajil itu bikin badmood aja. Enggak tahu apa aku ingin berduaan sama kak Bumi.


"Mau apa Dik?" Kak Bumi bertanya, kepada Ajil yang sedang membuka lemari pendingin.


"Bikin sirup mau?"


Hubungan Ajil dengan kak Bumi, bikin aku iri saja mereka saling menyayangi. Tapi aku juga punya adik namanya Black kita memiliki perbedaan sepuluh tahun. Dulu, mami sangat pengen punya anak cowok. Sampai-sampai Ajil di suruh manggil Mami dan Papi. Untungnya Ajil mau.


"Bikinin sekalian sama sahabatmu ini." Kak Bumi waktu itu bicara, sambil melirik kearah ku dan tersenyum tipis.


Ngebayangin saja bikin aku tersenyum, malu saat menulis ceritaku hari ini.


"Ck." Ajil berdecak sebal.


Sedangkan kak Bumi tersenyum puas entah karena apa.


^^^TTD^^^


^^^Mentari^^^


Cahaya membaca buku itu dengan baik.


"Ternyata mbak Mentari suka sama kak Bumi, tapi bagaimana kisah selanjutnya tentang mereka." Cahaya bertanya, kepada dirinya sendiri. Wanita itu menutup mulutnya karena menguap.


"Aku akan membacanya kapan-kapan saja, aku sangat ngantuk." Wanita berambut sebahu itu, berdiri dari duduknya kemudian masuk kamar. Menutup pintu sliding yang terbuat dari kaca dan menguncinya. Cahaya meletakkan diary itu ke laci. Wanita itu, kembali berbaring menatap punggung suaminya.


"Masnya masih marah, karena aku bilang jika aku mengajak Senja menjadi rekan kerjanya ku." Cahaya bicara, sambil mengelus pundak suaminya.


Pemuda itu sangat marah, saat Cahaya menceritakan tentang bisnis kafe itu. Saat istrinya bilang akan jual bakso. Langit sangat mendukung jika kafe menyediakan makanan juga. Pemuda itu bertanya kepada istrinya, 'emang bisa bikin bakso'. Cahaya malam itu yang duduk di atas mobil Jeep bilang. 'Aku hanya menjualnya saja, ibunya Alexa yang bikin'. Saat Cahaya bilang, dia juga mengajak Senja menjadi rekan bisnis. Tapi sang suami malah langsung turun dari atas mobil.


"Besok pagi, aku akan bicara baik-baik dengan Mas." Cahaya bicara pelan.


Pagi telah datang, mentari sudah siap menampakkan bentuknya. Pagi itu Cahaya baru selesai masak, wanita itu sudah ada di depan kamarnya.

__ADS_1


"Aku akan membantunya untuk memakaikan dasi." Cahaya bicara, sambil membuka pintu kamar.


Mata Cahaya menatap suaminya, sedang bercermin sambil memakai dasi. Wanita itu berjalan mendekati suaminya.


"Sini aku bantu." Cahaya berbicara, tangannya sedikit lagi menyentuh dasi itu. Tapi Langit segera membelakangi istrinya.


Cahaya menghela napas panjang, karena suaminya diam kepadanya. Pemuda itu kalau marah pasti mendiamkan istrinya.


"Mas, kenapa enggak mau di bantu?" Cahaya bicara, sambil berjalan ke depan suaminya. Langit memutar tubuhnya lagi dan membelakangi istrinya.


"Bicara kenapa gitu, jangan diam saja." Cahaya bicara dan sudah ada di depan suaminya lagi. Tapi pemuda itu, tidak mau berhadap-hadapan dengan istrinya.


"Kalau Mas, diam enggak akan selesai masalah ini, coba bicara kenapa gitu." Cahaya berlari kearah pintu dan segera mengunci pintu itu, kemudian menyembunyikan kunci itu. Langit menghembuskan napas pelan, karena istrinya lebih gesit.


"Az-zahra kembalikan kuncinya." Langit bicara dengan suara berat.


Cahaya segera menyembunyikan tangannya ke belakang.


"Emm enggak, bicara dulu baru aku buka." Cahaya menggeleng kan kepala. Saat mau berjalan, tangan Langit mencekal lengan istrinya.


"Ayo berikan." Langit meminta kunci itu.


"Enggak mau." Cahaya menggelengkan kepalanya.


Hal itu malah membuat suaminya jengkel, karena hati suaminya juga sedang tidak baik-baik saja.


"Baik, kalau enggak mau, aku sudah memintanya dengan baik, tapi kamu enggak mau memberikannya, jangan salahkan aku jika sesuatu hal akan membuatmu bersedih." Langit bicara, sambil memperingatkan istrinya.


"Jangan." Cahaya menyembunyikan kunci itu di genggaman tangannya. Langit masih berusaha untuk mengambil kunci yang ada di tangan istrinya.


"Enggak boleh." Cahaya memundurkan badannya sampai menatap tembok.


Posisi seperti itu, sangat menguntungkan bagi Langit.Kemungkinan besar dia bisa merebut kunci yang ada di tangan istrinya itu.


Cahaya masih saja kekeh menyembunyikan kunci itu. Langit bisa merasakan jika tangannya sudah ada di pergelangan tangan istrinya.


"Mas, bicara dulu dong, nanti aku kasih."


Krek... kelinting... sesuatu terjatuh mengenai lantai. Mata Cahaya menatap benda yang jatuh itu. Tangan kirinya yang menggenggam kunci menjadi terbuka.


Kelinting... kunci itu terjatuh mengenai lantai. Cahaya tidak memperdulikan kunci itu lagi. Cahaya lebih memperdulikan benda yang pertama jatuh.


Wanita berambut sebahu itu, mendorong sedikit tubuh suaminya agar memberi dia jalan. Cahaya berjalan kearah benda yang terjatuh itu. Wanita itu berjongkok dan mengambil benda itu. Akh—matanya berkaca-kaca.


"Hiks... " Cahaya terisak.


Langit mengambil kunci itu. Namun saat mendengar Isak kan. Pemuda itu menatap punggung istrinya.


"Sudah aku duga, pasti dia akan menangis." Langit mendesis pelan dan menghampiri istrinya.


"Gara-gara Mas, gelang ku jadi patah." Cahaya menyalahkan suaminya.


Langit membuang napas, karena istrinya menyalahkan dia.


"Masnya harus ganti pokoknya hiks." Cahaya berucap lagi.


"Iya." Langit menjawab sambil berdiri.


"Tapi aku enggak mau, yang baru, aku maunya gelang ini. Aku suka karena waktu itu Mas, yang ngasih buat yang pertama kalinya, jadi aku menyukainya ...tapi sekarang hiks."


Gelang itu adalah pemberian dari Langit untuk Cahaya waktu itu. Wanita berambut sebahu itu bukan menangisi gelang itu. Tapi menangisi kenangan saat suaminya itu berlaku manis kepadanya untuk yang pertama kalinya.


"Coba lihat." Langit berjongkok dan merebut gelang itu dari tangan istrinya.


"Aku akan membawanya ke toko emas untuk di sambung." Langit berbicara.


"Beneran ya, jangan di ganti yang palsu pokoknya, aku enggak mau, aku bisa mengenalinya. Jika Mas, beli yang baru meskipun sama sekaligus." Cahaya bicara sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


Langit menelan ludahnya. Bagaimana mungkin dia bisa manipulasi gelang itu. Dia harus ke Singapura untuk membeli gelang yang sama persis dengan gelang istrinya itu.


"Iya."


"Awas bohong enggak dapat jatah lagi." Cahaya menunjuk wajah suaminya.


Langit yang mendengar hal itu berpikir jatah apa dulu nih.


"Jatah apa?" tanya Langit deg-degan.


"Susu." jawab Cahaya cemberut.


"Enggak bisa gitu lah." Langit tidak bisa menerima hal itu. Dia baru dapat jatah susu baru seminggu.


"Bisalah orang aku yang punya." Cahaya tidak mau jika susunya berkurang karena suaminya.


"Lah kan itu uangku, yang kau buat beli si coklat itu." Langit berbicara sambil berdiri.


"Enggak, orang udah dikasih, berarti itu sudah punya ku, pokoknya Mas, enggak boleh minum susu milo di gelas ku."


Hampir satu minggu Langit dan Cahaya saling berbagi minuman coklat itu. Langit teringat kata Jo jika minum di gelas bekas istri itu manis. Entah dari mana Jo tahu padahal pria itu saja belum menikah.


Jam menunjukkan pukul tujuh. Semua murid SMA sudah pada datang.


"Tunggu." suara cowok dari belakang, kemudian mencekal lengan gadis berbaju pramuka.


Gadis itu membalikkan badannya, untuk melihat siapa yang memegang tangannya dari belakang.


"Lepasin tangan gua." ujarnya, sambil menghempaskan tangan itu.


"Cher gua mau ngomong sama lu." Ya! Dia adalah Kenzi.


"Ngomong aja." Archer bicara membentak.


"Tapi enggak di sini, kita ke belakang kelas saja." Kenzi bicara pelan.


"Enggak mau gua, lu kalau ngomong di sini aja. Gua yakin pasti kalau gua nurutin omongan lu yang ada gua dapat masalah." Archer bicara, sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Gua suka sama lu."


Duar...


"Maaf Ken, gua udah dijodohin." Archer memalingkan wajahnya.


Untung kakak tidak sekolah. Aku tahu kakak suka sama Kenzi. Aku enggak mau gara-gara cowok aku dan kakak bertengkar. Batin Archer.


"Lu jangan bohong." Kenzi bicara dengan nada emosi.


"Apa yang bisa gua buktiin ke lu, biar lu percaya." Archer tidak habis pikir, jika hari itu dia ditembak seseorang untuk yang pertama kalinya.


"Bawa dia ke hadapan gua," ujarnya, dengan wajah yang dibasahi keringat.


Black kenapa lu enggak ada di sini. Saat gua butuh lu, gua ingat ucapan lu waktu itu saat lu nganter kita ke sekolah 'jangan sampai mencintai orang yang sama, gua enggak bisa ngebayangin kalau kalian bertengkar gara-gara cowok'.


"Lu udah tahu." Archer menjawab singkat.


"Siapa?" Kenzi tidak bisa bicara santai. Napasnya tersengal-sengal karena jawaban seseorang yang ia cintai.


"Orang yang tadi malam ada saat peresmian kafe." Archer bicara, sambil meninggalkan Kenzi. Namun langkanya terhenti saat Kenzi mencekal tangannya kembali.


"Siapa?" Kenzi bertanya memastikan, jika yang dimaksud Archer adalah orang berbisik dengan Archer saat peresmian kafe.


"Kak Jo!" jawabnya, sambil melepaskan tangan Kenzi, yang memegang tangannya. Archer berlari meninggalkan Kenzi.


Maafkan aku Ken, aku tidak bermaksud untuk melukaimu sedikitpun. Tapi hubunganku dan kakak lebih dekat. Aku tidak mau kakak salah paham. Ya Tuhan! Jika boleh aku memilih aku pengen jadi kecil, BLACK!!!!


Archer menjerit dalam hatinya sambil berlari meninggalkan Kenzi yang terduduk lesu.

__ADS_1


Di sebuah kontrakan kecil, pemuda itu keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk.


"Archer!" Black.


__ADS_2