
Cahaya mengerutkan dahi saat melihat ranjang berwarna putih itu.
Kecil sekali.
"Mas, kita tidurnya gimana?" tanya Cahaya.
Istri Agam Ariaja sengaja memilih kamar itu untuk pasangan baru itu.
"Kalau kita saling membelakangi tidak cukup, kalau saling berhadapan," ucap Cahaya, sambil melihat wajah suaminya.
Langit yang sangat lelah dia ingin sekali tidur.
"Tidurlah dulu."
Wanita itu hanya menurut, apa kata suaminya. Perlahan pemuda itu, memposisikan untuk tidur. Cahaya sangat kaget saat tangan kekar itu memeluknya dari belakang.
"Tidur, apa kau berpikir aku akan tidur di bawah?" tanya Langit, sambil memejamkan matanya.
"Ti-tidak," jawab Cahaya yang ada di pelukan suaminya itu.
"Yasudah, tidurlah cuma malam ini saja." Langit berbicara sambil, memejamkan matanya.
Cahaya mencoba memejamkan matanya, namun belum bisa. Berbeda dengan Cahaya, pemuda itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Apa masnya sudah tidur, tapi kenapa ya aku belum mendengar, mas memanggil namaku saat dia sudah jadi suamiku.
__ADS_1
Perlahan wanita itu mulai memejamkan matanya, pelukan dari suaminya itu mampu membuat ia tidur dengan nyaman sangat nyaman. Pun sama dengan pemuda itu, juga sangat nyenyak daripada guling istrinya lebih enak dipeluk. Meskipun tak seseksi guling.
Jam menunjukkan pukul setengah lima, ponsel itu berdering sangat kencang. Hingga membuat sang pemilik terbangun dari tidur lelapnya. Entah mengapa dari tadi sore perasaan wanita itu tidak enak. Perlahan wanita itu melepaskan pelukan suaminya, kemudian duduk. Cahaya mengambil ponselnya yang ada di laci itu.
"Iya, ayah ada apa?" tanyanya, itu adalah panggilan dari sang ayah. Perlahan ponsel itu terlepas dari genggamannya.
Pyaar ...ponsel terjatuh mengenai lantai. Air mata sudah tak terbendung lagi. Entah apa yang membuat wanita itu menangis. Sang suami masih terlelap, ia memberanikan diri untuk membangunkan suaminya itu.
"Mas!" panggilannya dengan suara tertahan, karena kabar dari sang ayah yang membuatnya seperti itu.
"Mas Langit!" panggilannya lagi, pemuda itu mulai membuka matanya. Dahinya mengkerut saat melihat istrinya menangis.
"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Langit sambil bangun dan duduk.
"Nenek?"
"Ne-nek tidak ada." Setelah mengucapkan hal itu, wanita itu tak sadarkan diri. Langit mencoba membangunkan istrinya itu. Butuh waktu lima belas menit, akhirnya wanita itu terbangun. Matanya kembali mengeluarkan air mata.
"Kita ke sana sekarang ya?" tanya Langit, sambil mengelus pundak istrinya. Cahaya mengangguk.
Pasangan baru itu menuruni anak tangga. Pemuda itu merangkul istrinya, bagaimana pun ia takut jika istrinya kehilangan kesadaran lagi.
"Pagi!" sapa istri Agam Ariaja dengan senyuman. Wanita paruh baya itu sedang menyiapkan makanan untuk pagi itu.
"Kenapa kamu Nak?" tanya istri Agam Ariaja lagi, yang melihat wajah Cahaya seperti orang yang baru menangis.
__ADS_1
"Nenek telah kembali," jawaban Langit, membuat istri Agam Ariaja menutup mulutnya.
"Inalilahi wainnailaihi rojiun," ucapnya Istri Agam Ariaja, ingat saat bungsunya bercanda dengan nek Endah.
"Pakailah motor Bang, biar cepat sampai sana. Nanti kita akan ke sana, Abang udah ngabarin keluarga belum?" tanya istri Agam Ariaja. Cahaya hanya diam dan tatapan kosong.
"Belum."
Harusnya hari itu Cahaya mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.Tentang hubungan suaminya dengan Mentari. Karena istri Agam Ariaja sudah berniat menceritakan tentang hubungan yang sebenarnya.
Tapi apalah daya jika dunia belum memberi izin semua itu terjadi.
Pasangan baru itu sudah meninggalkan rumah Agam Ariaja. Cahaya memeluk erat tubuh suaminya itu. Sesekali air mata itu menetes mengenai kemeja Langit. Mereka memilih memakai motor agar cepat sampai ke rumah Brian.
Dan benar saja mereka sudah berdiri didepan rumah Brian. Rumah itu nampak ramai. Cahaya seakan tak percaya dengan semua itu. Baru di tinggalnya selama dua hari, kenapa nenek sudah marah padanya dan meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tangisnya pecah tatkala ia ingat senyuman terakhir nenek di hotel. Siapa sangka jika itu, adalah senyuman terakhir nenek untuk Cahaya. Langit memeluk tubuh istrinya yang bergetar. Pemuda itu teringat ucapan nenek waktu di hotel, saat mereka hanya berdua saja.
Nak sekarang kamu adalah suami cucuku, jadi aku harap jika cucuku salah maka kamu berhak menegurnya. Karena kamu sudah jadi imamnya. Dan tolong jaga dia.
Pasangan itu masuk ke rumah Brian. Sekuat tenaga Cahaya menahan tangisnya, di cium lah dahi sang nenek yang terbujur kaku. Ciuman terakhir untuk sang nenek dari Cahaya. Kenapa dunia ini memberi kebahagiaan tapi memberi duka pula. Baru dua hari Cahaya mendapatkan keluarga baru, tapi keluarga lama meninggalkannya. Jika ada yang pergi pasti ada yang datang. Seperti itulah hidup, karena keduanya saling berdampingan. Jika ada yang pergi lepaskan dan jika ada yang datang persilahkan.
Keluarga Agam Ariaja dan kakek Raharja juga sudah ada di sana. Kakek sangat terpukul mendengar kabar bahwa sahabat karibnya telah dipanggil Tuhan. Kakek sempat bertanya kepada Brian apa yang membuat sahabatnya itu meninggal mendadak. Ternyata nenek meninggal sewaktu ada di kamar mandi, boleh jadi nenek terpleset. Orang meninggal itu tidak harus sakit dulu, tertidur saja jika Tuhan menghendakinya semua bisa terjadi.
Sekarang mereka sudah ada di pemakaman nek Endah, Cahaya menangis saat jenazah sang nenek mau dimasukkan ke liat lahat. Langit merangkul istrinya, perlahan bibir itu mendekat di gendang telinga Cahaya. "Kau tahu, aku pernah membaca sebuah buku. Bagaimana sikap kita saat ada keluarga kita yang meninggal. Di sana dituliskan.' Jika ada salah satu seorang yang engkau cintai meninggal dunia, maka berhentilah untuk bersedih dan menangis dan tanyakanlah pada dirimu: Apa yang ku siapkan untuk menyambut kematian ku? Kemudian bersiaplah untuk hal itu.' " Langit berbisik ditelinga istrinya. Cahaya mulai mengusap air matanya, meski hati masih sedih tapi ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata itu.
Lang nanti kau akan kehilangan.
__ADS_1