Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Menghargai Proses


__ADS_3

Sore itu tepatnya pukul tiga tepat. Pemuda dengan kemeja hitam itu keluar dari mobil berwarna silver. Tatapannya melihat ruko berlantai dua.


"Lama tak dirawat," ucapnya dalam hati. Perlahan pemuda itu mengambil ponsel di saku celananya. Jari-jemarinya memijit tombol ponsel warna hitam itu. Dan panggilan tersambung.


"Iya, Pak!" jawab orang yang ada didalam telepon.


"Jo apa kau bisa membantu ku?" tanya pemuda yang sudah beristri itu.


"Katakan Pak, saya siap membantu," jawabnya, dengan semangat empat lima.


"Mengenai ruko." Jo yang ada di sebrang sana mengerutkan dahi.


"Ruko kenapa Pak? Mau di jual?" tanya Jo yang sok tahu. Bukanya pemuda itu belum berbicara apa-apa. Kenapa Jo main potong-potong pembicaraan orang.


"Kalau ada orang bicara dan belum selesai jangan main potong saja. Emang mau dipotong gaji dari perusahaan?" Pemuda itu tersenyum menyeringai. Jo yang ada di sebrang sana menelan ludahnya kasar.


"Carikan Arsitektur yang paling bagus untuk merenovasi ruko, kau tahu berapa pengeluaran yang harus aku tanggung untuk renovasi ruko Jo?" Jo yang pernah menjadi mandor pun berpikir sejenak. Tidak sulit bagi Jo untuk tahu berapa kisaran uang yang harus di keluarkan buat renov ruko dua lantai. Yang ukurannya sudah ia ketahui.


"Berhubung ruko nya sudah jadi,


tidak akan memerlukan goceng banyak lah Pak! Emang Pak Langit mau buat apa itu ruko pakek acara renov galak?"" tanya Jo yang tidak jawab berapa nominal yang harus dikeluarkan Langit.


"Yang atas untuk cafe, yang bawah buat minimarket Jo,"


"Yang banyak itu bukan biaya renov Pak, tapi model buat isi minimarket nya, apa lagi jika minimarket nya menjual semua kebutuhan konsumen bisa satu milyar" ucapnya sambil tertawa.


"Tapi kabar baiknya Pak, lantai atas itu kan dulunya juga bekas cafe kan Pak?" tanya Jo.


"Iya."


Sebenarnya ruko itu dibeli saat usia Langit mengajak ke dua puluh tahun. Tepatnya delapan tahun silam.


"Jadi kita tidak perlu beli seperti, kursi dan meja Pak! Meskipun emang sudah hampir delapan tahun tapi itu kursi dari besi ada yang dari kayu jati, jadi kita bisa mengurangi badge untuk hal itu. Mungkin untuk kursi yang sudah karatan kita chet warna-warni pun sama dengan kursi yang terbuat dari kayu dan meja. Nanti akan saya carikan arsitektur yang bisa diajak kompromi."


"Kau benar-benar detail Jo, aku suka pendapatmu. Tapi sepertinya untuk meja dan kursi yang terbuat dari kayu jati, tidak semua bisa digunakan semua deh Jo!" ucap pemuda itu, sambil menutupi wajahnya dengan tangan kirinya karena sinar matahari mengenai wajahnya.


"Untuk kursi dan meja kemungkinan hanya 70% Pak, yang masih bisa digunakan. Tapi tak apa lah Pak, kita bisa beli lagi kalau cafe udah banyak pengunjung."


"Tapi untuk tempat menurut mu, ini strategis kan Jo?" tanya Langit, pemuda itu sangat takut jika bisnisnya gagal.


"Aduhhhh Pak Langit ini gimana toh, orang Pak Langit yang waktu itu beli. Saya yakin waktu beli ruko itu pasti butuh pemikiran yang matang, saya lihat itu deket jalan raya. Terus berhadapan dengan kampus dan samping masjid, kurang strategis apa lagi sih Pak! percaya deh Pak itu letaknya udah strategis bin tepat!"


"Setelah Ramadhan bisa selesai enggak?"


"Dua minggu juga selesai Pak, karena tidak perlu pasang batu bata," ucapnya sambil terkekeh.


"Ya sudah."


Dari sekian menit berbincang dengan Jo. Langit tidak mendapat jawaban berapa nominal uang yang harus ia siapkan.


Baru mau di masukin ke saku ponsel itu berbunyi.

__ADS_1


"Iya Cher, ada apa?" tanya pemuda itu, sambil membuka pintu mobil dan memasang seat belt.


"Bukan, ini aku Mas!" sahutnya dari dalam telepon itu.


"Ada apa?" tanya Langit yang sudah mau tancap gas. Pemuda itu memasang headset terlebih dahulu. Mobil berwarna silver itu mulai melaju dengan kecepatan sedang.


"Masnya, sudah di rumah?" tanya istrinya dari sebrang sana. Ponsel wanita itu rusak, karena terjatuh waktu dapat kabar dari sang ayah jika nenek meninggal. Itu sebabnya wanita itu pinjam adik iparnya.


"Belum."


Baiklah panggilan itu telah selesai dan Langit akan menjemput istrinya. Mobil silver itu sekarang sudah ada di depan toko baju Walsall Mentari! Pemuda itu hanya membunyikan klakson mobilnya. Malas jika harus keluar mobil.


Tin.... Tin... Tin...


"Kayaknya itu Kang Mas!" ucap Arche.


"Kita pamit ya Tan, besok lagi kita ke sini bantuin Tante lagi deh. Ya kan Cher?" tanyanya ke adiknya. Archer mengangguk setuju. Istri Agam Ariaja itu membuka laci dan menutupnya kembali.


"Terima kasih, Nak sudah mau bantu Tante! Nih buat jajan," ucapnya, sambil menyodorkan uang seratus ke si kembar. Si kembar saling tatap kemudian tersenyum dan bilang. " Tidak usah Tan, kita ikhlas kok."


Tin... Tin... Tin... klakson sialan berbunyi di waktu yang tidak tepat.


"Udah terima aja, lihat kang mas mu, sudah tidak sabar nunggu," ucap istri Agam Ariaja. Si kembar menatap kakak iparnya seolah bertanya. Dan Cahaya mengangguk itu berarti 'terimalah'.


Mereka bertiga keluar dari toko itu dan pulang tidak dengan tangan kosong. Si kembar dapat uang dan wanita berambut sebahu itu di beri buku yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam hatinya. Mereka sudah masuk mobil. Cahaya mencium tangan suaminya. Si kembar lupa dengan tradisi cium tangan. Mereka asik mengamati uang berwarna merah itu. Mulai dari dielus, kemudian diterawang terakhir di cium. Langit yang melihat dari kaca spion mengerutkan dahi. Ada yang salah dengan tingkah adik kembarnya itu. Bukan kah si kembar sering memegang uang berwarna merah itu. Bahkan si kembar dapat jatah 2juta perbulan dari pak Khan.


Langit sesekali melirik kearah istrinya yang sedang mengotak-atik- ponsel keluaran 2004 itu. Archer yang duduknya ada di belakang, kang masnya bisa melihat kakak iparnya itu. Dara delapan belas tahun itu memutuskan untuk bertanya. "Kenapa Teh ponselnya?"


"Lem biru saja pasti bisa hidup. Dan tambah bagus," celetuk Arche. Mana ada barang rusak bisa jadi bagus apalagi ponselnya, kacanya saja sudah pecah.


"Dimana itu toko lemnya?" tanya Cahaya. Langit yang mendengar jawaban istrinya itu hanya menggeleng. Mau saja di bodohin si Arche.


"Di toko enggak ada, adanya di Counter." Cahaya yang mendengar jawaban dari adiknya itu mengerutkan dahi.


"Emang ada?" tanya Cahaya.


"Tanya sama Kang Mas!" jawab Arche.


"Emang ada Mas?" tanya Cahaya. melihat ke arah suaminya. Langit tidak menjawab, pemuda itu lebih memilih fokus mengemudi.


"Wakakak wakaka," terdengar tawa dari belakang. Cahaya menengok ke arah adik iparnya yang tertawa ngakak.


"Aduh... Teteh mau aja di kibulin Kak Arche," jawab Archer, sambil memegang perutnya yang sakit karena ketawa atau karena lapar juga tidak tahu.


"Lem biru itu singkatan dari. Lempar Beli yang Baru," jawab Archer, sambil menutup mulutnya agar tidak tertawa keras-keras. Arche yang ada di samping Archer tersenyum penuh arti. Suruh siapa kakak ipar tadi bilang kalau Arche butuh kerjaan. Cahaya mendengus sebal. Wanita itu menatap depan sambil cemberut. Pemuda yang ada di sampingnya itu melirik kearah istrinya dan menggeleng kan kepalanya karena sifat istrinya itu.


"Kak Arche, tanggung jawab, Teteh marah gara-gara Kakak!" Archer menepuk bahu kakaknya.


"Punten atuh Teh!" ucap Arche kepada kakak iparnya. Arche sekarang sudah bisa menerima wanita yang sedang duduk depannya itu, dara delapan belas tahun itu merasa tak enak.


Tidak Cahaya jika tidak membalas orang yang membuatnya jeles.

__ADS_1


"Naputene engkang katah Teh!" Cahaya tetap diam.


"I'm sorry Teh!" Masih sama.


"Ana 'asaf Teh!" Cahaya tersenyum karena berhasil ngerjain adik iparnya. Hal itu tidak luput dari pandangan Langit. Pemuda itu membuang napas karena, ulah istrinya itu. Archer tersenyum menyeringai permintaan maaf kali ini tidak akan ditolak.


"Teh, teteh tahu enggak. Allah itu mempunyai sifat Al-'Afuw yang artinya pemaaf. Jika Allah saja maafin kesalahan kita, kenapa kita yang hanya manusia tidak bisa..." ucapnya dipotong Cahaya. " Iya, tadi hanya bercanda kok, cuma pengen usulin kamu," jawab Cahaya.


Jarum jam menunjukkan pukul lima itu berarti satu jam lagi berbuka. Tadi Cahaya sempat membantu ibu mertuanya masak. Sekarang wanita itu ada di kamar. Cahaya melihat suaminya berdiri di balkon kamar sedang menatap langit. Di geser lah pintu sliding yang terbuat dari kaca itu. Cahaya berdiri di samping suaminya sambil menaruh kedua tangannya di dada.


"Tadi gimana di kampus?" tanya Cahaya, memulai pembicaraan.


"Lancar."


"Lalu kapan Mas, akan kerja di kantor?" tanya Cahaya, menatap suaminya.


"Interview saja belum."


"Bukanya Mas pernah kerja di perusahaan Singapura dan jabatan yang Mas duduki juga bukan main! Bisa lah jadi poin plus. Diterima di perusahaan yang bapak rekomendasiin." Cahaya berucap lagi sambil melihat matahari yang akan meninggalkan bumi. Langit melihat istrinya, rambut sebahu itu bertebaran.


Damai, lirih pemuda itu.


"Apa kau suka banyak bicara?" tanya pemuda ini sambil memegang pinggiran balkon.


"Masnya menghina atau bertanya?" tanya Cahaya sambil tersenyum.


"Tentu saja bertanya?"


"Menurut Mas?" Cahaya balik bertanya.


Langit diam tak menjawab.


"Sudahlah Mas, lupakan kita turun saja. Lima belas menit lagi waktu berbuka."


"Kak Hazel lihat aku punya apa," ucap Archer.


Si kembar, Hazel, Langit dan pak Khan sudah duduk di meja. Sambil nunggu para istri nyiapin menu untuk berbuka. Kakek masih dikamar.


"Tisu warna merah," jawab Hazel sambil memangku Balqis.


Arche menjawab. "Rabun ya, Kak? Ini itu uang hasil... " ucapnya sudah dipotong Hazel.


"Ngepet!"


"Enak saja, hasil keringat kita ya kan Kak Arche!" si kembar sangat bahagia, karena bisa mendapat upah pertama sebagai pelayan toko dadakan.


"Maksudnya?" tanya Hazel.


"Iya, tadi pagi sampai sore aku bantu tante Walsall di tokonya. Eh ...kita enggak pernah berharap dapat imbalan. Kita ikhlas membantu tapi dapat duek," jawab Archer.


"Orang ikhlas itu akan dapat hadiah dari Allah. Dan sekarang kalian sudah tahu rasanya gimana cari uang itu sangat susah. Dan Bapak yakin mulai detik ini kalian akan bisa lebih menghargai uang. Benar enggak?" tanya pak Khan, kepada si kembar. Dan yang ditanya mengangguk bersaman.

__ADS_1


"Iya, Pak! Rasanya ingin disimpan enggak di gunain. Jadi gini toh rasane golek duwek. Abot tenan ek, (jadi seperti ini toh, rasanya cari uang. Susah sekali) " jawab Archer.


__ADS_2