Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Enggak Dapat Japri Enggak Kasih Jalan


__ADS_3

Dua tahun pernikahan Cahaya dan Langit. Mereka belum di karuniai anak. Cahaya menyibukkan dirinya dengan mengurus bisnis kafe yang ada di Jakarta dan Bandung. Untungnya ada si kembar dan Black yang membantu dia mengurus bisnisnya itu. Cahaya duduk di depan kafe. Rambutnya berterbangan kemana-mana. Cahaya membuang napas kasar. Wanita berambut sebahu itu, sudah ikhlas dengan kepergian bayinya.


"Kapan aku mengandung?" Cahaya menatap langit biru penuh awan.


"Assalamu'alaikum!" Salam terdengar di telinga Cahaya.


Wanita itu melirik kearah suara itu, dia tersenyum riang. "Wa'alaikumussalam," jawabnya sambil menyodorkan tangannya.


"Sudah pulang Gib?" tanya Cahaya kepada Gibril yang mencium tangannya.


"Sudah dong Kakak Baik!" jawabnya.


Dering ponsel Cahaya berbunyi. Wanita itu, membaca siapa yang menelponnya.


"Assalamu'alaikum Mas! Tumben nelpon saat jam kerja?"


"Apa? Kenapa bisa?" tanya Cahaya tidak percaya.


"Innalillahi!" Cahaya mundur saat mendengar kabar itu.


"Iya, nanti aku ke sana. Masnya, tunggu aku di gapura ya?" Cahaya mengelap air mata yang bisa, ia bendung.


"Kakak Baik kenapa?" tanya Gibril.


"Gib, ikut Kakak yuk! Tapi kamu ganti baju dulu! Kakak tunggu dibawah sambil nunggu angkot!"


"Baiklah!" Gibril segera masuk kafe, sedangkan Cahaya turun untuk cari angkot.


Setelah lima menit, Cahaya bisa memberhentikan angkot. Dan Gibril juga sudah menuruni tangga. Angkot merah itu, meninggalkan kafe Cahaya.


"Mang, jalan Cempaka ya!"


Setelah beberapa menit akhirnya, mereka sampai di sebuah pemakaman. Cahaya mencari keberadaan suaminya, katanya mau menunggu di depan gapura. Tapi enggak ada. Cahaya menarik tangan Gibril agar mengikutinya.


Mata Cahaya menemukan orang yang, ia cari. Cahaya pun menghampiri suaminya.


"Udah tahu, kemari tapi kenapa tidak bawa kerudung?" tanya Langit, sambil meletakkan tangan di dada.


"Aku lupa, dan sangat terkejut dengan kejadian ini." Cahaya bicara pelan.


Langit menatap Cahaya yang ingin menangis dia menarik napas.


"Terus bagaimana, masa ke pemakaman enggak pakai kerudung?" Cahaya bingung, sambil menatap suaminya.


"Sepertinya tadi aku melihat Tantiyana, membagikan kerudung untuk para karyawan. Tapi di mana dia?" Langit menatap ke segala arah.


"TAN!" Langit memanggil Tantiyana dengan tangan, agar rekan kerjanya mendekat.


"Iya, Pak Arkana! Ada apa?"


"Kerudung untuk karyawan tadi masih Tan?" tanya Langit.


"Masih Pak, tapi ada di mobil." jawab rekan kerja Langit.


"Tan, istri saya lupa enggak bawa kerudung. Tolong ambilkan ya?"


Tantiyana pun segera pergi mengambil kerudung. Setelah lima menit, akhirnya Tantiyana kemabli langi.


"Ini Pak!"


Setelah Langit menerima kerudung warna hitam. Langit meletakkan kerudung itu, di kepala istrinya.


"Sudah, ayo kita ke dalam," ujar Langit setelah merapikan kerudung istrinya.


Ketiga orang itu, masuk ke pemakaman. Semua pelayat, kebanyakan karyawan kantor. Cahaya sangat sedih karena kabar duka itu. Cahaya berdiri di samping Langit, sambil memegang lengan suaminya. Sedangkan Gibril, bocah bermata coklat itu berdiri di depan pasangan itu. Setiap proses pemakaman Gibril amati. Hingga kuburan itu tertutup. Semua karyawan berdoa untuk rekan kerjanya. Dalam bekerja almarhumah tidak pernah banyak bergaul.Bahkan semua rekan kerjanya, merasa kehilangan. Semua karyawan telah kembali. Hanya meniggalkan ketiga orang itu. Cahaya duduk di pusara yang masih basah itu. Dielus nisan itu, Cahaya tidak bisa lagi menahan tangisannya.


"Mb-ak As-ya hiks!" Cahaya mengelap hidungnya.


"Kenapa semua hiks ... ini tiba-tiba hiks ... bukannya tadi malam kita masih bercanda ditelpon?" Cahaya tidak sanggup lagi bicara. Langit memberikan pelukan untuk istrinya, agar tenang. Cahaya menangis sejadi-jadinya di pelukan suaminya itu.


"Sudah cup ... cup!" tepukan lembut di kepala Cahaya.

__ADS_1


"Mbak Asya ... hiks ... kenapa dia ninggalin kita Mas?" tanya Cahaya diperlukan suaminya.


Langit tidak bisa menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


"Om Tinggi, kenapa Kakak Baik mengais? Sebenarnya foto ini punya siapa?" Gibril mengambil poto yang ada di atas kuburan baru itu. Gibril mengamati poto itu, dengan baik.


"Gib, letakan poto itu kembali!" perintah Langit.


Gibril pun hanya menurut saja, dia terdiam.


"Kenapa Kakak nangis?" Gibril bertanya kembali, setelah satu menit diam.


"Dia menangis, karena sahabatnya meninggalkan dia untuk selamanya." Langit menjawab dengan lembut.


"Kenapa bisa meninggal?" tanya Gibril ingin tahu.


"Dia meninggal karena tabrakan, saat mau berangkat kerja." Langit memberi tahu Gibril. Sedangkan Cahaya masih menangis diperlukan suaminya.


"Kasian sekali, ya Om Tinggi?" Gibril menggeleng.


"Kakak Baik, jangan menangis nanti kepalanya sakit." Gibril menasehati Cahaya.


Satu tahun kemudian, Cahaya dan Langit masih saja belum dikaruniai anak. Malam harinya di dalam kamar pasangan itu.


"Mas, kenapa aku belum kedatangan tamu bulanan. Ah ... aku mau cek dulu." Cahaya turun dari ranjang, dan berjalan kearah kamar mandi.


Sedangkan Langit menggelengkan kepala. Istrinya itu sudah menghabiskan banyak tespek. Tapi semua tidak ada yang positif. Cahaya keluar dari kamar mandi, dengan raut wajah muram.


Langit yang melihat hal itu, dia sudah tahu jawabannya.


"Garisnya satu mulu!" Cahaya bicara, sambil memberikan tespek itu kearah suaminya.


"Sudahlah, enggak usah patah semangat! Nanti kalau sudah saatnya ya dikasih!" ujar Langit meletakkan tespek itu keatas laci.


"Tapi kapan? Kita sudah tiga tahun nikah loh." Cahaya duduk di ranjang itu, sambil mau menangis.


Langit yang melihat hal itu, dia sangat sedih. Jika istrinya sedih, saat membahas keturunan.


"Cuma mengandung, enggak bisa gendong!" Cahaya terus menjawab.


"Kamu itu patah semangat, karena kamu yang buat. Bukan takdir, coba deh. Mulai sekarang enggak usah beli tespek! Kamu dikit-dikit ngecek. Telat sehari ngecek, jangankan sehari. Satu jam saja kau langsung cari tespek buang ngecek!" Langit bicara panjang karena istrinya terlalu menyikapi hal itu dengan cara berlebihan. Menurut Langit.


Cahaya yang mendengar ucapan suaminya dia tidak mau membantah. Karena apa yang suaminya katakan itu adalah fakta.


"Sini mendekat lah!"


Cahaya pun mengikuti ucapan suaminya, dia mendekat kearah suaminya. Ah ... tidak wanita itu bukan didekat suaminya. Tapi di dekap oleh suaminya.


"Dengerin ya!" Cahaya mengangguk pelan.


"Mulai sekarang jangan beli tespek lagi! Terus, jangan terlalu memikirkan, semua itu berlebihan. Karena itu akan membuatmu stres. Dan itu akan mempengaruhi kesehatan tubuh. Otomatis hal seperti itu, bisa berdampak bagi kesuburan dalam rahim." Langit mengelus kepala istrinya.


"Dan aku ingatkan kembali, saat kamu mengandung untuk yang pertama kali. Waktu itu, kamu enggak nyangka jika ada bayi di perutmu itu. Bahkan kamu lupa tanggal, kedatangan tamu bulanan. Kamu tidak mendapati morning sickness. Yang sering terjadi, pada wanita hamil. Tapi kamu tidak, kamu hanya sering mengeluh sakit kepala. Bisa enggak kamu seperti dulu, istilahnya. Kita pura-pura enggak tahu, tapi sebuah keajaiban datang dari Allah, untuk kita! Fokuslah pada kesehatanmu dan jangan terlalu capek!"


Cahaya hanya mendengar, dia sangat bersyukur karena suaminya. Adalah tipe suami yang mau mengerti posisinya sebagai seorang istri.


"Tapi aku itu bosen, kalau lebaran itu pasti ditanya kapan punya anak!" Cahaya bicara dengan sangat kesal. Jika teringat pertanyaan para kerabat jauh atau tetangga.


"Ya namanya, juga orang! Masa tanya kau punya utang berapa. Enggak mungkin dong, orang tanya sesadis itu." Langit mencoba untuk bercanda dengan istrinya.


"Kau itu, membuatku kesal!" Cahaya memukul bahu suaminya.


"Sakit, kalau mukul itu jangan keras!" Langit memprotes.


"Namanya juga mukul, ya keras!"


"Terserah, aku mau tidur!" Langit memejamkan matanya.


"Jangan tidur, masih jam sembilan juga!" Cahaya mencubit perut suaminya.


"Aku ngantuk seharian kerja!" Langit tetap memejamkan matanya.

__ADS_1


Cahaya yang melihat hal itu, dia mengangkat kepalanya.


"Aduh!" Langit memegang telinganya yang digigit Cahaya.


Cahaya tersenyum puas, karena bisa membuat suaminya tidak bisa tidur.


Langit memegang kepala istrinya, agar tidur kembali.


Tapi kepala Cahaya terketuk kepala ranjang karena ulah Langit.


"Au ... ah" Cahaya memegang kepalanya yang sakit.


"Minggir!... " Cahaya mendorong tubuh suaminya keras.


"Aku tidak sengaja!" Langit bicara sambil duduk di ranjang.


"Kau balas dendam juga!" Cahaya menarik selimut, agar suaminya tidak dapat.


"Gitu saja merajuk, jangan seperti anak ke—" Langit mendekati istrinya.


"Hahaha, geli hahahaha!" Cahaya tertawa karena suaminya itu.


"Sudah hahaha, aku kegelian hahaha. Jangan hahaha, menggelitik tubuhku!" Cahaya tertawa di bawah selimut.


"Makanya, jangan mudah merajuk!" Langit bicara sambil membuka selimut yang menutupi pasangan itu.


"Ya! Ya! Minggir malam ini, enggak ada japri!" Cahaya mendorong suaminya dan segera menutupi sekujur badannya.


"Japri?"


"Jatah pribadi!" jawab Cahaya terkekeh.


"Kalau enggak dapat japri, aku enggak kasih Jalan!" Langit mengancam.


"Aku juga enggak mau jalan, udah malem mending bobok!" Cahaya tersenyum didalam selimut.


"Maksudnya, jatah bulanan!" Cahaya yang mendengar hal itu, segera membuka selimutnya.


"Enggak bisa gitu dong!" Cahaya memukul kepala Langit dengan bantal guling.


Langit yang dapat pukulan tiba-tiba dia meringis.


"Sabodo lah, mending bobok!" Langit bicara cuek. Pemuda itu membelakangi istrinya.


"Jalan Mas!" Cahaya menggoyang tubuh suaminya. Wanita itu menatap wajah suaminya yang pura-pura tidur.


"Iya, bulan depan!" jawabnya menahan senyuman.


"Berarti enggak dapat nafkah dong!" Cahaya bicara kesal, masalahnya uang bulan sudah jatuh tempo. Kagak dicairkan oleh Langit.


"2 in 1"


"Apanya yang 2 in 1?"


"Nafkahnya!" Langit mendapatkan pukulan kembali dari istrinya itu.


"Mas, kita pindah ke Singapura yuk!" ajak Cahaya.


"Enggak bisa sekarang, masih ada dua tahun kontrak dengan perusahaan!" Langit menjawab sambil membuka matanya.


"Ae lah, lama dong, aku males tahu selalu ditanya kapan punya anak!" Cahaya mengeluh.


"Itu namanya cobaan!"


"Sudahlah bicara dengan mu, tidak berguna. Besok bangun sendiri, aku enggak mau bangunin." Cahaya bersiap untuk tidur.


"Besok libur, aku akan tidur nyenyak!" jawab Langit memeluk istrinya dari belakang.


Cahaya meronta karena suaminya nyebelin.


"Kalau kamu meronta, nanti aku angkat kamu ke balkon. Tidur di sana, sudah bobok jangan nakal."

__ADS_1


__ADS_2