Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Nomer Yang Tidak Simpan ... Tapi Diketahui


__ADS_3

Wanita berambut sebahu itu, masih terlelap. Tangannya meraba-raba, bagian kanan kasur. Sepertinya wanita itu, mencari suaminya. Tapi, tak menemukan seseorang, yang ia cari.


Cahaya memutuskan untuk membuka matanya. Wanita menatap seluruh kamar, tapi tak menemukan keberadaan sang suami. Cahaya mulai berjalan, kearah balkon. Mungkin saja, suaminya ada di sana. Tapi wanita itu, tidak menemukan suaminya itu. Wanita itu, masuk kembali, siapa tahu suaminya di kamar mandi. Tapi kamar mandi itu, kosong tak ada siapapun. Cahaya duduk di ranjang kembali.


"Apa tadi, aku hanya mimpi dia pulang?" tanya Cahaya bingung, mengingat sang suami tak ada di kamar.


"Tidak-tidak!" Cahaya menggeleng cepat.


"Aku yakin, itu tidak mimpi! Kalau mimpi, kenapa sewaktu aku bertanya. Jawaban terdengar nyata." Wanita itu, mengingat kejadian malam itu.


"Terus, kalau mimpi. Kenapa aku bisa tertidur di ranjang? Kan, seingat aku. Tadi malam aku, tertidur di sofa menunggu masnya pulang!" Cahaya, melirik kearah sofa.


Matanya tak sengaja, melihat atas meja. Cahaya berjalan kearah meja dekat sofa itu. Cahaya berdiri di samping meja, kemudian membungkukkan badannya. Wanita itu mengambil tas kerja milik sang suami.


"Ternyata benar, tadi malam dia pulang." Cahaya berbicara sendiri.


"Kenapa aku tidak menemukannya? Terus kamu di mana mas?" Cahaya mengacak rambutnya dengan kedua tangannya. Wanita itu dibuat sensi, karena tidak menemukan suaminya.


"Apa jangan-jangan, masnya sudah berangkat kantor lagi?" tebak Cahaya, tapi wanita menggeleng cepat.


"Kalau ke kantor, harusnya dia bawa tas. Tapi tasnya, masih ada." Cahaya meletakkan tas kerja milik suaminya. Kemudian mengacak-acak rambutnya.


Wanita itu memutuskan untuk ke bawah. Setelah sampai di lantai dasar, Cahaya bertemu dengan adik iparnya yang sedang asik nonton televisi.


"Kalian lihat kang mas, enggak?" tanya Cahaya, yang membuat si kembar membalikan badannya.


"Tidak!" jawab Arche, mengalihkan pandangan ke televisi.


Cahaya yang mendengar jawaban dari Arche, dia menarik senyuman di bibirnya.


"Aaa ... mungkin kang mas kalian, ke kantor kali ya?"


"Mana mungkin, ini hari Minggu. Apa Teteh lupa?" tanya Archer.


Cahaya mulai berfikir, jika suaminya tidak kerja terus di mana.


Wanita berambut sebahu itu, memutuskan untuk ke atas kemabli. Setelah sampai kamar, Cahaya mengambil ponselnya. Wanita itu memijit keyboard ponsel, sambil bergumam. "Sebenarnya dia itu, dimana?" Cahaya meletakkan ponsel itu di kupingnya.


Tuttttt ...panggilan terhubung. Cahaya masih setia, menunggu jawaban dari suaminya itu.


"Sungguh, aku enggak suka dengan sikapnya ini. Harusnya dia memberi tahu ku, agar aku tak khawatir." Cahaya bicara sambil mengulang panggilan.


"Lihatlah, dek! Sikap padamu, itu. Membuat Bunda, enggak tenang!" Cahaya mengajak anaknya berinteraksi.


"Kenapa enggak diangkat coba?" gerutunya sambil duduk di kasur.

__ADS_1


"Awas saja, jika pulang!" Ancaman Cahaya untuk suaminya.


Disisi lain, seorang pemuda itu baru saja keluarga dari Bandara. Pemuda itu mencari taksi. Langit masuk taksi yang ia berintikan.


"Kemana Bang?" Pak taksi itu bertanya, sambil melirik ke belakang.


"Kantor polisi."


Langit mulai mengaktifkan ponselnya, tapi ponsel itu tidak menyala.


"Apa-apaan ini! Kenapa ponsel lobet, segala. Padahal aku ingin mengabari dia," ujarnya sambil terus mengotak-ngatik ponselnya.


Langit membuang napas kasar, karena tidak bisa mengabari istrinya.


Setelah sampai di kantor polisi, pemuda itu keluar dari taksi. Dengan cepat Langit masuk ke dalam kantor polisi.


"Bang!" panggilan dari seseorang yang Langit kenal.


Langit menghampiri pemuda sembilan belas tahun itu. Raut wajah Langit terlihat datar.


Black yang melihat hal itu, dia menelan ludahnya. Sepertinya orang yang ia panggil 'Abang' itu sangat kecewa.


Malam hari saat Langit terlelap bersama istrinya. Pemuda itu dil kaget kan dengan panggilan polisi. Hal ini membuat Langit bingung. Setelah dia mengangkat, ternyata biang keroknya ada si Black.


"Bang, sumpah aku tidak melakukan hal itu. Ini hanya salah paham Bang!" Black berusaha menjelaskan apa yang terjadi menimpa dirinya.


Langit terdiam belum mau angkat bicara. Hal itu membuat Black, mengigit bibir bawahnya. Setelah hampir lima menit, Langit terdiam. Pemuda itu mulai mengatur napasnya.


"Belum genap setahun, tapi sudah bikin masalah!" Langit bicara sambil berjalan duduk di kursi.


Sedangkan Black semakin takut, masalahnya suara yang Langit keluarkan itu sangat dingin.


"Apa kau tahu? Jika, papi tahu hal ini. Kejadiannya akan fatal!" Langit menginterogasi.


"Makanya, aku suruh pak polisi menghubungi Abang. Karena aku tahu, apa yang akan terjadi. Saat polisi, menghubungi papi!" jawabnya.


"Masih bisa menjawab kamu," sinis Langit.


Black yang mendapat sindiran tegas, dia menelan ludahnya. Interogasi nya pak polisi. Tidak se-menakutkan saat Langit yang menginterogasi nya.


"Sudah tahu kejadiannya, akan fatal buat keluarga. Tapi masih enggak, mau berpikir sebelum bertindak!" Langit bicara, sambil menyadarkan kepalanya dan memijat pangkal hidungnya.


"Sudah tes urine?" tanya Langit.


Black mengangguk cepat. Langit membuang napas kembali, seraya bangkit dari duduknya. Langit berjalan kearah meja polisi. Pemuda itu sudah duduk berhadapan dengan polisi. Sedangkan Black duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Benar Anda adalah keluarga dari pemuda yang duduk di samping Anda?" tanya polisi itu, Langit hanya mengangguk.


"Kami, tadi malam menggerebek, sebuah kos-kosan anak kuliah dekat universitas ini. Sedang pesta narkoba. Sebelumya kami, sudah mengawasi kos-kosan saudara atas nama Jay, seminggu sebelum penggerebekan. Dan dimalam tadi, saudara Anda juga ada di sana. Kita hanya perlu menunggu tes urine keluar. Jika positif, maka saudara Anda. Kami tahan sesuai perundang-undangan yang berlaku." Polisi itu bicara panjang.


"Sebagai warga Negara yang baik, kami akan mengikuti prosedur yang ada di Negara ini." Langit menjawab sambil melirik Black.


Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya tes urine itu telah keluar. Langit harus bolak-balik menghadap polisi.


"Untuk hasil tes urine atas nama Black Agam Al-farisi dinyatakan—" Langit sangat deg-degan. Mendengar hasil tes urine Black. Sedangkan Black dia terlihat santai, karena dia tidak pernah menyentuh barang haram itu. Apalagi mengonsumsinya.


"Negatif!" Langit menghembuskan napas lega, syukur negatif.


"Tuh kan, benar apa yang saya bilang ke Pak polisi tadi! Saya itu enggak mengonsumsi, dan saya juga baru tadi malam nongkrong bersama teman kuliah saya. Tapi Pak polisi malah bilang, seperti ini. 'Sudah muka-muka kamu itu pecandu NARKOBA' Saya cari uang kuliah aja susah, masa buat beli barang yang cuma sikit harga mahal." Black bicara dengan sebal, karena polisi yang ada di depannya seperti musuh bebuyutan bagi Black.


Langit yang mendengar Black bicara seperti itu, dia menatap Black tajam seolah menyuruhnya diam. Pemuda keturunan Aceh itu pun diam.


"Terima kasih atas kerja samanya dengan baik Pak!" Langit tersenyum sambil menjabat tangan polisi itu. Disaat kedua orang itu berjabat tangan, Black mengambil sesuatu dari meja polisi itu kemudian memasukkan ke sakunya.


"Sama-sama, karena Anda mau mengikuti hukum di Negara ini." Pak polisi itu menjawab.


Setelah itu kedua pemuda itu keluar dari kantor polisi, sambil menunggu taksi. Tak ada lima menit taksi berhenti didepan mereka. Kemudian mereka pun masuk.


"Bereskan semua barang mu tanpa sisa. Kita pulang ke Jakarta!" ujar Langit.


"Maksudnya?" tanya Black, sambil menatap Langit.


"Kau akan pindah kuliah, dan kau tidak perlu khawatir. Karena aku yang akan bicara dengan papi. Masalah kerjaan, kau tek perlu bingung, ngamen di mana. Aku akan memberikan pekerjaan untukmu."


"Kuliah di mana? Terus kerjaan apa?" tanya Black ingin tahu.


"Terserah kamu, mau di Jakarta atau di Bandung dengan si kembar. Tapi tetap jurusan akuntansi, seperti yang papi minta. Setelah S1 lulus, silakan pilih jurusan yang lain." Langit memberi jeda terlebih dahulu, sebelum melanjutkan ucapnya kembali. "Aku akan membuka kafe, lagi di daerah Bandung. Dan aku serahkan semua kepadamu. Kelola lah dengan baik, kamu bisa menjadikan uang kerjamu buat S2 mu itu." Langit berbicara dengan memijat ponselnya kembali. Siapa tahu keajaiban datang, batere ponselnya jadi full. Ah ... tidak itu hanya angan pemuda itu saja.


"Terus yang di Jakarta? Bagaimana dengan minimarket dan kafe nya. Lancar?" tanya Black, memastikan sudah hampir lima bulan dia tidak pulang ke Jakarta.


"Si kembar yang menjalankan semua itu, alhamdulillah lancar. Karena itu aku ingin membuka cabang. Semua itu karena dia, yang pintar berbisnis. Satu bulan pembukaan minimarket omset naik dengan cepat."


"Dia, itu teteh kan?" tanya Black memastikan. Langit mengangguk pelan.


"Terus masalah kafe, aku belum sempat ke sana. Karena waktu itu, aku hanya sehari di rumah. Apa sih yang membuat kafe itu ramai, dan hastag kafe 'Az-zahra Istimewa' di fb itu ramai." Black membenahi posisinya.


"Seperti namnya Black, seperti itulah pelayanannya. Semua pelayanan mempunyai keistimewaan masing, ada kakek tua, ada anak kecil, ada anak remaja yang mempunyai sedikit kekurangan, ada seorang wanita paruh baya tuna wicara. Semua ada di sana, dibalik kekurangan seseorang mereka mempunyai keistimewaan. Mungkin pengunjung, terbawa emosi, melihat pelayan-pelayannya. Yang begitu gigih dalam menjalankan kehidupan. Dan itu mungkin bisa memotivasi pengunjung, untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta semangat untuk maju kedepannya." Langit tersenyum tipis, saat mengingat ucapan istrinya, sewaktu dia bertanya apa tujuan hidup istrinya.


Black mengangguk paham, sebelum berucap. "Semua ide, dari Abang?" tanya Black.


"Semua bermula dari tujuan seseorang, yang tak lain adalah istriku. Dan aku hanya menyediakan, tempat dan kadang dia meminta saran dariku mengenai kafe nya. Dia bertanya tentang, bagaimana jika kafe direnovasi agar pelanggan semakin tertarik untuk mengunjungi kafe. Sampai hal menu makanan yang membuat pengunjung ketagihan untuk mencobanya. Dan dia selalu mau, mendengar masukan dari orang terdekatnya. Bahkan dia pernah, bertanya kepada pengunjung nya. Hanya untuk memberi kritik apa yang kurang dari kafe nya itu." Langit pemuda itu sangat bangga dengan istrinya.

__ADS_1


"Aku bisa menyimpulkan jika, tujuan hidup teteh, adalah bukan untuk dirinya sendiri. Tapi tujuan dan mimpinya adalah untuk orang lain. Seperti contohnya, teteh ingin menjadikan mimpi orang lain terwujud. Jika banyak pengusaha, atau perusahaan mencari karyawan yang sempurna. Tapi istrinya Abang itu ingin, mewujudkan mimpi seseorang yang diberikan sebuah kekurangan. Yang mempunyai mimpi, tapi karena kekurangan itu dia merasa insecure! Tapi, teteh! Dia ingin merengkuh mereka untuk tetap semangat. Kalau diucapkan sih seperti. 'Kalian itu biasa, menjadi apa yang kalian inginkan. Asalkan kalian juga yakin, jika kalian bisa melakukan apa yang kalian inginkan. Itu terwujud, atas dasar kalian bisa meski punya keterbatasan. Tapi kalian juga harus yakin, bahwa keterbatasan mu, sangat kecil. Dibandingkan keluasan untuk menggapai impianmu' Teteh, hatinya sangat mulia ya Bang!" Black mengingat awal di mana, mereka dipertemukan.


"Tuhan itu sangat Adil, Black. Disaat cinta pertamaku pergi. Tuhan memberikan ganti dengan mendatangkan. Cinta terbaik untukku!" Langit bicara dengan tatapan kosong. Sedangkan Black berpikir keras, siapa cinta pertamanya orang yang sudah ia anggap seperti abangnya sendiri.


__ADS_2