Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Pendahuluan Tiga


__ADS_3

Wanita itu berjalan kearah meja rias, banyak sekali merek kosmetik yang ada di sana.


"Mas, ini punya siapa?" tanyanya dengan suara lembut. Yang ditanya hanya menengok tanpa memberi jawaban. Cahaya sangat kesal, begitu sulit kah suaminya itu menjawab pertanyaan darinya.


"Apa punya mbak Mentari?" tanya istrinya lagi. Langit menatap tajam istrinya itu. Apa salahnya jika istrinya itu bertanya, bukankah pemuda itu belum memberi tahu hubungannya dengan orang yang bernama Mentari itu. Wanita itu tidak pernah bertanya lagi, setelah mencoba bertanya apa hubungannya dengan keluarga Agam Ariaja saat di Rumah Sakit.


"Kenapa? Jangan melibatkan Mentari, jika kau tak pernah bertemu dengannya," jawaban itu membuat hati Cahaya sakit, kenapa nadanya begitu dingin.


"Aku tahu, aku tidak pernah bertemu mbak Mentari. Tapi apa salahnya memberi tahuku, apa hubungan kalian. Bukankah aku ini istrimu?" tanya Cahaya.


"Bukankah aku sudah menjawabnya, kau akan mendapatkan jawaban diwaktu yang tepat," ucapnya Langit, sambil keluar dari kamar dan membanting pintu itu, hingga membuat Cahaya kaget.


Hubungan macam apa itu, baru dua hari sudah ada pertengkaran. Bukankah dalam hubungan suami-istri itu harus ada unsur saling terbuka satu sama lain.


Air matanya menetes membasahi pipi. Wanita itu sepertinya sangat kecewa dengan suaminya itu.


Apa salah jika aku bertanya. Atau aku yang terlalu terburu-buru bertanya kepada masnya.


Wanita itu, berjalan keranjang dan memposisikan untuk tidur.


Setelah membanting pintu, pemuda itu menuruni anak tangga dengan terburu-buru.


"Mau kemana, Nak?" tanya kakek, namun yang ditanya tak menjawab. Pemuda itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Pemuda itu keluar dari mobil itu. Siang itu Langit sudah ada di pusaran makam, Mentari.


Diusap nya batu nisan itu.


"Mentari, kau tahu, aku sudah menikah dua hari yang lalu. Hari pertama pernikahan kita baik-baik saja. Namun saat kita pulang ke rumah, kita ada cekcok. Kenapa dia dengan mudahnya, melibatkan mu dalam urusan kita berdua."


"Itu karena kamu belum memberi tahu hubunganmu dengan Mentari."


Langit sangat kenal dengan suara itu, dia mendongak kan wajahnya.


"Mi!" Panggilnya.


"Bagaimana pun, Cahaya adalah istrimu, levelnya lebih tinggi dari putriku. Aku tahu Abang sayang sama Mentari. Tapi sekarang Abang sudah punya istri, jadi cerita kan semuanya. Atau besok lusa ajaklah ke rumah kami." Istri Agam Ariaja setelah dari hotel dia langsung berziarah ke makam anaknya.

__ADS_1


Pemuda itu mengangguk, Langit meninggalkan tempat itu. Dan kembali ke rumahnya.


"Lihatlah, dia sangat sayang kepadamu. Do'akan Abang semoga menjadi suami yang baik. Kau tahu? Cantik sangat dekat dengan istrinya Abang. Istrinya abang, sangat mirip denganmu, keluarga kita jadi lebih baik setelah dia datang. Aku sudah menganggapnya sebagai putriku." Ibu meninggalkan makam anaknya.


Pemuda itu telah sampai di rumahnya. Keluarga sedang berkumpul bersama, tapi dia tak menemukan istrinya. Pemuda itu memutuskan untuk keatas. Pintu yang, ia banting sangat keras, Ia buka perlahan. Matanya melihat tempat tidur. Pemuda itu bisa memastikan jika istrinya tertidur di bawah selimut. Pemuda itu membuang


napas, sebelum menutup pintu kamarnya. Langit mulai mendekati ranjang itu dan membuka selimut bewarna putih itu. Bantal yang basah, sepertinya itu karena air mata.


Langit yang sangat lelah dia memutuskan untuk berbaring dan membelakangi istrinya itu.


Jam menunjukkan pukul tiga sore, mereka baru terbangun. Lebih tepatnya sih pemuda itu yang bangun terlebih dahulu.


Cahaya yang baru bangun dia melihat suaminya sedang memakai kemeja. Sepertinya wanita itu tidak mau bertanya lagi kepada suaminya. Lebih baik dia mandi setelah itu masak untuk nanti malam pikirnya. Pemuda itu bisa melihat jika istrinya sudah terbangun, tapi berbeda biasanya wanita itu akan menyapa dia jika baru bangun. Tapi mengapa sore itu tidak.


Pemuda itu membuang


napas dengan kasar. Sudah hampir puluhan menit, Cahaya ada di kamar mandi, wanita itu sudah keluar dan berganti baju. Meski baru dua hari jadi pasangan, sepertinya mereka sudah terbiasa jamaah bersama. Cahaya mencium tangan Langit, itu yang akan dia lakukan setelah sholat.


"Aku harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi," ucap Langit.


"Suami sedang bicara itu jangan di diamkan." Wanita itu masih saja diam, sambil melipat mukena.


Cahaya yang sudah selesai melipat mukena dia memutuskan untuk keluar dari kamar.


"Sore, Mbok!" sapa Cahaya kepada pembantu rumah itu.


"Sore, Neng!" Karena usia mbok Ijah sangat tua jadi memanggilnya neng.


"Sore ini masak apa, Mbok, biar aku bantu."


Cahaya mulai mengiris bawang putih dan merah. Cahaya memilih memasak tumis kangkung, dan tumis tempe dan tahu. Itu masakan ibu saat Cahaya masih kecil.


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh, keluarga itu sudah berkumpul di ruang makan.


"Banyak sekali makanan malam ini," ucap Hazel.

__ADS_1


"Neng Cahaya yang masak tadi," celetuk Mbok Ijah.


"Wah... Kakak Ipar, benarkah itu?" tanya Hazel, yang dijawab dengan anggukan kepala.


"Kangkung apa yang harus dihargai oleh orang yang lebih muda?" tanya Arche, yang main tebak-tebakan.


"Apa emangnya Ar?" tanya Alula, sambil memangku anaknya yang tertidur.


"Mbah Kangkung!" jawab Arche yang membuat semua tertawa, berbeda dengan pasangan baru itu. Tidak ada tawa diraut keduanya.


"Itu Mbah Kakung, Kak!" ucap Archer membenarkan.


Cahaya melihat Alula kesusahan. Saat makan, karena anaknya tidur dipangkuan.


"Mbak Alula makan lah, biar aku yang menggendong Balqis, Mbak!" ucap Cahaya yang mengelilingi meja makan.


"Tapi—" ucapnya terpotong.


"Tidak apa-apa Mbak, nanti aku akan makan setelah Mbak makan." Cahaya menggendong putrinya Alula yang tertidur.


"Bingung banget, bukannya Teh Cahaya istrinya Kang Mas. Lalu mengapa Teh Cahaya, manggil Mbak ke Mbak Alula!" ucap Archer, yang sudah bisa menerima Cahaya sebagai kakak ipar.


"Karena Mbak Alula usianya lebih tua, meski Mbak Alula adiknya Kang Mas!" ucap ayah mereka.


"Lang, kapan ke rumah Agam Ariaja?" tanya Kakek.


"Terserah, Kek!" Kakek hanya mengangguk, entah mendengar atau tidak.


Makan malam telah selesai, jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Semua orang yang ada di rumah itu sudah tertidur. Berbeda di kamar pasangan baru itu. Mereka sudah berbaring di tempat tidur, tapi mata mereka belum juga terpejam. Seperti biasa mereka saling membelakangi satu sama lain.


"Kenapa lampunya belum dimatiin?" tanya Cahaya, yang tidak mau melihat suaminya itu. Sepertinya wanita itu sudah mau bicara lagi. Tapi entah masih marah atau tidak.


"Bukankah kau lebih suka tidur dalam kondisi terang?" tanya suaminya, yang juga tidak mau membalikkan badannya untuk melihat istrinya.


"Bukankah selama dua malam, aku tidur dengan keadaan gelap, lalu mengapa sekarang tidak dimatiin." Cahaya masih saja bicara membelakangi suaminya itu. Langit hanya diam mendengar jawaban istrinya itu. Pemuda itu mulai mematikan lampu kamar itu.

__ADS_1


Aduh itu pasangan ribet amat, saling membelakangi tapi saling mengalah. Meskipun yang kalah istrinya.


__ADS_2