Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Si Weker Sialan


__ADS_3

Pasangan baru itu baru sampai rumah setengah delapan malam. Mereka memutuskan untuk sholat isya dahulu. Langit tidak me-sia-siakan acara cium kening.


"Kita tidur ya Mas, aku lelah." ujarnya, sambil membanting tubuhnya di kasur.


Langit menurut saja, karena dia juga lelah besok adalah hari kerja pertamanya.


Langit mencium pipi istrinya dahulu. Bibir istrinya selalu tersenyum saat dia mencium pipi itu.


"Mimpi indah Az-zahra."


Kemudian tidur memeluk istrinya. Bukan main! Meski belum dapat japri tapi sudah bisa meluk.


Jarum jam di kamar itu berjalan lebih cepat, sampai jarum pendek ada di tengah-tengah angka lima.


Cahaya membuka matanya perlahan-lahan. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah suaminya. Wanita berambut sebahu itu, mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya.


"Semoga hari Masnya menyenangkan."


Cahaya melepaskan pelukan suaminya, kemudian berjalan kearah kamar mandi. Lima menit wanita itu sudah keluar dari kamar mandi. Berjalan kesamping ranjang mengelus pundak suaminya.


"Ayo, Mas bangun kita subuh, nanti kerja loh."


"Hmm... " sahutnya, tapi masih menutup mata.


"Subuh nanti kita telat, loh." Cahaya berbicara, sambil mengenakan mukena.


"Mas!"


"Bangun, ayo bangun." Cahaya sangat jengkel memutuskan menarik selimut.


"Ck... " Langit berdecak sebal, karena istrinya membangunkan dia, diwaktu yang masih enak banget untuk tidur.


Mereka sudah siap melakukan sholat subuh berjamaah.


"Sudah siap?" tanya Langit, menengok ke belakang. Cahaya mengangguk pelan. Sholat subuh telah selesai, tak meninggalkan acara berdoa kepada Rabb. Setelah itu mencium kening istrinya tidak boleh tertinggal. Langit berdiri kemudian berjalan keranjang dan membanting tubuhnya ke kasur.


Cahaya yang melihat hal itu menggeleng sambil membuang napas.


"Ayo bangun, nanti ini kerja yang pertama, enggak boleh telat, wahai karyawan." Cahaya menarik tangan suaminya agar bangun lagi.


"Kau bisa diam tidak, aku masih ingin tidur." Langit menjawab dengan kesal, sambil tengkurap dan menutup telinganya dengan bantal.


Cahaya yang mendengar jawaban suaminya harus patuh. Jika suaminya nyuruh diam berarti harus diam. Wanita itu berpikir sejenak, kemudian berjalan kearah laci sisi kiri. Mengambil weker dan mengatur waktu. Cahaya meletakkan jam itu di atas kepala suaminya.


Sedetik kemudian, jam itu berbunyi sangat berisik.


Kring... kring... kring...


Langit langsung mengambil jam itu. Ingin sekali Langit, melempar jam itu. Tapi mengingat jika itu jam, milik istrinya yang dibawa dari rumah ayah Brian, membuatnya mengurungkan niatnya.


Mata Langit masih mengantuk saat jalan ke kamar mandi, membuatnya mencium tembok. Cahaya ingin sekali tertawa, karena hal itu. Tapi ia tahan takut jika suaminya marah.


"Pagi Mbok!" sapa Cahaya, sambil membuka lemari pendingin. Cahaya akan masak nasi goreng untuk sarapan pagi itu.


"Pagi Neng!" jawab mbok, yang sedang cuci piring.


"Pulang jam berapa tadi malam Ay?" tanya Alula, yang baru masuk dapur.


"Jam delapan Mbak."


"Nanti ini Kang Mas kerja, ya?"


"Iya, Mbak!"


Jam menunjukkan pukul enam sepuluh menit. Cahaya kembali ke kamarnya. Perlahan wanita itu membuka pintu kamar. Dilihatnya suami sudah memakai bawahan jas berwarna hitam. Dan atasan kemeja hitam. Cahaya yang melihat hal itu menggeleng pelan. Wanita itu, berjalan kearah lemari, kemudian mengambil kemeja biru laut. Langit mengerutkan dahi, saat istrinya berdiri di depannya. Cahaya tidak banyak bicara, langsung melepaskan kancing baju suaminya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Langit mencengkram tangan istrinya.Namun Cahaya tidak menjawab, wanita itu terus melepaskan kancing baju suaminya hingga terlepas semua. Kemudian melepaskan kemeja hitam itu, melemparkan keranjang.


Cahaya mulai memakaikan kemeja biru laut ke tubuh suaminya. Langit hanya diam membisu.


"Selesai... " Cahaya memasukkan ujung kemeja dengan rapi. Kemudian memasang sabuk.

__ADS_1


"Mana dasinya?" tanya Cahaya.


"Tuh... " tunjuk Langit, kearah sofa.


Cahaya berjalan kearah sofa dan mengambil dasi itu, kemudian memasang ke leher suaminya.


"Mas, ini gimana aku lupa?" tanya Cahaya, yang lupa cara memasang dasi.


"Hah?" Langit terkejut, pemuda itu berpikir, jika istrinya, tidak lupa cara masang dasi.


"Ya maklum orang aku SMP terakhir pakai dasi!" Setelah SMP wanita itu sekolah Madrasah Aliyah.


"Gini nih." Langit memberi tahu caranya. Bukan memberi tahu tapi masang sendiri.


"Baik-baik aku tahu caranya." Cahaya melepaskan dasi yang sudah jadi itu.


Kemudian memasangnya kembali. Langit yang melihat hal itu, berpikir jika istrinya itu membuang waktunya saja. Sudah hampir lima belas menit Cahaya memasang dasi. Tapi tidak juga terselesaikan. Wanita itu masih bingung.


"Ingat Mas, harus ramah dengan rekan kerja. Enggak boleh dingin." Cahaya berbicara, sambil memasang dasi.


"Sama perempuan juga?" tanya Langit menelisik. Cahaya yang mendengar hal itu, menarik dasi yang sudah selesai itu sedikit kencang. Membuat suaminya tercekik.


"His ...sewajarnya saja, jangan kasih harapan takutnya dia baper," ujar Cahaya, sambil memakaikan jas hitam ke tubuh suaminya.


"Nah ...kalau gini kan enggak mati warnanya. Masa jasnya hitam kemejanya juga hitam." Cahaya berucap, sambil merapikan jas suaminya.


"Bayar sewa berarti." celetuk Langit tiba-tiba.


Cahaya yang ingat bayar sewa jadi terdiam.


"Ayo kapan bayar sewanya?" Entah kenapa ada kebahagiaan tersendiri saat menggoda istrinya. Nikmatnya Bukan Main!


"Kan-kan." Cahaya berucap, sambil terbata-bata.


"Kan apa?"


"Oh ...ya sudah tawarannya masih berlaku kalau gitu." Langit tersenyum puas, karena otaknya memberi ide yang gila lagi.


"Ehm ...enggak ada tawaran lagi?" tanya Cahaya penuh harap, malu jika harus nyium suaminya itu.


"Nothing!" jawabnya tegas.


Cahaya terus berpikir—tapi dia juga enggak mau ngeluarin uang hanya untuk bayar sewa. Baiklah wanita itu, sudah mantap dengan pilihannya.


Cahaya meraih dasi suaminya. Sedangkan Langit tidak tahu kenapa, istrinya menarik dasinya dan sampai membuatnya menundukkan kepala. Lakinya Cahaya sedikit berjinjit.


Cup... Langit membulatkan matanya, karena istrinya telah mencium pipi kanannya. Sedangkan Cahaya malu dan menutupi bibirnya dengan telapak tangan.


"Hem ...baiklah kalau begitu kau terbebas dari uang sewa."


Cahaya terbebas dari uang sewa tapi tidak terbatas dari rasa malu. Tapi Cahaya harus melihat bahwa suaminya konsisten dengan ucapannya.


"Baiklah kita kebawah," Langit mengambil tas kerjanya dan meninggalkan istrinya yang masih terdiam.


"Sudah siap kerja Nak?' tanya pak Khan, sambil menunggu istrinya menyiapkan makanan.


"Insya Allah!"


"Lang, aku nebeng ya?" Si Hazel bicara tidak tahu malu.


"His ...enggak modal." Arche berseru.


"Baik loh ...Ar! Mengurangi polusi udara," ujar Hazel, sambil memasukkan nasi goreng ke mulut.


"Kalau begitu Bapak juga mau mengurangi polusi udara, siapa tahu dengan Bapak mengurangi polusi udara. Negara kita jadi bebas udara kotor." celetuk pak Khan, sambil minum kopi.


"Bapak nebeng juga ya Lang?" tanya pak Khan.


Si kembar yang mendengar ucapan bapak menepuk dahi bersamaan.


"Kalian bahas obeng? Emang siapa yang jadi montir?" tanya kakek Raharja yang salah paham.

__ADS_1


"NE-BENG Mbah, bukan O-BENG!" Archer ngegas.


Mereka sudah selesai sarapan, saatnya para istri mengantar suaminya ke depan rumah.


"Hati-hati ya Pak!" ucap Abidah Aminah mencium tangan suaminya.


"Hati-hati ya Yang, jaga mata jaga hati karena kita sudah punya buah hati." Alula mencium tangan suaminya dan mencium pipi Hazel. Hazel mencium keningnya sang istri.


Cahaya yang melihat hal itu meringis, karena adegan romantis antar suami-istri.


"Masnya hati-hati, semangat kerjanya semoga dipermudah semua urusannya." Cahaya berbicara sedikit pelan. Tapi Langit masih bisa mendengar.


"Hmm... " Langit mengangguk.


Cahaya mencium tangan suaminya sejenak.


"Kasian, enggak dapat ciuman." Hazel berbisik di telinga Langit. Sebenarnya Langit tidak perlu memperlihatkan keromantisan nya dengan sang istri dihadapan semua orang. Cukup dia, istrinya dan Tuhan yang tahu.


Mobil itu terus melaju membelah jalan. Langit belum memberi tahu kepada Cahaya jika eyang akan datang berapa hari lagi.


Mobil silver itu sudah parkir di parkiran kantor.


Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke perusahaan berlantai tiga dua itu. Memasuki lift khusus para direktur.


"Huft... " Langit membuang napas kasar.


"Tenanglah, Nak! Bapak yakin sama kamu. Kamu juga udah pernah bekerja di Singapore, jadi kamu bisa mengambil pelajaran dari cara kerja di sana." Pak Khan berucap, sambil menepuk pundak anaknya itu.


Lift itu berhenti di lantai 30 Hazel keluar dari Lift.


"Semangat Lang!" Hazel menepuk pundak Langit sebelum keluar dari lift.


Langit keluar dari lift ruang kerjanya ada di lantai tiga satu. Pemuda itu, memasuki ruangan kerjanya. Semua nampak rapi. Lagi-lagi, Langit membuang napas kasar, posisi direktur keuangan adalah posisi yang sangat tinggi. Pemuda itu takut, jika dia tidak bisa lebih baik dari direktur keuangan sebelumnya. Hari pertama kerja Langit harus memahami semua masalah keuangan perusahaan dan visi misi perusahaan. Pemuda itu memutuskan untuk meeting. Langit menelpon seseorang untuk melaksanakan meeting yang akan ia lakukan hari itu.


"Bisa ke ruangan saya sebentar?" tanya Langit, dari telpon genggam itu.


"Baiklah terima kasih."


Tok... tok...


"Masuk!"


"Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perempuan seksi. Yang lebih seksi dari yang ada di rumah.


Langit mengerutkan dahi, kenapa dia seperti pernah mendengar suara itu.


"Ehm ...saya ingin mengadakan meeting bersama divisi keuangan, jam sembilan nanti. Saya harus tahu masalah keuangan perusahaan ini. Anda bisa membantu saya untuk memberi tahu kepala divisi kan?" tanya Langit sedikit tegas.


"Baik Pak, saya akan segera memberi informasi ini!" jawab perempuan itu, yang seperti ingat wajah Langit.


"Baiklah, saya harap Anda bisa membantu saya untuk masalah keuangan Bu Manajer!"


"Tentu saja Pak, karena itu adalah tugas saya selaku manajer keuangan, di perusahaan ini, untuk membantu direktur keuangan." Perempuan itu tersenyum simpul.


"Senang bekerjasama dengan Anda!" Perempuan itu mengulurkan tangannya kearah Langit.


Sebenarnya Langit tidak suka berjabat tangan dengan perempuan. Pemuda itu sangat menghindari hal tersebut. Tapi pagi itu Langit tidak bisa menolak rekan kerjanya itu.


"Senang berkerja dengan Bu Manajer!" Langit menjabat tangan perempuan itu, namun segera menyudahinya.


"Oh ...ya Pak, terima kasih karena malam itu Anda menyelamatkan saya."


Asya adalah perempuan yang diselamatkan Langit saat mau nyebrang jalan tapi tidak lihat kanan-kiri. Dan yang nabrak Langit saat Langit pertama kali ke perusahaan itu.


Langit hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Saya permisi Pak!" Asya keluar dari ruangan Langit.


Pemuda itu bersiap untuk meeting pertamanya dengan bawahannya.


Jika dia tahu, kalau orang yang aku selamatkan adalah rekan kerjaku bagaimana reaksinya ya? Aku tahu kita belum sama-sama mencintai. Tapi kita sudah bisa menerima satu sama lain. Tapi aku suka, saat dia cemburu. Itu berarti dia sudah mengklaim bahwa aku adalah milik... Langit tersenyum tidak meneruskan ucapnya. Pemuda itu mengingat saat wajah Az-zahra nya, yang cemberut karena cemburu. Sedangkan Az-zahra nya sedang mencari data informasi supplier terbaik di Indonesia dengan laptop pinjaman.

__ADS_1


__ADS_2