
Langit segera bangkit dari bersimpuh di pangkuan ibunya. Pemuda itu, berlari entah mau kemana. Langit berhenti, sambil mengatur napasnya yang tidak beraturan. Pemuda itu, masuk ke kamar mandi. Setelah lima menit ada di kamar mandi. Langit keluar dengan wajah yang basah, kepalanya juga. Pemuda itu berjalan kearah mushola, yang ada di dalam rumah sakit. Kaki kanan itu baru menyentuh lantai mushola. Tapi air mata itu tak terbendung.
Langit melakukan sholat sunah wudhu. Dilanjutkan dengan sholat witir. Dalam sujud nya, dia meminta agar istrinya sembuh. Dan yang kedua agar Tuhan, memberi solusi untuk masalahnya itu. Sujud terakhir sebelum salam. Adalah waktu yang tepat untuk berdoa. Dan mungkin waktu sujud bisa di bilang mustajab.
"Ya Allah! Ya Tuhanku! Tuhan yang memiliki Arsy Yang Agung! Penguasa langit dan bumi. Serta yang memiliki barat dan timur. Malam ini adalah malam yang suci. Malam penuh kebahagiaan. Tapi malah ini, aku sedang bersedih hati. Ya Allah, Ya Rabb ku. Janganlah Engkau, menguji ku. Dengan ujian yang tidak sanggup aku pikul! Wahai ... Yang Maha Memberi Petunjuk. Tujukan lah mana yang benar bagiku. Agar aku tidak salah mengambil keputusan. Ya Allah! Permudahkan operasi istriku. Berikanlah Keridhaan Mu! Agar istriku lekas sembuh, seperti sediakala Janganlah, Engkau mengambil sesuatu dari dirinya. Ya Allah, hanya Engkaulah yang Maha Mengabulkan. Jadi hanya pada-Mu, aku meminta pertolongan. Karena tidak ada yang pantas, aku mintain kecuali hanya padaMu!" Langit berdoa sambil menangis. Pemuda itu berdoa dengan suara lembut.
.
Di bagian ruang operasi, mereka nampak panik. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi tiba-tiba.
Eyang, nenek tua itu napasnya naik-turun. Nenek tua itu, sudah tumbang.
"Ami!! " Abidah Aminah berlari, kemudian meletakkan kepala ibunya dipangkuan.
"Eyang! Eyang! Kenapa?" Arche panik bukan kepalang,
Napas eyang seperti orang yang mau mendekati ajal.
"La-langit!" Eyang bicara dengan terbata-bata, sudut matanya basah.
Semua orang jantungnya berdetak kencang. Di depan ruang operasi itu, sangat rame, sungguh harusnya tidak seperti itu.
"Panggil Kang Mas!" teriak Abidah Aminah dengan air mata.
Black segera mencari keberadaan Langit.
"Sa-sam-pai-kan!" Eyang bicara sambil menarik napas panjang.
"Eyang, yang kuat!" Archer bicara, seraya bangkit dari duduknya.
"Dokter! Dokter! Tolong eyang saya!" Archer berlari agar menemukan dokter.
"Ma-maf-ku Ke-pa-da-nya!" Dengan susah payah nenek tua itu bicara.
Sedangkan Black, pemuda keturunan Aceh itu. Menemukan seseorang yang ia cari. Kebetulan Langit sedang berdoa. Black mendekati Langit, dan duduk di sampingnya. Bagaimana pun, Black harus sopan. Karena Langit sedang beribadah kepada Allah. Mungkin jika posisinya tidak menghadap Tuhan, mungkin Black akan berteriak.
Langit tidak merasakan kedatangan seseorang. Mungkin karena khusuk saat meminta kepada Allah.
__ADS_1
Black berdeham pelan, agar Langit tahu jika dia ada di sampingnya. Di dekatkanlah tubuhnya dengan tubuh Langit, seraya berbisik lembut. "Abang! Mari ikut aku, ada sesuatu hal. Abang diharuskan untuk ikut!"
Langit yang mendengar hal itu, jantungnya berdegup lebih cepat. Apa ini mengenai istrinya. Kenapa dia diharuskan untuk ikut. Pemuda itu sangat takut, jika sesuatu terjadi pada istrinya.
"Allah! Allah selamatkan istriku! Aku akan mohon! Akun mohon!" Langit berdoa dengan deraian air mata. Yang terus membasahi pipi.
Black yang duduk di samping Langit. Pemuda itu, bisa merasakan sebuah kecintaan seorang suami untuk istrinya.Teramat dalam, secinta itukan orang yang ia panggil dengan sebutan 'Abang' kepada wanita yang ia panggil 'Teteh' itu.
"Abang, ini bukan masalah teteh! Tapi ini hal lain. Allah akan membuat semua baik. La Tahzan, Innallaha Ma'anna!" Black bicara pelan.
Langit yang mendengar hal itu, hatinya sedikit tenang. Diapun menyelesaikan doanya terlebih dahulu. Sebelum mengikuti Black.
"Amiiii!" teriakan Abidah Aminah, terdengar di telinga Langit. Karena pemuda itu sudah ada di sana.
Langit berlari kearah ibunya, yang ingin pingsan.Dengan cepat Langit menahan tubuh ibunya.
"Kenapa ini?"
"Bu! Bu, bangun Bu!"
"Eyang! Eyang! Eyang kenapa Pak?" tanya Langit, mengguncang tubuh eyang.
"Eyang bangun, Eyang!" Langit terus saja bicara dengan keringat yang menetes.
"Eyang, tidak akan bangun Nek!" Pak Khan yang duduk di samping Langit angkat bicara.
"Apa maksudnya Pak?" tanya Langit dengan detak jantung sangat cepat.
"Inilah solusi dari semuanya. Tuhan, memberikan sebuah pilihan. Tapi Dia lah yang memilihkan untukmu! Saat kau bingung, bagaimana kau harus adil. Antara menjadi seorang papa dan suami serta menjadi seorang cucu. Disinilah Allah, menunjukan bahwa hanya Dia lah Yang Maha Adil! Jika kamu serahkan semua kepadaNya! Maka Dia sendiri yang akan membantu. Sesungguhnya Dia menyukai hamba yang berserah diri hanya padaNya!" Agam Ariaja menasehati Langit. Bahwa Allah akan menolong seorang karena bersandar kepadaNya.
Ya Rabbku, sesungguhnya hanya Engkau yang memberikan Petunjuk. Jika ini adalah jalan keluar masalahku dari Mu, maka aku menerimanya. Terima kasih atas petunjuk mu. Batin Langit.
"Ayo, kita segera makamkan saja!" Hazel angkat suara.
"Segera siapkan ambulan!" perintah kakek Raharja. Kakek tua itu sangat sedih, karena cicitnya tidak selamat. Apalagi melihat kondisi cucu menantunya yang terbaring lemah.
Setelah semua sudah beres, semua orang itu jalan ke kediaman Raharja. Meninggikan Black dan Langit. Pemuda Aceh itu, setia menemani Langit.
__ADS_1
"Makan ya Bang?" tanya Black.
"Tidak Black, aku tidak bisa makan. Sedangkan dia saja, mungkin belum makan!"
"Makanlah Bang! Abang butuh tenaga buat nanti saat teteh bangun. Abang harus terlihat sehat, bagaimana mungkin teteh, bangun dari tidurnya. Abang sakit, terus Abang mau gitu istrinya sedih? Karena suaminya sakit! Jangan egois Bang, berdoa juga butuh tenaga. Kalau Abang sakit, karena enggak makan. Terus siapa yang rela sujud lama, untuk kesembuhan teteh. Jika tidak Abang! Hayo? Enggak mungkin aku, masalahnya aku kalau sholat itu lamcing!" Langit sedikit terhibur dengan adanya Black, setia mendampingi dia.
"Lamcing?'
" Salam langsung pelencing, bisa dibilang enggak doa gitu!" Black menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Langit tertawa karena jawaban Black.
"Makan ya, Bang?" Black memberi nasi bungkus.
Langit jadi teringat saat dulu, dia memberikan nasi bungkus untuk wanita yang sekarang menjadi istrinya itu. Dan tempatnya juga sama di rumah sakit. Tetesan air mata itu, kembali membasahi pipi. Teringat masa lalu bersama pujaan hati.
"Ayo makan Bang!" Black sudah makan, sedangkan Langit masih terdiam mengenang memori bersama istrinya.
"Ya!" Langit memakan nasi bungkus itu.
Dulu kau, yang ada di sampingku. Saat aku memakan nasi bungkus dengan tangan. Aku tahu, kau memperhatikan bagaimana aku makan. Sekarang terulang lagi, tapi berbeda. Kalau dulu karena kita menunggu orang sakit. Tapi sekarang aku yang menunggu karena kamu yang sakit. Batin Langit.
Setelah hampir setengah jam, mereka sudah selesai makan.
"Bang, aku pulang ke rumah dulu. Buat mandi, sekalian bawa baju ganti untuk Abang! Aku pikir operasinya, akan segera selesai!" ujar Black, seraya berdiri.
Langit menjawab dengan anggukan kepala.
Langit duduk sendirian, dia ter bengong. Memikirkan kejadian malam takbiran 2007 itu. Banyak kehilangan, tapi banyak juga yang ia dapatkan.
"Tuhan! Karena Mu, istriku dapat perawatan dengan cepat. Padahal ini hari raya, harusnya mereka libur. Tapi entah mengapa, seolah Engkau memberi kemudahan. Mungkin saja dokter-dokter itu, tidak merayakan lebaran jadi mereka piket untuk malam ini." Langit bersandar di tembok.
Keesokan harinya, operasi telah selesai. Pemuda itu sudah duduk di samping istrinya, sambil memegang tangan sang istri. Langit sudah berganti baju.
"Aku menyesal, kenapa sebelum aku berangkat ke kantor aku bilang. 'Besok aku akan selalu di sampingmu, memegang tanganmu. Dan tak akan ku lepaskan!" Langit mengelus kepala istrinya.
"Sekarang, ucapan ku menjadi nyata! Bahkan yang harusnya sekarang, aku berjabat tangan dengan tetangga dan kerabat. Sekarang tangan ini, hanya menggenggam tanganmu seorang." Pemuda itu mencium tangan istrinya.
__ADS_1
"Dan ucapan mu benar, kau berkata. 'Besok aku tidak akan membangunkan mu lagi Mas' Sekarang aku yang ingin membangunkan mu. Jika kamu enggak mau membangunkan aku. Ayo buka matamu, aku ingin melihat mu bangun!" Langit menangis tersedu.
"Aku sangat mencintaimu!" Ciuman di kening mendarat.