Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Siapa Yang Lebih Posesif Melebihi Arkana Kepada Sang Istri...


__ADS_3

Mobil silver itu membelah jalan kembali, setelah berhenti di depan ruko dua lantai. Pemuda yang sedang mengemudi itu tersenyum. Pemuda itu tahu, jika saat mencium keningnya ada orang yang menyaksikan hal itu.


"Bagaimanapun dia adalah istriku, aku tahu kalian bersahabat. Tetapi persahabatan akan berubah, saat salah satunya sudah berkeluarga. Aku pun tahu salah satu dari kalian pernah ada rasa, tidak ada yang namanya sahabat pure untuk lelaki dan perempuan." Langit berbicara sendiri dalam mobil itu.


Setelah lima belas menit perjalanan, mobil silver itu berhenti di depan kafe.


Gadis berwajah bulat itu, menunggu orang yang selalu menjemput dia. Salah! Itu bukan jemputan tapi tebengan. Matanya berbinar saat menatap mobil silver itu berhenti di depannya.


Pemuda yang ada di dalam mobil itu menurunkan kaca mobil.


"Pagi!" Sapa wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


"Pagi, juga Mi!" Langit tersenyum tipis.


Sekarang kau sudah bisa tersenyum lagi. Senyuman itu hilang saat almarhumah pergi untuk selamanya. Mungkin Allah mengirim teh Cahaya agar kamu tak merasa sendiri lagi. Batinnya istri Agam Ariaja.


"Mi!" Gadis berwajah bulat itu menggoyangkan tangan ibunya, karena hanya diam.


"Ah... iya sayang!" Wanita paruh baya itu, membukakan pintu untuk anaknya.


Gadis berwajah bulat itu, sudah duduk di samping om Dosennya.


"Hati-hati, jangan ngebut Bang!" Istrinya Agam Ariaja itu, berbicara sambil menutup pintu.


Langit hanya mengangguk pelan. Kaca mobil itu tertutup kembali. Di dalam mobil, Langit membantu gadis berwajah bulat memakai seat belt.


"Thanks Om!" Gadis itu tersenyum riang.


Langit tak sadar mencubit pipi gadis itu.


"Sakit Om, nanti kalau akak tahu pasti Om, dimarahin." Gadis berwajah bulat itu memegangi pipinya.


Langit ingin tertawa karena ulah gadis itu.


"Benarkah?" Langit bertanya, sambil tancap gas kembali.


"Tentu saja, akak akan marah." Gadis berwajah bulat itu bicara, sambil mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau nanti mau ikut bersama ku?" Langit bertanya, sambil melirik gadis itu. Untuk melihat ekspresi gadis itu.


Cantik yang semula cemberut, wajahnya nampak girang saat om Dosen bilang seperti itu.


"Kemana Om?" Gadis berwajah bulat itu menatap om Dosen.


"Bertemu akak!" Langit bicara, sambil fokus nyetir.


"Beneran ya, Om? Kita ketemu Akak dimana?" Gadis itu bertanya.


"Emang Om, pernah bohong sama kamu?" Langit bertanya, kepada gadis itu. Cantik menggelengkan kepala, seingat dia om Dosen tidak pernah membohonginya.


"Terus kita ketemu dimana Om?" Gadis itu ingin tahu.


"Ke kafe? Kayak waktu itu lagi saja Om. Kita makan iga lagi aja."


Cantik pertanyaannya belum dijawab, sudah memberikan ide dimana mereka akan bertemu.


"Kita akan ke kafe, tapi tidak di kafe yang tadi. Kita akan ke kafe nya akak!" Langit memberi tahu tempatnya.


"Yahhhh... aku harus ketemu sama hidung bengkok dong Om!" Gadis itu tidak suka dengan anak bule itu.


Langit jadi teringat sesuatu saat gadis yang duduk anteng di sampingnya, berbicara tentang anak lelaki bule itu. Langit mencoba mengingat wajah Gibril yang sama dengan seseorang, tapi siapa. Akh— pemuda itu sangat frustasi karena tidak ingat dengan wajah itu.


"Emang kenapa?" Langit bertanya, dengan nada slow.

__ADS_1


"Enggak suka, kalau ada orang yang dekat dengan Akak. Nanti cinta dan sayang Akak untuk aku terbagi dong Om!" Gadis itu berbicara layaknya orang cemburu saja.


"Bagaimana mungkin dia berpikir seperti itu. Dia bahkan lebih posesif daripada aku yang suaminya," desis pemuda itu pelan.


"Om bicara pelan sekali, aku jadi enggak dengar, katakan sekali lagi Om!" Gadis itu menyuruh om Dosen bicara lagi. Enggak akan mau Cantik! Bicara juga butuh tenaga.


"Ah... lupakan, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Bukannya Akak masih sama seperti yang dulu?"


Mobil silver itu berhenti di pinggir jalan. Tapi penumpangnya belum turun.


"Tentu saja, akak masih seperti yang dulu. Tapi sekarang akak jarang bertemu denganku! Akak lebih sering bersama hidung bengkok," jawabnya yang membuat pemuda itu menggelengkan kepala.


"Tentu saja akak selalu bersamanya, kan dia kerja di sana," jawab Langit, sambil membuka seat belt.


Langit keluar dari mobil dan memabukkan pintu untuk gadis itu.


"Makasih Om!" Gadis itu bicara.


Langit menggandeng tangan gadis itu, kemudian menutup pintu itu kembali. Semua ibu-ibu yang ada di sana sudah tidak heran lagi dengan kedatangan pemuda itu saat pagi. Ibu-ibu itu bersyukur karena tiap pagi bisa melihat ketampanan pemuda itu.


"Ayahnya, Cantik liat deh Jeng!" Ibu yang satu itu sudah tersenyum, karena pemuda itu akan berjalan melewati kerumunan itu.


"Siap-siap Jeng! Ayahnya, Cantik akan lewat." Ibu yang satunya sudah memberi peringatan.


Ibu-ibu udah siap, bahkan mereka sudah membentuk sebuah formasi yang paling baik. Berjejer seperti anak-anak jika melakukan apeel pagi.


Langit berjalan sambil menggandeng tangan gadis itu.


"Om, aku lupa tidak bawa uang saku," ujar gadis itu, sambil merogoh saku dekat dada.


"Oh... " Langit melepaskan tangan Cantik terlebih dahulu. Kemudian merogoh saku belakang celana.


Langit mengeluarkan uang sepuluh ribu dari dompet itu kemudian menyodorkan kearah gadis itu. Ibu-ibu yang melihat hal itu. Menilai jika pemuda itu adalah leader keluarga yang baik.


Langit menyodorkan uang lima belas ribu itu kearah Cantik. Lagi dan lagi gadis itu menggelengkan kepala.


Langit melongo karena gadis itu menolaknya lagi.


"Apa kurang?" Langit bertanya, karena baru pagi itu Cantik meminta saku dari dia.


Ibu- ibu itu juga saling berbisik, karena ulah Cantik yang menolak uang dari pemuda yang katanya tampan itu.


"Jajan ku dua ribu, uang kas dua ribu sama air dua ribu. Berhubung aku bawa air jadi aku tidak perlu beli air. Jadi aku hanya butuh empat ribu saja." Gadis itu sangat pintar menganalisis keuangan, semuanya ia analisis. Tidak salah jika suatu saat dia akan jadi manajer keuangan. Istilah dari orok sudah pandai mengelola keuangan.


Langit menggelengkan kepalanya karena jawaban Cantik.


Semua ibu-ibu itu takjub, karena gadis berwajah bulat itu beda dari anak-anak lainnya.


"Enggak ada uang dua ribu, sudah ini lima ribu saja. Nanti kamu bayar kas dulu pasti dapat kembalian." Langit berbicara.


Cantik pun menerimanya dan tersenyum. Langit mulai menggandeng tangan gadis itu kembali. Semua ibu-ibu sudah siap menyapa pemuda itu. Lihat saja ibu-ibu rempong itu, mulai dari ada yang merapikan bajunya sampai ada yang mengambil napas dalam-dalam sebelum menyapa pemuda itu.


Saat Langit dan Cantik melewati ibu-ibu itu berucap. "PAGI Ayahnya Cantik!!!" Paskibraka mah kalah dengan kekompakan ibu-ibu itu.


Langit hanya mengangguk saja, kemudian berlalu. Kurang ajar! Sekali Ibu-ibu itu berpikir jika pemuda itu sudah punya anak sebesar itu.


Semua ibu-ibu itu berbisik setelah kepergian pemuda itu.


"Enggak masalah, Jeng cuma mengangguk doang, besok kita coba lagi, siapa lagi tersenyum." Semangat empat lima membara di hati ibu berbaju ungu itu.


"Iya, besok aku akan datang cepat. Agar bisa ikut menyapanya." Ibu kurus itu sangat antusias.


"Wah... besok aku harus bangun pagi, bangunin suami agar enggak bangun kesiangan. Kalau kesiangan kan aku tidak bisa menyapa pemuda itu lagi." Ibu-ibu yang satu itu jangan di jadikan contoh. Masalahnya ibu-ibu itu rela bangunin suami demi suami orang.

__ADS_1


"Belajar yang benar, jangan ngobrol sama temen kalau bu guru menjelaskan. Buat papi dan mami bangga. Kalau bisa dapat rangking, nanti dapat hadiah dariku." Langit berbicara, sambil menyamakan tubuhnya dengan Cantik.


"Beneran?" tanyanya girang, kalau dengar hadiah pasti langsung semangat belajar.


Langit mengangguk sambil mengelus kepala yang tertutup hijab.


"Nanti hati-hati kalau nyebrang, minta di sebrang kan sama petugas."


"Baiklah." Ciuman dari Cantik mendarat di kedua pipi om Dosennya itu.


Cantik semakin dekat saja dengan om Dosennya itu. Sudah seperti perangko. Maklum om Dosennya makin hari makin manis perlakuannya kepada Cantik. Dan itu semua tak luput dari akak Bubble.


Langit tidak mempermasalahkan hal itu. Pemuda itu menyodorkan tangannya agar gadis itu mencium tangannya.


"Assalamu'alaikum, daaa!" Gadis itu melambangkan tangannya.


Langit meninggalkan gadis itu. Saat mau kembali ke mobil pemuda itu teringat sesuatu.


"Apa ibu-ibu tadi masih ada di sana. Akh— aku harus lewat jalan pintas seperti biasanya. Bagaimana jika Az-zahra tahu jika ibu-ibu itu selalu menyapaku." Langit bicara, sambil berjalan dibelakang deretan mobil guru-guru. Hanya dengan itu dia bisa mengelabui ibu-ibu yang menunggunya.


"Lihat saja bagaimana tadi dia berpesan harus tundukkan pandangan. Kenapa aku ngerasa kalau itu seperti yang Alula lakukan pada Hazel." ujar Langit, menatap punggung ibu-ibu dari belakang mobil. Sepertinya ibu-ibu itu menunggu dirinya lewat.


"Mumpung mereka, pada lihat kearah kelas Cantik! Aku harus segera ke mobil. Jangan sampai ketahuan." Langit menatap punggung ibu-ibu itu kembali, sebelum memutuskan untuk berlari kearah mobilnya.


Dengan cepat Langit berlari dan masuk ke mobil dan segera menutupnya.


"Mana nih, kenapa lama sekali." Ibu kurus itu selalu menengok ke kelas satu A.


"Iya, nih bentar lagi bel bunyi!" Ibu berbaju ungu juga melakukan hal yang sama.


Langit yang sudah ada di dalam mobil menghembuskan napas pelan


"Huft!" Langit tiap pagi harus main kucing-kucingan dengan ibu-ibu itu.


"Mereka itu sangat menyeramkan dari apapun. Apa nanti Az-zahra juga akan seperti itu. Saat nganterin anak kita ke sekolah, menunggu lelaki seperti yang mereka lakukan. Tidak boleh dibiarkan hal itu terjadi." Langit menggelengkan kepala. Pemuda itu sangat takut jika suatu hari nanti istrinya seperti ibu-ibu itu.


"Aku tidak akan tinggal diam, Az-zahra!" Sepertinya pemuda itu sudah punya solusi untuk hal itu.


Langit segera tancap gas, pemuda itu tidak membutuhkan waktu lama. Tinggal menyebrang sudah sampai di kantornya.


Salah satu dari ibu-ibu itu menatap jalan. Matanya tertuju kearah mobil silver yang masuk parkiran kantor PT. Jaya Karya.


"Jeng, kita kecolongan, mobil ayahnya. Cantik sudah masuk ke kantor itu." Ibu itu memberi tahu kepada ibu-ibu lain.


Semua ibu-ibu melihat kearah kantor PT. Jaya Karya.


"Iya benar-benar, kenapa kita bisa kecolongan." Ibu yang lain menjawab.


"Tapi lewat mana ya, Jeng. Kok kita enggak tahu."


"Pokoknya besok kita harus kepung, siapa pun yang dapat, dia yang beruntung." Ibu yang satu ini beda dari yang lainnya. Masalah pengepungan itu ada sejak zaman dahulu. Saat orang muslim berjihad ada yang dengan cara pengepungan, dalam waktu yang lama. Dan itu dapat pahala dari Allah. Karena jihadnya fisabilillah. Lah kalau ibu-ibu bukan dapat pahala tapi dapat dosa. Karena mau mengepung suaminya orang. Emang pemuda itu pencuri pakai di kepung segala.


Seluruh ibu-ibu yang ada di sana mengangguk setuju, dengan ide konyol teman ghibah nya itu.


"Oke kita siap!"


"Semoga saja aku yang beruntung." Salah satunya berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Kalau doa gitu khusyuk. Kalau minta ampunan harusnya lebih khusyuk lagi, kalau perlu sujud, biar afdol.


"Tapi kenapa istrinya enggak pernah ikut ya?"


"Duda anak satu kali."


Bukan main! Kalau bicara enggak di saring dulu. Langsung saja tanpa pakai mikir .

__ADS_1


Entah kenapa kalau wanita ngumpul pasti ada yang dibahas entah positif atau malah sebaliknya. Aduh!


__ADS_2