Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Kesedihan Istri... Saat Suami Mengantarkan...


__ADS_3

Jam menunjukan pukul setengah lima. Pasangan itu sedang menikmati sunset. Indah rasanya, jika bisa menikmati keindahan dunia bersama orang yang membuat hari-harinya menyenangkan, orang yang terkadang membuat sedih, jengkel bahkan kadang buat marah. Ikatan suami- istri itu suci.


"Nih." Pemuda itu menyodorkan uang kearah istrinya, yang berdiri di sampingnya.


Wanita berambut sebahu itu, mengalihkan pandangannya, yang semula melihat sunset kearah istrinya.


"Kok banyak? Aku cuman pinjam dua juta, buat beli lemari pendingin." Wanita itu melontarkan pertanyaan kepada suaminya. Tangannya belum mengambil uang yang ada di tangan suaminya.


"Sekalian uang bulanan." Pemuda itu menaruh uang ditangan istrinya.


"Hore cair-cair!"


"Enggak jadi pinjam kalau gitu, orang uang bulanan sudah cair." Cahaya mengambilkan dua juta kepada suaminya itu. Wanita berambut sebahu itu tidak berani meminta nafkah zhaahir dari suaminya. Kalau dikasih ya diterima kalau belum ya enggak minta. Bahkan waktu itu suaminya pernah telat, bayar nafkah zhaahir. Sampai jatuh tempo. Pula!


"Apa maksudnya? Uang bulanan itu untuk keperluan bulanan kamu, seperti beli pulsa dan kosmetik atau yang lainnya." Pemuda itu melirik kearah istrinya, kemudian menatap sunset.


"Bagaimana mungkin, jika kosmetik, Mas! Yang membelikannya aku tinggal memakainya," jawabnya.


Ah— semua keperluan istrinya sudah pemuda itu cukupi. Istrinya itu enggak pernah menolak pemberian darinya. Sama halnya dengan handbody dan parfum, keduanya itu pilihannya. Kalau kata istrinya sih. 'Kalau Masnya suka baunya, maka aku juga akan memakainya'.


"Okey!" Pemuda itu memasukkan uang itu ke saku lagi.


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Keluarga Raharja sudah ada di meja makan. Tapi tidak dengan wanita berambut sebahu. Wanita itu sedang ada di dapur, untuk menyiapkan makanan malam itu.


Bunyi bel rumah mengeluarkan suara pertanda ada yang memencet nya. Nenek tua itu tersenyum, sepertinya tamu yang ia tunggu sudah datang. Nenek itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu utama. Keluarga Raharja yang ada di meja makan saling tatap. Kemudian menggelengkan kepala bersamaan. Ada juga yang mengangkat bahu. Ah— si Jo juga ada di sana, sepertinya Jo lebih suka tidur di kamar tidurnya dari pada kamar hotel. Masalahnya kamar hotel itu matre! Masa perjamnya harus dihitung, sejam sekian, di kali sehari. Bayangkan saja berapa uang yang harus Jo keluarkan dalam semingu. Mending kamar sendiri enggak harus bayar.


Nenek tua itu, membuka pintu utama. Ah— bibirnya tersenyum lebar, sepertinya malam itu. Si nenek tua itu akan bahagia.


"Ayo, masuk!" Nenek tua itu menyuruh tamunya masuk.


"Makasih, Bu!" Perempuan itu menjawab.


Nenek tua itu, menyuruh tamunya itu mengikutinya. Mereka telah sampai di meja makan. Keempat pria itu membulatkan matanya.


"Bu Asya!" Langit, Hazel serta Jo mengucapkan nama itu serempak. Sedangkan pak Khan tidak ikut.


Paruh baya tidak boleh kaget takut jantungan.


Asya juga tak kalah terkejut, karena atasannya semua ada di sana. Seperti Direktur utama, direktur keuangan serta direktur personalia. Sampai manajer pemasaran, juga ada.


"Kalian kenal?" Eyang antusias karena rencana berhasil.


"Bagaimana tidak Bu, mereka adalah atasan saya, malam Pak." Asya.


"Malam." Hazel menerima uluran tangan dari Asya. Saat Asya ada di samping Langit mengulurkan tangan. Nenek tua itu tidak me-sia-siakan itu.

__ADS_1


"Asya duduklah di samping ku." Eyang bicara seperti itu. Ah— itu sebenarnya kursinya Cahaya.


Langit yang melihat hal itu, ingin angkat bicara, tapi ia urungkan karena Asya sudah duduk. Si kembar saling memberi kode, karena ulah eyang.


Wanita berambut sebahu itu, tersenyum kearah ibu mertuanya. Kedua wanita itu keluar dari dapur sambil membawa wadah berisi makanan. Senyum itu memudar saat berada di meja makan. Wanita berambut sebahu itu, melihat perempuan lain duduk di samping suaminya. Cahaya dan ibu mertuanya menaruh makanan itu di meja.


"Malam Bu dan... " Asya menyapa Abidah Aminah dan wanita berambut sebahu itu.


"Kenalkan dia istriku," ujar Langit, memberi tahu.


Eyang nampak tidak suka dengan jawaban dari cucunya itu.


"Cahaya!" Wanita itu mengulurkan tangannya kearah Asya.


"Asya!" Asya menerima uluran tangan dari Cahaya.


Wanita berambut sebahu itu diam sejenak. Sepertinya dia tidak asing dengan nama itu.


Asya, siapa dia kenapa sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Batin Cahaya, yang tidak ingat dengan Asya.


Ternyata dia istrinya pak Arkana, masih muda ternyata. Sepertinya umurnya dibawah ku. Tapi mana anaknya. Asya juga membatin.


"Duduklah." Abidah Aminah menyuruh Asya dan Cahaya duduk.


"Kalau boleh tahu Mbak Asya ini, posisinya ada di bagian apa?" Alula bertanya.


"Manajer keuangan Mbak!" jawaban Asya, membuat jantung Cahaya berdetak lebih kencang.


Asya, dia yang waktu itu ada di ruangan mas. Ternyata dia orangnya, dia sangat seksi Ya Allah. Batin Cahaya takut, wanita itu takut jika suaminya seperti lelaki lain. Selingkuh dengan rekan kerjanya.


Istri tukang su'udzon.


"Wah ... jajarannya tinggi ya Mbak. Pasti bayarannya besar" Alula bicara sambil menyuapi Balqis.


"Ah... Mbak Alula itu bisa aja." Asya tersenyum, sambil memasukkan makanan ke mulut.


"Namanya ju GM. Yang posisinya ada dibawah presiden direktur, tanggung jawabnya juga besar bukan begitu Bu Asya?" Hazel bertanya.


"Ah, ya seperti itulah Pak!" Asya tersenyum.


"Wanita hebat bisa cari uang sendiri, apalagi gajinya pun besar. Seperti Asya ini." Eyang membanggakan tentang Asya.


Cahaya menelan ludahnya, jika eyang bicara pasti wanita itu. Merasa jika eyang itu sengaja menyakiti hatinya.


"Asya kesini pakai apa?" tanya Abidah Aminah.

__ADS_1


"Taksi, Bu!" Asya menjawab, sambil minum.


"Sudah lama jadi GM?" Kakek Raharja bertanya, entah dari siapa kakek tahu jika Asya jadi GM.


"Dua tahunan Pak!" jawabnya, kakek mengangguk.


Cahaya hanya memainkan sendok dan garpu nya saja. Wanita itu tidak makan sama sekali, hatinya berkecamuk. Banyak pertanyaan yang ada di dalam hatinya itu. Langit menatap tangan istrinya sekilas, pemuda itu tahu, jika sang istri belum makan.


"Lang, nanti kamu anterin Asya pulang ya, kasian wanita, enggak baik malam-malam pulang sendirian." Eyang bicara, sambil tersenyum smirk.


Akan kah usahanya mendekatkan cucunya dengan Asya itu terwujud.


Cahaya yang mendengar hal itu, membuat tangan yang memegang sendok dan garpu itu jatuh di piring. Tapi tidak keras, jadi hanya salah satu saja diantara mereka yang dengar. Eyang menyaksikan hal itu. Eyang sangat puas melihat Cahaya sakit hati.


Cahaya memundurkan kursinya, kemudian berdiri sebelum bicara. "Maaf semua, aku keatas dulu perutku sakit."


Pemuda itu baru saja mau memasukkan makanan ke mulutnya. Langit bisa melihat wajah istrinya yang muram itu. Cahaya meninggalkan mereka yang masih asik makan. Wanita itu membuka pintu kamar kemudian berlari kearah balkon. Wanita itu tersungkur sambil menangis. Air matanya terus menetes, ah— wanita itu memukul keramik putih itu dengan tangannya.


Kenapa eyang, kenapa eyang membenciku hiks. Apa Maksud eyang waktu itu bilang jika setahun aku belum bisa mengasih keturunan hiks. Aku harus merelakan masnya dengan wanita lain. Aaaaaaa, aku enggak rela Ya Allah. Batin Cahaya.


Cahaya berteriak, setelah berteriak wanita itu memeluk lututnya. Wajahnya ia sembunyikan di lutut. Wanita itu terisak sangat panjang.


Wanita mana yang rela melihat suaminya bersama orang lain. Apalagi wanita berambut sebahu itu baru juga merasakan cinta selama satu bulan belum genap, karena waktu itu mereka butuh satu bulan untuk saling menerima jika mereka sudah berstatus sebagai pasangan.


"Terima kasih, sudah di undang buat makan malam bersama kalian semua." Asya bangkit dari duduknya.


"Sama-sama Asya, kapan-kapan kau bisa mampir kesini lagi untuk makan bersama kami," jawaban eyang membuat Hazel dan Jo saling menatap. Hazel mengangkat bahunya. Sedangkan Jo menggelengkan kepala dan men-cemberut kan bibirnya.


"Dengan senang hati, senang bisa berkenalan dengan Mbak Alula, Bu Abid sama si kembar dari Pak Raharja!" Asya tersenyum kearah keluarga itu.


"Kita pun sebaliknya Mbak!" jawaban Alula.


"Mari Pak, Bu dan Mbak Al!" Asya bicara sambil keluar dari pintu utama.


Wanita berambut sebahu itu, terus saja menangis sesenggukan.


"Aku enggak, rela ya Allah." terisak tapi masih sanggup bicara.


Terdengar suara deru mobil dari bawah. Cahaya mengusap kasar air matanya. Wanita itu, berdiri kemudian berlari kearah pinggiran balkon. Cahaya menatap mobil silver itu, dari lantai atas. Matanya tidak teralihkan sama sekali dari mobil itu. Cahaya menatap nanar mobil itu. Wanita itu membayangkan suaminya dan perempuan lain ada di mobil berdua saja. Cahaya semakin terisak, punggungnya bergetar. Sangking sesaknya wanita itu mencengkram kuat, besi yang ada dipinggiran itu.


"Ternyata hiks, begini hiks, rasanya cemburu, hiks. Kenapa masnya, mau hiks huaaaa huaaaaa." Wanita berambut sebahu itu, hatinya sangat hancur.


Kenapa waktu itu Tuhan, tidak mengizinkan dia berbalas kasih dengan cinta pertamanya. Boleh jadi, inilah alasan Tuhan. Tuhan tidak ingin jika wanita berambut sebahu itu, sedih seperti malam itu. Orang yang mencintai dia (suaminya) sedang bersama perempuan lain. Waktu itu Cahaya mencintai Senja. Tapi sayang sahabatnya itu mencintai wanita lain.


Rasa sakit yang aku rasakan saat melihat cinta pertamaku bersama wanita lain. Tidak sesakit, malam ini. Saat melihat orang yang mencintaiku dan aku cintai bersama perempuan lain. Batin wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2