
Tepatnya malam minggu aku menulis cerita ini. Tak terasa hampir dua bulan sudah aku mencintai kak Bumi dalam diam. Tapi sayang beribu sayang, cinta dalam diam ku ini tak membawakan hasil. Ya! Aku berfikir cinta ku ini, akan seperti Siti Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Ternyata takdir berkata lain, sepertinya Tuhan tidak mengizinkan aku dan kak Bumi untuk bersatu. Satu hari yang lalu, tepatnya hari jumat. Aku berkunjung ke rumah Ajil dengan hati yang berdebar, aku berfikir akan bertemu dengan kekasih hatiku itu. Dan benar saja! Aku bertemu dengan kak Bumi yang baru pulang dari sholat jumat.
"Nunggu, siapa Dik?" tanya kak Bumi waktu itu. Dan logatnya itu terdengar seperti sedikit menggoda di telinganya ku.
"Biasa Kak, nunggu si Ajil mau nugas." Aku menjawab seperti orang salting, gitu.
"Masuklah, sahabatmu itu masih di jalan." Kak Bumi menyuruhku masuk, aku pun mengikuti kak Bumi dari belakang saja.
Setelah sampai di dalam, aku duduk di ruang tamu, sendirian. Karena kak Bumi izin ganti baju dahulu. Aku menunggu Ajil tapi dia tak kunjung datang. Di saat aku menunggu sahabat ku itu, aku bisa mendengar ada sebuah percakapan dari orang dewasa. Tepatnya di kamar dekat ruang tamu. Aku yang ingin tahu, aku mendekatkan telinga ku ke tembok pembatas antara kamar dan tembok ruang tamu.
"Beneran, Bapak mau menjodohkan anakku dengan cucu sahabat Bapak?" Aku sangat tahu itu suara siapa. Aku berpikir siapa yang akan di jodohkan ini. Aku pun mulai menajamkan pendengaran ku, untuk mengetahui lanjutannya.
"Kau tahu, aku dan sahabat ku ini sangat dekat bukan? Jadi aku berpikir jika hubungan kita bisa berubah menjadi keluarga besar anakku." Waktu itu mbah Raharja yang menjawab.
"Kenapa Bapak, ingin sekali menjodohkan anakku dengan cucu Nek Endah?" Waktu itu yang bertanya tante Abid.
"Menantu, aku melakukan semua ini bukan, atas dasar ingin merubah status ku dengan Endah. Tapi aku ingin cucuku dapat yang terbaik. Aku yakin Endah mendidik cucunya dengan baik. Jadi kamu tahu maksudku kan menantu?"
Aku masih ingin tahu, kelanjutannya. Dan siapa yang akan dijodohkan dengan sahabatnya mbah Raharja ini. Apa Ajil atau Alula? Itulah yang aku pikirkan saat menguping jumat siang itu.
"Siapa yang akan Bapak, jodohkan dengan cucunya Mbah Endah?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut om Khan.
"Bumi!"
Deg ...jantungku berhenti saat mendengar jawaban dari mbah Raharja. Tubuhku langsung merosot di sofa. Bagaimana tidak, orang yang aku cintai sudah dijodohkan dengan orang lain. Kisah cinta pertamaku, sangat menyakitkan. Seketika mataku berkaca. Bukan! Bukan cuma berkaca-kaca tapi saat itu, air mataku lolos begitu saja, tanpa izin dariku. Ternyata hari jumat itu adalah hari terakhir aku, bisa merasakan kebahagiaan mencintai kak Bumi dengan khayalanku ini. Bahkan aku pernah berkhayal jika aku bisa menikah dengan kak Bumi. Secara keluarga ku dan keluarga mbah Raharja sangat. dekat. Itulah akhir kisah cintaku, aku tidak tahu bagaimana jika aku dan kak Bumi saat bertemu kembali lagi.
^^^TTD^^^
^^^Mentari.^^^
Cahaya membuang napas kasar, saat membaca buku harian Mentari. Wanita berambut sebahu itu membaca, tatkala menunggu suaminya dan gadis berwajah bulat selesai magrib.
Maafkan aku mbak Mentari, karena aku, mbak Mentari tidak bisa berbalas perasaan dengan kak Bumi. Tapi lihatlah mbak sekarang aku menikah dengan sahabatmu, Ajil mu itu mbak. Bahkan aku tak pernah bertemu dengan kak Bumi sebelumnya mbak. Mbah Raharja emang punya rencana untuk menjodohkan aku dengan kak Bumi. Tapi lihatlah Allah, berkehendak lain untuk takdir kita. Batin Cahaya.
Cahaya sangat merasa bersalah, karena telah menyakiti hati seseorang yang tak pernah ia jumpai itu.
Tapi Cahaya, kau harus tahu. Jika Mentari itu kisahnya ada sangkut pautnya denganmu. Entah apa yang takdir inginkan.
Cahaya menyimpan buku itu di bawah meja depan sofa. Cahaya menatap kedua orang yang sholat itu, dengan mengulas kan sebuah senyuman tipis.
"Assalamu'alaikum wr.wb."
Sholat maghrib itu telah selesai, Langit dan Cantik berjalan kearah sofa, setelah melipat sajadah. Cantik sudah duduk di tengah-tengah mereka. Ya! Anggap saja orang ketiga. Waktu itu belum ada kata pelakor atau pembinor. Jadi pasangan itu aman tanpa ada pelakor atau pembinor. Sebenarnya kata pelakor dan pembinor itu dari manusia untuk manusia pula. Pepatah bilang ucapan adalah doa. Maklum jika banyak orang ketiga membludak dimana kata yang tidak pantas sering diucapkan. Contohnya pelakor maupun pembinor. Dulu juga ada orang ketiga, dalam rumah tangga orang yang terdahulu. Tapi orang ketiga itu, tidak terlalu parah lah.
"Bagaimana, apa ada tugas dari bu guru?" Cahaya bertanya.
Sedangkan Langit sedang main ponsel, sambil bersandar di sofa.
"Harus setoran Akak!" Gadis itu menjawab.
"Setoran maksudnya hafalan?" Cahaya bertanya, gadis berwajah bulat itu mengangguk.
"Baiklah, Akak akan membantumu, apa yang harus kau hafal?" Cahaya menatap gadis itu dengan seksama.
"Surah-surah pendek," jawabnya, sambil membuka juz'ama.
Alangkah baik jika anak itu diarahkan dalam ilmu agama saat masih beliau. Karena pelajaran agama, akan tetap ingat meski sudah tumbuh menjadi dewasa.
"Surah apa?" Cahaya bertanya.
__ADS_1
"At-Takasur!"
"Baiklah, Cantik! Akak nanti akan simak."
Gadis berwajah bulat sudah memejamkan matanya untuk menghafal. Cahaya tersenyum karena ulah Cantik.
"Bismillaahir-rohmaanir-rohiim."
"Apa, Akak lanjutannya?" Cantik bertanya, tapi matanya masih terpejam. Langit melirik kearah Cantik, kemudian menatap ponselnya kembali.
Cahaya menggelengkan kepalanya.
"Can, jika kamu tidak membaca bagaimana kamu bisa hafal, Semua itu berawal dari membaca dulu
Baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam. Saat pertama kali mendapat Wahyu dari Allah, melalui malaikat Jibril. Juga disuruh membaca. Malaikat Jibril berkata kepada Baginda Nabi iqra, yang artinya bacalah. Maka Can, kita juga harus membaca dulu, sebelum lanjut ketahap hafalan. Ini juga bisa disebut proses!" ujarnya Cahaya, memberi tahu.
Cantik mengangguk dan tersenyum, gadis itu dapat pelajaran sedikit dari akak Bubble-nya. Langit pun mendengar apa yang istrinya ucapkan, pemuda itu tersenyum samar.
Cantik pun membaca surah itu dengan santai, kalau terlalu cepat bukannya hafal yang ada malah ruwet. Karena tergesa-gesa.
"Baca tiga kali, kemudian tutup mata, nanti aku akan menyimak setuju?" tanya Cahaya.
Gadis itu hanya mengangguk. Setelah lima belas menit, akhirnya Cantik bisa memejamkan mata, untuk mengecek daya ingatnya itu.
"Bismillaahir-rohmaanir-rohiim."
"Al-haakumut-takaasur,(Bermegah-megahan telah melalaikan kamu)"
Cahaya pun mendengarkan dengan baik. Tapi sepertinya Cantik lupa ayat kedua. Lihat saja bocah itu, seperti berusaha untuk mengingat lanjutan ayatnya.
"Hattaa,(hingga)" Langit memancing agar gadis itu meneruskan potongan ayat At-Takasur itu.
Cahaya masih setia menunggu, Cantik untuk ayat yang ketiga.
"Kalla,(sekali-kali tidak)" Langit membantu gadis itu kembali.
"Lau ta'lamuuna 'ilmal-yaqiin, (tidak! sekiranya kamu mengetahui dengan pasti)"
"Hmmm salah," ujar Cahaya, menegur Cantik. Gadis berwajah bulat itu langsung ke ayat lima.
Gadis berwajah bulat itu, berpikir keras, apa yang salah pikir gadis itu. Bukanya awalnya 'kalla' jangan-jangan akal Bubble yang salah.
"Kallaa saufa ta'lamuun, (sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)," Langit memperbaiki posisinya agar melihat gadis itu.
Cantik menyengir kuda, ternyata dia yang salah, bukan akak Bubble-nya pikir si bulat waktu itu.
"Can, kamu belum hafal, jadi bacalah berulang-ulang. Setelah benar-benar hafal, aku akan menyimak mu kembali. Kamu harus dipancing, Om, dahulu setelah itu baru menyahut. Itu pertanda Cantik belum bisa ingat sepenuhnya," ujarnya Cahaya.
Cantik emang kamu teh fish pakai di pancing segala. Gadis berwajah bulat itu menunduk, karena dia merasa jika dia sangat susah mengingat.
"Gimana kalau kita baca bersama-sama, pelan-pelan sebanyak tiga kali. Kau setuju Can?" Langit memberi ide bagus. Pemuda itu tahu jika Cantik mau putus asa.
Cantik yang menundukkan kepalanya, ia mengangkat kepalanya perlahan, karena tawaran om Dosennya itu.
Langit dan Cantik membaca surah At-Takasur itu bersama-sama. Karena Cahaya sedang halangan jadi tidak ikut membaca. Malam itu Langit dan Cahaya menjadi orang tua dadakan kembali setelah satu tahun lamanya. Langit dan Cahaya harus merelakan waktu berdua, hanya karena Cantik seorang. Sedangkan ayah dan ibunya Cantik sedang menghabiskan waktu berdua bersama tanpa anak mereka.
Apa kabar dengan Black yang ada di Jogja. Di sebuah kos-kosan, pemuda keturunan Aceh itu sedang bermain gitar. Satu jam yang akan datang, pemuda itu akan bekerja sebagai pelayanan indomaret. Saat kuliah libur, pagi jam sembilan ia gunakan untuk mengamen dari bus yang satu ke bus yang lain. Black harus berkerja keras, agar bisa mewujudkan mimpinya. Untuk kuliah di Fakultas Fotografer. Itulah hidup Black, anak orang berada. Tapi harus bekerja keras. Didik kan nya Agam Ariaja tidak perlu di ragukan lagi. Black yang kalau di rumah bisa makan apa saja, saat di Jogja dia harus hemat. Pagi mie instan, siang nasi bungkus, malam kadang makan kadang tidak. Sangat miris emang, tapi inilah hidup. Black mulai memetik gitar itu.
Jreng ...jreng ...jreng ...Black mengambil napas terlebih dahulu sebelum menyanyi.
__ADS_1
"Kalau bulan bisa ngomong. Mungkin orang pada takut. Ada cinta yang terlalu, semua serba terlalu, masa lalu biar berlalu. Hey ...hey ...aaaaa ...ku tak laku-laku hooo ...siapa yang maaaauuu." Sepertinya Black sangat payah untuk mengingat lirik lagu. Buktinya liriknya apa diganti apa. Lebih parahnya dia menggabungkan lagu milik Duel Sumbang dengan lagu Wali.
"Hambar, mending telpon si kembar ah ...sudah lama tak komunikasi." Black bicara sambil mencari ponselnya. Pemuda sembilan belas tahun itu, memijit ponselnya.
"Iya,"
"Jawab salam dulu, main iya-iya saja," tegur Black sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari sebrang sana.
"Kumaha damang, Neng!" tanya Black kepada orang itu.
"Lu kuliah di Jogja kenapa, pakai bahasa Sunda, gua rasa lu udah gila," jawaban dari sana seperti orang terkekeh.
"Lah teros, piye seng bener(terus bagaimana yang benar)"
"Nah, kui yang bener (nah, ini yang benar)" jawaban dari sana.
"Lah, kalau aku tersno awakmu jawabane opo? (Lah, kalau aku sayang kamu jawabannya apa)," goda Black, sambil tersenyum tipis. Membayangkan bagaimana reaksi orang yang ada di telpon itu.
"HITAMMMMM!" teriakan dari ponsel membuat Black menutup telinganya.
Akhirnya panggilan favorit Black keluar juga dari mulut Archer. Black tersenyum simpul, entah kenapa ada yang kurang saat telponan dengan Archer. Tapi dara delapan tahun itu belum memanggilnya Hitam.
"Ya Allah, Neng jangan teriak-teriak, ampun deh kuping Akang jadi budeg," ujarnya sambil menahan tawanya.
"His, sejak kapan gua jadi markoneng?" tanya Archer.
"Maksudnya, gimana?" Si Black tidak mengerti maksud Archer.
"Lah, kan lu yang manggil Nang-neng, Nang-neng gitu. Gua Archer bukan markoneng Tam!"
"Hadeh, ngelawak nih ceritanya," tanya Black.
"Bukan stand-up comedy Cukk!"
"Serah lu lah, gimana udah belajar?"
"Belum, lu jangan ingatin gua untuk belajar. Lu juga harus ingatin diri sendiri untuk belajar. Gua enggak tahu Tam, wajah lu, tubuh lu sekarang kayak apa. Istilah lu jadi pengamen jalan, kandang harus ngejar bus, panas-panasan. Malamnya gadang sampai larut malam, karena kerja jadi pelayan indomaret. Gua rasa lu jadi jelek." Archer mencecar sambil tersenyum simpul.
"Ziaaaalan lu Cher!" Black tidak terima di bilang jelek.
"Hahahaha... " Archer tertawa ngakak.
"Sudah tawanya, keselek tahu rasa," ujar Black.
"Lu nyumpahin gua?"
"Kalau Allah ridha yang enggak apa-apa."
"Dasar Hitam Jelek!"
"Awas aja, kalau ketemu, bogem melayang Cher. Lu kalau lihat gua udah kayak abang Arkana. Kan gua duplikatnya abang!"
"Iyain saja lah," jawaban Archer mengejek.
"Sudahlah, bicara sama markoneng enggak ada faedahnya. Bye!" Black mematikan sambungan itu, karena harus berangkat kerja.
Archer yang ada di kamar tersenyum, karena cinta pertamanya itu. Archer tidak seperti anak muda pada umumnya, yang akan menjauh atau malah berubah agresif jika diam-diam mencintai sahabatnya. Dara delapan belas tahun itu, tidak ada perubahan sama sekali. Masih seperti yang dulu, itu yang Black rasakan. Ada saatnya kita itu harus santai untuk menghadapi situasi tertentu. Hal seperti itu pernah dilakukan Baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam. Woles is best.
__ADS_1