
Tak terasa aku sudah mau lulus SMA. Aku mendapatkan juara dua. Semua itu seperti mimpi bagiku. Ternyata ada hikmah dibalik semua ini. Ya ...karena aku patah hati, aku memutuskan untuk lebih memfokuskan diri, dengan hal-hal yang lebih positif lagi, seperti belajar. Selamat tinggal kak Bumi. Selamat tinggal cinta pertamaku. Sudah saatnya, aku fokus kepada masa depan. Aku tidak boleh berlarut dalam kisah cinta yang tidak akan membawakan hasil ini. Cukup sekian, aku tidak perlu bertahan, karena tidak ada kepastian. Andai saja engkau, mencintaiku. Mungkin aku juga akan berfikir untuk mempertahankan cintaku ini kepadamu. Iya inilah akhir dari kisah cintaku. Aku harus mengikhlaskan yang bukan untukku. Cukup ini menjadi kenangan saja. Semangat ...
TTD
Mentari.
Seminggu telah berlalu saat Cahaya ikut ke kantor suaminya.
Malam itu Cahaya sudah bisa sholat kembali. Sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.Cahaya membaca buku itu dan bersandar di ranjang.
"Wanita yang sangat hebat," ujar Cahaya, sambil memperbaiki posisinya.
Tangan Cahaya mulai membuka lembaran buku itu. Namun saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Cahaya segera menutup buku harian milik Mentari dan menyimpan ke laci.
Cahaya tersenyum, saat suaminya berdiri di samping ranjang, yang ia buat duduk.
"Mau langsung tidur, Mas?" Cahaya bertanya.
Pemuda itu berjalan ke sisi kanan ranjang. Dan membaringkan tubuhnya, kemudian menarik selimut.
"Iya!" jawabnya, sambil menatap wajah istrinya.
"Baiklah!" jawab Cahaya.
Maklum pemuda itu hampir tiga hari, pulangnya selalu jam satu.
"Mendekat lah biar aku cium kening mu," ujar Langit.
Pemuda itu akan mencium kening istrinya sebelum tidur. Entahlah, hal itu seolah tidak harus tertinggal bagi Langit.
Cahaya pun hanya menuruti suaminya. Perlahan, Cahaya mendekatkan tubuhnya kepada suaminya itu.
Pemuda mencium kening istrinya sambil berbicara. "Cepatlah tidur, dan mimpi indah Az-zahra!"
Lima menit kemudian.
Langit sudah terlelap, sambil memeluk guling. Sedangkan Cahaya, masih terjaga. Wanita itu mengamati wajah suaminya. Jika biasanya Langit yang melakukan hal itu. Malam itu Cahaya yang melakukan. Tangan kiri wanita itu, mengelus wajah suaminya. Perlahan bibir wanita itu tersenyum.
"Aku tahu kamu lelah." Kalimat pertama yang terucap dari mulutnya.
"Apalagi, saat menghadapi, aku kedatangan tamu bulanan," ujar Cahaya, yang sudah mengelus rambut suaminya.
"Mimpi indah suamiku!" Cahaya mencium pipi suaminya.
Wanita berambut sebahu itu, memposisikan untuk bersandar di kepala ranjang.
Tangannya menarik pintu laci, yang ada di sampingnya. Cahaya mengambil kembali buku harian milik Mentari. Cahaya mulai membaca buku harian itu.
Malam ini aku sangat bahagia, karena esok aku akan berangkat ke Singapura bersama sahabatku itu. Untuk melanjutkan study kita. Tak bisa ku pungkiri, aku begitu bahagia. Apa lagi Ajil bersamaku. Cukuplah aku menulis malam ini, aku sangat lelah. Dan aku juga harus istirahat untuk keberangkatan besok.
TTD
Mentari.
Cahaya membaca buku itu dengan baik.
"Berarti mereka kuliah bersama! Apa tidak ada salah satu dari mereka yang memendam perasaan?" Cahaya bicara pelan, sambil melirik kearah suaminya. Pemuda itu tertidur dengan wajah yang damai.
"Tapi, kenapa dia selalu bilang, Ingat! Lelaki dan perempuan itu tidak ada yang namanya pure sahabatan.Kalau enggak yang satunya ngarep, pasti yang satunya nyaman," ujarnya Cahaya, mengingat ucapan suaminya itu.
"Tapi jujur sih ...apa yang dia katakan itu benar. Kayak dulu perasaanku kepada Senja ...dulu aku juga ngarep banget. Tapi sayang sekali, cinta pertamaku tak terbalaskan." Cahaya menggelengkan kepalanya karena kisah cintanya itu.
"Aku rasa, aku akan membaca buku ini sampai selesai, pada malam ini juga," ujarnya Cahaya, dengan tangan yang sudah membuka lembaran selanjutnya.
Rasanya kangen sekali menulis keseharian ku. Baiklah, untuk malam ini aku akan bercerita tentang awal mula sampai di Singapura. Tiga hari telah berlalu, aku disini. Bersama Ajil, kau tahu? Si Ajil, itu sangat payah. Dia itu saat pesawat sudah siap lepas landas dia ketakutan. Sangking takutnya dia menggenggam tanganku dengan sangat erat. Ingin aku mentertawakan nya, tapi masalahnya. Kita ada di pesawat, bagaimana mungkin aku tertawa, yang ada aku buat kegaduhan. Sebagai sahabat yang baik, aku pun harus menenangkan dia.
"Jil, tenanglah. Kau tidak akan terjun bebas dari atas langit. Bukan kah namamu Langit? Lantas kenapa kau takut? Harusnya kau bahagia, karena bisa ada di langit yang semestinya." Aku terkekeh saat bicara itu kepada sahabatku itu.
"Aku rasa, kau sangat bahagia. Melihat aku seperti ini." Itulah jawaban dia waktu kita di dalam pesawat.
"Aku bahagia, karena kau bisa bertemu dengan sahabat yang selalu bersamamu itu."
"Sahabat? Bukannya cuma lu sahabat gua?" Aku ingat waktu itu Ajil menjawab pertanyaan ku.
"Lah, kalau mentari mah, adanya cuma siang buat langit. Sedangkan si awan setia banget sama langit, berarti sahabatnya langit yang paling setia adalah awan. Bukan Mentari!" Aku mencoba untuk bercanda dengan sahabatku itu. Aku tidak mau dia tersiksa karena ketakutannya itu.
"Mengenai bulan! Bagaimana pendapatmu dengan bulan?" tanya Ajil waktu itu, aku rasa. Dia sudah bisa menghilangkan rasa takutnya itu.
__ADS_1
"Bulan dia akan datang disaat mentari, telah meninggalkan langit."
"Baiklah! Kalau bintang?" Pertanyaan Ajil, yang membuat aku menatap wajahnya.
Aku masih ingat, saat kita ada di pesawat. Aku tatap muka milik Ajil secara seksama. Kemudian aku bicara. "Mereka yang tak bisa dipisahkan. Dan mereka pula yang akan menemani langit saat malam hari, bintang dan bulan. Saling melengkapi, hanya untuk menemani langit yang sendiri karena mentari tak lagi bersamanya," jawabku waktu itu, entah mengapa aku berbicara terlalu puitis.
"Siapa yang paling lama menemani, langit. Mentari atau bulan?" tanya Ajil, aku rasa Ajil benar-benar sedikit berubah.
"Kau menguji ku! Bagaimana aku tahu, berikan aku waktu untuk menghitungnya." Saat Aku bicara seperti itu, dia tersenyum sangat lebar. Aku sangat bahagia karena aku berhasil membuat dia tenang.
"Ayolah, Met! Ini sudah lebih dari lima menit. Apa kau benar-benar tidak bisa menghitung?" Protes Ajil waktu aku sedang berfikir.
"Tunggu dahulu, kau itu tidak sabaran," balasku waktu itu.
"Sudah ku duga, kau tidak akan bisa menghitung," ujar Ajil mengejekku.
Anak ini benar-benar kamprett. Ingin sekali aku memukulnya dengan pukulan yang tak akan terlupakan.
"Met! Jamet, aku rasa nilai rapot mu salah."
"Maksudnya?"
"Bagaimana mungkin, kau bisa dapat rangking dua. Plus beasiswa, sedangkan di suruh ngitung, hal konyol saja tidak bisa. Aku rasa kau itu tidak berprestasi cuma aji mumpung saja,"
Aku ingat sekali, si Ajil itu bicara dengan nada sinis. Punya sahabat kayak dia itu benar-benar harus sabar dalam bersikap.
"Jawablah, kalau kau tahu."
"Berikan satu, quotes. Mentari langit dan bulan," ujar Ajil sambil menaikan alisnya.
"Mentari dan bulan itu sama-sama di langit. Tapi tidak pernah bertemu, tapi mereka mempunyai peran penting dalam dunia ini. Kau tahu apa?" Aku bertanya kepada si Ajil itu.
"Kau tahu, aku tidak tahu! Terus ngapain bertanya kepadaku. Come on Met, jangan tebak-tebakan. Sungguh aku tidak suka orang yang bertele-tele," ujar Ajil, yang terus terang.
"Peran penting mentari dan bulan adalah. Menemani langit untuk menyinari bumi."
"Enggak jelas," jawab Ajil, sambil mendorong bahuku.
"Ya kali, Jil! kalau langit enggak ada bintang, bulan, mentari dan awan. Enggak ada pasangannya dong jil. Emang Langit, yang duduk di sampingku ini jomblo hihihi," ujar ku terkekeh. Karena bisa menghinanya.
Cahaya yang membaca bagian itu dia menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya karena menahan tawanya.
Sepertinya Cahaya sudah siap membaca cerita itu kembali.
"Jamet, sepertinya kau benar-benar suka menghinaku. Apa kabar dengan situ, apa kau punya kekasih?" Wajah Ajil itu sangat menyebalkan waktu itu.
Ingin aku tabok, melihat pipi putihnya, sepertinya bagus kalau dikasih bulsh on alami. Aku ingin tertawa jika itu terjadi, namun sayangnya aku takut. Istilah, selama aku mengenalnya dia tak pernah bicara kasar, membentak ataupun memukul ku. Sungguh dia sangat baik ... tapi nyebelin.
"Kau jangan tanya kekasih kepadaku. Jika kau tidak ingin aku bersedih."
Akh ... aku jadi teringat tentang kak Bumi, saat menulis cerita malam ini. Hadeh... move on Mentari.
"Kau terlukai oleh perasaanmu?"
"Aku..." Tunjuk ku ke diri sendiri.
Aku ingat waktu itu dia hanya mengangguk. Sepertinya Ajil, ingin tahu. Tapi maaf, tidak mungkin aku bercerita tentang kisah cinta yang tidak beruntung ini kepadamu Jil. Apalagi dia adalah kakak terbaik untukmu.
"Ayolah ...shob kita kejar masa depan. Kita kesini bukan untuk bahas cinta. Kita kesini buat mencari ilmu, kita juga bisa merubah gaya hidup kita. Selama ada di Negara baru. Kita gunakan untuk bersenang-senang. Sejenak lupakan tentang cinta. Karena perasaan yang kau berikan untuk seseorang itu. Awal dari patah hati."
"Kau terlalu puitis, tapi kenapa aku merasa ...itu adalah perjalanan kisah cintamu. Apa kisah cintamu sepahit kopi?"
"Apa kau pernah minum oli?" tanyaku waktu itu.
Ajil mengerutkan dahi, karena pertanyaan ku.
"Apa hubungannya?" tanya Ajil, sambil menatap wajahku sangat dekat.
"Enggak ada hubungannya." jawabku santai.
"Kau bicara tapi tidak berfaedah," ujarnya, sambil memalingkan wajahnya dariku.
"Cinta itu harus seperti kopi. Pahit tapi semua orang tidak takut menikmati. Karena pahitnya kopi, masih bisa manis saat kita kasih gula. Jika cinta itu seperti oli, maka orang di dunia ini, tidak mau untuk mencintai karena dia tahu awalnya pahit akhirnya pun buruk, sebanyak apapun gula yang kau tuangkan—tetap saja orang tidak mau mencobanya. Begitupun cinta,awalnya manis akhirnya pahit, karena takdir yang memisahkan."
"Sudah ku duga. Kau pasti menjawab pertanyaan ku dengan, Kata-kata yang keluar dari mulutmu itu dengan gaya alay."
"Lupakan tentang, ucapan ku. Sekarang jawab pembahasan yang tadi."
__ADS_1
"Pembahasan yang mana?" tanya Ajil, sambil menaikan alisnya.
"Bulan dan mentari siapa yang paling lama menemani langit?" tanyaku.
"Biarkan aku tidur, nanti bangunin kalau udah mendarat," ujar Ajil waktu itu, sambil bersandar di kursi dan menutupi wajahnya dengan jaket.
"Heh... Ajil jawab dulu, apa kau mau membodohi ku?" protes ku waktu itu, sambil menarik jaket yang ia gunakan buat nutupin wajahnya.
"Aku sudah menjawabnya," ujarnya yang tidak mau memperlihatkan wajahnya.
"Kapan? Aku tak mendengarnya. Kau membohongiku," ujar ku, sambil menyenderkan kepalaku di bahunya.
"Aku menjawabnya di dalam hati, kau saja yang tidak bisa mendengar," jawaban Ajil waktu itu, membuatku refleks menjewer kupingnya.
"His ... jauhkanlah kepalamu itu dari bahuku Met. Aku tidak suka kau bersandar di bahuku, jika kau menjewer ku," ujarnya waktu itu, sambil mengangkat kepalaku dengan tangan kanannya.
"Aku hanya bersandar ...tidak membebani hidupmu."
"Sama saja, kau bersandar di bahuku. Itu juga membuatku harus menopang kepalamu yang tidak berisi," ujarnya yang terus saja berusaha mengangkat kepalaku.
"Aku yakin, kau tidak akan terbebani karena kepalaku. Bukanya kamu yang bilang otaku ini kosong. Terus... apa masalahnya shob?" tanya dengan menyunggingkan senyuman di bibir.
"Hah... kau benar-benar, membuat aku sekakkmat." Aku tersenyum puas karena Ajil kalah.
Itulah ceritaku dengan Ajil saat di pesawat. Sudah malam, aku juga ngantuk. Aku akan menulis cerita ini lain waktu lagi.
TTD
Mentari.
Cahaya menguap saat membaca cerita itu.
"Apa kau tidak tidur?" tanya seseorang dengan suara orang yang masih ngantuk.
Cahaya menatap kearah suaminya, yang berusaha membuka matanya.
"Hehehe!" Cahaya tertawa canggung, karena suaminya itu akan memberi nasehat. Jika dia telat tidur.
"Kenapa keras kepala? Bukanya aku sudah bilang jangan gadang. Kenapa selalu ngebantah? Apa kau mau sakit? Enggak baik tidur larut, jika enggak ada yang penting." Langit menasehati tapi dengan kalimat tanya, bukan dengan kalimat perintah yang pada dasarnya. Itu akan membuat sang istri jadi tersudut kan, dan seolah sang istri itu selalu salah.
"Iya!" Cahaya menjawab sambil menaruh buku itu ke dalam laci.
"Jam berapa ini?" tanya Langit.
"Dua belas. Apa mau tahajud dulu? Sebelum tidur kembali?" tanya Cahaya menatap suaminya.
"Ide bagus, kau ambilah wudhu dahulu, Az-zahra!" ujar Langit.
"Hem... awas tuh mata jaga. Jangan ditutup, aku tidak mau batal untuk membangunkan Masnya! Kalau kebablasan, bangunnya susah enggak ada bedanya sama Ke-Bo!" ujar Cahaya seraya berdiri dari ranjang.
"Laknat kau," ujar Langit melemparkan bantal kecil kearah istrinya.
Cahaya pun segera menghindar agar tidak terkena lemparan bantal dari suaminya.
"Sepertinya, suamiku ini tidak seperti dulu." Cahaya menggelengkan kepalanya seolah mengejek suaminya itu.
"Masa, lempar bantal saja tidak sampai sasaran," ujar Cahaya terkekeh.
Langit yang mendengar hal itu dia tidak terima. Pemuda itu langsung, berdiri dari tidurnya dan meloncat kearah istrinya. Untuk memberikan pelajaran berharga. Tapi Cahaya sangat pintar, wanita itu segera berlari kearah kamar mandi sambil tertawa. Karena ulah suaminya itu, belum juga Cahaya menutup pintu. Sang suami sudah menarik gagang pintu kamar mandi. Jadilah acara desak pintu antara istri dan suami. Cahaya tahu, hukuman yang suaminya berikan untuknya. Yaitu membuat dia tertawa kemudian menangis. Apalagi tidak menggelitik dirinya.
"Buka!"
"Engga!"
"Ayo buka!" ujarnya, sambil mendesak pintu kedalam.
"Enggak!" ujar Cahaya yang mati-matian mempertahankan agar pintu tidak terbuka dengan kedua tangannya.
"Buka tidak?"
"Tidak!" ujar Cahaya, yang ngos-ngosan karena ulah suaminya yang selalu mencoba membuka pintu kamar mandi.
"Aku tahu, kau akan menggelitiki ku, sampai aku menangis kemudian kau puas. Setelah itu kau baru minta maaf! Ya kan?" tanya Cahaya keras.
"Kau tahu itu, ya makanya dibuka. Setelah itu aku akan tersenyum."
Cahaya yang ada di dalam, dia mengumpat suaminya habis-habisan.
__ADS_1
"Aha!" Cahaya punya ide gila untuk mengerjai suaminya itu.