
Tak terasa nanti malam sudah takbiran. Itu pertanda hari kemenangan telah tiba. Tahun lalu pasangan itu, menggunakan malam takbiran. Dengan penuh kebahagiaan tiada tara. Lantas apa malam nanti, mereka akan merayakan malam takbiran dengan bahagia?.
Tepatnya di kamar pasangan yang sudah satu tahun menikah. Wanita berambut sebahu itu, sedang ngedumel entah karena apa.
"Ayo bangun Mas! Jangan tidur lagi!" Cahaya mencoba membangunkan suaminya itu.
"Lima menit lagi," jawab Langit sambil, menarik selimut. Untuk menutup sekujur tubuhnya.
"Besok aku tidak akan membangunkan mu lagi Mas!" Cahaya bicara sambil menarik selimut.
Setelah hampir setengah jam Langit sudah memakai baju kantor.
"Masa sih, Mas! Hari ini kamu harus kerja. Nanti malam kan sudah takbiran!" protes Cahaya sambil membuka lemari. Untuk mengambil jas untuk sang suami.
"Mau bagaimana lagi, masalah ini investor asing! Dan perusahaan enggak mau, mensia-siakan kesempatan ini." Langit bicara sambil menyemprotkan minyak ke badan.
"Itu sih namanya menyalahi peraturan, orang jelas-jelas. Tanggal merah juga, cuti bersama. Masih aja kerja," gerutunya sambil memasangkan dasi.
"Tenanglah, besok aku akan selalu bersamamu!" Langit tersenyum untuk sang istri.
"Kalau besok kau tidak bersamaku, siapa yang menguatkan aku?" Cahaya bicara dengan tatapan kosong.
"Aku akan selalu di sampingmu, memegang tanganmu. Dan tak akan ku lepaskan!" goda Langit.
"Sudahlah, aku tidak suka dengan godaan mu itu." Cahaya merapikan jas suaminya.
"Ayo aku antar sampai teras!" Cahaya menarik tangan suaminya itu.
Eyang yang ada di bawah, dia tersenyum memikirkan. Rencananya yang tidak akan gagal.
Cahaya dan Langit sudah ada di teras.
"Cium kening dahulu dong!" Langit bicara sambil mencium kening istrinya.
"Daa, dedek! Papa kerja dahulu!" Langit mencium perut istrinya itu.
"Semoga kita bertemu lagi Papa!" Cahaya menjawab dengan tersenyum bahagia.
"Kenapa kamu jawabnya tidak seperti biasanya?" Dahi Langit berkerut karena jawaban istrinya.
"Emang biasanya gimana?" Cahaya sepertinya ingin main tebak-tebakan.
"Kita bicara lagi nanti malam Pa!" Langit membenarkan ucapan istrinya.
"Iya, kalau kita bertemu kembali. Kita akan bicara." Cahaya menjawab sambil tersenyum. Wajahnya terlihat cerah, Langit bisa melihat hal itu.
Jantung Langit sesak, karena pagi itu istrinya bicara aneh. Tidak seperti biasanya, seolah mereka tak akan berjumpa lagi. Mengingat kata yang keluar dari mulut Cahaya berbeda dari biasanya.
"Sudah, enggak usah di pikiran. Ayo kerja nanti terlambat!" Cahaya lagi-lagi tersenyum. Hal itu membuat napas Langit tidak beraturan.
"Sini aku cium pipi mu, sebelum berangkat!" Cahaya mencium pipi suaminya.
"Kenapa pagi kau mencium ku, sebelum kerja?" tanya Langit heran, karena istrinya hampir tidak pernah menciumnya saat mau kerja.
"Buat kenang-kenangan!" Cahaya kembali tersenyum.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Cahaya membuat Langit resah.
Langit segera menghamburkan badannya ke tubuh istrinya. Pelukan erat dari Langit, seolah tidak mau kehilangan.
"Ayo, cepat kerja. Nanti akan ada kejutan buat Mas!" Cahaya bicara dengan riang.
"Kejutan apa?"
"Kalau kita tahu, namanya bukan kejutan dong!" Cahaya bicara sambil menggeleng.
"Maksudnya kita? Apa bukan cuma aku yang dapat kejutan?" tanya Langit yang diwajahnya tak ada garis senyuman.
"Rahasia!"
__ADS_1
"Ayo cepat nanti telat loh!"
Langit pun akhirnya mengemudikan mobilnya. Langit mengemudi dengan hati yang tidak tenang sama sekali.
"Kenapa perasaanku tidak enak." Langit bicara, sambil mengelap dahinya dengan ujung tangan jas.
"Tadi malam, saat dia mau tidur. Dia ingin tidur di dekap ku! Tapi— kenapa harus meminta izin kepadaku. Seolah aku tidak akan mengizinkan." Langit bicara sambil fokus menyetir.
Mas boleh aku tidur di dekapanmu? Pertanyaan itu terlintas di pikiran pemuda itu.
"Ya Allah! Sebenarnya apa arti semua ini!" keluhannya terdengar lemah.
Hati Langit dihantui dengan rasa takut yang mendalam. Entah karena apa, dia pun tidak tahu.
Langit telah sampai di parkiran, di sana dia bertemu rekan kerjanya yang tak lain adalah Asya.
"Pagi!" sapa Asya.
"Pagi juga!" Langit mengangguk.
"Bagaimana kabar istri dan kandungnya Pak?" Asya selalu bertanya kepada Langit. Mengenai keadaan Cahaya dan bayi yang ada di kandungan Cahaya.
"Baik, Bu!" Langit menjawab sekenanya saja.
Setelah itu mereka berpisah, masuk ke ruangan masing-masing.
Sore telah tiba, dikediaman Raharja nampak sepi. Eyang sedang ada di lantai bawah menatap atas. Rencananya kali ini akan berhasil.
"Aku akan memberitahu nak Asya! Tentang rencana ku selanjutnya, aku selalu gagal dalam rencana ku mencelakai si kampung itu." Eyang mulai mengetik sesuatu. Sepertinya eyang akan mengirim pesan itu kepada Asya.
Sore itu Asya yang sedang rapat dengan rekan kerjanya. Dia tidak melihat pesan yang eyang kirim. Karena ponselnya ia matikan. Rapat kali itu sangat serius karena mengenai investor negara asing.
Cahaya yang ada di kamar sedang duduk di sofa memutuskan untuk keluar kamar. Wanita berambut sebahu itu, berjalan dengan tersenyum.
"Aku tidak tahu kenapa rasanya hari ini aku sangat bahagia!" Cahaya tersenyum mengelus perutnya.
"Aku tak sabar melihat wajah imut mu."
Settttt.... Cahaya terpleset dari lantai yang masih jauh dari lantai dasar. Tubuh itu berguling-guling cepat.
"Ya Allah!" Cahaya masih sempat menyebutkan nama Tuhannya. Sebelum kepala itu jatuh mengenai lantai.
Brak!
Si kembar yang melihat kejadian itu. Mereka sangat tertegun hingga membuat membisu. Si kembar baru pulang dari kafe untuk ngecek barang apa yang harus di beli.
"CAHAYA!" teriakan dari arah pintu dapur.
Prang!!! Panci yang ada di tangan Abidah Aminah itu terjatuh. Wanita paruh baya itu, tidak melihat detik-detik menantunya terjatuh. Abidah Aminah melihat saat Cahaya sudah tergeletak dilantai dasar.
Ketiga wanita itu, berlari kearah Cahaya yang tidak sadarkan diri. Abidah Aminah segera mengangkat kepala menantunya, kemudian ia taruh pangkuannya.
"Ay!" suaranya tersekat, air mata tak terbendung lagi.
"MBAK AL! MBAK AL!" Archer berteriak dengan jantung yang berdetak tak beraturan.
Alula yang ada di atas mendengar teriakan adiknya. Alula segera berlari tanpa alas kaki.
Saat dia sudah ada di dekat tangga. Alula tidak bisa berjalan kembali, setelah melihat kakak iparnya berlumuran darah.
"Bagaimana ini, tak ada lelaki disini. Terus siapa yang mengangkat Teteh!" Arche panik ditambah melihat kejadian Cahaya yang berguling dari lantai.
"Iya, bagaimana ini?" Alula sudah duduk di samping Cahaya dengan tangisan.
Mobil warna putih itu memasuki gerbang kediaman Raharja. Pemuda itu masuk sambil membawa paper bag.
"***!" Salam itu tak lengkap, karena melihat semua orang sedang berkerumun.
Paper bag itu terjatuh, kocar-kacir. Semua kue lebaran menggelinding ke segala arah.
__ADS_1
Pemuda sembilan belas tahun itu, berlari menghampiri mereka. Matanya memerah, saat melihat wanita berambut sebahu itu.
"Black!" Alula kaget karena kedatangan pemuda Aceh itu.
Black diam lidahnya sangat kelu. Membuat mulutnya bisu. Black tidak banyak bicara, pemuda itu langsung mengangkat tubuh Cahaya.
"Al, Balqis! Urus anakmu dulu!" Abidah Aminah mengingatkan. Alula segera berlari ke kamar.
Sedangkan Black, pemuda itu sedikit berlari agar cepat ke teras.
"Teteh-teteh harus kuat! Jangan tinggalin aku. Aku tidak sanggup!" Black berbicara dengan air mata yang mengalir. Pemuda itu sangat menyayangi Cahaya, seperti kakak perempuannya saja.
"Ar! Buka mobil lu, biar Teteh bisa baring! Kalau di mobilku akan lebih sulit."
Arche segera membuka mobil yang masih terparkir di depan rumah.
"Ibu, masuklah biar pangkuan Ibu! Digunakan pangkuan untuk Teteh!" Arche menyuruh ibunya masuk. Setelah Abidah Aminah masuk mobil. Black mulai membaringkan Cahaya di pangkuan Abidah Aminah. Black pun menutup pintu itu.
"Kalian pakai mobil gua," ujar Black sambil masuk ke mobil hitam milik si kembar.
Mobil itupun meninggalkan pekarangan rumah Raharja. Black mengemudi dengan sangat cepat.
Tuhan! Selamatkan lah mereka! Aku tidak sanggup melihat keburukan, yang menimpa mereka. Abang! Kasianilah dia Tuhan!.
Kedua mobil sampai di Rumah Sakit. Black segera turun, dan mengangkat Cahaya kembali. Dengan langkah cepat pemuda itu bisa masuk Rumah Sakit.
"DOKTER! DOKTER!" teriak Black memenuhi ruangan Rumah Sakit.
"Cepat Dok!" bentak Black kepada pegawai Rumah Sakit yang sedang mendorong bangkar.
Black segera membaringkan Cahaya. Setelah ia mereka berlari kearah ruang operasi.
"Maaf Anda tidak boleh masuk!" Dokter itu menahan Black.
Black mendesis pelan, karena dokter itu.
"Cepat kau, tangani dia jangan lelet!" bentak Black kepada dokter itu.
Black mengusap rambutnya kasar, saat pintu operasi ditutup. Sedangkan Arche mondar-mandir menghubungi kang masnya. Tapi semua sia-sia.
"Gimana Kak?" Archer bertanya.
"Tidak bisa Cher, aku bingung!" Arche berjongkok sambil memegang kepalanya.
"Kirimkan pesan, nanti kang mas, pasti baca!" Archer memberi ide.
Segera Arche mengirimkan pesan itu kepada kang masnya. Black yang ada di samping pintu, dia menelpon keluarganya. Memberikan kabar buruk itu.
"Mi, ke rumah sakit sekarang!"
"Siapa yang sakit?"
"Teteh jatuh dari tangga!" Segera Black mengakhiri panggilan itu, jika tidak ibunya akan banyak tanya.
Malam telah datang, suara takbiran telah dimulai. Langit masih ada meeting bersama investor dari negara sebrang. Meeting itu selesai sampai jam sembilan malam.
"Alhamdulillah, selesai! Gara-gara Kong We! Kita harus meeting malam takbiran." Kata rekan kerja Langit yang sedang duduk santai. Setelah meeting yang lama itu.
"Iya, anakku tadi nangis gara-gara. Katanya enggak bisa main petasan. Dimalam takbiran sama Bapaknya!"
Langit yang mendengar hal itu, pemuda itu tersenyum. Sambil duduk di pinggiran meja. Pemuda itu mulai mengaktifkan ponselnya. Dahinya terlipat saat melihat panggilan masuk.
"Arche? Kenapa dia menelpon ku, sampai puluhan kali!" Langit memijat pelapisnya.
"Ah ... dia juga mengirimkan pesan!" Perlahan pemuda itu, membuka aplikasi pesan. Pemuda itu membacanya, langsung tersungkur ke lantai. Membuat rekan kerjanya shock.
"Pak Arkana! Anda kenapa?" tanya rekan kerjanya, yang berlari kearah dia. Dan mengelus pundak Langit.
Langit tidak menjawab, pesan dari Arche membuat pemuda itu. Mengingat awal mulai, bertemu dengan istrinya. Setahun bersama istrinya, membuat banyak sekali kenangan. Berbagai suka dan duka mereka lewati. Terlintas kejadian saat malam takbiran dulu. Mereka menghabiskan malam takbiran dengan bahagia, lantas apa yang takdir tuliskan untuk malam takbiran tahun 2007 untuk mereka.
__ADS_1