
Dirumahnya Agam Ariaja nampak terang. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari.
Istri Agam Ariaja masuk ke kamar putranya.
"Cut Abang, ayo bangun siap-siap. Nanti ini kita ke Jogja."
Hari itu adalah keberangkatan Black ke Jogja.
"Bentar Mi!" Black menjawab, tapi matanya masih tertutup.
"Jangan bentar-bentar, lihat Adikmu. Dia tadi malam nangis. Gara-gara kamu mau ke Jogja. Jika kamu males, pasti dia akan nyuruh kamu tetap di Jakarta." Istri Agam Ariaja itu terus bicara sambil membuka lemari anaknya.
Ah— gadis berwajah bulat, malam itu tidur dengan kakaknya. Lihat saja kak Black sampai tidak bisa bernafas karena gadis itu memeluk sangat erat.
"Mi apa nanti Cut Adik akan ikut?" Black bertanya, sambil melepaskan pelukan adiknya.
"Aku akan titipkan di ke teh Cahaya! Mami yakin dia tidak akan mau pulang jika ikut ngantar kamu. Toh juga, dia baru masuk sekolah hari ini." Istri Agam Ariaja bicara. Sambil mengeluarkan baju anaknya. Setelah itu akan ia masukan ke dalam koper.
"Dikira barang apa Mi? Dititipin segala." Black bicara sambil masuk kamar mandi.
Sepertinya Cahaya akan menjadi baby sister dadakan.
Jarum jam berada di tengah-tengah angka lima. Sudah beres semua keperluan Black. Istri Agam Ariaja mengambil ponsel yang ada di kasur. Memijid keyboard yang ada bunyinya.
"Assalamu'alaikum." Sepertinya sambung sudah terhubung.
"Wa'alaikumussalam."
"Teh, kalau Mami titip Cantik, ke Teteh boleh enggak? Soalnya hari ini dia masukan pertama sekolah."
Cahaya yang ada di sebrang sana terdiam. Mana mungkin wanita itu menolaknya.
"Baiklah, Mi!"
"Teteh tahu enggak, Cantik langsung kelas satu." Terdengar suara yang bahagia. Sepertinya istri Agam Ariaja sangat bangga dengan si bungsu.
"Kok bisa? Bukanya umur Cantik, masih enam tahun? Peraturan biasanya tujuh tahun, itu baru masuk sekolah dasar Mi, kelas satu." Cahaya bicara sambil mengerutkan dahi.
"Iya, tapi kata guru TK bilang, Cantik, IQ nya terlalu tinggi. Jadi harus masuk TK besar. Okey Mami, daftarin dia ke TK besar. Tapi gurunya juga nolak. Masa Teh, kata guru itu bilang gini. 'Maaf Bu, anak Ibu kalau masuk kelas ini. Kasian teman-temannya' Mami bingung, jadi Mami tanya. Emang kenapa dengan anak saya. Apa ada yang salah? Si guru itu, menjawab. 'Bukan begitu Bu, masalahnya anak Ibu IQ nya sudah bisa mempelajari, mapel kelas satu. Kadi kasian yang lain'." Istri Agam Ariaja ingin tertawa saat menyaksikan. Cantik ditolak untuk kedua kalinya setelah di tes.
"Hahaha, ajaib sekali anak itu." Cahaya tertawa, sambil menutup mulutnya.
Karena cerita pagi itu, dari istrinya Agam Ariaja.
"Kamu bisa tinggal di sini, biar rumah enggak sepi," ujarnya istri Agam Ariaja, wanita paruh baya itu berpikir jika itu lebih baik.
"Nanti aku kasih tahu Mas, ya Mi!" Saat Cahaya menjawab seperti itu. Suaminya baru saja keluar kamar mandi. Langit duduk di samping istrinya, seolah bertanya 'kenapa'.
"Kata Mami, kita di suruh tinggal di rumahnya untuk nemenin Cantik." Cahaya bicara, sambil menjauhkan ponselnya.
Sepertinya itu lebih bagus, dia selalu menangis, saat aku pulang dari kantor. Apa ini ada hubungannya dengan eyang. Batin Langit menatap wajah istrinya.
Sudah dua hari setelah mereka komunikasi tubuh. Dua hari itu pula Langit selalu melihat istrinya menangis di balkon. Tapi Cahaya tidak tahu, jika diam-diam suaminya mengamatinya saat di terisak.
"Katakan iya." Langit bicara seraya berdiri dari duduknya.
Jam menunjukkan pukul enam. Pasangan itu sudah siap jalan kerumahnya Agam Ariaja. Mereka sudah mengemas pakaiannya, untuk sehari di sana. Pasangan itu pamit, saat Cahaya mencium tangan eyang. Eyang membisikkan sesuatu kepada Cahaya.
"Mungkin jika kamu punya kerjaan, pasti kamu tidak akan dianggap seperti robot. Yang di jalankan oleh orang lain, disuruh ini ayo ...tapi jika kamu punya kerjaan pasti kamu akan bilang ...maaf kerjaan ku belum selesai." Eyang tersenyum sinis saat bicara itu.
"Iya Eyang, doakanlah semoga aku punya kerjaan ...biar tidak di rumah saja." Cahaya menjawab, dengan tenang, meski dalam hatinya hancur karena sindiran dari eyang.
Seminggu lagi kafe akan dibuka dan wanita berambut sebahu itu, akan menghabiskan waktunya di sana. Tidak ada lagi omongan eyang yang pedes.
__ADS_1
"Kita juga mau ikut." Archer menceletuk dari dalam.
"Ikut kemana?" Pak Khan bertanya.
"Mumpung masih jam enam. Kita akan ke rumah om Ari dulu. Sebelum berangkat ke sekolah." Archer berbicara, sambil mencium tangan orang yang ada di sana.
"Iya Pak, kita akan menemui Black sebentar." Arche membenarkan ucapan adiknya.
Dua mobil keluar dari rumah kakek Raharja. Mobil silver mendahului mobil hitam itu. Di dalam mobil hitam Archer yang menjadi supirnya.
"Hitam ...oh ...Hitam." Archer bicara pelan sambil menatap jalan.
Arche melirik adiknya yang fokus menyetir itu.
"Sedih ya Cher, pacar pura-pura mau pergi jauh?" Arche bicara sambil membenahi seat belt.
"Sedih, enggak ya? Sedih karena sahabat kita akan jauh. Enggak ada hangout, sama si Hitam. Waktu kita jadi luas buat rebahan." Archer menjawab sambil melirik kakaknya.
"Gimana kalau kita kuliah di Jogja juga... kita bilang ke ibu. Ada Black di sana, pasti jagain kita. Dan kita akan pulang satu bulan sekali." Ide kakak sangat bagus, mungkin itu yang ada dipikirkan adik.
"Entah, masih punya waktu setahun untuk itu. Kita lihat saja nanti hasil akhirnya seperti apa," ujar Archer.
Kedua mobil itu memasuki gerbang rumah Agam Ariaja. Langit keluar dari mobil dan diikuti istrinya. Sedangkan mobil hitam itu, baru berhenti. Penumpangnya juga keluar dan berjalan kearah pintu utama.
Terdengar suara tangisan dari dalam. Cahaya meringis karena suara tangisan itu.
"Cantik mau ikut Mi huaaaa ... Cantik enggak mau di sini sendirian huuuhuu. Mami sama Papi jahat ...hiks. Cantik mau ikut. Cut Abang bilangin Mami, buat ngajak aku huaaaa ...hiks." Cantik menyuruh kakaknya bilang ke orang tua mereka agar dia diajak.
"Cut Abang... " Gadis itu menggoyangkan tangan kakaknya.
Black yang melihat hal itu, sangat kasian. Pemuda keturunan Aceh itu menyamakan tingginya dengan adiknya. Black memegang kedua pundak adiknya seraya berkata. " Cut Adik, harus sekolah ...bukannya hari ini hari pertama masuk sekolah? Lalau Cut Adik ikut. Nanti Cut Adik, enggak bisa ngerasain rasanya masuk pertama kali itu gimana.Cantik tahu?" Cantik menggelengkan kepalanya. Black tersenyum, sambil mencakup wajah bulat itu. Langit dan istrinya serta kedua adiknya melihat adegan kasih sayang antara adik-kakak itu.
"Cut Abang masih ingat gimana, pertama kali. Cut Abang masuk TK, itu sangat menyenangkan Cantik. Itu mengapa, sampai sekarang Cut Abang masih ingat. Seru sekali, kita akan disuruh berkenalan dengan teman. Kita akan sibuk cari tempat duduk. Saran dari Cut Abang, untuk Cantik tersayang. Cut Adik harus duduk di depan guru, biar paham kalau bu guru ngejelasin. Jangan mojok, yang mojok itu biasanya suka tidur, karena di kipasi seyton." Black mencoba untuk bercanda.
Semua yang ada di sana berpikir Jika gadis itu tidak mau di tinggal, apa yang akan terjadi. Penerbangan pesawat jam tujuh lebih lima lima. Sedangkan waktu Cantik nangis, sudah jam enam lebih empat puluh.
"Lihatlah Akak Bubble dan Om Dosen juga ada di sini. Manti malam mereka akan nginap di sini menemani Cantik. Mami dan Papi, cuma sehari di sana. Setelah ngurusin kontrakan Cut Abang. Mereka akan segera pulang!" Black terus saja merayu adiknya.
Cantik menggelengkan kepala cepat. Gadis itu sangat susah di rayu ternyata.
"Can! Nanti setelah kita pulang sekolah, kita ke sini temenin, Cantik main gimana?" Archer juga ikut merayu gadis itu.
"Enggak M-A-U Kakak kembar, Cantik mau ikut mereka huaaaa." Gadis berwajah bulat itu menangis kejer-kejer.
Semua yang ada di sana mengerutkan dahi. Saat melihat gadis itu, tidur di lantai kemudian berguling-guling, sambil bicara.
"Aku mau ikut Mami. Aku mau ikut ...hiks. Aku mau anterin Cut Abang, ke Jogja! Cantik janji enggak akan rewel." Istrinya Agam Ariaja menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati gadis itu.
"Bangun nanti kotor bajunya. Apa tidak malu, dilihatin banyak orang?" Istrinya Agam Ariaja bicara dengan lembut.
"Cantik akan bangun kalau Mami ngajak Cantik ...huaaaa." Gadis itu, menggulingkan badannya menjauh dari ibunya.
"Harusnya ini jadi tontonan," ujar Arche pelan, sedangkan Archer menyenggol sikut kak Arche agar diam.
Cahaya yang melihat hal itu, berjalan kearah gadis berwajah bulat, yang tidak berguling-guling lagi. Cahaya menyentuh kepala Cantik, yang tengkurap sambil menutupi wajahnya dan sesenggukan.
"Cantik, di sini sama Akak Bubble saja, ya sayang!" suaranya lembut.
"ENGGAK M-A-U Akak, aku mau ikut Mami Ti-tik!" Gadis itu, bicara keras membuat Cahaya terperanjat.
Agam Ariaja yang pagi itu, hanya melihat saja, saat sang anak bertingkah. Lelaki paruh baya itu, berjalan mendekati anak bungsunya.
"Cantik! Jeh dengerin Papi. Kamu itu, sudah besar sudah kelas satu. Jangan nakal, masa anak kesayangan Papi. Nangis, nakal, mana yang harus Papi, banggakan darimu Nak? Ayo bangun sayang." Agam Ariaja membantu anaknya bangun.
__ADS_1
Namun bukan Cantik, jika tidak berulah lagi. Gadis itu menggulingkan badannya lagi hampir saja menatap tembok. Tidak ada yang bisa merayu gadis berwajah bulat itu, jika sudah nangis.
Langit yang melihat hal itu, membuang napas kasar. Pemuda berjas itu, berjalan kearah gadis itu, dan berjongkok di samping gadis yang memiliki wajah bulat.
"Ayo bangun! Setelah ini, Om! Antar kamu sekolah. Ingat diluar sana ada yang ingin sekolah, tapi tidak biasa. Karena tidak punya uang. Lalu— Cantik di daftarin sekolah. Mami masa mensia-siakan, hal ini. Om janji, akan nganterin Cantik! Ayo bangun nanti telat. Enggak bisa cari tempat duduk yang paling depan." Langit bicara, sambil membantu gadis itu untuk bangun. Dan semua yang ada di sana diam karena gadis itu mau bangun.
Semua orang yang ada di sana bernafas lega.
"Bener ya Om, enggak bohong?" Gadis itu bertanya, sambil mengusap air matanya.
Gadis itu terlalu banyak drama.
Semua orang sudah ada di depan rumah untuk mengantar keberangkatan keluarga Agam Ariaja. Gadis berwajah bulat itu ada di gendongan om Dosennya.
"Kita berangkat ya, Teh, Bang titip Cantik!" Istrinya Agam Ariaja bicara, sambil mengelus kepala anaknya. Yang disandarkan di bahu om Dosen.
"Iya Mi, hati-hati." Cahaya menjawab.
"Black jaga diri saat di sana. Harus bisa memilah dan memilih teman. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luar saja. Coba kenalin dahulu sifatnya." Cahaya bicara, sambil menepuk pundak pemuda keturunan Aceh.
Black mengangguk, kemudian memeluk Cahaya dengan sangat erat. Cahaya mengelus punggung Black, bukan punggung, tepatnya sih ransel yang ada di punggung pemuda itu.
"Seperti yang dulu aku katakan masih ingat kan?" Langit bertanya, sambil memperbaiki posisi Cantik yang ada di gendongannya.
"Intinya jangan gunakan, kejauhan mu dengan orang tua, sebagai kebebasan mu, Black! ingat kuliah untuk masa depan'. Bukan begitu Bang?" Black ternyata masih ingat nasehat yang Langit beri untuknya.
Langit mengangguk membenarkan.
"Cantik enggak mau peluk Cut Abang dulu?" Black bertanya, kepada adiknya.
Gadis itu meminta om Dosen, agar menurunkannya. Setelah turun, gadis itu memeluk kakaknya dengan sangat erat. Gadis itu dibesarkan dengan penuh cinta kasih. Jadi wajar, jika gadis itu tumbuh menjadi seorang yang penuh cinta penuh kasih sayang.
"Cantik! Sayang, Cut Abang!" Gadis itu bicara saat memeluk kakaknya.
"Cut Abang juga sayang sama Cantik!" Black mencium pipi adiknya yang tembem.
Black melepaskan pelukannya. Pemuda itu gantian memeluk Langit dengan sangat hangat. Langit pun menerima pelukan dari Black dan menepuk punggung Black.
"Belajar yang benar." ujar Langit, di saat Black memeluknya.
Black berjalan kearah si kembar. Si kembar rela telat, ke sekolah hanya karena ingin bertemu sahabatnya itu.
"Ar, lu enggak mau bilang apa gitu?" Black tersenyum kepada sahabatnya itu.
"Bilang apa Black, gua cuman sedih, karena akan jarang ketemu lu. Lu bahagia selalu, jangan lost contact. Sama kita, udah ...ah ...nanti gua ngedrama lagi." Arche bicara sambil mengucek matanya agar tidak nangis. Black tersenyum karena ucapan Arche.
"Kalau lu mau bilang ape ke gue?" Black bertanya kearah Archer, gadis yang selalu ia goda setiap hari saat di kantin sekolah.
"Enggak ade." Archer menjawab, tak sengaja mata keduanya saling bersi tatap. Satu detik mereka tersadar membuat keduanya canggung. Black mencoba bisa saja. Entah mengapa jantungnya deg-degan saat itu. Pun sama dengan jantung Black jantung Archer juga deg-degan.
"Ya sudah, kalau enggak ade ...gue pamit. Lu jaga diri, kalau di sekolah jangan SKSD sama orang." Yang memberi nasehat bukan Archer melainkan Black.
"SKSD apaan?" Archer bertanya, dan mendongakkan kepala untuk melihat wajah pemuda keturunan Aceh.
" Sok kenal sok dekat." jawabnya Black, sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Gua cabut dulu Ar!" Black berucap sambil TOS tinju. Tidak ada pelukan, karena mereka tahu batasan. Meskipun bersahabat sudah lama. Pelukan haram bagi ketiga sahabat itu. Black ganti TOS tinju dengan Archer dan diakhiri dengan tepukan lembut di bahu Archer.
"Gua cabut, sekolah yang bener." Black bicara sambil meninggalkan Archer.
Archer menatap punggung Black yang sedang membuka pintu mobil. Dan mobil putih itu, sudah meninggalkan pekarangan rumah itu.
"Kita juga berangkat, sudah jam tuju lima belas." Si kembar mencium tangan kang masnya dan kakak iparnya. Mobil hitam itu keluar, dari pekarangan rumah Agam Ariaja.
__ADS_1
"Ayo sekarang Cantik bersiap takut terlambat." Pasangan yang hampir dua bulan menikah itu masuk rumah.