Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Bersyukur Dapat Istri Pengertian


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul enam sore. Cahaya masih setia menunggu suaminya pulang—Tapi tidak ada suara mobil masuk garasi. Wanita itu memutuskan untuk sholat di kamar sendirian, tidak ikut jamaah dengan Agam Ariaja. Saat sedang mau mencopot mukena. Dering ponselnya berbunyi. Cahaya berjalan kearah ranjang dan mengangkat telepon itu.


"Assalamu'alaikum." Cahaya mengucap salam sambil duduk di kasur.


"Wa'alaikumussalam."


"Mas, kapan pulang ini sudah magrib." Cahaya bertanya, ternyata yang menelpon sang suami.


"Mas lembur, nanti ada meeting sama dewan direksi." Sedangkan Langit yang ada di sana sedang bersandar di kursi kerjanya.


"Kenapa baru kasih tahu. Sampai jam berapa?" Nadanya sedikit bikin Langit bahagia.


"Kita mulai meeting setelah isya, mungkin jam dua belas." Langit yang ada di sana memutarkan kursi kerjanya.


"Sudah magrib kan?" Cahaya bertanya, wanita itu menyalakan loudspeaker dahulu. Setelah itu Cahaya melepaskan mukena kemudian berjalan kearah balkon.


"Sudah, lagi apa?" Langit bertanya, kepada istrinya. Pemuda itu berjalan mendekati dinding kaca.


Cahaya terdiam, biasanya setiap suaminya sudah pulang, akan berdiri di balkon memandang keindahan langit malam bintang dan rembulan.


"Tak perlu menjawab, pasti kau sedang menikmati keindahan langit malam, penuh bintang dan bulan sabit." Pasangan itu memiliki rutinitas saat malam.


Cahaya tersenyum mendengar hal itu.


"Kok tebakannya benar."


"Kebiasaan, bagaimana enggak tahu dasar gingsul pendek pula." Senyum tipis dibibir Langit saat menggoda istrinya.


"Hah... " Cahaya membuang napas kasar, jika suaminya melakukan body shaming terhadapnya.


"Pak ini kopinya, saya taruh meja."


Cahaya yang mendengar suara wanita mengerutkan dahi.


Bukanya Mas tidak suka dengan kopi. Lalu mengapa mau minum kopi. Siapa wanita itu? Apa dia office grill. Batin Cahaya.


Langit membalikkan badannya agar bisa bicara dengan orang itu.


"Makasih Bu Asya, jadi ngerepotin."


"Sama-sama Pak, saya tidak merasa direpotkan sama sekali."


Cahaya yang mendengar hal itu, menyeka keringat di dahinya.


Tidak mungkin office grill dipanggil Bu. Siapa perempuan itu sebenernya. Cahaya terus bertanya dalam hatinya.


"Hallo, kau masih mendengar suaraku kan?"


Cahaya tersadar dari lamunannya, karena suara suaminya.


"Iya..."


"Nanti kalau pulang mau dibeliin apa, martabak manis, mau enggak?" Langit menyogok istrinya.


"Terserah... " jawaban dengan nada sedikit sebal.


"Kau kenapa? Kok aku ngerasa nadanya beda dengan tadi." Langit sedikit bingung, kenapa nada suara istrinya berbeda.


"Ehem ... liya martabak manis satu." Cahaya mencoba menetralisir suaranya.


"Hem ...sama yang telor enggak?"


"Boleh juga sekalian hihihi. " Cahaya tertawa menutup mulutnya.


"Bayar ya?" Langit tersenyum tipis.


Asya sudah pergi sejak Langit bilang hallo kepada Cahaya.


"Iya, jangan khawatir aku bayar."

__ADS_1


"Beda bayarannya enggak pakai uang, enggak butuh uang situ ...orang aku yang ngasih uang ...sama aja itu uang aku." Langit berjalan kearah meja, kemudian duduk di atas meja.


"Lah terus bayar pakai apa?" Cahaya sudah tiduran di ranjang.


"Enggak sulit cukup cium pipi," ujar Langit, yang membuat Cahaya geregetan.


"Enggak jadi dah." Cahaya menahan tawanya, membayangkan wajah suaminya.


"Enggak usah nungguin aku pulang, kau tidur dulu. Nanti sakit lagi," anjur Langit kepada istrinya.


"Enggak usah pulang, biar aku tidur pulas, karena kasurnya buat sendirian."


"Ya sudah, aku cari hotel biar kau bisa nikmati kasur sendirian."


Cahaya yang mendengar hal itu, dia teringat dengan ucapan Alexa saat di kafe. Cahaya takut jika suaminya benar-benar cari hotel.


"Kan cuma bercanda." Cahaya menggaruk rambutnya.


"Ya sudah, aku mau keruangan meeting dulu, assalamu'alaikum." Langit mengakhiri sambungan telepon.


Cahaya membanting ponselnya di kasur.


"Hei ...apa dia marah? Dengan ucapan ku barusan! Akh... " Cahaya menjambak rambutnya.


"Tapi ...ku heran, kenapa dia mau minum kopi ...dan siapa orang yang buatin kopi? Bu Asya? Tunggu-tunggu, sepertinya aku pernah dengar nama itu ...tapi dimana?"


Wanita itu, menaruh jari telunjuknya di kening.


"Aaa ...aku ingat saat makan pagi. Kak Hazel bilang, bu Asya... kenapa sekelas jabatan mereka mengenal perempuan itu? Pasti perempuan itu, juga mempunyai jabatan yang tinggi." Cahaya memandang atap kamar.


"Tapi suaranya sangat halus. Kira-kira berapa umurnya ya? Bukanya kak Hazel bilang— Bu Asya sama kak Jo saja! Berarti ...umurnya sebelas-dua belas sama. Kak Hazel, kak Jo dan... masnya!" Cahaya menutup matanya.


'Kau tahu Ay, sebenarnya gua itu takut saat pertama jadi istri papanya Kenzi, saat dia minta gua selalu menolak. Hingga ibu gua bilang, pertama katanya kalau nolak itu dosa, dan yang kedua bisa saja dia melampiaskan hasratnya ke wanita lain... sekarang mudah cari pelampiasan'


Cahaya yang ingat ucapan sahabatnya itu menggelengkan kepala.


Wanita itu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Jam menunjukkan pukul dua belas lebih. Langit sudah keluar kantor, pemuda itu berjalan mendekati mobilnya. Mobil silver itu mulai bergerak dan meninggalkan PT. Jaya Karya.


Mobil silver itu terus membelah jalan, hingga berhenti di trotoar jalan. Langit keluar dari mobil itu.


"Martabak manis dua, sekalian yang telor juga." Pemuda itu memesan kepada Akang pedagang.


"Okey siap!" Akang pedagang mengacungkan kedua jempolnya.


Hampir menunggu balasan menit. Akhirnya pesanannya sudah siap.


"Berapa?" Langit merogoh saku celananya, untuk mengambil dompet.


"480.000."


Langit menyodorkan uang itu, kearah akang pedagang.


"Terima kasih." Akang pedagang itu menjawab, sambil menerima uang.


Mobil itu terus bergerak, tidak perlu waktu lama sudah sampai di rumah Agam Ariaja. Langit mau keluar untuk membuka gerbang, tapi gerbang itu sudah ada yang membuka.


"Makasih Black!" ujarnya, sambil menurunkan kaca mobil.


Langit turun dari mobil dan menutup pintu mobil itu kembali.


"Kok baru pulang Bang?" tanya Black, yang berjalan di samping Langit.


"Ada meeting mendadak." Langit memberikan katung plastik yang berisi martabak manis dan martabak telor.


"Wah...apa ini Bang?" Black tersenyum menerimanya.


"Buka saja, ke atas dulu ya Black!"

__ADS_1


Black mengangguk menyetujui. Setelah itu Black duduk di meja makan. Memakan martabak itu sendirian.


Perlahan Langit membuka pintu kamar. Matanya menangkap sang istri yang duduk di sofa, sepertinya ketiduran. Wanita itu menunggu suaminya pulang, tapi sangking ngantuk nya jadi ketiduran. Langit mengunci pintu kamar perlahan. Berjalan kearah sang istri dan duduk di sampingnya. Tasnya dan jas kerja sudah dilepas. Langit melonggarkan dasinya sedikit.


Langit mendekatkan bibir miliknya ke leher istrinya kemudian menciumnya. Tapi sang istri tidak bangun juga. Pemuda itu, menaruh kepalanya di pangkuan istrinya dan menselonjorkan tubuhnya di sofa. Cahaya merasa ada yang berat di pangkuannya matanya mulai terbuka.


"Ha? Apa aku mimpi? Mas sudah pulang? Apa aku benar-benar sudah gila, mak-maksudnya apa aku sudah mencintainya?" Cahaya bertanya ke dirinya sendiri. Sedangkan Langit bingung, tapi saat istrinya bilang sudah gila dan mencintainya bibirnya tersenyum.


"Kenapa senyumnya seperti nyata?" Cahaya mendekatkan wajahnya dengan wajah suaminya.


"Apa kau akan mencium ku?" tanya Langit, tersenyum puas karena kekonyolan malam itu.


Cahaya tersadar jika itu suaminya bukan mimpi. Wanita itu, langsung menutup mulutnya. Bagaimana tidak, mulutnya bicara tidak ada remnya, pakai bilang mencintainya segala. Sepertinya wanita itu malu setengah mati.


Cahaya yang melihat wajah suaminya penuh keringat, langsung mengambil tisu yang ada di sampingnya. Kemudian mengelap wajah suaminya dengan halus. Cahaya sudah lupa dengan rasa malunya. Wanita itu, lebih asik mengelap wajah suaminya. Langit bahagia, karena perlakuan istrinya kepadanya. Pemuda itu sangat beruntung karena sang istri sangat perhatian.


"Kerja rodi atau apa? Kenapa sampai berkeringat seperti ini?" tanya Cahaya, di sela-sela mengelap wajah suaminya.


"Kerja keras untuk nafkahi kamu." Langit menatap wajah istrinya.


"Mau enggak aku kasih nafkah batin malam ini?" Langit tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak menggoda istrinya.


Cahaya yang mendengar hal itu, dia kelimpungan, takut dilaknat malaikat. Karena menolak, tapi dia juga masih takut untuk hal itu. Langit yang melihat wajah istrinya seperti orang bersalah, dia tersenyum dan mengelus kepala istrinya.


Cahaya menatap tangan suaminya yang ada di kepalanya.


"Kau tahu? Tadi aku membelikan martabak untukmu." Langit bicara, sambil bangkit dari tidurnya.


"Wah... " Cahaya tersenyum, melihat martabak itu. Wanita itu mengambilnya kemudian memakan martabak manis.


Cahaya sangat lahap makan martabak itu. Langit yang melihat saja sudah kenyang. Saat Cahaya menaruh martabak itu di mulut. Langit langsung mendekatkan bibirnya dengan bibir istrinya. Yah! Pemuda itu, merebut setengah martabak dari bibir istrinya.


"Em ...Masnya ambil saja, jangan rebut martabak ku. " Cahaya bicara, dengan mulut penuh, sambil menepuk pundak suaminya.


Langit hanya menggelengkan kepala karena istrinya itu.


Cahaya terus saja makan martabak itu. Sesekali Langit merebut martabak itu, dari mulut wanita berambut sebahu.


"Kau kuat sekali, makan martabaknya, sudah mau habis. Sudah besok lagi, enggak boleh kebanyakan makan, apalagi ini tengah malam." Langit bicara, sambil menutup kardus martabak. Cahaya yang melihat hal itu, memukul tangan suaminya. Kemudian merebutnya dan ditaruh di pangkuannya.


"Biar enggak di bilang kurus lagi dan enggak punya dada," ujarnya, sambil terus mengunyah.


Langit mengerutkan dahi, siapa yang bilang seperti itu kepada istrinya.


"Siapa yang bilang?" Langit menatap istrinya dalam. Namun Cahaya hanya menggelengkan kepala. Wanita itu tidak mau jika suaminya tahu.


"Bilang siapa yang bilang gitu ke kamu?" tanyanya lagi.


Cahaya tetap berpegang teguh pada pendiriannya.


"Az-zahra! Bilang siapa yang ngomong gitu sama kamu, atau kalau enggak mau jawab kau harus cium." Langit yakin, pasti istrinya akan menjawab pertanyaan darinya, daripada harus menciumnya.


Cup... Cahaya mencium pipi suaminya dengan bibir kotor karena martabak. Langit yang mendapat ciuman tiba-tiba dia sangat terkejut. Kenapa dengan mudah istrinya itu menciumnya.


"Sudahkan, berati Mas jangan tanya lagi." Cahaya berucap, sambil membuka kardus martabak telur. Wanita itu tidak waras sepertinya, main sosor saja.


"Kenapa kau menyembunyikan hal itu?" tanya Langit, yang tidak suka jika istrinya menyembunyikan sesuatu darinya, apa lagi jika itu menyakiti hati istrinya.


"Kan tadi sudah dapat ciuman jadi tidak ada jawabannya ...tadi itu aku hanya bercanda hehehe." Wanita itu mencoba tertawa.


"Kau tidak pandai berbohong, jadi jangan bohong. Enggak mungkin kau bohong, apalagi harus mencium ku." Langit bicara sedikit keras, karena istrinya tidak mau jujur.


"Enggak, kalau mau aku buktikan aku bisa."


Cup... Cahaya mencium pipi suaminya yang kiri. Langit yang melihat hal itu dia sangat terkejut.


"Terserah, kau mau mencium ku berapa kali pun aku tak percaya." Langit berdiri meninggalkan istrinya yang terus saja makan. Meski hati Cahaya sangat sedih, karena ucapan seseorang. Tapi tidak membuat wanita itu, berhenti makan.


Langit sangat tidak suka dengan tingkah istrinya yang seperti anak kecil. Pemuda itu, tidak suka dengan ciuman dari istrinya itu. Karena Langit merasa, jika ciuman itu digunakan untuk menutupi seseorang yang menghina istrinya.

__ADS_1


__ADS_2